Ketika Falsafah “Nerimo Ing Pandum” Dipakai untuk Membungkam Ketidakadilan

Ilustrasi masyarakat Jawa (Pinterest.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Sebagai masyarakat jawa yang lekat dengan budaya dan sanepa di dalamnya, tentu kita tidak asing dengan falsafah jawa “Nerimo ing pandum”. Perkataan tersebut rasa-rasanya terdengar bijaksana, religius dan tenag. Namun, tanpa kita sadari tidak sedikit orang yang menggunakan falsafah tersebut untuk membungkam luka, menormalisasi ketidakadilan, bahkan mematikan keberanian seseorang untuk memperjuangkan hidup yang lebih layak.

Banyak orang yang memaknai falsafah “Nerimo ing pandum” sebagai “Menerima nasib.” Akibatnya, falsafah ini sering dituduh melahirkan masyarakat yang pasif, takut melawan, dan terlalu mudah menyerah.

Namun sebenarnya, pemaknaan falsafah tersebut tidak sedangkal itu. Nerimo ing pandum lahir setelah manusia melakukan makaryo ing nyoto (bekerja sungguh-sungguh”. Nerimo bukan berarti tidak berusaha, ia adalah kemampuan menjaga batin tetap tenang setelah ikhtiar dilakukan semaksimal mungkin.

Sayangnya, semakin ke sini makna luhur ini kerap bergeser. Tidak sedikit pekerja yang dipaksa menerima upah tidak layak dengan dalih “Yang penting disyukuri.” Tidak sedikit perempuan yang diminta bertahan dalam relasi yang menyakitkan atas nama “Istri harus sabar.” Bahkan ada orang-orang yang kelelahan secara mental tetapi takut mengeluh karena khawatir dianggap kurang ikhlas kepada Allah.

Lalu, apakah sebar berarti diam terhadap ketidakadilan?

Islam ternyata tidak pernah mendefinisikan sabar sebagai kepasifan. Al Qur’an berulang kali menggambarkna sabar sebagai kekuatan aktif untuk bertahan, menjaga diri, dan tetap berjalan di tengah ujian hidup.

Baca Juga:  Bagaimanakah Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Kesulitan? Yuk Cari Tahu!

Nabi Ya’qub bersabar kehilangan Nabi Yusuf, tetapi beliau tidak berhenti mencari. Nabi Musa menghadapi penindasan Fir’aun bukan dengan menyerah, melainkan dengan perjuangan panjang yang penuh keberanian.

Bahkan Rasulullah saw. sendiri tidak tinggal diam ketika melihat kezaliman sosial. Beliau membebaskan budak, memperjuangkan hak perempuan, membela kaum miskin, dan membangun masyarakat yang lebih adil. Jika sabar berarti hanya menerima semuanya tanpa perlawanan, maka dakwah para nabi tidak akan pernah ada.

Seseorang boleh saja menerima bahwa hidup memang penuh ujian. Namun menerima ujian bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dihancurkan oleh sistem, lingkungan, atau manusia lain.

Maka, memahami kembali makna nerimo menjadi penting. Bahwa menerima takdir bukan berarti berhenti bertumbuh. Bahwa sabar bukan berarti membiarkan diri diinjak. Bahwa tenang bukan berarti menyerah. [Khariztma Nuril Qolbi Barlanti]

Related Posts

Latest Post