Pesantren Riset Al-Muhtada Menyelenggarakan Pelatihan Kiat Menulis Artikel Opini di Media Populer

ALMUHTADA.ORG-Minggu, 21 November 2021, telah terselenggara kegiatan Pelatihan Kiat Menulis Artikel Opini di Media Populer yang dibuka oleh Bapak Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., Ph.D. selaku pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada. Pelatihan Kiat Menulis Artikel Opini di Media Populer merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Pesantren Riset Al-Muhtada dan terbuka untuk kalangan umum. Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 58 peserta yang berasal baik dari mahasantri Pesentren Riset Al-Muhtada maupun dari luar Pesantren Riset Al-Muhtada. Kegiatan ini diisi oleh narasumber yang sekaligus selaku mentor Pesantren Riset Al-Muhtada yakni Mas Ayon Diniyanto S.H., M.H.

Pada pelatihan ini pemateri sekaligus Mentor Pesantren Riset Al-Muhtada yakni Mas Ayon Diniyanto S.H., M.H. menyampaikan materi tentang kiat menulis artikel opini di media populer yakni detik.com dan kumparan. Selain itu narasumber juga menyampaikan sebuah kiat atau tips agar tulisan- tulisan kita dapat dimuat di media tersebut antara lain menyangkut hal-hal sebagai berikut;

  1. Tema: tema tulisan yang diangkat adalah isu yang sedang aktual/ terupdate
  1. Nama: nama adalah salah satu hal yang berpengaruh dalam menulis di media populer, semakin besar nama penulis maka semakin besar pula peluang untuk artikel dapat dimuat. Oleh karena hal itu, penulis harus melengkapi profilnya dengan baik.
  1. Tulisan: dalam hal ini diharapkan penulis mampu menulis tulisan yang sistematis, selesai, dan memiliki pembahasan yang mendalam (menjawab rumusan masalah). Selain itu, akan jauh lebih baik jika penulis dapat menyampaikan juga solusi dari permasalahan yang diangkat.

Kegiatan pelatihan ini berlangsung  dari pukul 10.00-12.00. Selain pemaparan materi, dalam pertemuan kali ini juga ada sesi diskusi. Antusias peserta sangat terasa dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan. Kemudian pertanyaan dari para peserta langsung dijawab oleh Mas Ayon selaku narasumber pada kegiatan ini.

Satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh salah satu peserta yang bertanya tentang bagaimana tips atau cara agar tulisan- tulisan kita mempunyai peluang yang besar untuk dimuat di media populer. Topik tersebut tentu menjadi pertanyaan yang menarik bagi para peserta pelatihan menulis artikel opini di media populer ini. Kemudian, Mas Ayon Diniyanto selaku narasumber memberikan jawaban, bahwasannya sebenarnya tidak ada kiat khusus agar artikel dapat dimuat di media populer seperti detik.com dan kumparan. Namun menurut narasumber, ada tiga hal utama yang harus dikusai seperti yang sudah disampaikan awal tadi, yakni tema tulisan diusahakan adalah tema yang sedang trend atau aktual, tulisan dibuat dengan sistematis,  kemudian semakin besar nama seseorang maka semakin besar pula peluang tulisan yang dimuat, maka dari itu beliau berpesan agar kita sebagai generasi muda harus berusaha untuk mencari banyak nama yang dimaksudkan sebagai rekam jejak yang baik atau portofolio, karena kita masih mempunyai banyak waktu dan kesempatan. Tentunya hal tersebut bukan sebagai ajang untuk menyombongkan diri, melainkan semakin mengembangkan potensi diri.

Tentu saja acara ini tidak berlangsung  begitu saja, ada output yang secara nyata diharapkan benar-benar didapatkan oleh para peserta. Oleh karena itu, terdapat penugasan berupa peserta mendaftar akun di media populer detik.com dan kumparan serta mengunggah tulisan. Diberikan jangka waktu satu minggu dari pelaksanaan pelatihan. Harapannya tulisan peserta dapat berhasil dimuat di media populer dengan melaksanakan kiat yang telah didapatkan dari pelatihan ini. Semoga pelatihan kiat menulis artikel opini di media populer ini mampu membuka cakrawala bagi para peserta pada bidang tulis-menulis, agar nantinya dapat memberikan manfaat bagi para peserta.

Reporter : Nikmatul Karimah (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Editor  : Azkia Shofani Aulia (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Kita Tidak Bisa Mengubah Dunia Hanya dengan Satu Riset, Short Course Metodologi Riset untuk Santri oleh Pesantren Riset Al-Muhtada x Populi Center

Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional Untuk Santri merupakan kegiatan yang diselenggarakan Pesantren Riset Al-Muhtada bersama Populi Center dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional yang bertujuan untuk medorong tumbuhnya semangat peneliti muda dikalangan santri. Short course dibagi ke dalam 4 kali pertemuan dengan keseluruhan topik berkaitan dengan penelitian.

Sabtu, 30 Oktober 2021 tibalah pada pertemuan yang keempat atau terakhir pada rangkaian kegiatan Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional untuk Santri ini.

Pada pertemuan kali ini, acara dipandu oleh Lestaantun yang merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada sebagai Master Of Ceremony dan Dwi Wisnu Kurniawan S.H. yang merupakan mentor Pesantren Riset Al-Muhtada sebagai moderator. Adapun materi disampaikan oleh narasumber yang sangat luar biasa yaitu Dr. dr. Hardisman, MHID, Ph. D . selaku Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Beliau menyampaikan materi kelanjutan dari pemateri sebelumnya yakni Bapak Afrimadona berhubungan dengan pembahasan mengenai penelitian kuantitatif. Bapak Hardisman menerangkan materi dengan judul “Pengenalan Analisis Data dan Jenis Penelitian Kuantitatif”. Adapun ruang lingkup diskusi yang beliau sampaikan meliputi:

  1. Mengenal kembali sifat penelitian ilmiah.
  2. Keterkaitan rumusan masalah, tujuan penelitian, konsep , pengukuran variabel dan analisis data.
  3. Pengenalan singkat jenis penelitian.

Selanjutnya diberikan waktu untuk sesi diskusi dengan peserta tentang materi yang telah narasumber sampaikan. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh peserta bernama Gema Aditya Mahendra, yaitu: “Dalam suatu penelitian, ada banyak novelty dari yang diangkat dari satu topik penelitian entah dari segi substansi, segi metode, segi bahan baku, segi sasaran/manfaat, dan seterusnya. Tapi di sisi lain, banyaknya novelty yang diangkat terkadang membuat topik penelitian menjadi tidak fokus. Sedangkan sedikitnya novelty yang diangkat terkadang membuat penelitian terkesan “tidak novelty”. Kira-kira bagaimana menyelaraskan ini pak? terima kasih 🙏”.

Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber menjawab dengan mengutip kata-kata dari profesornya dulu saat menempuh pendidikan di luar negeri yakni :

Kita Tidak Bisa Mengubah Dunia dengan Riset

Dilanjutkan dengan jawaban “Kita hanya perlu memfokuskan penelitian kita, dengan tujuan yang mana masalah tersebut memang belum ada jawabannya. Disitulah nilai novelty berada. Sehingga kita tidak perlu khawatir mengenai novelty, sedikit tidak apa asal mampu menjawab permasalahan”.

Output yang diharapkan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah partisipan dapat memahami materi yang disampaikan dan memiliki skill metodologi penelitian, oleh karena itu narasumber memberikan penugasan seputar materi yang disampaikan tadi. Penugasan yang diberikan oleh setiap pembicara untuk dikerjakan peserta merupakan salah satu syarat kelulusan peserta.

Demikianlah rangkaian acara Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional untuk Santri. Terima kasih untuk seluruh narasumber yang telah menyempatkan waktu dan berbagi ilmu serta para pesera yang konsisten mengikuti kegiatan ini dengan baik. Semoga ilmu yang diperoleh dapat mendatangkan manfaat baik bagi diri kita maupun orang lain.

Reporter : Tia Rosalita (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Editor : Azkia Shofani Aulia (Mahasnatri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Perdalam Riset, Pesantren Riset Al-Muhtada Ikuti Seminar oleh Kemenag Balitbang Agama Semarang

 

Dok. pribadi

ALMUHTADA.ORG-Kamis, 28 Oktober 2021, Pesantren Riset Al-muhtada diundang sebagai peserta seminar terbatas dengan tema “Isu Aktual Pendidikan Agama dan Keagamaan” yang diselenggarakan oleh Kemenag Balitbang Agama Semarang. Selain sebagai peserta, pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Dani Muhtada, turut diundang sebagai salah satu narasumber utama pada acara tersebut.

Pesantren Riset Al-Muhtada mendelegasikan 2 orang mahasantri atas nama Alda Gemellina dan Wihda Ikvina untuk menghadiri acara tersebut. Acara yang bertempat di hotel Pandanaran kota Semarang tersebut memang membatasi jumlah partisipan yang hadir. Hanya terdapat 25 orang peserta yang terdiri atas Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Kantor Kemenag kota Semarang, dan beberapa pondok pesantren di lingkup Semarang yang hadir sebagai peserta.

Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan dan diikuti dengan dua sesi pemaparan materi inti. Seminar tersebut menyajikan empat hasil penelitian. Sesi pertama memaparkan dua penelitian yakni milik Drs. Mulyani Nudis Taruna, M.Pd, dkk. dengan judul “Model Pendidikan Pesantren di Tengah Komunitas Hindu”, dan milik Siti Muawanah, S.Pd.I, M.A dengan judul “Pelaksanaan Program Mandatory Tahfidz di Madrasah DIY”. Pemaparan tersebut kemudian ditutup oleh paparan materi dan rekomendasi penelitian dari narasumber, Dr. Dani Muhtada dengan tema “Isu Aktual Pendidikan Agama dan Keagamaan”.

Sementara sesi kedua diisi oleh dua penelitian milik A.M. Wibowo, S.sos.I, M.S.I, dkk dengan judul “Evaluasi Kurikulum Pendidikan Inklusi pada Madrasah di Jawa Tengah” dan milik Umi Muzayanah, S.Si, M.Pd. dengan judul “Model Pembinaan Sains di MAN 2 Kota Malang Jawa Timur”. Dua penelitian juga kemudian ditutup dengan paparan materi dan komentar dari narasumber, Dr. Iwan Junaidi, M.Pd.

Penyelenggaraan seminar tersebut diharapkan menjadi salah satu wadah masukan bagi para peneliti untuk memperbaiki dan mengembangkan risetnya. Selain itu, dengan pelaksanaan seminar juga diharapkan dapat memberikan informasi empiris dari lapangan sebagai bahan pemikiran ke depan kepada para peserta.

Reporter : Wihda Ikvina Anfaul U. (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Editor       : Azkia Shofani Aulia (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Pertemuan Ketiga Short Course Metodologi Riset untuk Santri (Pesantren Riset Al-Muhtada x Populi Center)

As Simple as that

Pesantren Riset Al-Muhtada bekerja sama dengan Populi Center menyelenggarakan Kegiatan Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional untuk Santri. Dalam acara ini khusus membahas tentang metodologi riset dengan 4 narasumber serta topik yang berbeda-beda dengan dibagi dalam 4 pertemuan.

Pada pertemuan ketiga, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 23 Oktober 2021 bersama narasumber Bapak Dr.Aji Sofanudin M.Si selaku peneliti senior Balitbang Agama RI, beliau menyampaikan materi seputar definisi penelitian bidang riset, bagaimana mangawali riset, menceritakan tentang ragam tulisan ilmiah, hakikat riset, tips dan kiat-kiat membuat karya tulis.

Bapak Aji dalam menyampaikan materi dengan sebelumnya memberikan pertanyaan mendasar seperti apa itu short course, apa itu metodologi riset, dan apa itu masalah? Baru setelahnya dilanjutkan menyampaikan materi. Inti kegiatan berupa pemaparan materi pun jadi terasa tidak monoton. Selain itu, Bapak Aji juga memberikan contoh-contoh terkait materi yang disampaikan sehingga bisa menambah pemahaman peserta.

Beberapa informasi yang didapatkan dari pertemuan kali ini diantaranya:

Metodologi berasal dari kata “metode” artinya sebuah jalan yang dilewati untuk mencapai tujuan. Sedangkan “logos” berarti ilmu. Jadi Metodologi adalah cara atau ilmu-ilmu yang dipakai untuk menemukan kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas apa yang dikaji. Riset adalah kegiatan yang dilakukan menurut metodologi ilmu untuk memperoleh data dan informasi. Sedangkan kegiatan ilmiah dilakukan untuk menjawab rumusan masalah. Masalah itu sendiri memiliki arti suatu kesenjangan antara idealitas yang tidak sesuai dengan realitas berdasarkan jawaban salah satu peserta ketika ditanya apa itu masalah.

Bapak Aji mengatakan bahwasannya : “Riset yang baik adalah riset yang selesai, buat apa riset jika tidak selesaikan”.
Selain itu beliau juga selalu mengatakan “as simple as that” dengan maksud menjelaskan bahwa menulis itu mudah apabila kita terus berlatih.

Adapun tips kiat-kiat menulis dari Bapak Aji antara lain:

  1. Membangun Tradisi
  2. Strategi ATM (Amati Tiru dan Modifikasi)
  3. Penggunaan IT (memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang saat ini)
  4. Praktik

Sama seperti pertemuan minggu sebelumnya, pertemuan ketiga ini Bapak Aji memberikan penugasan berupa praktik menulis. Peserta dapat mengerjakan penugasan dengan melaksanakan kiat-kiat menulis yang disampaikan oleh Bapak Aji.

Harapannya kegiatan ini dapat memberikan manfaat untuk seluruh peserta dan menambah semangat untuk mengikuti pertemuan selanjutnya.

Reporter   : Tia Rosalita (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Editor         : Azkia Shofani Aulia (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Minggu Kedua Short Course Metodologi Riset untuk Santri Tingkat Nasional (oleh Pesantren Riset Al-Muhtada x Populi Center)

“Metodologi itu skill, jika tidak dipraktikkan maka tidak akan tahu”.

Sabtu, 16 Oktober 2021 merupakan pertemuan minggu kedua pelaksanaan kegiatan Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional untuk Santri dengan pembicara Pak Afrimadona, S.IP., M.A., Ph.D. selaku Direktur Eksekutif Populi Center Jakarta.

Seperti yang ketahui, pada pertemuan minggu pertama kegiatan Short Course Metodologi Riset untuk Santri diisi oleh Pak Dani Muhtada selaku pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada. Beliau telah menjelaskan tentang hal-hal mendasar mengenai penelitian mulai dari pengertian, manfaat, tujuan, dan jenis-jenis penelitian. Sedangkan untuk pertemuan pada minggu kedua ini Pak Afrimadona memaparkan mengenai salah satu jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif. Penelitiam Kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan teknik-teknik statitiska/ekonometrika untuk menganalisa sejumlah besar data dan observasi yang dikumpulkan melalui survey, experiment dan analisa isi (content analys). Dijelaskan bahwa alasan untuk belajar metode kuantitatif adalah, jika:

  1. Kita ingin menganalisa observasi (data points) dalam jumlah besar.
  2. Kita ingin membuat generalisasi empiris atau temuan.
  3. Kita ingin mengetahui arah dan kekuatan hubungan antar variabel dalam penelitian.
  4. Kita ingin menguji teori.

Seperti pada pertemuan pertama, tidak lupa peserta juga diberikan penugasan setelah mendapatkan ilmu dari pelaksanaan Short Couse minggu kedua ini. Penugasan pada pertemuan kedua ini adalah peserta diperintahkan untuk mencoba membuat design metodologi riset sederhana menggunakan metode kuantitatif. Peserta mencari rumusan masalah bagaimana yang harus dipecahkan dan bagaimana hipotesisnya berdasarkan cara-cara yang telah dijelaskan.

Because practice makes perfect .

Harapannya setelah pertemuan yang kedua ini peserta mendapatkan tambahan khasanah ilmu pengetahuan seputar riset dan tetap semangat untuk pertemuan di minggu selanjutnya.

Reporter : Tia Rosalita (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Editor       : Azkia Shofani Aulia (Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada)

Kuat

Oleh : Azkia Shofani Aulia

Bagaimana cara melupa?
Sedangkan pintu itu terus membuka
Menjelaskan deretan duka
Senjata tak berbentuk lebih tajam adanya

Hamba tak bergeming
Menimang, pernah berfrustasi ria
Menenangkan diri dalam hening
Memeluk erat persinggahan nyawa

Meniti jejak-jejak yang tak mau menghilang
Mustahil jika pribadi ini terbang
Lenyap untuk sembunyi dari rasa malang
Tak berguna, harus mencoba berdiri dan menghadang

Khusyu'nya doa-doa orang dalam surau
Tangan menengadah berharap diturunkan berkah
Hidup bukan perihal senda gurau
Yakinlah mampu melangkah

Memang wajibmu melewati uji
Tak payah berkutat pada yang dibenci
Sedangkan begitu mudah untuk menyukai
Ini perihal hati yang bersama mendewasakan diri

Berlatih mengucap dengan lugas
Sakit tak harus sama terbalas
Kecuali kan satu hal untuk memelas
Tertuju tak ada yang lain selain yang di atas

Masih punya tangan untuk mencari pegangan
Masih punya kaki untuk berdiri
Singkirkan segala iri
Tuhan menemani, jangan merasa sendiri

Teruntuk segalanya yang hendak dan telah hilang
Mengikhlaskan ada untuk menguatkan
Tepuk pundak sedikit menghentak
Cegah apapun, jangan menjadi retak

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan
mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang

Teks asli : https://temukanpuisidisini.wordpress.com/2021/10/03/kuat/

Awan Purna dan Senja

Oleh : Eka Diyanti

Aku adalah Awan teman Senja. Setiap pagi aku dan Senja jogging ke desa sebelah jika paginya terang. Namun, jika hujan aku dan Senja tidak jogging ke desa sebelah. Akan tetapi, menjalankan aktivitasnya di rumah masing-masing. Di pagi hari aku jogging ke desa sebelah. Sambil menikmati kanan kiri jalan yang dipenuhi keindahan alam yang Tuhan ciptakan untuk makhluk-Nya. Di kanan jalan ada sawah, angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan siapa saja yang melewatinya. Mentari bersiap-siap memunculkan sinarnya. Sungguh,  nikmat Tuhan mana lagi yang dapat aku dustakan. Tuhan menciptakan dunia ini benar-benar dengan proporsi yang pas.  Maka bersyukurlah kita masih diberi anugerah yang luar biasa ini.  Alangkah baiknya jika kita mensyukurinya. Sebagai rasa syukur kita, kita dapat berolahraga di pagi hari. Tapi rupanya setelah olahraga aku merasa sangat lelah. Wah rasanya luar biasa,  ditambah sepatuku bercelah sehingga kakiku menjadi terbelah, nafasku terengah-engah,  jantungku berdetak tanpa rasa bersalah seakan-akan copot rasanya. Namun,  dibalik itu semua aku memperoleh sejuta manfaat.

  Keadaan yang membawa Aku dan Senja menjadi semakin dekat. Ditambah suasana negeri ini sedang kacau akibat mewabahnya virus corona.  Namun,  dibalik itu semua ada hikmah yang dapat kupetik. Aku adalah anak pertama, sedangkan Senja adalah anak kedua. Tanggung jawabku lebih besar daripada tanggung jawab Senja. Aku dan Senja juga memiliki Purna. Purna adalah teman kami dapat pula dikatakan sahabat. Purna adalah seorang gamers pabji yang tembak menembak musuh. Purna juga pecinta kucing. Di rumahnya ia memelihara tiga kucing yang diberi nama si Oren, si Sireng,  dan si Ongeh. Namanya memang unik-unik.  Di antara  ketiga kucing itu,  kucing yang paling manja adalah si Oren, badannya paling besar. Setiap aku ke rumah Purna membawa motor,  si Oren langsung menduduki motorku dengan santainya, seakan-akan aku hendak mengajaknya pergi.  Tingkahnya sangat unik , ia selalu ingin dimanja oleh pemiliknya. Si Sireng tidak suka dengan si Oren, aku mengetahuinya ketika si Oren mencoba mendekati si Sireng,  si Sireng langsung pergi menjauh. Sedangkan,  si Ongeh lain dari yang lain,  si Ongeh sangatlah mandiri. Jika si pemilik rumah mengunci rumahnya, si Ongeh dapat memasuki rumah tersebut dengan mencoba membuka jendela. Dengan cepat jendela pun terbuka. Padahal, jendelanya dikunci,  tetapi si Ongeh tetap bisa membukanya. Begitu pintarnya si Ongeh. Pernah ada tingkah lucu si Oren,  ketika Senja dan Purna membawa si Oren ke sekolah.  Dengan leluasa si Oren bermain di lapangan sekolah. Si Oren sudah mengenali pemiliknya sehingga ketika ditinggal oleh pemiliknya,  si Oren dengan sendirinya mencari sang pemilik. Dan lucunya ketika ada motor dia langsung duduk di motor bagian depan. Oren juga suka mengganggu kucing lain. Akan tetapi,  si Oren,  si Sireng,  dan si Ongeh,  tetap hidup rukun meskipun mereka adalah kucing yang berbeda jenisnya.

Aku, Senja, dan Purna adalah tiga orang sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Katanya sih gitu,  padahal kami tidak selalu bersama. Kami berteman sejak kecil hingga sekarang berada di masa putih abu-abu. Awan dan Senja tidak bisa dipisahkan. Keduanya ada untuk saling melengkapi. Senja menjadi pelengkap bagi Awan. Katanya Senja itu indah, apalagi jika dilihat bersama orang-orang tercinta. Senja sahabatku tidak kalah indah,  dia adalah pecinta musik bisa bilang anak indie. Ia adalah gitaris handal. Setiap kali Awan, Senja, dan Purna bertemu.  Senja selalu mempersembahkan sebuah lagu-lagu yang dinyanyikan dengan diiringi gitar. Petikan gitar tangan Senja seakan-akan membuatku untuk ikut terbawa olehnya. Ditambah merdunya suara Senja menjadi sensasi tersendiri bagi seorang penikmat musik. Dari SD, Senja adalah anak yang sangat aktif. Dia sering kali mengikuti lomba. Ia pernah mengikuti lomba menari, lomba gerak jalan bahkan menjadi pemimpin senam. Ia juga menjadi petugas upacara,  biasanya menjadi pemimpin upacara.  Karena berkat suaranya yang lantang dia dijuluki radio bodol. Padahal suaranya bagus. Sedangkan aku pernah mengikuti lomba LCC, menyanyi,  dan biasanya aku menjadi pengibar bendera di saat upacara pada hari Senin. Purna juga aktif mengikuti berbagai lomba. Di masa putih abu-abu,  di antara aku,  Senja,  dan Purna yang paling aktif adalah Senja. Dia mengikuti PKS (Pasukan Keamanan Sekolah) yang mana di ekstrakulikuler ini sangat memperhatikan baris berbaris. Baris berbaris saja diperhatikan apalagi kamu. Sedangkan,  aku sendiri pernah beberapa kali mengikuti lomba KTI. Kerap kali pelaksanaan tim KIR kami selalu dadakan bak tahu bulat sehingga menghasilkan karya yang amburadul. Belum lagi karya yang tim kami buat merupakan ide dari pembimbing ekstrakulikuler KIR. Aku juga pernah mengikuti KSN fisika.  Di dalam ilmu fisika aku diajarkan mengkhayal sesuatu untuk dapat menyelesaikan suatu persoalan dalam soal.  Sungguh, sulitnya bukan main. Meskipun aku beberapa kali mengikuti lomba,  tetapi aku merasa bahwa aku tidak seaktif waktu di SD.  Purna sendiri tidak mengikuti ekstrakulikuler apapun. Tetapi dia jago dance. Apalagi dance nya Black Pink yang oye-oye. Setiap gerakan dance nya dilakukan dengan lemah gemulai,  kataku mirip Lisa Black Pink. Purna juga kpopers,  dia suka boyband korea. Dia mahir dalam berbahasa Inggris. Bapak ibunya penjual nasi di pasar. Bapak ibunya sangat dermawan. Setiap aku dan Senja main ke rumah Purna. Bapak ibunya selalu menjajakan aku dan Senja. Dia juga punya kakak. Kakaknya sudah bekerja sehingga dapat membantu perekonomian keluarga Purna. Wajar saja jika apa yang dia inginkan selalu dituruti oleh bapak ibunya. Mereka hidup berkecukupan. Keluarganya sangat pas,  hanya terdiri dari Bapak,  Ibu,  dan dua orang anak. Karena dua anak lebih baik,  katanya si gitu.

    Sebenarnya dulu waktu SD di antara Awan, Senja, dan Purna ada satu lagi, tetapi sekarang sudah tidak seperti dulu waktu di SD.  Dulu saat aku masih SD, aku punya geng yang diberi nama ELIS. Gengku ini sangat ditakuti oleh teman-temanku di kelas. ELIS adalah geng yang sangat aktif menjadi sorotan di mana-mana seperti selebritis saja. Katanya sih mukanya seperti para gengster padahal biasa-biasa saja. Sekarang ELIS sudah dibubarkan. Salah satu dari ELIS sekarang sudah berbeda. Karena tempat sekolah kami dengannya berbeda. Ia juga sudah berubah. Akan tetapi,  Awan,  Senja,  dan Purna tetap bersahabat. Awan dan Senja saling melengkapi. Awan sangatlah baik hati. Ia suka membantu Senja dan Purna di saat mereka dalam kesulitan. Begitupun Senja. Senja selalu menghiburku dan Purna dikala merasa sendu. Purna pun begitu sering mengajariku dan Senja untuk menjadi seseorang yang saling menyayangi terhadap sesamanya termasuk dengan kucing. Dan hingga sekarang, Awan,  Senja dan Purna tetap bersama. Di kala jumpa kami berbincang mengenai mimpi-mimpi yang sangat menakjubkan. Semboyan kami adalah mimpiku adalah mimpimu, mimpiku mimpimu adalah mimpi kita. Bersatu padu menjadi satu demi negara maju. Mimpi yang ada bukan untuk ditakuti. Namun,  mimpi yang  ada harus kita taklukan bersama.  Semua perjuangan akan berbuah hasil. Persahabatan yang ada akan menjadi pendorong mewujudkan segala mimpi-mimpi. Dengan percaya akan kebesaran-Nya, niscaya jika sudah dikatakan jadilah maka akan terjadi.  Sahabat ada untuk saling memberi semangat,  memberi dorongan,  memberi motivasi. Sahabat yang luar biasa akan selalu ada.  Jika kamu sudah sukses maka berterimakasihlah kepada sahabat.  Awan,  Senja dan Purna memiliki mimpi yang sama, bersatu membentuk kekuatan untuk mewujudkan cita-cita bersama membangun negeri untuk kemajuan yang abadi.

    Awan,  Senja,  dan Purna percaya suatu saat hari-hari mereka akan indah. Seperti senja yang tak pernah sirna. Itulah sahabat,  sahabat diibaratkan tali. Yang mana jika terputus akan sulit untuk dimanfaatkan,  tetapi jika tetap bersatu maka akan bermanfaat untuk orang lain.

Kata Awan,  awan itu suci,  bersih.  Bersih itu tidak hanya dari luar. Bersih yang sempurna adalah bersih yang berasal dari dalam diri seorang manusia. Ini membuktikan bahwa persahabatan harus dijalankan dengan sebuah ketulusan hati. Telinga yang siap mendengar,  tangan yang siap menolong, dan setiap perilaku yang dilakukan demi kebahagiaan seseorang yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Jika Awan tak pernah mau menunjukkan kesedihan kepada orang lain, maka jadilah seperti awan. Yang ingin selalu terlihat bahagia walau keadaan sebenarnya sengsara.  Ia selalu menjadi orang yang penuh percaya diri. Jika kita takut bermimpi,  maka mimpi juga akan menakuti kita.

  Di kala senja tiba,  kami menghampiri keelokannya,  menikmati kepergiannya. Ketika melihat senja seakan-akan mimpi kita sudah ada di depan mata. Seakan-akan aku, Senja,  dan Purna tidak akan pernah sirna,  tetapi akan selalu bersama walaupun badai menerjang kita.  Bagi Senja sahabat itu segalanya. Senja bersyukur kami  bisa bersatu. Kami jauh-jauh bersyukur dapat menikmati senja.

Di kala purnama, tepatnya tanggal 15 jawa. Bulannya bulat bak bola permata. Inilah bulan purnama. Yang indahnya tak tertandingi. Ditemani oleh sang bintang-bintang di sekelilingnya.  Belum lagi planet-planet. Wah, luar biasanya alam ini. Awan,  Senja,  dan Purna duduk di depan teras rumah memandangi langit malam betapa indahnya.  Mereka bercengkerama bersama, membahas mimpi-mimpi mereka masing-masing. “Andaikan bintang jatuh,  aku akan berdoa”, kata Purna. Seketika itu bintang pun terjatuh. Awan,  Purna,  dan Senja pun langsung berdoa.  Mereka memejamkan mata, tangan mereka saling bergandengan. Jika doa Awan dan Senja mengenai cita-cita,  Purna berdoa mengenai persahabatan mereka. Belajar dari sahabat itu adalah sebuah usaha untuk menjaga persahabatan. Kata Purna, “Wan,  Ja,  kalo kalian punya orang penting selain aku.  Aku mohon tolong jaga dia.  Jangan sampai kamu membuatnya sakit hati”.  “Apa yang kamu bilang, Na? “jawab Awan. “Kita kan sahabat,  kita harus selalu bersama. Saling mendukung satu sama lain. Kita tidak boleh terpecah belah. “kata Senja. Awan,  Senja,  dan Purna langsung membuka mata dan saling berpelukan. “Aku bersyukur mempunyai sahabat seperti kalian, “kata Purna.  Mereka semua menangis bahagia. Bintang-bintang yang jatuh pertanda,   harapan-harapan kita akan segera menjadi kenyataan. Awan,  Senja, dan Purna menjatuhkan badan ke rerumputan sambil memandangi langit terus menerus tiada henti.  Pandangan mereka memberikan isyarat bahwa mereka berharap semua mimpi-mimpi mereka akan segera dikabulkan oleh Sang Pencipta. Dan mereka berharap akan selalu menjadi sahabat sejati. Bersama sahabat semua menjadi indah,  karena sahabat aku bisa menghargai bagaimana arti sebuah pertemanan.  Sahabat mengajarkan kita arti sebuah kesetiaan dalam suatu hubungan. Sikap yang siap menerima segala kekurangan dan siap dalam saling melengkapi satu sama lain.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Teks asli : https://blogdotcontoh.wordpress.com/2021/10/03/awan-purna-dan-senja/

Memahami Perintah-Nya

Oleh : Khasiatun Amaliyah

Terlambat yang sebenarnya adalah ketika petunjuk-Nya sudah di depan mata, akan tetapi kita tidak segera peka dan mengambilnya. Benarkah itu dikarenakan hati kita sudah menjadi keras bak batu?

Manusia dengan segala permasalahan yang dihadapi tidak sedikitpun lepas dari pengawasan-Nya. Tidaklah seorang manusia diberikan ujian melebihi batas kesanggupan dan kemampuannya. Mulai dari masalah yang kecil dan sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya saja lupa meletakkan suatu barang akhirnya membuat kita harus mencarinya sampai terkadang bisa memicu meluapnya emosi ringan tanpa kita sadari. Beberapa ucapan yang tidak sepantasnya ke luar akhirnya lisan kita ucapkan. Begitulah memang, maka dari itu sungguh sulit dan butuh konsistensi untuk bisa mengendalikan diri dengan baik.

Sebagai seorang muslim di Al-Quran sudah banyak Allah memberikan banyak peringatan. Tidak sedikit pula dari kita yang hanya sebatas tahu lalu setelahnya seperti angin lalu. Apabila segala hal atau aktivitas yang kita lakukan sehari-harinya entah dalam keadaan ramai atau sendiri, Allah senantiasa mengawasi dan tidak ada satu pun perbuatan kita yang tidak tercatat oleh malaikat.

Manusia adalah makhluk yang sering lalai dan lengah. Ketidaktahuan manusia bahwa waktu merupakan suatu hal paling penting dan berharga, yang mana ketika mereka mampu menggunakan 24 jam yang Allah berikan secara bijaksana dan manfaat maka ia pun akan menuai hasilnya. Bahkan 24 jam itu bisa bernilai pahala jika segala aktivitas yang dilakukan diniatkan karena Allah dan semata-mata untuk mencari ridha-Nya.

Dengan demikian, maka menjadi penting bagi kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui apa saja perintah-Nya. Setidaknya kita bukan hanya tahu sebatas menjalankan ibadah salat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Akan tetapi lebih dari itu, yang mana mungkin ini akan berkaitan dengan keseharian yang kita lakukan. Tidak mudah memang untuk menjalankan semua perintah-Nya, yang mana disadari bahwa kita hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kesanggupan. Akan tetapi, itu bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk terus ber ikhtiar dalam upaya meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita sebagai seorang muslim yang sesungguhnya dengan memahami dan menjalankan perintah-Nya.

Dalam Q.S (2) Al-Baqarah Ayat (83) Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, berbuat baiklah pada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakan salat, tunaikan zakat.’ Tapi kemudian kamu berpaling (ingkar), kecuali sebagian kecil dan kamu masih menjadi pembangkang.”

Berdasarkan surah tersebut mari lihat dan berkaca pada diri kita sendiri, sudahkah kita melakukannya? Sudahkah kita benar-benar menyembah Allah yaitu dengan hanya berharap, berdoa, dan bergantung kepada-Nya? Jangan-jangan kita masih bergantung kepada manusia, padahal Allah lah yang membolak-balikkan hati mereka dan memegang kendali atasnya (manusia-manusia).

Sudahkah kita berbuat baik kepada ke dua orang tua kita? Atau justru kita masih suka membangkang, berkata kasar, dan berlaku tidak baik kepada ke duanya? Sudahkah kita berlaku baik pada anak-anak yatim dan orang-orang miskin? Atau malah justru kita berlaku sombong dan angkuh? Sudahkah kita bertutur kata yang baik kepada manusia? Jangan-jangan kita sering menggunakan kata-kata yang sedang gaul saat ini, menganggapnya sebagai suatu trend, tanpa kita sadari itu akan menjadi salah di hadapan-Nya, dan suatu hari nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah keluar dari lisan kita (segala perkataan).

Bagaimana kabar salat kita? Masihkah baik-baik saja? Sudahkah kita benar-benar tunduk dan menyerahkan diri kepada-Nya dalam salat kita? Atau justru masih terbayang-bayang dengan aktivitas (sibuk memikirkan dunia)?

Maka dari itu, menjadi penting bagi kita untuk sedikit demi sedikit mulai dari sekarang memahami apa saja perintah-Nya dan mulai konsisten untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut (83) bahwa hanya sebagian kecil yang melakukan perintah-Nya dan kebanyakan dari kita ingkar serta menjadi seorang pembangkang.

Bagaimana memulainya? Dimulai dari ketika kita mulai membaca Al-Quran dengan disertai memahami makna dan mengamalkannya, semoga istiqomah.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Teks asli : https://worentjourneyme.wordpress.com/2021/10/03/memahami-perintah-nya/

Sukses Bukan Karena Keberuntungan

Oleh Dian Fatimatus Salwa

Akhir-akhir ini penulis menemukan suatu peristiwa unik, dalam waktu sepekan penulis bertemu dengan beberapa orang yang yakin bahwa sukses terjadi karena keberuntungan. Salah satunya, penulis bertemu dengan seorang bapak paruh baya dalam sebuah acara. Di sela-sela acara ia berbicara menyinggung masalah kesuksesan. Ia mengatakan bahwa faktanya sekarang ini orang bodoh kalah dari orang pintar, orang pintar kalah oleh orang licik, dan orang licik kalah oleh orang bejo (beruntung). Benarkah demikian? Apakah keberuntungan memiliki hubungan erat dengan sukses? Apakah kesuksesan karena keberuntungan? Apakah orang-orang yang mencapai kesuksesan lebih cepat karena mereka beruntung? Apakah orang-orang yang bekerja keras tetapi tidak pernah berhasil karena memang mereka sial?

Pembaca yang hebat, bagaimanakah anda mendefinisikan keberuntungan? Kenyataannya saat ini banyak orang yang salah mendefinisikan kata beruntung. Banyak yang mengatakan, keberuntungan adalah ketika seseorang bisa mencapai tingkatan kehidupan yang lebih tinggi karena ada sesuatu yang menguntungkan dirinya. Misalkan, ada seorang yang biasa-biasa saja, tiba-tiba ia menjadi artis papan atas dan dikenal seluruh lapisan masyarakat karena ada produser yang mendatanginya. Seandainya ia tidak bertemu produser tersebut, ia tidak akan sukses bukan? Atau ada seorang pengusaha, ia mampu mengambangkan bisnisnya dengan cepat karena bertemu dengan seorang mentor yang memberikan banyak pencerahan. Jika ia tidak bertemu dengan mentor tersebut bisa jadi ia tidak sukses.

Dari dua contoh di atas, seakan-akan keberuntungan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kesuksesan, padahal kenyataannya tidak. Orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi artis karena perjuangan keras, ia harus mealtih bakatnya, ia harus belajar mengatur waktu, ia harus menggali potensi, mencari keunikan dirinya, membangun citra diri yang baik, dan lain-lain. Seorang pengusaha bisa sukses dengan cepat bukan karena ia beruntung bertemu dengan sang mentor, tapi karena sebelumnya ia telah berusaha mencari mentor tersebut, mempelajari sesuatu yang baru, gagal berkali-kali, dan terus berjuang mengembangkan bisnisnya. Kesuksesan terjadi bukan karena keberuntungan, tapi karena ada perjuangan, usaha, doa, dan faktor lainnya yang membuat kita menjadi sukses.

Lalu mengapa ada orang yang gagal padahal sudah berjuang keras? Apakah mereka tidak beruntung? Sebenarnya kegagalan terjadi bukan karena tidak beruntung, tapi karena banyak faktor, seperti kurang tangguh, kurang percaya diri, kurang ego, kurang persiapan, kurang kerja keras, atau kurang doa. Maka ketika gagal jangan pernah katakan bahwa anda tidak beruntung. Sukses bukan karena keberuntunga, tapi karena kerja keras, kemauan, kesempatan, doa, dan tawakkal. Dengan terus mengerahkan kemampuan puncak, menguatkan kemauan, mempersiapkan diri untuk memanfaatkan kesempatan, dibantu dengan doa dan tawakkal maka kesuksesan akan mudah kita raih. Adapun jika hanya menunggu keberuntungan datang, maka sampai kapanpun sukses tidak akan pernah datang, bagaikan menunggu kucing bertanduk.

Hindari kata keberuntungan, bangun definisi yang benar terhadap kesuksesan. Buat visi, misi, perncanaan, dan target yang matang untuk sukses. Singsingkan lengan baju, jalankan perencanaan dengan penuh keikhlasan dan kerja keras, evaluasi hasil kerja secara periodik, bantu dengan doa yang sungguh sungguh setelah itu bertawakkal. Jangan menyerah dan yakinlah dengan apa yang anda usahakan, karena kesuksesan telah menunggu di ambang pintu.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Teks asli : https://diansalwaajourney.blogspot.com/2021/09/sukses-bukan-karena-keberuntungan.html

Day 1 Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional untuk Santri oleh Pesantren Riset Al-Muhtada x Populi Center

Sabtu, 09 Oktober 2021, telah terselenggara pertemuan  pertama sekaligus pembukaan  kegiatan Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional Untuk Santri oleh Bapak Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., Ph.D. selaku pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada. Short Course Metodologi Riset Tingkat Nasional untuk Santri merupakan kegiatan yang diselenggarakan Pesantren Riset Al Muhtada bekerjasama dengan Populi Center yang merupakan salah satu institusi riset nasional di Jakarta dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional dan sebagai upaya peningkatan kualitas keterampilan riset bagi santri.

  Dokumentasi Kegiatan

            Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 64 peserta mahasantri dari Pesentren Riset Al-Muhtada serta 40 peserta dari luar Pesantren Riset Al-Muhtada yang berasal dari kalangan santri MA, SMA, MK ataupun mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia. Nantinya kegiatan Short Course ini akan diselenggarakan selama 4 minggu dengan setiap minggunya diisi oleh pemateri yang berbeda, untuk minggu pertama yakni Sabtu, 09 Oktober 2021 diisi oleh Bapak Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., Ph.D. , kemudian minggu kedua yakni Sabtu, 16 Oktober 2021 akan diisi oleh Bapak Afrimadona, S.IP., M.A., Ph.D. selaku Direktur Eksekutif Populi Center, lalu minggu ketiga yakni sabtu 23 Oktober 2021 Dr.Aji Sofanudin M.Si. selaku peneliti senior Bailtbang  Agama RI. Terakhir untuk minggu keempat 30 Oktober 2021 akan diisi oleh Dr. dr. Hardisman, M.HID. selaku Dosen FK Universitas Andalas.

            Pada pertemuan pertama kali ini pemateri sekaligus  Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada yakni Bapak Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., Ph.D.  menyampaikan tentang materi  dasar-dasar penelitian, seperti pengertian penelitian, tujuan penelitian, karakteristik penelitian dan jenis-jenis penelitian. Pertemuan pertama ini berlangsung dari pukul 08.30-11.00, selain pemaparan materi, dalam pertemuan kali ini juga ada sesi diskusi. Antusias peserta sangat sekali terasadengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan. Kemudian pertanyaan dari para peserta langsung dijawab oleh Pak Dhani selaku pemateri.

            Satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh salah satu peserta bernama Deva Sindi Maulita : “Tadi dikatakan, bahwa salah satu karakteristik penelitian yaitu membutuhkan keahlian. Bagaimana langkah yang dapat dilakukan untuk seseorang yang ingin melakukan penelitian untuk pertama kali, di mana keahliannya dalam bidang penelitian masih dibilang minim?”. Hal ini tentu menjadi pertanyaan menjadi menarik bagi peneliti pemula bukan?. Lalu pemateri  memberikan jawaban, bahwasannya jangan pernah berkecil hati jika kita tidak memiliki keahlian, karena kita sebenarnya punya keahlian hanya saja keahlian tersebut harus selalu diasah, selain itu apabila kita sudah merasa memiliki keahlian kita juga tidak boleh sombong dan berpuas diri lalu tidak mau belajar karena merasa sudah pintar. Melalui kutipan kata-kata dari SteveJobs yaitu “Stay hungry stay foolish!”, Pak Dani menjelaskan bahwasannya kita harus selalu merasa lapar dan miskin dalam ilmu, agar kita selalu mau belajar dan mau berusaha terus-menurus mengembangkan ilmu kita.

            Tentu saja acara ini tidak berlangsung  begitu saja, ada output yang perlu di kerjakan oleh para peserta berupa penugasan resume materi yang disampaikan oleh pemateri. Semoga pertemuan pertama kali ini mampu membuka cakrawala bagi para peserta dibidang penelitian, agar nantinya setelah selesai dari kegiatan Short Course nantinya  dapat melahirkan peneliti-peneliti hebat pada bidangnya.

Reporter : Tia Rosalita mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada

Editor     : Azkia Shofani Aulia mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada