Resensi Buku: Politik Para Teroris

Oleh : Muhammad Miftahul Umam
Judul Buku : Politik Para Teroris
Penulis : Mutiara Andalas
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta

Buku ini membahas tentang aksi terorisme dan radikalisme yang masih marak terjadi di berbagai penjuru dunia, lebih khususnya di Indonesia. Dalam cacatan sejarah, Indonesia tidak pernah lepas dari ancaman terorisme, terutama pasca reformasi. Berbagai macam tindak kekerasan dan aksi peledakan bom ditanah air seolah tidak pernah berhenti sekalipun kampanye perlawanan dan operasi pemberantasan telah gencar dilakukan. Mata rantai terorisme seakan tidak pernah putus. Ketika salah satu pimpinan teroris meninggal dunia ataupun tertangkap, maka akan tumbuh ribuan kader untuk melanjutkan jejak perjuangan pimpinannya tersebut. Ironisnya, berbagai aksi terorisme oleh pelakunya dianggap sebagai salah satu bentuk jihad dalam memerangi musuh agama Allah. Pemahaman yang sempit tentang jihad kemudian bertambah rumit ketika disusupi oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi kelompok tertentu. Agama tidak lagi dihayati sebagai pengajar kedamian, namun dimaknai sebagai simbol yang memperbolehkan tindak kekerasan dengan dalil yang terkesan dipaksakan.

Aksi yang dianggap jihad tersebut justru tidak menambah manfaat bagi agama, namun justru malah membuat citra buruk terhadap agama. Untuk dapat memahami masalah tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Perlu pemahaman dari berbagai sudut pandang kenapa tindak kekerasan, radikalisme dan aksi teror bom ditanah air masih marak terjadi. Secara sosiologis-politis, radikalisme dan terorisme merupakan hal yang lumrah dan menjadi bagian dari sunnatullah. Dimana ada sebab, disitu akan ada akibat yang menyertainya. Dimana ada ketidakadilan dan kemiskinan, akan ada perlawanan radikal yang dilakukan. Kemudian dimana ada aksi pembantaian, disitu akan ada reaksi untuk memunculkan perlawanan dan seterusnya. Namun diluar itu semua, terdapat satu hal yang sangat memprihatinkan, yakni radikalisme dan terorime telah diyakini sebagian orang sebagai salah satu strategi dakwah dalam memperjuangkan salah satu agama Allah.

Baca Juga:  Resensi Buku: Krimuning Dewi Ontang – anting Karya Widya Leksono Babahe

Penulis dalam buku ini menjelaskan analisisnya terhadap permasalahan radikalisme dan terorisme tersebut. penulis menggunakan pendekatan multidisipliner dalam melakukan analisisnya. Satu persatu benang kusut kasus terosisme yang terjadi di Indonesia diuraikan, baik dari penyebab terjadinya peristiwa teror, alasan pelaku dapat dengan mudah memposisikan diri sebagai pembunuh, hingga alasan teologis yang mendasarinya. Penulis mengusulkan 3 hal penting yang harus diperhatikan oleh semua orang. Pertama, keterlibatan komunitas kebangsaan dan keagamaan pasca terjadinya tragedi terosrime. Komunitas ini hendaknya mengungkapkan keimanannya akan keesaan Allah, terutama melalui bela rasa dengan korban. Selain itu kepedulian terhadap mantan terdakwa teroris juga perlu diperhatikan. Masyarakat sering kali mengucilkan mereka. Hal tersebut memang wajar, sebab masyarakat tidak mau wilayah mereka disebut sebagai sarang teroris.

Kedua, mendorong pembacaan penafsiran kritis terhadap teks-teks suci agama yang sepintas membenarkan aksi teror kekerasan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pembelokan makna. Dan terakhir adalah dengan mengangkat isu-isu terorisme anti-kemanusiaan sebagai bahan wacana kebangsaan dan dialog antar agama. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa aksi radikalisme dan terorisme merupakan suatu tindakan yang sangat tidak bermoral dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kelebihan dari buku ini adalah analisis yang disajikan begitu renyah dan enak dibaca. Latar belakang penulis yang menggeluti filsafat dan teologi membuat buku ini menarik dan berbeda dengan buku-buku lainnya. Membaca buku ini dapat membuat pembaca seperti disodorkan kepada masalah yang sebenarnya sehingga harus segera diatasi oleh pihak yang berwenang maupun masyarakat umum. Buku ini dapat menggugah kesadaran pembaca bahwa hidup merupakan anugerah tuhan yang harus kita syukuri. Oleh karena itu kita harus senantiasa mengasihi manusia sebagai sesama makhluk ciptaan tuhan.

Baca Juga:  Kebakaran Hutan, Bencana ataukah Agenda Tahunan?

Related Posts

Latest Post