Kasih Sayang Orang Tua

Oleh Nyoto Ribowo

Ketika kecil, sesorang sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtua. Bayi sangat membutuhkan air susu ibu dan belaian hangat dari ayahnya. Masa kecil penuh kegembiraan karena mendapat dukungan dan kasih sayang dari kedua orangtua, sehingga jika sudah besar menjadi sesorang yang berkualitas dan sehat. Idealnya hal itu sudah biasa terjadi dan akan terus terjadi. Namun yang akan saya ceritakan kehidupan seorang anak yang mungkin berbanding terbalik dengan hal ideal yang tersebut di atas.

Sejak umur 8 bulan, orang tuanya sudah bercerai. Ibunya sudah tidak boleh bertemu lagi dengan anaknya oleh sang ayah. Ayahnya bekerja keluar negeri. Tepatnya di Malaysia. Lalu bagaimana nasib dari bayi yang belum bisa apa-apa, dan masih butuh kehangatan kasih sayang orang tua, serta masih butuh air susu ibu? Allah memiliki rencana lain dan baik untuk bayi itu. Masih ada keluarga yang mau merawatnya, menyusuinya, yang kebetulan memiliki anak seumuran dengan bayi itu. Bayi itu dianggap seperti anak sendiri tanpa membeda-bedakan dengan anaknya.

Waktu berlalu, bayi itu tumbuh dengan sehat, dan normal seperti bayi lainnya. Bayi tersebut tumbuh menjadi anak. Jika anak itu ditanya siapa orangtuanya, dia menjawab keluarganya yang telah merawat dari kecil, atau bisa disebut Bu Dhe. Anak itu sudah mengenyam pendidikan bangku Sekolah Dasar kelas dua. Suatu malam dia mendengar diskusi Bu Dhe dengan suaminya. Dia mendengar bahwa ayahnya akan menemuinya dan merawat kembali. Anak itu kaget sehingga muncul banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya. Pertanyaan yang paling mendasar, lalu siapa yang sudah merawat selama ini? Sepengetahuan dia, mereka adalah orangtua dan juga orang yang telah merawatnya.

Baca Juga:  Menuntut Ilmu Tak Lekang Waktu

Anak itu kemudian memberanikan diri dan bertanya kepada Bu Dhe tentang siapa sebenarnya orangtuanya. Tetapi apa yang terjadi? Mereka malah menangis dan memeluknya. “Maafkan Bu Dhe ya, Nak. Bu Dhe tidak menceritakan masalah ini kepadamu. Bu Dhe dan Pak Dhe ini adalah kakak dari bapakmu. Kamu dititipkan kepada Bu Dhe karena bapakmu harus bekerja mencari uang”. Anak itu kemudian hanya diam, karena belum paham dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya.

Ketika anak itu sudah kelas 3 Sekolah Dasar, ayahnya pulang menemuinya dengan membawa perempuan yang merupakan istri baru sang ayah. Anak itu tinggal bersama ayah dan ibu barunya. Awalnya dia canggung dengan ibu barunya. Bagaimana tidak, karena dia baru bertemu tanpa dia tahu ternyata ayahnya sudah menikah lagi.

Ada dua kejadian yang mengejutkan dirinya. Pertama, ternyata yang merawat anak itu sejak kecil hingga dia berumur sembilan tahun bukanlah orangtua kandungnya. Kedua, anak itu sekarang tinggal dengan seorang ibu, yang bisa disebut dengan ibu tiri. Anak itu tidak mempermasalahkan itu semua. Dia tetap menjalani dengan senang hati, serta menganggap ibu tirinya seperti ibu kandungnya sendiri.

Ketika kelas 6 Sekolah Dasar, anak itu bertemu dengan ibu kandungnya untuk yang pertama dan terakhir. Kenapa? Karena sampai saat ini dia belum bertemu lagi dengan ibu kandungnya. Saat itu dia pulang sekolah, dengan berjalan kaki seperti biasanya. Sesampainya di depan rumah, dia melihat seorang wanita sedang menangis. Karena tidak mengenali, dia mengabaikan wanita tersebut dan langsung masuk rumah. Ketika sedang berganti pakaian, wanita yang di depan rumah tadi menghampiri anak itu dan berkata “Aku ibumu, Nak”, sambil memeluknya dengan air mata yang terus keluar membasahi baju dari anak itu. Tanpa disadari anak itu ikut menangis dan membalas pelukan ibunya. Ternyata seperti ini rasa pelukan seorang ibu, dia berkata dalam hati.

Baca Juga:  Moderasi Beragama : Toleransi Dalam Bingkai Syari’at Islam

Jadi begitulah perjalanan dari anak tersebut, yang kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Walaupun begitu, anak itu tetap akan tumbuh dan belajar dengan orang disekitarnya. Bersyukurlah kita, yang dulu sampai sekarang mendapat penuh kasih sayang dari orangtua. Kita sekarang harus memikirkan bagaimana cara untuk membalas jasa orang tua, walaupun tidak akan pernah bisa dibalas. Kita setidaknya bisa membuat orangtua menangis bangga karena kita, bukan membuat mereka menangis sedih karena kenakalan kita.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa FIK Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post