almuhtada.org – Di zaman sekarang ini, masyarakat ketika berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan seringkali kehilangan esensi bahasa dan maknanya. Sehingga menimbulkan perdebatan yang panjang dan bertele-tele tanpa tujuan pasti.
Namun jika kita bercermin pada masa lalu, yaitu Rasulullah Saw. sendiri. Beliau adalah figur komunikator terbaik diantara nabi sebelumnya. Allah memberikannya mukjizat yang sangat mulia untuk membantu beliau dalam berdakwah, yaitu Jawaami’ul Kaliim.
Jawaami’ul Kaliim secara harfiah berarti perkataan yang berkumpul. Sedangkan secara istilah, ulama berbeda pendapat dalam memaknainya;
- Kitab Al-Qur’an
Kitab Al-Qur’an adalah Jawaami’ul Kaliim, karena Al-Qur’an ditulis dengan bahasa yang ringkas, padat namun memiliki makna yang mendalam dan luas.
Seperti penggalan sabda Rasulullah berikut:
بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ…
“Aku diutus dengan membawa Jawami’ al-Kalim…” (HR. Bukhari 2977).
Dari hadits tersebut, kemungkinan objek yang paling dekat adalah Al-Qur’an.
- Hadis nabi
Rasulullah pernah mengutus sahabatnya, Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman dan berpesan;
ادْعُوَا النَّاسَ وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا وَيَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا
“Dakwahi masyarakat, berikan kabar gembira dan jangan buat mereka lari. Mudahkan dan jangan dipersulit.”
Kemudian Abu Musa bertanya kepada Rasulullah terkait hukum dari dua jenis minuman hasil fermentasi madu (Al-Bita’) dan hasil fermentasi gandum (Al-Mizru).
Kemudian Rasulullah menjawab;
أَنْهَى عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ
“Aku larang semua yang memabukkan..”
Abu Musa pun berpendapat bahwa sabda yang disampaikan Rasulullah itu singkat, padat dan mengandung makna yang mendalam.
Dan pendapat ini juga yang disampaikan al-Munawi dalam Faidhul Qadir,
جوامع الكلم أي ملكة أقتدر بها على إيجاز اللفظ مع سعة المعنى بنظم لطيف لا تعقيد فيه يعثر الفكر في طلبه
“Jawami’ al-Kalim maksudnya adalah kemampuan dimana dengan itu beliau mampu menyampaikan kalimat ringkas namun maknanya luas, dengan susunan yang bagus, tidak menyulitkan yang membuat pikiran bisa meleset dalam memahaminya dan tidak pula…” (Faidhul Qadir, 1/719)
Contoh Jawaami’ul kaliim dalam perkataan Rasulullah;
مِن حُسْنِ إسلاَمِ المَرءِ تَركُهُ مَالاَيَعنِيهِ
“Dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”
Hadis tersebut memiliki makna yang luas, yaitu berkaitan tentang manajemen waktu, kesehatan mental, memetakan fokus dalam kehidupan.
Jawaami’ul Kaliim tidak sekedar kata-kata indah dimasa lalu, tapi termasuk seni sastra tertinggi dalam komunikasi. Dan apakah kita telah mempraktekkan Sunnah Rasulullah tersebut? [Nabila Putri]











