almuhtada.org – Kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad saw. dalam menuntut ilmu adalah kisah yang menggugah semangat, menggambarkan tekad dan dedikasi tinggi dalam mengejar pengetahuan.
Salah satu figur terbaik yang mencerminkan hal tersebut adalah Abdullah bin Abbas ra.. Ia dikenal karena kecerdasan luar biasa dan semangat belajarnya yang tak tertandingi. Selain dikenal sebagai pejuang, Ibnu Abbas juga menonjol sebagai pencari ilmu sejati yang memberi teladan kuat bagi generasi Muslim masa kini.
Lahir di Makkah pada tahun 619 M, Abdullah bin Abbas mulai menempuh jalan ilmu sejak usia dini. Saat Rasulullah saw. wafat, ia masih berusia sekitar 13 tahun, namun telah memiliki pemahaman agama yang mengesankan. Salah satu peristiwa paling inspiratif terjadi saat Ibnu Abbas ingin menyaksikan secara langsung bagaimana Nabi Muhammad saw. melaksanakan salat malam.
Ia pun bermalam di rumah bibinya, Maimunah, istri Nabi saw.. Sepanjang malam ia terjaga, menantikan momen Nabi bangun untuk qiamulail. Ketika waktu itu tiba, Abdullah segera menyiapkan air untuk wudu Nabi. Rasulullah saw. terharu melihat ketulusan dan kesigapan anak muda ini. Beliau pun mendoakannya, “Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkan kepadanya tafsir Al-Qur’an.”
Selama salat malam, Abdullah berdiri di sebelah kiri Nabi. Namun, karena merasa tidak layak berdiri sejajar dengan beliau, ia pun mundur sedikit. Nabi menariknya kembali ke samping dan setelah selesai salat, beliau bertanya alasan Abdullah mundur. Ibnu Abbas menjawab dengan sopan, bahwa menurutnya tidak pantas berdiri sejajar dengan utusan Allah. Rasulullah saw. tersenyum, menenangkan hatinya, lalu mengulang doa agar ia dikaruniai ilmu yang luas.
Setelah wafatnya Rasulullah saw., Ibnu Abbas melanjutkan pencarian ilmunya dengan penuh semangat. Ia mengunjungi banyak sahabat senior untuk belajar langsung dari mereka. Bahkan, ia rela menunggu lama di depan rumah seorang sahabat hanya demi mendapatkan satu hadis. Ketika ditanya mengapa ia tidak memanggil tuan rumah keluar, Ibnu Abbas menjawab dengan rendah hati, “Ilmu harus didatangi, bukan menunggu didatangi.”
Ketekunan ini membuatnya menjadi ulama besar di usia muda. Banyak sahabat mengakui kebijaksanaan dan keluasan pengetahuannya. Ia menjadi salah satu rujukan utama dalam bidang tafsir dan fiqih, serta meriwayatkan lebih dari 1.600 hadis.
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ibnu Abbas sering diundang untuk menghadiri majelis syura, meskipun usianya jauh lebih muda dibanding para tokoh lainnya. Ketika ditanya oleh sebagian sahabat mengapa seorang muda seperti dia diajak dalam majelis, Umar memberi mereka ujian tafsir atas surat An-Nashr. Ibnu Abbas menafsirkan surat itu sebagai isyarat mendekatnya ajal Rasulullah saw. tafsir yang sesuai dengan pandangan Umar sendiri. Sejak itu, kedudukannya semakin diakui.
Ketika ditanya bagaimana ia memperoleh ilmunya, Ibnu Abbas menjawab, “Dengan lisan yang senantiasa bertanya dan akal yang selalu berpikir.” Jawaban ini menunjukkan bahwa ilmu tidak diperoleh secara instan, melainkan dengan usaha serius dan kemauan untuk berpikir kritis.
Kisah Abdullah bin Abbas menyimpan banyak pelajaran penting yang dapat diterapkan oleh generasi masa kini dalam menempuh jalan ilmu:
- Ilmu sebagai Prioritas Utama
Para sahabat memandang ilmu sebagai kebutuhan pokok, bukan sekadar pelengkap hidup. Ilmu adalah sarana untuk mencapai kemuliaan dunia dan akhirat, serta menjadi alat untuk memperbaiki diri dan masyarakat.
- Ketekunan dan Semangat Tanpa Lelah
Ibnu Abbas menunjukkan bahwa semangat belajar tak mengenal usia. Meskipun muda, ia tidak pernah merasa cukup. Ia mencari ilmu dari sumber mana pun dengan rendah hati dan tekad kuat.
- Ilmu sebagai Investasi Sejati
Bagi Ibnu Abbas, ilmu adalah harta paling berharga. Ia menjaganya, mengamalkannya, dan menyebarkannya. Warisan ilmunya hingga kini masih menjadi rujukan umat Islam.
- Menuntut Ilmu Demi Umat
Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri. Ibnu Abbas menjadi panutan karena ia membagikan ilmunya demi kemaslahatan umat. Ia menunjukkan bahwa berbagi ilmu adalah bagian dari pengabdian kepada Allah dan masyarakat.
Perjalanan hidup Abdullah bin Abbas membuktikan bahwa ilmu adalah cahaya yang akan menerangi jalan hidup seseorang. Ketekunannya, kerendahan hati, dan kecerdasannya menjadi inspirasi sepanjang masa. Di tengah tantangan zaman modern, generasi muda Muslim sepatutnya meneladani semangatnya bahwa menuntut ilmu adalah bentuk ibadah yang akan membuahkan kebaikan di dunia dan akhirat. [Syukron Ma’mun]
Editor: Juliana Setefani Usaini











