almuhtada.org – Dalam perjalanan menuntut ilmu, sering kali kita terlalu fokus pada hasil. Baik nilai yang tinggi, pemahaman yang luas, atau berbagai prestasi yang membanggakan.
Namun, ada satu hal yang mungkin sering terlupakan, padahal justru menjadi kunci utama keberkahan ilmu, yaitu adab kepada seorang guru.
Dalam Islam, guru bukanlah sekadar pengajar. Mereka adalah perantara sebuah ilmu, pembimbing ahklak, dan sosok yang dengan sabar menuntun kita dari ketidaktahuan menjadi sebuah pemahaman.
Oleh karena itu, memuliakan guru bukan hanya bentuk sopan santun, tetapi juga merupakan bagian dari adab yang sangat ditekankan dalam kehidupan.
Salah satu teladan yang baik dalam hal ini adalah Imam Syafi’i. Beliau dikenal sebagai ulama besar dengan kecerdasan yang luar biasa, tetapi di balik keilmuannya, ada adab yang begitu tinggi kepada guru-gurunya.
Dikisahkan bahwa Imam Syafi’i sangatlah menghormati gurunya, Imam Malik. Bahkan dalam hal kecil sekali pun. Beliau sangat menjaga adabnya dengan sangat hati-hati. Imam Syafi’i pernah berkata:
“Aku membalik lembaran kitab di hadapan Imam Malik ini dengan sangatlah pelan, karena aku takut suara itu mengganggu beliau.”
Perkataan sederhana ini menggambarkan betapa dalamnya rasa hormat beliau terhadap gurunya. Hal ini sering kali di anggap sepele bagi sebagian orang.
Namun, justru menjadi perhatian besar bagi Imam Syafi’i. Beliau memahami bahwa keberkahan ilmu tidak hanya datang dari kecerdasan ketika kita menuntut ilmu, tetapi juga adab.
Tidak hanya itu, Imam Syafi’i juga menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Meskipun memiliki kemampuan yang sangat tinggi, beliau tidak pernah merasa lebih dari gurunya. Beliau justru semakin merendah di hadapan para gurunya. Dari sinilah kita dapat belajar bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, sudah seharusnya juga semakin tinggi adabnya.
Dalam Islam, memuliakan seorang guru adalah bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri. Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak-hak orang yang berilmu.”
Hadist tersebut menegaskan bahwasanya menghormati seorang guru atau orang yang memiliki ilmu, adalah bagian dari ahklak seorang muslim. Karena tanpa adab, ilmu bisa kehilangan keberkahannya, bahkan tidak memberi manfaat sama sekali dalam kehidupan.
Di zaman sekarang, memuliakan seorang guru bisa diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Seperti mendengarkan dengan baik perkataannya, tidak memotong pembicaraannya, menghargai usaha mereka, serta menjaga sikap dan ucapan.
Hal-hal kecil ini mungkin terlihat sepele, tetapi justru menjadi penentu besar dalam perjalanan kita saat menuntut ilmu.
Sering kali kita bertanya-tanya mengapa ilmu yang kita pelajari terasa sulit dipahami atau tidak membawa perubahan sama sekali dalam diri kita. Bisa jadi, jawabannya bukan pada kurangnya usaha kita, tetapi pada kurangnya adab kita.
Imam Syafi’i telah memberikan contoh bahwa adab adalah fondasi utama dalam menggali keberkahan dari menuntut ilmu. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi sebuah pengetahuan. Namun dengan adab, ilmu akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.
Oleh karena itu, mari kita kembali memperbaiki adab kita terhadap guru, dosen, dan siapa pun yang telah memberikan kita ilmu. Karena sejatinya, memuliakan seorang guru bukan hanya tentang menghormati manusia, tetapi juga tentang menjaga keberkahan ilmu yang Allah titipkan melalui mereka.
Wallahu a’lam bissawab.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah untuk menuntut ilmu dengan adab dan mendapatkan keberkahannya selalu. Aamiin. [] Rosi Daruniah.











