almuhtada.org – Terdapat berbagai jenis ibadah sunnah yang jarang diketahui maupun diamalkan oleh kaum muslim. Bahkan, beberapa ibadah sunnah tersebut mungkin terdengar asing di telinga kita. Salah satu dari sekian banyak ibadah sunnah tersebut adalah puasa Ayyamul Bidh. Apa yang dimaksud dengan puasa Ayyamul Bidh? Bagaimana asal-usul adanya puasa Ayyamul Bidh? Serta apa keistimewaan yang terkandung dalam puasa Ayyamul Bidh? Simak artikel berikut dengan seksama untuk mengetahui jawabannya!
Puasa Ayyamul Bidh merupakan salah satu puasa sunnah yang dilaksanakan tiga kali setiap bulan, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 pada bulan qamariah. Secara bahasa, Ayyamul Bidh dapat didefinisikan sebagai hari-hari yang cerah. Menurut penjelasan para ulama, Ayyamul Bidh diartikan sebagai hari ketika waktu malamnya disinari oleh bulan purnama. Rasulullah Saw. juga sering menunaikan puasa sunnah Ayyamul Bidh sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat An-Nasa’i yang berbunyi:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Ia berkata, ‘Rasulullah Saw. sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah (ayyamul bidh), baik di rumah maupun dalam bepergian’.” (HR. an-Nasa’i)
Lantas, bagaimana asal-usul terciptanya puasa sunnah Ayyamul Bidh? Menurut hadis riwayat Ibnu Abbas r.a., asal-usul puasa Ayyamul Bidh bermula dari diturunkannya Nabi Adam a.s. ke muka bumi. Pada saat itu, seluruh tubuh Nabi Adam a.s. menjadi hitam karena terbakar oleh sinar matahari. Lalu, Allah Swt. menurunkan sebuah wahyu agar Nabi Adam a.s. berpuasa selama 3 hari pada tanggal 13, 14, dan 15 pada penanggalan qamariah. Kemudian, Nabi Adam a.s. berpuasa seperti yang telah diperintahkan sebelumnya. Setelah menunaikan puasa pertama, sepertiga tubuh Nabi Adam a.s. kembali seperti semula. Setelah menunaikan puasa kedua, dua pertiga tubuh Nabi Adam a.s. kembali seperti semula. Akhirnya, setelah menunaikan puasa ketiga, seluruh bagian tubuh Nabi Adam a.s. kembali seperti sedia kala. Lalu, puasa sunnah pada tanggal 13 hingga 15 pada penanggalan qamariah tersebut disebut sebagai puasa Ayyamul Bidh.
Puasa sunnah Ayyamul Bidh juga mengandung berbagai keistimewaan. Salah satu keistimewaannya adalah dilipatgandakannya pahala atau ganjaran hingga sepuluh kali lipat. Dengan kata lain, apabila kita menunaikan puasa sunnah Ayyamul Bidh selama tiga hari dalam satu bulan, maka kita sama saja dengan berpuasa selama sebulan penuh. Dan apabila kita rutin mengamalkan puasa sunnah Ayyamul Bidh setiap bulan dalam satu tahun, maka kita sama saja dengan berpuasa setahun penuh. Sungguh keutamaan yang sangat besar dan sangat disayangkan untuk dilewatkan.
Oleh karena itu, saya mengajak para pembaca, termasuk diri saya sendiri, agar senantiasa mengamalkan ibadah sunnah, salah satunya puasa sunnah Ayyamul Bidh dengan konsisten. Meskipun terdengar sulit dan berat, ketahuilah bahwasannya Allah Swt. telah berfirman bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Cukup sekian artikel yang dapat saya tulis, semoga kita semua dapat menunaikan puasa Ayyamul Bidh, maupun ibadah sunnah lainnya dengan istiqomah. [Muhammad Khoirul Anwar]











