Mengapa Masih Banyak Orang Memilih Menjadi Guru?

Ilustrasi seorang guru yang sedang mengajar dan memandu muridnya secara ikhlas dalam pembelajaran (magnific.com-almuhtada.org)

almuhtada.org – Belakangan ini, berbagai kabar tentang dunia pendidikan sering kali menghadirkan perasaan yang bercampur aduk.

Di satu sisi, guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan garda terdepan pembentuk generasi bangsa. Namun di sisi lain, tidak sedikit guru yang masih berjuang dengan kesejahteraan yang jauh dari kata ideal.

Ada guru honorer yang mengabdi bertahun-tahun dengan penghasilan yang terbatas. Ada yang sulit naik pangkat, ada yang belum memperoleh kepastian status, dan ada pula yang harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Berbagai persoalan ini membuat sebagian orang mulai bertanya-tanya, apakah profesi guru masih layak diperjuangkan?

Pertanyaan itu juga mungkin pernah terlintas di benak banyak mahasiswa pendidikan. Sebab bagaimanapun, manusia hidup bukan hanya dengan idealisme, tetapi juga dengan kebutuhan yang nyata.

Kita membutuhkan penghasilan untuk bertahan hidup, membantu keluarga, dan merencanakan masa depan. Di tengah berbagai realitas tersebut, tidak sedikit calon guru yang mulai merasa ragu terhadap jalan yang sedang ditempuhnya.

Ketika Idealisme Bertemu Realitas

Tidak dapat dimungkiri bahwa menjadi guru sering kali menuntut pengorbanan yang besar. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan dicurahkan demi mendidik peserta didik agar menjadi manusia yang lebih baik.

Ironisnya, pengorbanan itu terkadang tidak selalu berbanding lurus dengan penghargaan yang diterima. Ada kalanya profesi guru dipandang sebelah mata. Ada kalanya perjuangan mereka tidak terlihat. Bahkan ada yang merasa bahwa profesi ini kurang menjanjikan secara finansial dibandingkan profesi lainnya.

Di titik inilah banyak orang mulai mempertanyakan pilihannya. Namun sesungguhnya, apakah nilai sebuah profesi hanya diukur dari besarnya penghasilan yang diterima?

Ada Buah yang Tidak Dipanen di Dunia

Baca Juga:  Mirisnya Dunia Pendidikan: Saat Buku dan Sepatu Menjadi Masalah Hidup dan Mati

Sebuah ungkapan mengatakan bahwa “buah dari pengorbanan selalu manis”. Akan tetapi, tidak semua manis itu harus dipetik di dunia.

Bisa jadi ada kebaikan yang Allah simpan untuk kehidupan yang lebih kekal, yaitu akhirat. Perspektif inilah yang sering kali terlupakan ketika manusia terlalu fokus pada ukuran-ukuran duniawi.

Allah SWT berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini bukan berarti Islam melarang seseorang mencari kesejahteraan. Namun ayat ini mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ada kehidupan yang lebih panjang dan lebih kekal daripada kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.

Karena itu, ketika seseorang memilih jalan yang penuh manfaat bagi orang lain, bisa jadi Allah sedang menyiapkan balasan yang jauh lebih besar daripada yang mampu dihitung oleh manusia. Seorang guru dapat diibaratkan seperti penanam pohon.

Ia menanam benih, menyiramnya, menjaga pertumbuhannya, tetapi belum tentu ia menjadi orang yang menikmati seluruh buahnya. Mungkin seorang murid akan menjadi dokter, ilmuwan, pemimpin, pengusaha, atau tokoh yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Di balik keberhasilan itu, ada guru yang pernah mengajarinya membaca, berpikir, dan memahami kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Baca Juga:  Simak! Ini Dia Sejarah Adanya Halal Bihalal

Hadis ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amalan yang terus mengalir bahkan setelah seseorang wafat.

Setiap huruf yang diajarkan, setiap pemahaman yang ditanamkan, dan setiap kebaikan yang diwariskan kepada murid dapat menjadi pahala yang terus bertambah selama ilmu tersebut diamalkan.

Menjadi Guru Adalah Investasi Akhirat

Mungkin seorang guru tidak selalu menjadi profesi yang menjanjikan kekayaan. Mungkin jalan ini tidak selalu mudah.

Namun menjadi guru adalah salah satu profesi yang memiliki peluang besar untuk meninggalkan jejak kebaikan yang panjang.

Ketika seorang murid mengajarkan kembali ilmu yang pernah ia pelajari, pahala itu dapat terus mengalir. Ketika seorang murid tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, ada bagian dari perjuangan gurunya yang ikut tercatat sebagai kebaikan.

Inilah mengapa dalam Islam, mengajarkan ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia.

Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Meski demikian, memandang profesi guru sebagai ladang amal bukan berarti mengabaikan realitas kehidupan.

Menjadi guru tidak harus identik dengan hidup dalam kekurangan atau menolak kesejahteraan.

Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Karena itu, menjadi guru bukan berarti berhenti memikirkan masa depan atau kebutuhan hidup selama di dunia karena mengincar akhiratnya.

Baca Juga:  Kisah Nabi Syuaib a.s dan Kaum Madyan

Sebenarnya yang perlu diubah bukanlah cita-cita menjadi guru, melainkan cara pandang bahwa seorang guru harus menggantungkan seluruh harapannya pada satu jalan saja.

Di era sekarang, banyak pendidik yang tetap mengajar sambil menulis, meneliti, mengembangkan media pembelajaran, menjadi narasumber, membuka bimbingan belajar, atau berkarya di bidang lainnya.

Semua itu adalah bentuk ikhtiar yang tidak mengurangi kemuliaan profesinya sebagai guru.

Pada akhirnya, menjadi guru bukanlah memilih antara dunia atau akhirat.

Menjadi guru adalah tentang menebar manfaat untuk akhirat sembari terus berikhtiar menjemput rezeki yang Allah sediakan di dunia.

Sebab tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan melangkah dengan sungguh-sungguh sambil meyakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berjuang di jalan kebaikan.

Jadi, masih layakkah menjadi guru untuk diperjuangkan?

Jawabannya: iya.

Mungkin jalan ini tidak selalu menawarkan kemudahan.

Mungkin pula tidak selalu menghadirkan kemewahan.

Namun selama langkah itu diniatkan karena Allah, selalu ada alasan untuk tetap bertahan dan terus berjalan.

Sebab kita tidak pernah tahu, dari ilmu yang kita ajarkan hari ini, berapa banyak kebaikan yang akan Allah tumbuhkan di masa depan.

Pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya tentang mencari penghidupan, tetapi juga tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup.

Mungkin tidak semua pengorbanan berbuah manis di dunia. Tetapi siapa tahu, justru ada manis yang lebih besar yang sedang Allah siapkan di akhirat nanti.

Wallahu a’lam bishawab, Barakallah fiikum [] Rezza Salsabella Putri

Related Posts

Latest Post