Sejarah Peradaban Islam: Daulah Umayyah di Andalusia

Sejarah Daulah Umayyah yang Menciptakan Peradaban Islam di Andalusia
Sejarah Daulah Umayyah yang Menciptakan Peradaban Islam di Andalusia (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Setelah artikel sebelumnya membahas tentang Daulah Umayyah di Damaskus dan Daulah Abbasiyah, sejarah peradaban islam selanjutnya ialah periode Umayyah di Andalusia.

Sejarah Daulah Umayyah di Andalusia

Bani Abbasiyah mendapat kekuasaan pada tahun 750 M ditandai dengan pemberantasan massal terhadap keluarga Umayyah.

Tetapi, tidak semua keluarga Umayyah mati dalam kejadian tersebut, karena ada segelintir orang yang luput dari pemberantasan, salah satunya ialah cucu Hisyam (Khalifah kesepuluh Daulah Umayyah di Damaskus) bernama Abdurrahman bin Mu’awiyah.

Pelarian Abdurrahman didampingi oleh ajudannya bernama Baddar. Ia masih sangat muda saat itu ketika melarikan diri dari Daulah Abbasiyah, yakni berusia 22 tahun. Ia berjuang selama kurang lebih 6 tahun di Andalusia.

Saat itu, ia mendapat bantuan dukungan dari bangsa Yunani hingga akhirnya berhasil merebut kekuasaan dari suku Mudhari. Abdurrahman mendapatkan julukan al-Dakhil karrna merupakan pangeran Umayyah pertama yang memasuki wilayah Andalusia.

Dinasti Umayyah di Andalusia berkuasa sekitar 3 abad yaitu dari 756 – 1031 M dengan 16 khalifah sebagai pemimpinnya. Banyak pencapaian yang luar biasa sehinga banyak menginspirasi peradaban Eropa untuk keluar dari zaman kegelapan, terutama ketika dipimpin oleh Abdurrahman I, Abdurrahman III, Hakam I, dan Al Hajib al-Mansur Billa atau Muhammad II.

Kemajuan Daulah Umayyah di Andalusia

Kemajuan demi kemajuan terus didapatkan pada masa Umayyah di Andalusia, kemajuan dalam bidang politik maupun peradaban.

Al-Dakhil banyak mendirikan sekolah dan pusat pengetahuan. Di masa pemerintahan Hisyam II, penegakkan hukum berjalan maksimal. Sementara di masa Abdurrahman al-Aushat, peradaban ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang signifikan serta munculnya pemikiran filsafat.

  1. Bahasa dan Sastra
Baca Juga:  Meningkatkan Minat terhadap Sejarah Kebudayaan Islam

Perkembangan Umayyah di Andalusia terus berlanjut, mulai dari berkembangnya arsitektur bangunan, sastra, hingga bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari masyarakat di Andalusia.

Hal ini tak lain berkat lahirnya tokoh-tokoh muslim yang mampu memengaruhi rakyat Andalus sehingga bahasa yang digunakan bergeser menjadi bahasa Arab, setelah sebelumnya menggunakan bahasa latin. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi di Andalusia sejak abad ke IX.

Salah satu tokoh yang mengembangkan bahasa Arab di Andalusia adalah Ali al-Qali, ia dibesarkan dan belajar ilmu hadits, bahasa, nahwu dan saraf dari berbagai ulama terkenal di Baghdad. Ia tiba di Cordoba atas undangan al-Nashir pada tahun 941 M dan menetap di sana hingga akhir hayatnya pada 969 M. Karya tulisnya yang terkenal adalah al-Amali dan al-Nawadir.

Selain bahasa, hal lain yang berkembang di Andalus adalah satra. Pasalnya, sebelum bangsa Islam datang, bangsa Barat belum mengenal sastra dan sastra mulai dikenal setelah kedatangan Islam di Andalus. Penulis yang paling dikenal adalah Ibn ‘Abd Rabbihi dari Cordoba yang merupakan penyair kesayangan Abdurrahman III. Sebelum menjadi penyair, ia merupakan seorang budak dan dibebaskan oleh Hisyam I. salah satu contoh karyanya adalah al-‘Iqd al-Farid.

  1. Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Selain bidang sastra dan bahasa, tak luput bahwa bidang pengetahuan mengalami kemajuan. Banyak muslim dari Andalusia yang menuntut ilmu ke belahan Timur, serta banyak pula ulama yang mengembangkan ilmunya di Andalusia. Seorang sastrawan terkenal bernama Abu Bakar Muhammad bin Marwan bin Zuhr mengembangkan ilmu Fiqih di Andalusia.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Baitul Maqdis, Ini Dia Perannya dalam Sejarah Islam

Ilmu pasti dan ilmu astronomi sangat terkait. Abu al-Qasim Abbas bin Farnas adalah salah satu astronom Andalusia yang terkenal. Dalam bidang kedokteran, termasuk Muhammad I bin Abdurrahman II al-Ausath, Ahmad bin Iyas al-Qurthubi dan al-Harrani.

Sejarawan Andalusia awal yang terkenal termasuk Abu Marwan Abd al-Malik bin Habib (w. 852 M), seorang penyair yang juga ahli dalam ilmu Nahw dan Arudl, dan Abu al-Walid Abdullah bin Muhammad bin al-Faradli, yang lahir di Cordova. Umat Islam telah berhasil meningkatkan ilmu pengetahuan melalui upaya dan pengembangan yang keras.

Pada masa itu, penguasa, hartawan, dan ulama bekerja sama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Umat Islam yang tinggal di negara-negara Islam pada masa itu percaya bahwa pemerintah harus mempromosikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan secara aktif.

Cordoba, ibu kota Andalusia selama pemerintahan Umayyah, menjadi pusat pendidikan dan budaya yang luar biasa. Kota ini menarik ilmuwan, filsuf, dan seniman dari seluruh dunia Islam karena memiliki ribuan perpustakaan dan pusat pendidikan seperti Madrasah al-Qurtuba. Bidang matematika, astronomi, kedokteran, dan sastra adalah semua contoh kemajuan ilmiah.

  1. Arsitektur dan Peradaban

Cordoba menjadi ibu kota negara ketika ad-Dakhil menjadi Amir. Ia membangun dan mempercantik kota dan membangun benteng di sekitarnya dan di istananya. Masjid Agung Cordoba dibangun oleh Al-Dakhil dan masih berdiri hingga hari ini.

Baca Juga:  Islam Nusantara? Berikut Kajian Sosio Historis Penggunaan Istilah Islam Nusantara di Indonesia

Pada tahun 786 M, Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pondasi masjid di tempat yang dulunya merupakan biara Romawi. Anaknya, Hisyam I, memperbaiki bagian utama masjid pada tahun 793 M. Model menara Afrika, yang awalnya bergaya suriah, menjadi inspirasi arsitektur menara Spanyol.

Keluarga Hisyam membangun masjid tambahan. Atap masjid didukung oleh rangkaian tiang yang luas. Lampu-lampu ini terbuat dari kuningan yang mirip dengan lonceng. Hingga masa al-Hajib al-Manshur (977–1000M), perbaikan dan pengembangan terus dilakukan. Katedral sekarang.

Kemunduran Daulah Umayyah di Andalusia

Kemunduran Umayyah mulai runtuh ketika para pemuka Bani Umayyah memecat al-Mu’ayyad dari jabatan khalifah karena dia bersedia memberikan jabatan tertinggi negara kepada al-Nahir II, yang akan mengambil alih jabatan itu setelahnya.

Mulai saat itu, persaingan untuk jabatan khalifah menjadi tidak terhindarkan. Para pemuka penduduk Cordova segera meminta Umawiyah ibn Abd al-Rahman untuk menjadi kahlifah. Tapi ia harus bersembunyi untuk menghindari bahaya yang mengancamnya, jadi ia tidak sempat menikmati jabatan tertinggi negara itu.

Saat itu, Wazir Abu al-Hazm ibn Jahwar memutuskan bahwa Khilafah harus dihapus untuk selamanya karena tidak ada lagi orang yang cocok untuk posisi itu. Periode Muluk al-Thawaif dimulai di Andalusia setelah daulah Umayyah runtuh. [] Raffi Wizdaan Albari

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post