Resensi Buku: Krimuning Dewi Ontang – anting Karya Widya Leksono Babahe

Oleh:
Siti Zakiyatul Fikriyah

Buku ini adalah hasil karya dari Widya Leksono Babahe yang merupakan seorang alumni Universitas Negeri Semarang (1989). Sejak mahasiswa Widya sudah sering menulis berbagai cerpen dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jawa. Tak hanya pandai dalam menulis cerita atau drama Widya Leksono juga pandai berakting. Lulus dari Unnes Widya langsung mengajar Ekstrakulikuler drama/teater, sudah banyak sekolah yang pernah Widya ajar seperti SMA Muhamadiyah, SMP Agustinus, STIMK Dian Nusantara dll. Hingga sekarang Widya Leksono masih mengabdikan diri untuk mengajar drama/teater untuk Sekolah – sekolah dan warga desanya.

Tulisan ini tercipta atas rasa penasaran penulis tentang asal – usul Chandhikala, biasanya para leluhur (orang jawa) Chandikala akan disangkutpautkan dengan Bethara kala Dewa yang berbahaya dan Candika grha Dewi kematian. Secara ilmiah dan jika dinalar tidak ada yang salah memang benar waktu dimana menjelang magrib merupakan waktu yang berbahaya, waktu yang berbahaya disini bukan karena banyak penjahat atau yang lainnya, namun saat menjelang magrib jika anak – anak masih bermain diluar itu akan membuatnya lupa waktu (dimana dia harus berhenti bermain dan melakukan aktifitas lainnya atau istirahat). Tak hanya itu, dari Islam sendiri juga waktu menjelag magrib akan digunakan untuk bersiap – siap untuk melaksanakan sholat magrib yang tentunya itu lebih penting.

Buku ini menceritakan teka – teki yang dialami oleh seorang Krimuning tentang Chandikala dan jika ada seseorang yang sedang mencari ikan dilaut pada waktu menjelang magrib pasti akan terkena musibah atau kecelakaan dari mulai kapalnya terbalik hingga sampai meninggal dunia, itu juga yang dialami oleh ayah dari krimuning yang meninggal saat sedang mencari ikan diwaktu menjelang magrib tiba. Krimuning merasa ayahnya meninggal dengan cara yang tidak wajar karena biasanya yang meninggal dilaut badannya akan dipenuhi dengan air tapi beda dengan ayah Krimuning, tidak didapati apa – apa pada tubuh ayahnya. Dari kejadian itu membuat Krimuning sangat penasaran dengan adanya Chandikala, setiap hari saat menjelang magrib Krimuning selalu berada didekat pantai dan menatap laut berharap akan adanya sesuatu yang ditemukan atau terjawabnya pertanyaan yang telah mengusik fikiran Krimuning. Namun tak ada hasil yang diperoleh, setiap hari Krimuning hanya mendengar perkataan penduduk sekitar yang menyuruhnya untuk pulang dan melarangnya datang kembali saat menjelang magrib tiba.

Setahun berlalu dari kebiasaan Krimuning yang selalu menatap laut saat menjelang magrib tiba, dari setahun itu juga Krimuning tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, akhirnya Krimuning bertanya – tanya pada para tetua di Desa. Jawaban yang diperoleh hanya menambah teka teki dibenaknya dan membuatnya semakin bertanya – tanya, hampir setiap tetua di Desa selalu ditanya oleh Krimuning namun jawabannya tetap sama “Jika diwaktu Chandikala atau mejelang magrib tiba jangan keluar rumah banyak bahaya diluar.” itu adalah jawaban yang seringkali didengar. Namun akhirnya pertanyaanya mulai terpecahkan oleh Mbah Jito seorang tetua yang sangat disegani oleh warga desa. Jika Krimuning ingin menemukan jawaban dari pertanyaanya maka Krimuning harus tapa diatas batu ditengah laut untuk menemui seseorang yang akan menjawab pertanyaanya, akhirnya Krimuning melakukan apa yang dianjurkan oleh mbah Jito.

Seminggu telah berlalu dari tapa yang dilakukan Krimuning di atas batu dan ditengah laut, dari kesabarannya itu akhirnya dia mendengar ada suara kereta kencana yang mendekat padanya, dan saat membuka mata Krimuning terkagum – kagum oleh seorang Dewi yang mendatanginya dan saat itu pula ada didepan matanya, namun Krimuning hanya bisa diam karena terkagum kagum, “Apa yang kamu inginkan?” tanya dari dewi itu, Krimuning hanya menjawab meminta maaf karena  telah memanggilnya dan tidak menjawab apapun selain meminta maaf. Saat ditanya beberapa pertanyaan lagi entah kenapa Krimuning tidak melontarkan kata – kata apapun, Krimuning merasa tidak ada pertanyaan sama sekali dalam benaknya, Dewi pun berpamitan pergi setelah menemui Krimuning. Buku ini cocok untuk para pelajar yang sedang belajar Bahasa jawa, karena buku ini dituis dengan Bahasa jawa dan buku ini juga menceritakan agar kita lebih berhati – hati saat menjelang magrib tiba, namun sayangnya cerita pada buku ini bahasanya ada yang sulit dipahami sehingga agak membingungkan bagi para pembaca khususnya bagi para pemula yang sedang belajar Bahasa jawa dan cerita pada buku ini tidak jelas pada bagian akhir alias menggantung.

 

Judul Buku     : Krimuning Dewi Ontang – anting

Penulis             : Widya Leksono Babahe

Penerbit           : Cipta Prima Nusantara, Seamarang Jawa Tengah

Resume Buku: Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan

Oleh

Emi Rahmawati

Buku ini ditulis oleh Koentjaraningrat  yang merupakan Guru Besar ilmu antropologi pada Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Perguruan Tinggi Hukum Militer dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Koentjaraningrat lulus sarjana muda di Universitas Gadjah Mada atau UGM pada tahun 1950. Penulis mendapat gelar MA dalam antropologi dari Yale University di Amerika Serikat (1966), dan gelar Doctor Antropologi dari Universitas Indonesia (1958). Tahun 1976 penulis mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Utrecht di negeri Belanda tepatnya pada perayaan Dies Natalis ke-340 universitas tersebut. Penulis pernah menjadi research associate pada University of Pittsburgh di Amerika Serikat. Karyanya sampai sekarang meliputi lebih dari 80 buah buku dan karangan yang diterbitkan di dalam maupun di luar negeri.

Buku ini disusun atas dorongan yang berawal dari sebuah pertemuan dengan cendekiawan dalam diskusi tentang masalah pembangunan atau pada kursus-kursus penataran yang diselenggarakan oleh berbagai konsorsium, lembaga nasional atau departemen. Berkali-kali penulis dihadapi pertanyaan-pertanyaan sekitar masalah aspek-aspek kebudayaan dan mantelitet dari pembangunan kita. Berasal dari hal ini penulis mengerti bahwa ternyata ada suatu prhatian yang besar terhadap masalah-masalah kebudayaan dan pembangunan dalam kalangan yang luas dan hal tersebut mendorong penulis untuk menulis karangan yang sebenarnya merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam daftar wartawan.

Terdapat 25 pertanyaan yang menjadi sub judul dalam buku ini, diantaranya adalah “Apakah orientasi vertikal Itu cocok dengan pembangunan?” Dijelaskan dalam buku ini terdapat tiga sifat-sifat kelemahan dari mentalitas kita yang baru timbul dalam zaman sesudah revolusi. Nilai-nilai budaya ini terlampaui banyak terorientasi vertikal terhadap pembesar, orang-orang berpangkat tinggi, dan orang-orang tua dan senior.  Ketiga sifat kelemahan itu ialah: sifat tidak percaya pada diri sendiri, sifat tak berdisiplin ilmu, dan sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab sendiri.

Penelitian yang pernah diakukan penulis, sifat tak percaya kepada diri sendiri tampak memburuk terutama di antara golongan orang yang hidup di kota, lain dengan petani karena jaln kehidupan oetani sudah ditentukan dengan mantap. Sikap tak percaya terhadap diri sendiri yang memburuk ini adalah suatu konsekuensi dari serangkaian kegagalan, terutama dalam bidang usaha pembangunan, yang dialami oleh bangsa Indonesia dalam zaman post-revolusi. Di zaman kolonial nilai budaya itu telah menimbulkan rasa kekurangan akan kemampuan sendiri, dibandingkan dengan kum penjajah. Orang Indonesia seringkali lebih percaya pendapt orang asing dibanding pendapat ahli bangsa sendiri. Sebaliknya banyak pula orang Indonesia yang secara berlebihan menentang orang asing sebagai kompensasi untuk menutupi rasa  kurang harga diri.

Sifat yang kedua adalah sifat tak berdisiplin murni yang merupakan salah satu pangkal dari banyaknya masalah sosial-budaya yang sekarang kita hadapi. Tidak sedikit orang Indonesia terutama golongan perkotaan hanya berdisiplin karena takut akan pengawasan dari atasan. Saat pengawasan itu kendor atau tidak ada sanksi-sanksi yang mengikatnya, maka hilanglah hasrat dalam jiwa untuk mentaati peraturan-peraturan. Mungkin sifat itu juga disebabkan karena dalam pola pengasuhan dan didikan anak-anak Indonesia secara tradisional, anak dibiarkan berkeliaran mencari alunan hidupnya sendiri tanpa ada pengaturan waktu sehari-hari yang ketat.

Sifat tak bertanggung jawab juga menjadi salah satu kelemahan mentalitas. Sifat ini terutama ada di kalangan pegawai dan priyayi. Di mana pegawai memiliki beban yang dinaungi dalam pekerjaanya. Di zaman kolonial dulu, orang diajar bertanggung jawab, dan banyak pula orang pada saat itu menunjukan  rasa tanggung jawab akan pekerjaannya. Meskipun memang rasa tanggung jawab itu didasarkan pada rasa takut pada senior atau sanksi sebagai konsekuensinya. Tanggung jawab dalam mentalitas manusia ditanamkan dengan sanksi-sanksi, yang sebaliknya tergantung oada norma-norma tertentu. Sikap tidak bertanggung jawab ini disebabkan karena kurangnya pendidikan dan kematangan watak. Manusia yang berasal dari suatu kalangan yang kurang memperhatikan pendidikan biasanya menunjukan sikap tidak bertanggung jawab. Generasi-generasi tua zaman kolonial sifat itu pada sebagian memang sudah merasuk dalm jiwa, tetapi pada sebagian yang lain hanya ada pada lahirnya saja.

Buku ini menjelaskan bagaimana nilai budaya dalam kaitannya dengan mentalitas pembangunan manusia Indonesia pada masa post-revolusi. Kelemahan  mentalitas bangsa ini  disebabkan dari sifat yang ada pada kebanyakan kaum perkotaan. Kurangnya kesadaran, tanggung jawab, serta kedisiplinan akan berdampak pada mentalitas pembangunan bangsa yang saat ini mulai menunjukan banyak permasalahan. Buku ini cocok dibaca siapapun, terutama bagi kaum terpelajar. Di dalamnya mengajarkan akan tanggung jawab, kedisiplinan, dan rasa percaya diri yang kurang diperhatikan. Merupakan tanggungjawab bagi kaum terpelajar untuk menguatkan sikap itu untuk membawa perubahan bagi bangsa. Kalimat yang disajikan penulis, mudah dipahami pembaca, tidak banyak menggunakan bahasa asing. Tetapi terlalu banyak pengulangan kalimat yang pada intinya memuat makna yang sama, sehingga terkesan seolah berputar-putar isinya. Kemudian dalam kalimatnya menggunakan beberapa kata yang tidak baku.

Judul Buku: Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan

Penulis: Koentjaraningrat

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Cetekan Kedelapanbelas: Agustus 1997

Resensi Buku: Politik Para Teroris

Oleh : Muhammad Miftahul Umam
Judul Buku : Politik Para Teroris
Penulis : Mutiara Andalas
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta

Buku ini membahas tentang aksi terorisme dan radikalisme yang masih marak terjadi di berbagai penjuru dunia, lebih khususnya di Indonesia. Dalam cacatan sejarah, Indonesia tidak pernah lepas dari ancaman terorisme, terutama pasca reformasi. Berbagai macam tindak kekerasan dan aksi peledakan bom ditanah air seolah tidak pernah berhenti sekalipun kampanye perlawanan dan operasi pemberantasan telah gencar dilakukan. Mata rantai terorisme seakan tidak pernah putus. Ketika salah satu pimpinan teroris meninggal dunia ataupun tertangkap, maka akan tumbuh ribuan kader untuk melanjutkan jejak perjuangan pimpinannya tersebut. Ironisnya, berbagai aksi terorisme oleh pelakunya dianggap sebagai salah satu bentuk jihad dalam memerangi musuh agama Allah. Pemahaman yang sempit tentang jihad kemudian bertambah rumit ketika disusupi oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi kelompok tertentu. Agama tidak lagi dihayati sebagai pengajar kedamian, namun dimaknai sebagai simbol yang memperbolehkan tindak kekerasan dengan dalil yang terkesan dipaksakan.

Aksi yang dianggap jihad tersebut justru tidak menambah manfaat bagi agama, namun justru malah membuat citra buruk terhadap agama. Untuk dapat memahami masalah tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Perlu pemahaman dari berbagai sudut pandang kenapa tindak kekerasan, radikalisme dan aksi teror bom ditanah air masih marak terjadi. Secara sosiologis-politis, radikalisme dan terorisme merupakan hal yang lumrah dan menjadi bagian dari sunnatullah. Dimana ada sebab, disitu akan ada akibat yang menyertainya. Dimana ada ketidakadilan dan kemiskinan, akan ada perlawanan radikal yang dilakukan. Kemudian dimana ada aksi pembantaian, disitu akan ada reaksi untuk memunculkan perlawanan dan seterusnya. Namun diluar itu semua, terdapat satu hal yang sangat memprihatinkan, yakni radikalisme dan terorime telah diyakini sebagian orang sebagai salah satu strategi dakwah dalam memperjuangkan salah satu agama Allah.

Penulis dalam buku ini menjelaskan analisisnya terhadap permasalahan radikalisme dan terorisme tersebut. penulis menggunakan pendekatan multidisipliner dalam melakukan analisisnya. Satu persatu benang kusut kasus terosisme yang terjadi di Indonesia diuraikan, baik dari penyebab terjadinya peristiwa teror, alasan pelaku dapat dengan mudah memposisikan diri sebagai pembunuh, hingga alasan teologis yang mendasarinya. Penulis mengusulkan 3 hal penting yang harus diperhatikan oleh semua orang. Pertama, keterlibatan komunitas kebangsaan dan keagamaan pasca terjadinya tragedi terosrime. Komunitas ini hendaknya mengungkapkan keimanannya akan keesaan Allah, terutama melalui bela rasa dengan korban. Selain itu kepedulian terhadap mantan terdakwa teroris juga perlu diperhatikan. Masyarakat sering kali mengucilkan mereka. Hal tersebut memang wajar, sebab masyarakat tidak mau wilayah mereka disebut sebagai sarang teroris.

Kedua, mendorong pembacaan penafsiran kritis terhadap teks-teks suci agama yang sepintas membenarkan aksi teror kekerasan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pembelokan makna. Dan terakhir adalah dengan mengangkat isu-isu terorisme anti-kemanusiaan sebagai bahan wacana kebangsaan dan dialog antar agama. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa aksi radikalisme dan terorisme merupakan suatu tindakan yang sangat tidak bermoral dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kelebihan dari buku ini adalah analisis yang disajikan begitu renyah dan enak dibaca. Latar belakang penulis yang menggeluti filsafat dan teologi membuat buku ini menarik dan berbeda dengan buku-buku lainnya. Membaca buku ini dapat membuat pembaca seperti disodorkan kepada masalah yang sebenarnya sehingga harus segera diatasi oleh pihak yang berwenang maupun masyarakat umum. Buku ini dapat menggugah kesadaran pembaca bahwa hidup merupakan anugerah tuhan yang harus kita syukuri. Oleh karena itu kita harus senantiasa mengasihi manusia sebagai sesama makhluk ciptaan tuhan.

Kasih Sayang Orang Tua

Oleh Nyoto Ribowo

Ketika kecil, sesorang sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtua. Bayi sangat membutuhkan air susu ibu dan belaian hangat dari ayahnya. Masa kecil penuh kegembiraan karena mendapat dukungan dan kasih sayang dari kedua orangtua, sehingga jika sudah besar menjadi sesorang yang berkualitas dan sehat. Idealnya hal itu sudah biasa terjadi dan akan terus terjadi. Namun yang akan saya ceritakan kehidupan seorang anak yang mungkin berbanding terbalik dengan hal ideal yang tersebut di atas.

Sejak umur 8 bulan, orang tuanya sudah bercerai. Ibunya sudah tidak boleh bertemu lagi dengan anaknya oleh sang ayah. Ayahnya bekerja keluar negeri. Tepatnya di Malaysia. Lalu bagaimana nasib dari bayi yang belum bisa apa-apa, dan masih butuh kehangatan kasih sayang orang tua, serta masih butuh air susu ibu? Allah memiliki rencana lain dan baik untuk bayi itu. Masih ada keluarga yang mau merawatnya, menyusuinya, yang kebetulan memiliki anak seumuran dengan bayi itu. Bayi itu dianggap seperti anak sendiri tanpa membeda-bedakan dengan anaknya.

Waktu berlalu, bayi itu tumbuh dengan sehat, dan normal seperti bayi lainnya. Bayi tersebut tumbuh menjadi anak. Jika anak itu ditanya siapa orangtuanya, dia menjawab keluarganya yang telah merawat dari kecil, atau bisa disebut Bu Dhe. Anak itu sudah mengenyam pendidikan bangku Sekolah Dasar kelas dua. Suatu malam dia mendengar diskusi Bu Dhe dengan suaminya. Dia mendengar bahwa ayahnya akan menemuinya dan merawat kembali. Anak itu kaget sehingga muncul banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya. Pertanyaan yang paling mendasar, lalu siapa yang sudah merawat selama ini? Sepengetahuan dia, mereka adalah orangtua dan juga orang yang telah merawatnya.

Anak itu kemudian memberanikan diri dan bertanya kepada Bu Dhe tentang siapa sebenarnya orangtuanya. Tetapi apa yang terjadi? Mereka malah menangis dan memeluknya. “Maafkan Bu Dhe ya, Nak. Bu Dhe tidak menceritakan masalah ini kepadamu. Bu Dhe dan Pak Dhe ini adalah kakak dari bapakmu. Kamu dititipkan kepada Bu Dhe karena bapakmu harus bekerja mencari uang”. Anak itu kemudian hanya diam, karena belum paham dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya.

Ketika anak itu sudah kelas 3 Sekolah Dasar, ayahnya pulang menemuinya dengan membawa perempuan yang merupakan istri baru sang ayah. Anak itu tinggal bersama ayah dan ibu barunya. Awalnya dia canggung dengan ibu barunya. Bagaimana tidak, karena dia baru bertemu tanpa dia tahu ternyata ayahnya sudah menikah lagi.

Ada dua kejadian yang mengejutkan dirinya. Pertama, ternyata yang merawat anak itu sejak kecil hingga dia berumur sembilan tahun bukanlah orangtua kandungnya. Kedua, anak itu sekarang tinggal dengan seorang ibu, yang bisa disebut dengan ibu tiri. Anak itu tidak mempermasalahkan itu semua. Dia tetap menjalani dengan senang hati, serta menganggap ibu tirinya seperti ibu kandungnya sendiri.

Ketika kelas 6 Sekolah Dasar, anak itu bertemu dengan ibu kandungnya untuk yang pertama dan terakhir. Kenapa? Karena sampai saat ini dia belum bertemu lagi dengan ibu kandungnya. Saat itu dia pulang sekolah, dengan berjalan kaki seperti biasanya. Sesampainya di depan rumah, dia melihat seorang wanita sedang menangis. Karena tidak mengenali, dia mengabaikan wanita tersebut dan langsung masuk rumah. Ketika sedang berganti pakaian, wanita yang di depan rumah tadi menghampiri anak itu dan berkata “Aku ibumu, Nak”, sambil memeluknya dengan air mata yang terus keluar membasahi baju dari anak itu. Tanpa disadari anak itu ikut menangis dan membalas pelukan ibunya. Ternyata seperti ini rasa pelukan seorang ibu, dia berkata dalam hati.

Jadi begitulah perjalanan dari anak tersebut, yang kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Walaupun begitu, anak itu tetap akan tumbuh dan belajar dengan orang disekitarnya. Bersyukurlah kita, yang dulu sampai sekarang mendapat penuh kasih sayang dari orangtua. Kita sekarang harus memikirkan bagaimana cara untuk membalas jasa orang tua, walaupun tidak akan pernah bisa dibalas. Kita setidaknya bisa membuat orangtua menangis bangga karena kita, bukan membuat mereka menangis sedih karena kenakalan kita.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa FIK Universitas Negeri Semarang

Diary Kecilku untuk Ibu dan Bapak

Oleh Wihda Ikvina Anfaul Umat

Saat diriku merasa hampa, kemanakah arah yang akan aku tuju? Aku yakin bahwa ada kekuatan yang akan menolong tanpa harus aku meminta. Aku yakin ada yang akan mengasihi tanpa harus aku menangis dan berkeluh kesah. Aku sekarang menengok ke belakang. Jauh sebelum saat ini, aku temui banyak noda yang usang dan susah untuk kuubah. Bahkan setelah aku menyikatnya dengan penuh tenaga, tetap saja meninggalkan bekas. Kulihat lagi lembaran lembaran hitam yang pernah kulalui sangat hitam, pekat dan padat. Rasanya sangat mustahil untuk kucairkan kembali. Kala itu kutantang diriku bahwa hidup bukan hanya untuk kulihat namun juga harus kunikmati keindahannya.

Aku akan lakukan hal itu sesukaku walaupun nyatanya hatiku tak sejalan. Aku akan raih kebahagian hingga aku merasa puas. Aku akan melupakan sesuatu, bahwa dalam kebahagian yang kujalani ada kebahagiaan lain yang aku rusak dan dan tidak aku sadari bahwa mereka menangis. Hatinya tersayat karena perjuangannya aku abaikan. Aku porak-porandakan tanpa mengetahui hal apa yang harus mereka lakukan demi diriku. Keesokannya harinya mereka mengungkapkan semua padaku tentang rasa kecewa yang teramat besar kepada buah hati yang mereka sayangi ini. Aku hanya bisa terdiam merasa bersalah dan bingung. Ah, aku ini sebenarnya manusia berperasaan atau tidak. Hal begini bagaimana mungkin aku tidak bisa memahami.

Suatu ketika mereka membuat keputusan yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi pada diriku. Aku yakin mereka bukan orang bodoh yang mempermainkan masa depan aku.  Mereka sudah pasti mengetahui apa yang terbaik untuk diriku. Aku akan menerima apa yang telah diputuskan mereka untuk diriku, walaupun sebenarnya berat tapi yang aku yakini ini pasti tidak seberat kecewa seperti yang telah mereka rasakan. Aku sekarang tiba pada suatu tempat tidak ada kebahagiaan. Kebahagiaan lama yang kelam namun sekarang suah menjadi suatu yang berbeda. Ya, sekali lagi ini sangat berbeda. Aku mulai mengartikan bahwa kebahagiaan adalah ketika aku dapat melihat mereka yang menjagaku dari masa kecil hingga saat ini tersenyum senang. Aku selanjutnya juga menyadari jika aku memperjuangkan kebahagiaan mereka, maka disanalah aku telah bahagia.

Aku sekarang telah melangkah semakin jauh. Aku harus tetap berjalan menanjak dan mendaki bukit bukit terjal. Aku yakin ketika telah mencapai dipuncak aku akan berteriak “AKU BISA”. Ibu, dan Bapak ini anakmu kembali padamu. Anakmu sedang berlari diatas duri yang aku yakin jika aku telah sampai pada tujuannya nanti kalian tidak akan lagi merasa rugi telah membesarkanku dengan segala lelahmu. Ibu dan Bapak maafkan aku. Aku menyayangi kallian dalam keadaan apapun.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Negeri Semarang.

Mencintai Bumi Kita

Oleh: Zakiyah Azzahro Haidar

Seperti yang kita tahu, saat ini keadaan bumi semakin memburuk. Penyebabnya pun tidak hanya satu hal. Mungkin benar ucapan mereka bahwa usia bumi kita semakin tua, tapi bukan itu masalah utamanya. Masalah rusaknya bumi ini disebabkan oleh ulah manusia yang sombong dan tidak bertanggung jawab. Bagaimana tidak, mereka tetap membuang sampah sembarangan walau tersedia tempat sampah di sebelahnya. Itu memang hal kecil di mata manusia, namun jika semua manusia seperti itu setiap waktu, coba bayangkan seberapa besar tumpukan-tumpukan sampah di bumi ini. Bumi yang biru, hijau, dan nampak segar itu pun suatu saat akan terlihat seperti buah yang membusuk jika manusia terus seperti itu.

Bukan hanya sampah yang tersebar di seluruh tempat. Namun juga limbah-limbah pabrik yang mungkin bisa meracuni ekosistem bahkan manusia itu sendiri. Biasanya limbah pabrik mencemari sungai-sungai, padahal di dalam sungai masih ada ekosistem seperti ikan dan hewan serta tumbuhan air lain. Manusia seolah tidak peduli dan hanya memetntingkan mendapatkan uang yang selama ini mereka kejar. Bahkan kesehatan mereka sendiripun tidak mereka pedulikan. Ikan sungai maupun ikan laut yang sudah terkontaminasi limbah tetap mereka ambil untuk dikonsumsi. Tidak peduli jika nantinya penyakit bersarang pada tubuh mereka. Air sungai tercemarpun masih mereka gunakkan untuk MCK ataupun minum. Mereka tidak peduli lagi dengan manusia lain yang menderita akibat ulah jahat manusia. Manusia hanya peduli pada penghasilan bagi diri sendiri.

Selain tanah dan air yang tercemar, udara juga tercemar akibat ulah manusia. Asap-asap pabrik, asap rokok, dan gas-gas beracun telah berhasil mencemari udara. Jalanan di kota sudah penuh dengan kendaraan-kendaraan pribadi yang tentu akan mencemari udara melalui asap kendaraan. Sebenarnya manusia bisa meminimalisir pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor. Caranya yaitu dengan menggunaakan kendaraan umum masih, tetapi manusia lebih senang dengan kendaraan pribadi mereka yang pasti akan memenuhi jalanan dan menambah polusi udara. Akibatnya, ozonpun mulai menipis dan mengakibatkan udara semakin panas. Kondisi tersebut berdampak terhadap sebagian es di kutub yang mencair. Akhirnya habitat bagi pinguin dan beruang kutub semakin terancam.

Adanya pencemaran tanah, air, udara yang merajalela juga diikuti dengan eksploitasi ekosistem. Seperti penggundulan hutan tanpa izin hingga membuat hewan hutan kehilangan habitatnya yang membuat hewan masuk ke lingkungan warga. Wargapun ternyata membunuh atau menyalahkan hewan tersebut yang seringkali merusak perkebunan warga. Eksploitasi lainnya adalah perburuan liar terhadap hewan langka untuk dijual. Hal itu benar-benar tidak beradab, karena hanya demi lembaran uang mereka rela merusak tempat tinggal mereka sendiri. Mereka rela hidup dalam kesuraman yang mereka ciptakan, terbalut asap-asap polusi yang semakin menebal, merusak paru-paru hingga hilangnya nyawa.

Bagaimanakah cara mengatasi kerusakan tersebut agar bumi kita kembali hijau dan segar? Walaupun kita tidak bias mengembalikan semua yang rusak itu, setidaknya degan usaha yang kita lakukan, cukup untuk mengurangi kerusakan tersebut. Beberapa usaha yang perlu kita lakukan seperti (1) hentikan eksploitasi tumbuhan dan hewan karena mereka tidak bersalah; (2) menanami lahan kosong dengan tumbuhan atau pohon-pohon; (3) tidak membuang sampah sembarangan; (4) tidak merokok, karena merokok hanya akan membuang uang dan merusak tubuh; (5) jangan pernah menggugunakan kendaraan pribadi jika anda masih bisa menggunakan kendaraan umum. Jika kita lakukan hal tersebut apa ruginya apalagi cara tersebut untuk mengurangi polusi. Pesan untuk kita semua cintailah bumi dan rawatla bumi, karena bumi adalah tempat tinggal kita satu-satunya.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasisiwi FMIPA Universitas Negeri Semarang