Menyangkal dan Merubah Stigma dan Stereotip Negatif atas Perspektif Masyarakat Terhadap Santri

Oleh: Mohammad Fattahul Alim

Santri adalah julukan yang melekat kuat bagi para penuntut ilmu yang belajar ilmu agama Islam di pondok pesantren. Julukan ini bukan sekadar sematan saja, tetapi juga sebagai stereotip khas tersendiri. Santri merupakan murid Kyai yang dikenal ulung dan cakap dibidang agama juga sebagai calon penerus ulama kedepannya. Kehidupan yang mandiri dan sederhana selama mondok serta jauh dari orang tua dan gemerlap dunia menjadi salah satu tirakat yang harus dijalani santri dengan sabar, syukur, dan ikhlas. Tugas berat berada di pundak mereka dalam memegang estafet untuk menyiarkan dan menegakkan agama Allah Swt di muka bumi. Ilmu agama yang luas dan akhlak yang baik menjadi ciri khas utama santri. Sarung dan peci seakan tidak bisa dilepaskan dari outfit santri khususnya di Indonesia. Dibalik kemuliaan dan keistimewaan santri tersebut, terdapat perspektif negatif dan pandangan sebelah mata masyarakat terhadap santri yang kerap terjadi di kehidupan masyarakat, khususnya dilingkungan masyarakat abangan (jauh dari ilmu agama) atau Islamofobia.

Munculnya berbagai stigma dan stereotip negatif tidak jarang terlontar dari lisan masyarakat yang bisa dibilang minim atau dangkal pengetahuan agama Islam. Eksistensi santri dan pondok pesantren sering dicap mereka sebagai sarang para teroris. Gerak-gerik aktivitas pondok pesantren kerap dicurigai secara berlebihan oleh masyarakat. Oleh karena itu, terdapat orang tua yang enggan atau menolak memondokkan anaknya. Stigma tersebut sangatlah tidak berdasar sama sekali dan seolah-olah menyudutkan peran santri. Pemikiran masyarakat tersebut tidak muncul secara tiba-tiba dan dilatarbelakangi sering maraknya aksi terorisme di Indonesia yang ditengarai atau diduga dilakukan atas nama santri. Stigma tersebut perlu ditepis dan diluruskan agar tidak menjadi stigma buruk yang luas dan mengglobal, yang nantinya dapat mencoreng nama dan menjadikan citra buruk terhadap santri dan pondok pesantren.

Aksi terorisme sebenarnya berakar dari penafsiran serta pemahaman yang salah dan keliru terkait makna jihad dalam Islam. Pemahaman ini pastinya diperoleh dari guru yang tidak kredibel dan tidak mempunyai pengetahuan agama yang baik, luas, dan mendalam. Mereka ini hanya bermodal teks terjemahan Al-Qur’an dan hadis yang di copy paste dari internet atau media sosial tanpa dibekali ilmu agama yang kuat dan benar. Didalam Islam, sangat tidak dibenarkan melakukan berbagai tindak kekerasan dengan dalih jihad dan dakwah atas nama Islam. Penerapan akhlak dan adab yang baik merupakan pendidikan utama santri di pondok pesantren untuk mencetak mukmin yang berakhlakul Karimah, sopan-santun, dan beradab kepada kyai, guru, orang tua, masyarakat, dan lingkungan.

Pandangan sinis terhadap santri hingga sekarang ini juga masih terus terjadi dan secara tidak langsung menciptakan stratifikasi sosial di masyarakat. Stereotip negatif oleh masyarakat terhadap santri contohnya seperti meremehkan kapasitas dan kapabilitas santri dalam bekerja dan menjadi orang yang mapan. Stereotip ini didasarkan pada kenyataan dilapangan yang menunjukkan kualitas pendidikan umum santri yang rendah seperti hanya lulusan SMA, SMP, SD, atau bahkan tidak pernah sekolah sama sekali. Santri dipandang rendah karena aktivitasnya hanya mengaji dan tidak mempunyai gelar akademis untuk bekal mencari kerja. Dilingkungan masyarakat, terkadang kita melihat orang tua yang menolak menikahkan putrinya yang seorang sarjana dengan seorang santri. Orang tua tersebut menilai derajat putrinya yang sarjana lebih tinggi dan bermartabat dibandingkan dengan santri. Mereka juga memiliki kekhawatiran bahwa menikahkan anaknya dengan seorang santri justru akan menjadikan hidup putrinya menjadi miskin dan melarat. Stereotip ini harus ditepis dan diluruskan agar tidak berkembang luas dan memperburuk citra baik santri.

Santri harus bisa membuktikan bahwa perspektif atas stereotip masyarakat tersebut tidak benar dan keliru tentunya dengan pemahaman ilmu agama dan akhlak yang baik. Sejatinya pondok pesantren bukan tempat bagaikan balai pelatihan kerja untuk mencetak pekerja yang handal di lapangan. Pondok pesantren adalah tempat belajar dan berlabuh bagi santri untuk menuntut ilmu agama secara benar dan mendalam berasaskan sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah Saw. Santri selama mondok diajarkan untuk hidup sederhana dan mandiri yang menjadikan mereka memiliki sikap sabar, ikhlas, dan syukur serta menumbuhkan mental jiwa yang tangguh dan pantang mengeluh walau dalam keadaan sulit apa pun. Sandaran dan tempat munajat mereka adalah Allah Swt.

Kegiatan di pondok pesantren yang padat juga melatih kedisiplinan dan ketrampilan setiap santri untuk memanajemen waktu sebaik mungkin ditambah takzir (hukuman) yang berat bagi santri yang melanggar peraturan pondok pesantren. Pada era-era ini, telah banyak berdiri berbagai pondok pesantren modern yang memiliki tingkatan-tingkatan sekolah di dalamnya sehingga tidak berfokus pada ilmu agama saja, tetapi juga ilmu umum agar santri lebih siap dan kompetitif di persaingan global sekarang ini. Tidak sedikit para santri saat ini mondok sambil kuliah di berbagai perguruan tinggi seperti IAIN, UIN, maupun PTN. Santri juga dilatih ketrampilan skill untuk bisa kreatif dan inovatif dalam berwirausaha seperti menjahit, mendesain, membuat kerajinan, dan lain sebagainya. Dari hal ini menunjukkan bahwa stereotip negatif masyarakat sangat tidak benar dan tidak berdasarkan fakta di pondok pesantren.

Oleh karena itu, berbagai stigma dan stereotip negatif atas perspektif masyarakat terhadap santri sangat tidak rasional dan sesuai dengan keadaan di lapangan. Stigma santri dan pondok pesantren merupakan sarang teroris serta stereotip pandangan sinis masyarakat tersebut harus bisa disangkal dan ubah oleh santri agar tidak mencoreng kemuliaan santri sebagai calon penerus para ulama kedepannya. Hal itu dilakukan santri harus menggunakan pemahaman ilmu agama yang baik dan benar serta tetap menjunjung akhlak atau adab kepada sesama manusia bahkan lingkungan. Santri juga telah memberikan sumbangsih yang besar dan tanpa pamrih sejak masa pergerakan sebelum kemerdekaan Indonesia sampai detik ini baik bagi agama, nusa, dan bangsa. Salah satu bukti pengakuan peran santri terhadap bagi bangsa dan negara Indonesia adalah ditetapkannya Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober yang bertepatan dengan keluarnya Resolusi Jihad oleh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Semoga Tuhan Mengiyakan

Oleh: Zeti Pazita

Semilir angin berhembus menelusup diantara rindangnya dedaunan pohon saga di tepi jalan sepi itu. Jika berjalan 20 meter ke arah barat daya darinya akan kau temukan sejulur tiang lampu yang tak pernah padam menghiaskan cahaya bagi jalan di kegelapan malam. Di bawahnya dapat kau jumpai sepasang kursi kayu tempat bersinggah. Kursi itu tak saling berhadapan, pun tak saling berpunggungan. Hanya saling berderet menggenggam satu dengan yang lain, seakan takut akan ancaman perpisahan.

Aku berjalan menyusuri jalanan sore dengan langkah setengah diseret. Baru-baru ini aku kehilangan semangat dan harapan tentang tujuan pulang. Ku lihat sepasang kursi lengang dibawah seonggok tiang, maka ku hampiri untuk beristirahat sejenak. Ku rebahkan bahu yang sarat akan keluh kesah duniawi di atas sandarannya. Ku pejamkan mata. Melodi penuh elegi bersusulan menyerbu isi kepalaku demi menumpahkan air mata. Ku nikmati dan ku biarkan mengalir begitu saja. Ku tenggelamkan diri di dalam lautan pikiran.

Selang beberapa waktu, sebuah suara membuyarkan ratapanku. Aku terkesiap dan langsung membenarkan posisiku. Aku duduk dengan sedikit kaku dan menunduk. Dalam diam, ku perhatikan. Waktu dan sepi menyapa bersusulan. Aku tertegun pada bayangan diri. Seakan tak siap menanggapi. Entah perihal rasa yang mana, aku bahkan sudah sedikit lupa. Entah kesedihan mana yang menyelimuti, aku bahkan sudah tak tau pasti. Namun, satu hal yang aku yakini bahwa setiap pertemuan akan menghantarkan diri pada gerbang perpisahan. Pun yang sedang aku hadapi. Karena sudah cukup bagiku menahan kepergiannya.

Karena jika kekaguman kita tak saling membawa pada jalan Tuhan Yang Menciptakan, sungguh kita sudah saling melalikan. Maka bergegaslah tinggalkan. Agar tak ada luka yang semakin menganga. Agar tak ada harap yang semakin melangit. Agar terjaga rasa dari hinanya patah hati di dalam kubangan dosa. Maaf, jika terluka, namun harus agar kita tau bahwa ada yang lebih indah dari sekedar cinta kepada makhluk. Cinta dan ridha-Nya adalah segala.

Wahai hati, berhenti mengingkari diri sendiri. Tak mengapa jika pada akhirnya tak bersama. Namun untuk saat ini, mari saling jaga dalam doa. Hantarkan puisi cintamu pada langit-Nya. Biarkan Allah mengurus sisanya. Karena usaha dan percaya adalah kombinasi tepat untuk menjaga hati. Puji syukur pada-Nya yang hingga saat ini masih memberikan kesempatan untuk saling kembali. Selamat berjumpa lagi pada versi terbaik diri.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Webinar Beasiswa Unggulan “Ngobrol Beasiswa Unggulan Bareng Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Negeri Semarang” Pesantren Riset Al-Muhtada

(30/07/2021). Pesantren Riset Al-Muhtada telah  melaksanakan Webinar Beasiswa Unggulan dengan tema “Ngobrol Beasiswa Unggulan Bareng Mahasiswa Berprestasi Utama UNNES”. Pembicara dalam webinar tersebut  merupakan mahasantri Gema Aditya Mahendra yang juga merupakan seorang Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama Universitas Negeri Semarang 2021 sekaligus Awardee Beasiswa Unggulan Tahun 2020. Partisipan dalam webinar ini kurang lebih terdapat 90 orang yang terdiri dari peserta umum berasal dari berbagai universitas, mahasantri, dan dihadiri oleh pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada.

Kegiatan berlangsung dengan dipandu oleh Master of Ceremony Maulina Istighfaroh Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada. Sambutan pertama oleh saudari Khasiatun Amaliyah selaku ketua panitia. Khasiatun menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada yang telah mendukung terselenggaranya acara webinar, para panitia, dan seluruh peserta webinar dalam menyukseskan acara dengan lancar. Selain itu, Khasiatun menyampaikan bahwa tujuan hadirnya Webinar ini tidak lain adalah untuk menambah pengetahuan, menambah bekal bagi mereka yang akan mengikuti seleksi Beasiswa Unggulan, serta sebagai sarana mempererat tali silaturrahmi baik antar mahasantri maupun mahasantri dengan para peserta dari berbagai universitas.

Sambutan selanjutnya oleh pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada (Dr. Dani Muhtada, M. Ag., M.P.A) sekaligus membuka acara. Beliau mengucapkan terima kasih kepada panitia yang bertugas dan seluruh peserta yang sudah hadir. Dr. Dani Muhtada M.Ag., M.P.A menyampaikan bahwa webinar ini sebagai sarana berdiskusi atau sharing berbagi ilmu pengetahuan dari narasumber yang sudah menjadi awardee beasiswa unggulan kepada para peserta. Dengan demikian, peserta dapat mendapatkan manfaat dari apa yang disampaikan oleh narasumber.

Kegiatan inti yakni pemaparan materi oleh Saudara Gema Aditya Mahendra dengan moderator Zeti Pazita mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Materi berisi hal-hal yang berhubungan dengan Beasiswa Unggulan mulai dari pengertiannya, jenisnya, hingga diberikan contoh mahasiswa yang mendapatkan beasiswa tersebut beserta prestasi apa saja yang dilampirkan. Antusiasme peserta ditunjukkan dengan mereka aktif bertanya kepada narasumber. Kegiatan berakhir dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh saudara Nurharianto Jayadi, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, serta dilakukan sesi foto bersama. Harapannya dengan telah terlaksananya webinar ini, peserta yang mengikuti kegiatan dengan baik dapat menjadi lebih paham mengenai Beasiswa Unggulan dan terbekali ilmu untuk mendaftar beasiswa tersebut.

 

Penerjuan Tim PPL Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAIN Salatiga di Pesantren Riset Al-Muhtada

Pada Kamis tanggal 22 Juli 2021 Pesantren Riset Al-Muhtada kedatangan keluarga baru, Tim PPL IAIN Salatiga beserta 14 mahasiswa peserta PPL dari program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT), IAIN Salatiga. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada (Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A.), Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Salatiga (Dr. Benny Ridwan, M.Hum.), 2 Dosen DPL IAIN Salatiga, 14 mahasiswa/mahasiswi peserta PPL IAIN Salatiga, serta segenap mahasantri pesantren Riset Al-Muhtada. Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A. menyambut hangat mahasiswa IAIN Salatiga beserta dekan dan pendamping PPL. Penyambutan PPL Mahasiswa IAIN Salatiga ini berlangsung secara blended, yaitu offline yang berlangsung di asrama putra Pesantren Riset Al-Muhtada, serta online melalui platform Zoom Meeting dan Youtube.

Sambutan diawali oleh saudara Gema Aditya Mahendra, mahasantri sekaligus Presiden Pesantren Riset Al-Muhtada. Saudara Gema menyampaikan selamat datang kepada tim PPL IAIN Salatiga, serta berterima kasih atas kepercayaan tim PPL IAIN Salatiga yang telah menerjunkan mahasiswanya untuk melakukan kegiatan PPL di Pesantren Riset Al-Muhtada.

Sambutan sekaligus penyerahan mahasiswa PPL IAIN Salatiga disampaikan secara langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, IAIN Salatiga (Dr. Benny Ridwan, M.Hum.). Dr. Benny Ridwan, M.Hum. berharap agar dalam 1 bulan kedepaan, yaitu 22 Juli hingga 22 Agustus, mahasiswanya dapat belajar terkait pola dan metode yang dikembangkan di Pesantren Riset Al-Muhtada, serta akan menjadi pertemuan yang berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya.

Selanjutnya, yaitu acara inti berupa sambutan dan pemaparan mengenai Pesantren Riset Al-Muhtada yang disampaikan oleh Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., selaku pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada. Beliau mengucapkan selamat datang kepada tim PPL IAIN Salatiga, dan merasa mendapat kehormatan karena telah dihadiri oleh dekan dan tim PPL IAIN Salatiga. Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A. memaparkan secara detail terkait Pesantren Riset Al-Muhtada. Beliau berharap, mahasiswa PPL IAIN Salatiga dapat bergabung dengan kegiatan di Pesantren Riset Al-Muhtada, supaya dapat memperkaya pengetahuan mahasantri, serta dapat membentuk jejaring antara mahasiswa IAIN Salatiga dan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang statusnya sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama terkait rangkaian kegiatan yang akan berjalan kedepannya, kemudian diakhiri dengan bacaan doa yang dipimpin oleh saudara Muhammad Mahfud Muzadi, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, serta foto bersama.

Manakah yang Menjadi Prioritas?

Oleh: Zahrotuz Zakiyah

Prioritas yang kita ketahui adalah apa yang kita utamakan atau apa yang selalu kita anggap paling utama. Dalam KBBI prioritas adalah yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain, sedangkan memprioritaskan berarti mendahulukan atau mengutamakan sesuatu daripada yang lain.

Berbicara mengenai prioritas, pastinya bagi orang yang beragama islam memprioritaskan hal beribadah kepada sang kholiq. Namun yang saya bahas adalah prioritas dalam hal waktu, atau lebih tepatnya mana waktu yang kita prioritaskan dalam hal melakukan aktivitas sehari-hari.

Contoh hal lain dalam lingkup prioritas yang kita ketahui umumnya yaitu dalam hal berpacaran. Dalam hal ini pastinya kita tahu bahwa pacar ini selalu menjadi prioritas kita, padahal belum tentu dia (sang cowok) memprioritaskan kita. Seorang wanita yang bucin (budak cinta) pastinya lebih memprioritaskan seorang cowoknya, seperti dalam hal chattingan, dia menyematkan chat cowoknya, karena menurutnya dia orang yang diprioritaskan dalam hal berhubungan, padahal cowoknya belum tentu memprioritaskan.

Kita sebagai orang yang berpendidikan jangan sampai terjerumus dalam hal yang negatif, terutama dalam hal percintaan ini. Karena menurut saya, pacar bukanlah seorang yang patut di prioritaskan, tetapi dia hanyalah seorang yang dapat memacu semangat kita. Lantas apa yang patut kita prioritaskan?

Seorang mahasiswa yang sekaligus menjadi seorang santri, mereka harus pandai dalam hal memprioritaskan waktu. Karena mereka di hadapkan dengan 2 waktu, yaitu waktu untuk kuliah dan waktu untuk kegiatan pondoknya. Apakah kita harus memprioritaskan keduannya atau salah satunya?

Menurut saya, jadikan keduanya sebagai prioritas di waktu yang tepat. Maksudnya yaitu, dimana saat kita sedang melakukan kegiatan kuliah, maka prioritaskan waktu kuliah kita dan gunakan dengan sungguh-sungguh. Kemudian dimana saat waktu untuk pondok tiba, maka jadikanlah prioritas waktu tersebut. Jangan sampai kita memprioritaskan waktu pondok di dalam waktu kuliah, dan sebaliknya. Karena pasti keduanya memiliki waktu sendiri-sendiri. Sesibuk apapun semua itu, kita harus pandai dalam mengaturnya.

Contohnya, kita kuliah diwaktu pagi hingga sore, mungkin ada beberapa yang waktu kuliahnya di malam hari. Sedangkan kegiatan pondok biasanya dilaksanakan pada malam hari. Jangan sampai kita absent dalam kegiatan pondok dikarenakan terlalu banyak tugas kuliah yang belum kita kerjakan. Jikapun itu bukan karena tugas kuliah, kita biasakan izin kepada orang yang sudah ditentukan untuk mengatur jalannya kegiatan tersebut. Hal tersebut sudah jelas, dimana kita harus memprioritaskan dua waktu yang tepat.

Jika kita memprioritaskan dua waktu yang tepat, maka itu akan menjadikan sebuah kebiasaan bagi diri kita. Selalai apapun orang, jika dia sudah memprioritaskannya maka dia akan tetap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Maka, jangan biarkan dua waktu yang berharga kita biarkan bertaburan karena kita hanya memprioritaskan salah satunya.

Bukan hanya untuk seorang mahasiswa yang sekaligus santri, tetapi siapapun itu kita harus memprioritaskan yang tepat. Mana yang patut menjadi prioritas, maka prioritaskan! Jangan sampai karena kita sudah memprioritaskannya, tetapi kita malah membiarkannya begitu saja. Dan jangan biarkan karena kita telah memprioritaskannya, ternyata dibalik itu ada hal yang lebih penting tetapi kita biarkan begitu saja karena kita telah memprioritaskan satu hal.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

 

Berharap dengan Berdoa

Oleh: Khasiatun Amaliyah

Beberapa sifat manusia di antaranya, tidak pernah puas akan sesuatu yang sudah ia miliki atau dapatkan. Selalu menginginkan dan mengharapkan lebih dari apa yang sudah ia peroleh saat ini. Menjadi baik jika rasa tidak puas tersebut adalah bentuk rasa ingin dan haus akan ilmu pengetahuan dan hal-hal lain yang pada dasarnya adalah untuk mencari ridha-Nya. Begitu pun sebaliknya, menjadi buruk apabila rasa ingin dan haus untuk mencari lebih itu mengarahkan pada perilaku dan niat-niat buruk. Misalnya ingin dipandang baik di mata manusia, munculnya perilaku sombong, dan perasaan bahwa segala sesuatu yang diperoleh karena kerja kerasnya, sebab hebatnya diri, padahal semua tidak lain karena ada campur tangan-Nya. Manusia lemah tanpa pertolongan dari-Nya.

Bolehkah seseorang berharap? Boleh atau tidak? Bagaimana jadinya jika dalam hidup manusia tidak memiliki harapan? Menjalani hidup apa adanya, tidak adanya gairah dan semangat dalam meraih harapan tersebut. Ibaratnya harapan merupakan sesuatu yang begitu ingin direngkuh bagaimana pun itu. Menjadikan diri menjadi manusia optimis dan penuh semangat. Terus saja langkahnya berjalan menggapai harapan, tapi sayap dipatahkan bahkan sebelum terbang.

Gagal. Satu kata yang mampu membuatnya kecewa, bahkan sempat meremehkan, dan menyalahkan diri. Mempertanyakan kenapa harus gagal? Sebenarnya permasalahan bukan terletak pada kegagalan itu, tapi bagaimana seseorang bersikap setelah berada pada titik keadaan gagal atau berhasil.

Kebanyakan manusia lebih sering memperbesar harapan dan angan-angan tanpa disertai kesadaran diri dengan doa yang pasti. Berdoa dan ingat pada-Nya hanya pada saat dan situasi tertentu saja, seolah-olah hanya dengan mengucap beberapa bait kata seketika langsung terjadi.

Berdoa ibarat senjata yang luar biasa bagi kita, terlebih seorang muslim. Akan tetapi tanpa mau mengusahakan sendiri dan keyakinan yang benar dalam berdoa, bagaimana bisa apa yang diharapkan akan terwujudkan?

Jikalau saja seseorang ragu terhadap apa yang mereka doakan, harapkan, dan usahakan bagaimana mungkin Dia akan percaya bahwa kita siap menerima apa yang kita minta?

Berharap dengan berdoa, mempercayainya, dan yakin dalam mengucapkan serta mengusahakan. Harusnya menjadikan manusia sadar, bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak-Nya. Berharap melalui doa, jika harapan itu terjadi maka itulah bentuk kebaikan dan kasih sayang-Nya pada kita sebagai seorang hamba. Dia melihat usaha, kepayahan, kesulitan, dan apa-apa yang telah kita lakukan. Jikalau pun harapan itu ternyata tidak terjadi, tidak apa-apa, Dia masih ingin melihat kesungguhan kita dalam berdoa dan berusaha. Bisa jadi ternyata, apa yang kita harapkan ternyata bukanlah yang terbaik, dan ada sesuatu yang lebih baik, maka bersabarlah dan jangan berputus asa.

Rasakan bedanya, saat berharap dengan benar-benar melibatkan-Nya. Tidak akan ada rasa kecewa, sedih, dan prasangka buruk lainnya. Justru kita akan menjadi pribadi yang senantiasa mudah bersyukur terhadap segala sesuatu yang terjadi, dari yang terkecil sekalipun.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang Angkatan 2020

Nasib Petani Dikala Pandemi

Oleh: Mohammad Fattahul Alim

Petani, kata yang sebagian besar masyarakat awam akan mengatakan bahwa petani merupakan orang yang bermata pencaharian di bidang pertanian atau perkebunan. Secara teoretis, pengertian tersebut tidaklah salah karena sesuai dengan kondisi empirisnya di lapangan. Petani juga memiliki makna, hakikat, dan peran yang sangat mendalam dan berarti terkhusus untuk bangsa Indonesia itu sendiri yang mendapatkan julukan “Negara Agraris”. Peran petani sangat besar untuk negeri ini karena mereka merupakan penyangga ketahanan pangan nasional sejak dahulu hingga sekarang. Hal ini tidaklah mengherankan jika waktu itu Presiden Ir. Soekarno pernah memberikan singkatan khusus yakni Petani (Penyangga Tatanan Negara Indonesia). Nasib para petani sejak dulu sampai sekarang belum dapat menunjukkan progres kesejahteraan yang semakin meningkat, terlebih dikala Pandemi Covid-19 saat ini.

Tingkat kesejahteraan petani selama pandemi ini justru menurun, walaupun aktivitas pertanian para petani terlihat berlangsung normal seperti biasa. Stok hasil pertanian yang semakin melimpah tidak dibarengi dengan peningkatan permintaan oleh masyarakat. Ini tidak terlepas dari adanya pembatasan mobilisasi sosial demi memutuskan rantai penyebaran Covid-19 sepertipasar yang berakibat terhadap distribusihasil pertanian menjadi terganggu dan tersendat. Konsekuensi dari kondisi itu secara tidak langsung mengakibatkan hukum permintaan pun berlaku. Harga-harga komoditas pertanian menjadi turun sedangkan kebutuhan sehari-hari petani justru meningkat. Petani sangat kesulitan menjual hasil panennya dengan harga wajar atau normal. Contohnya di Kabupaten Demak, berbagai komoditas pertanian seperti padi dan bawang merah memiliki harga jual yang sangat rendah di pasaran. Harga jual panen bawang merah pada saat kondisi normal berkisar antara Rp25.000 sampai Rp30.000 per kilogramnya. Akan tetapi, pada masa panen saat pandemi Covid-19, harganya menurun drastissekitar antara Rp5.000 sampai Rp10.000 per kilogramnya. Harga ini berlaku jika kondisi bawang merah berkualitas bagus, jika kualitas kurang bagus makaharganyabisa beradadi bawah Rp5.000 per kilogram atau tidak bernilai sama sekali.

Kondisi yang dialami para petani ini tidak hanya berlangsung sekali, tetapi telah dua sampai tiga kali terhitung sejak awal pandemi Covid-19. Para petani banyak mengalami kerugian belasan sampai puluhan juta setiap panennya karena telahmengeluarkan biaya untuk membeli bibit, membayar tenaga kerja, dan membeli pupuk dan pestisida hama tanaman. Biaya faktor-faktor produksi (input) tersebut tiap tahunnya semakin meningkat sedangkan harga hasilkomoditas pertanian (output)nyajustru menurun atau tidak stabil. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman. Adanya pembatasan mobilitas masyarakat seperti PPKM yang diberlakukan saat ini cukup menyulitkan distribusi hasil komoditaspertanian. Dengan demikian, situasi tersebut akhirnya berimbas terhadap tingkat penghasilan dan kesejahteraan petani yang menurun.

Langkah dan upaya konkret harus segera dilakukan demi menjaga dan menyelamatkan nasib petani terlebih di masa pandemi Covid-19. Peran petani sangatlah vital sebagai penyangga ketahanan pangan nasional demi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dan untuk mencegah terjadinya krisis pangan nasional selama pandemi. Upaya ini bisa dilakukan mulai dari unit terkecil seperti pemerintah desa masing-masing. Komunikasi sangat penting dilakukan antara pejabat desa dan para petani untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan ini. Contoh langkah konkret seperti membuat kelompok tanisebagai upaya pemberdayaan dibidang pertanian, dan membuat kreasi dan inovasi berbagai olahan atau makanan dari hasil pertanian yang dibutuhkan oleh masyarakat selama pandemi. Pemerintah desa juga perlu berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan dinas-dinas terkait agar harga dan distribusi komoditas pertanian kembali normal dengan tetap mematuhi PPKM yang sedang berlangsung.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Islam: Perihal Mencintai bukan Menghakimi

Oleh: Fafi Masiroh

Salah satu anugerah yang harus selalu kita syukuri hingga saat ini yaitu karena Allah telah menjadikan kita sebagai umat muslim, yakni umat yang memeluk agama islam. Mungkin sejak kecil sebagian atau bahkan hampir dari kita memeluk agama islam karena alasan “mengikuti jalan orang tua”, tetapi sejatinya ketika kita sudah lebih besar kelak kita akan menyadari bahwa menjadi seorang muslim adalah sebuah jalan yang indah. Akan tetapi, masih menjadi sebuah keresahan ketika orang di luar yang cukup banyak menganggap agama islam sebagai agama yang keras, bahkan beberapa menganggap islam mengajarkan perbuatan yang bersifat radikal. Menyadur dari nu.online bahwa islam sebenarnya secara tidak langsung dijebak sebagai agama teroris, misalnya dalam kutipan Adian Husaini (2004) yang menganalisis pendapat Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul “Who Are We?:The Challenges to America’s National Identity” pada tahun 2004. Huntington menuliskan Islam sebagai musuh utama Barat pasca Perang Dingin dengan bahasa yang lugas. Disebutkan juga dalam buku Muslim Society karya Ernest Gelner (1981) bahwa komunitas Muslim dipahami sebagai sumber pemikiran dan gerakan radikal, sedangkan anggapan tersebut sebenarnya cara  bagi komunitas Muslim  tertentu dalam mengembangkan nilai-nilai keyakinan akibat desakan penguasa, kolonialisme maupun westernisasi. Hal tersebut yang mendorong persepsi terhadap islam mengerucut terlihat buruk dan kemudian menimbulkan kerugian besar bagi keseluruhan umat islam.

Keadaan yang sedemikian seharusnya tidak boleh dibiarkan untuk terus berkelajutan. Agama islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW pertama kali merupakan rahmat bagi seluruh alam. Kehadiran islam di tengah masyarakat saat masa Rasulullah SAW mendatangkan beribu kebaikan. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita untuk melanjutkan langkah Rasulullah SAW. Menyampaikan islam dengan bahasa yang santun, sikap yang sopan dan selalu mendatangkan kegembiraan. Agama islam bukan hanya sekedar perihal hukum-hukum agama terkait halal atau haram, yang pada akhirnya menuju jalan yang terkesan menghakimi. Misalnya saja, masih bisa ditemui beberapa orang yang menganggap dirinya sebagai “ustadz” kemudian dengan sesukanya mengharamkan seseorang berbuat sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan syariah islam. Hingga kemudian dia menjudge seseorang ataupun kelompok berbuat bid’ah, kelak akan masuk neraka dan ancaman sebagainya yang menghadirkan islam sebagai agama yang keras dan menakutkan.

Agama islam sejatinya agama yang mendatangkan kegembiraan dan sama sekali tidak menyusahkan. Allah memperbolehkan bagi orang yang sedang kelaparan untuk memakan daging babi ketika sudah tidak ditemukan lagi makanan sebagai usaha mempertahankan hidup. Allah memberikan kemudahan bagi orang sakit untuk salat dengan duduk jika tidak mampu berdiri, bahkan Allah memperbolehkan tayamum ketika tidak ditemukan lagi air untuk berwudhu saat akan sholat. Agama islam sangat luas, tidak hanya mengenai halal-haram tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan. Allah menciptakan bumi tidak hanya sebagai tempat tinggal bagi umat islam, tetapi mereka umat non-islam pun leluasa untuk tinggal dan menikmati hidupnya di bumi. Sungguh betapa besar kasih sayang Allah, sehingga alangkah baiknya kita sebagai hamba Allah untuk saling mencintai dan mengasihi, bukan menghakimi.

Oleh karena itu, sudah saatnya untuk menyampaikan kebaikan islam dengan ma’ruf dan kegembiraan. Begitupun dalam melarang sesuatu yang bertentangan ajaran islam kepada lainnya dengan ma’ruf, tanpa ada paksaan, ancaman pun menghakimi.

Sumber:

Saifuddin,Ahmad. 2020. Islam, Radikalisme, dan Terorisme. https://www.nu.or.id/post/read/64719/islam-radikalisme-dan-terorisme diakses pada 11 Juli 2021.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Apakah Kamu Tidak Berfikir?

Oleh : FafiMasiroh

Akhir-akhir ini kehidupan semakin terasa tidak baik-baik saja. Belum selesai dalam diri kita untuk menerima sepenuhnya adanya pandemi, kemudian ditambah beberapa kehilangan yang menyelimuti. Kehilangan waktu berkumpul bersama dengan keluarga dan teman-teman, hingga beberapa ratusan lebih orang-orang kehilangan keberadaan manusia-manusia terkasihnya. Dari setumpuk peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, kita masih saja mudah lalai untuk sekedar mengambil nilai positif dari apa yang telah kita lalui.

Misalnya saja adanya pandemi yang masih berkelanjutan sampai saat ini, mengingatkan kita bahwa sikap saling peduli itu sangat penting. Bisa kita realisasikan dengan berbagai hal kecil, seperti mengingatkan memakai masker, menanyakan kabar atau paling kecil kita menahan diri untuk di rumah saja ketika tidak ada keperluan yang mendesak. Sedihnya, hal tersebut masih saja kita lalai untuk benar-benar memahami dan menindakinya.

Manusia memang mudah lalai terlebih jika selalu mengedapankan nafsu dalam setiap melangkah. Sehingga, bila saja kita selalu berangkat dari Al-Quran dalam mengambil setiap langkah, maka kelalaian tersebut tidak akan selalu berkelanjutan. Allah dalam firman-Nya berkali-kali mengingatkan kita untuk selalu berfikir“Afalaata’qilun, Afalaatadzakkaruun” terhadap apa yang terjadi di setiap kehidupan kita, supaya kita tidak merasa putus asa melainkan selalu percaya bahwa selalu ada kebaikan bahkan dalam keadaan yang sangat sempit.

أَفَمَنيَعْلَمُأَنَّمَآأُنزِلَإِلَيْكَمِنرَّبِّكَٱلْحَقُّكَمَنْهُوَأَعْمَىٰٓۚإِنَّمَايَتَذَكَّرُأُو۟لُوا۟ٱلْأَلْبَٰبِ

Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkanTuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,(Ar-Ra’d 13:19).

Sebagai makhluk Allah yang berakal, sudah sebaiknya kita untuk selalu berfikir, merenungi dan memahami setiap hal. Dalam sebuah kitab “Ta’limul Muata’alim” karya Syekh Az-Zarnuji menyebutkan bahwa bagi pelajar supaya ilmu mereka dapat tersimpan dengan baik, maka tidak hanya sekedar mengulang-ngulang pelajaran tetapi juga perlu untuk merenungi dan memahami pelajaran tersebut. Sehingga kita memang sangat perlu untuk berkali-berkali berfikir, merenungi dan intropeksi diri terhadap berbagai hal yang bahkan terlewat bagi kita tetapi sebenarnya memberikan kebaikan besar untuk diri kita.

Oleh karena itu, salah satu bentuk iman kita kepada Sang Ilahi Rabbi ialah sebaiknya kita selalu percaya atas setiap hal yang terjadi khususnya di luar kendali kita. Percaya bukan hanya sekedar meyakini kemudian berpangku tangan, tetapi meyakini juga merenungi untuk kemudian kita dapat lebih bijak dalam bersikap terhadap apa-apa yang terjadi. Sungguh dengan demikian akan terasa lebih indah juga menyadarkan kita akan setiap kuasa Allah. Maka, apakah kamu tidak berfikir?

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Trend Kata Gaul Kekinian

Oleh: Azkia Shofani Aulia

Zaman semakin berjalan akan terus berkembang. Ada hal lama yang hilang, ada pula hal baru yang muncul. Masyarakat dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi di kehidupan sekitar mereka. Di era yang serba modern ini, perkembangan terjadi pada bidang teknologi, ekonomi, pembangunan, dan bidang-bidang yang lain. Perkembangan demi perkembangan membuat hal-hal baru bermunculan. Mulai dari terciptanya mesin-mesin canggih yang dapat membantu manusia dalam berkerja, bahkan menggantikan manusia sebagai pekerja. Bagi orang awam, hal itu cukup sulit untuk dipahami, tetapi tidak untuk orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Orang awam lebih banyak menjadi konsumen, sedangkan orang-orang dengan kecerdasan tingginya dapat menciptakan hal yang dapat dikonsumsi orang awam.

Bukan hanya bidang teknologi yang mengalami perkembangan cukup heboh atau dikenal banyak orang. Hal ini dikarenakan perkembangan yang heboh juga terjadi pada bahasa. Bahasa yang digunakan sehari-hari bukan hanya diucapkan secara langsung melalui mulut ke mulut, namun juga lewat ketikan media sosial. Bidang per bidang saling mengait dalam perkembangannya. Meluasnya jaringan media sosial membuat bahasa dari berbagai daerah diketahui oleh masyarakat dari daerah lain. Entah dari kota ke kota bahkan hingga berbagai negara. Bahasa Indonesia dapat diketahui penduduk Rusia, begitu pula penduduk Indonesia dapat mengetahui Bahasa Rusia. Hal tersebut dengan cepat terjadi dan semakin lama dapat semakin meluas. Interaksi yang meluas, menuntut untuk memiliki pemahaman bahasa yang meluas juga.

Bahasa-bahasa yang sering kali dikenal dengan bahasa gaul bermunculan dengan penyebaran melalui media sosial. Ada bahasa inggris yang disingkat, bahasa daerah yang digaulkan, bahkan istilah yang baru tercipta. Kebanyakan yang menggunakan bahasa tersebut adalah kalangan muda. Bukanhanya untuk dianggap gaul saja, namun tidak banyak juga yang menggunakan bahasa gaul tersebut untuk mempercepat sebuah komunikasi atau percakapan. Contohnya saja“otw” (on the way) yang dapat digunakan untuk memberitahu bahwa seseorang tersebut sedang dalam perjalanan dibanding harus mengetik atau berkata “sedang dalam perjalanan”.

Contoh bahasa gaul yang sedang banyak digunakan berasal dari bahasa negara lain saat ini adalah kata “hyung” untuk memanggil orang yang lebih tua atau kakak di mana diambil dari Bahasa Korea. Kemudian ada “asap” merupakan singkatan dari as soon as possible dalam Bahasa Indonesia berarti sesegera mungkin. Contoh lain yaitu “cmiiw” atau correct me if I’m wrong berarti tolong koreksi jika aku salah.

Contoh bahasa gaul dari Bahasa Indonesia sendiri yaitu kata “bund” dari kata “bunda”. Bunda adalah kata panggilan selain ibu. Namun saat ini kata tersebut sedikit dirumah menjadi bund yang banyak digunakan dan dianggap wajar untuk memanggil seorang wanita walaupun belum menjadi seorang ibu. Sebuah kalimat gaul yakni “si kecil aktif ya bund” mengandung kata “bund” juga. Bukan hanya digunakan untuk menanggapi tingkah anak kecil, namun juga tingkah remaja. Begitulah bahasa-bahasa gaul digunakan. Cukup banyak kata dan kalimat digunakan walaupun tidak pada orang yang tepat.

Adanya perkembangan bahasa seperti yang telah dibahas di atas dengan kemunculan bahasa gaul, tentu menghadirkan dampak yang beragam. Adapun dampak positif yang didapatkan dari penggunaan bahasa gaul tersebut adalah kenyamanan dalam berkomunikasi dengan menimbang danmenentukan dengan benar siapa yang akan diajak berkomunikasi. Bahasa gaul bisa menunjukkan kedekatan dengan orang lain. Sedangkan contoh dampak negatifnya adalah banyaknya keragaman bahasa dapat menyebabkan bahasa daerah sopan dan nasional baku menjadi semakin tenggelam karena tertutupi bahasa gaul yang baru muncul. Tetapi pada intinya bahasa gaul tersebut tidak akan menjadi masalah jika digunakan di waktu, kondisi, dan kepada orang yang tepat. Bahasa daerah dan nasional akan tetap lestari jika karena bahasa gaul juga tidak dapat digunakan di waktu, kondisi, dan kepada orang yang tidak tepat. Misalnya antara murid dengan guru ketika proses belajar mengajar dan bos dengan karyawan ketika di kantor.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.