Hubungan antara Qadha’ dengan Takdir

Qadha' dan Takdir yang Behubungan
Gambar Ilustrasi Qadha' dan Takdir yang Behubungan (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan tentang hubungan Qodha dan Takdir menurut ilmu azali. Sesungguhnya hanya Allah Swt. satu-satunya Dzat Yang Maha Mengetahui tentang segala sesuatu, dan telah menakdirkan semuanya sesuai dengan ilmu-Nya yang dapat meliputi segala sesuatu yang diciptakan oleh-Nya.

Telah tersedia berbagai perkara yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. kepada kita melalui Al-Qur’an yang mulia, meski sesungguhnya harus diakui bahwa kita kurang mempedulikannya. Meskipun demikian, Allah Swt. tetap memutuskan ketetapan-Nya demi untuk kebaikan umat manusia.

Jadi, apa saja yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt. tidak terlepas dari adanya hikmah di balik takdirNya itu. Sebab, ilmu Allah Swt dapat meliputi segala sesuatu, demikian pula dengan kebijaksanaan-Nya yang juga dapat meliputi segala sesuatu. Sehingga tidak sesuatu apa pun yang mampu terlepas dari pengawasan ilmu dan kebijaksanaan Allah Swt.

Segala yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dalam takdir-Nya pasti mengandung hikmah tertentu yang tidak diketahui oleh para hamba-Nya. Bahkan kebanyakan hamba-Nya tidak senang dengan sebagian dari ketetapan llah Swt. Tersebut bagi diri mereka. Maklum, karena manusia tidak mengetahui dampak positif yang berada di balik takdir Allah itu.

Padahal, jika manusia mengerti kandungan bernilai positif yang tersimpan dibalik dampak yang terjadi dan terdapat dalam takdir Allah itu, maka pasti mereka akan merasa sedikit lega.
Sebaliknya, jika Allah Swt. melarang kita berbuat keburukan, karena Allah Maha Mengetahui dampak
negatifnya bagi diri kita.

Baca Juga:  Mengapa Rencana Allah Seringkali Tidak Sama dengan Rencana Kita?

ُك ِتب عل ْي ُك ُم ا ْل ِقتا ُل وهُو ُك ْره لّ ُك ْم ۚ وع ٰسى ا ْن ت ْكرهُ ْوا ش ْيـٔا ّوهُو خ ْير لّ ُك ْم ۚ وع ٰسى ا ْن تُ ِح ّب ْوا ش ْيـٔا ّوهُو شر لّ ُك ْم ۗ و ٰاللُّ ي ْعل ُم وا ْنتُ ْم ل ت ْعل ُم ْون

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”( QS. Al-Baqarah Ayat 216).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, tersedia sejumlah kebaikan yang tidak diketahui oleh sebagian orang, sehingga mereka membencinya. Misalnya, Allah Swt. me- wajibkan seorang Mu’min berwudhu’, meskipun udara sangat dingin.

Atau, ketika Allah Swt memerintahkan setiap Mu’min menuju masjid untuk mendirikan shalat berjama’ah, meskipun jaraknya jauh dan menunggu shalat yang satu setelah shalat yang sebelumnya. Tampaknya masalah-masalah seperti itu sangat memberatkan bagi sebagian manusia, sehingga banyak orang yang tidak menyenanginya.

Akan tetapi, di balik segala kesulitan itu ada langkah-langkah yang memperdekat seorang hamba menuju ke surga dengan diliputi oleh rahmat Allah Swt. Selain itu, ada pula beberapa masalah yang cukup disenangi oleh kebanyakan orang, akan tetapi Allah Swt. justru melarang hamba- Nya untuk melakukannya.

Baca Juga:  SANTRI, DIPLOMASI DAN TUGAS MEMODERASI ISLAM & DEMOKRASI

Sebab, masalah-masalah yang dilarang itu akan menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam siksa api neraka, dan dijauhkan dari rahmat Allah Swt. sedikit demi sedikit.

Diriwayatkan, bahwa sahabat ‘Umar Ibnul Khaththab ra. pernah mengatakan, “Aku tidak peduli
keadaan apa pun yang bakal menimpa pada diriku, apakah yang menyenangkan ataukah justru menyusahkan aku.

Sebab, aku tidak menegetahui apa pun yang baik ataupun yang buruk bagi diriku.”
Dengan bahasa lain dapat dikatakan, bahwa setiap Mu’min harus tunduk kepada qadha’ dan takdir
dari Allah Swt.

Mereka tidak perlu merasa risau atas hikmah di balik apa saja yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt. bagi diri mereka. Setiap Mu’min diperbolehkan berusaha mendapat kebaikan semampunya, dengan niatan yang baik pula tentunya.

Akan tetapi, jangan sampai ia tertipuoleh pandangan secara zhahir dari jenis perintah maupun larangan yang berlaku. Sebaiknya kita bersikap pasrah (tawakal) sepenuhnya kepada ketetapan Allah Swt. bagi kita dalam setiap rangkaian akhir dari usaha maksimal yang telah kita lakukan. [] Siti Nurjannah

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post