Resensi Buku: Krimuning Dewi Ontang – anting Karya Widya Leksono Babahe

Oleh:
Siti Zakiyatul Fikriyah

Buku ini adalah hasil karya dari Widya Leksono Babahe yang merupakan seorang alumni Universitas Negeri Semarang (1989). Sejak mahasiswa Widya sudah sering menulis berbagai cerpen dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jawa. Tak hanya pandai dalam menulis cerita atau drama Widya Leksono juga pandai berakting. Lulus dari Unnes Widya langsung mengajar Ekstrakulikuler drama/teater, sudah banyak sekolah yang pernah Widya ajar seperti SMA Muhamadiyah, SMP Agustinus, STIMK Dian Nusantara dll. Hingga sekarang Widya Leksono masih mengabdikan diri untuk mengajar drama/teater untuk Sekolah – sekolah dan warga desanya.

Tulisan ini tercipta atas rasa penasaran penulis tentang asal – usul Chandhikala, biasanya para leluhur (orang jawa) Chandikala akan disangkutpautkan dengan Bethara kala Dewa yang berbahaya dan Candika grha Dewi kematian. Secara ilmiah dan jika dinalar tidak ada yang salah memang benar waktu dimana menjelang magrib merupakan waktu yang berbahaya, waktu yang berbahaya disini bukan karena banyak penjahat atau yang lainnya, namun saat menjelang magrib jika anak – anak masih bermain diluar itu akan membuatnya lupa waktu (dimana dia harus berhenti bermain dan melakukan aktifitas lainnya atau istirahat). Tak hanya itu, dari Islam sendiri juga waktu menjelag magrib akan digunakan untuk bersiap – siap untuk melaksanakan sholat magrib yang tentunya itu lebih penting.

Baca Juga:  Reading as a Habit

Buku ini menceritakan teka – teki yang dialami oleh seorang Krimuning tentang Chandikala dan jika ada seseorang yang sedang mencari ikan dilaut pada waktu menjelang magrib pasti akan terkena musibah atau kecelakaan dari mulai kapalnya terbalik hingga sampai meninggal dunia, itu juga yang dialami oleh ayah dari krimuning yang meninggal saat sedang mencari ikan diwaktu menjelang magrib tiba. Krimuning merasa ayahnya meninggal dengan cara yang tidak wajar karena biasanya yang meninggal dilaut badannya akan dipenuhi dengan air tapi beda dengan ayah Krimuning, tidak didapati apa – apa pada tubuh ayahnya. Dari kejadian itu membuat Krimuning sangat penasaran dengan adanya Chandikala, setiap hari saat menjelang magrib Krimuning selalu berada didekat pantai dan menatap laut berharap akan adanya sesuatu yang ditemukan atau terjawabnya pertanyaan yang telah mengusik fikiran Krimuning. Namun tak ada hasil yang diperoleh, setiap hari Krimuning hanya mendengar perkataan penduduk sekitar yang menyuruhnya untuk pulang dan melarangnya datang kembali saat menjelang magrib tiba.

Setahun berlalu dari kebiasaan Krimuning yang selalu menatap laut saat menjelang magrib tiba, dari setahun itu juga Krimuning tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, akhirnya Krimuning bertanya – tanya pada para tetua di Desa. Jawaban yang diperoleh hanya menambah teka teki dibenaknya dan membuatnya semakin bertanya – tanya, hampir setiap tetua di Desa selalu ditanya oleh Krimuning namun jawabannya tetap sama “Jika diwaktu Chandikala atau mejelang magrib tiba jangan keluar rumah banyak bahaya diluar.” itu adalah jawaban yang seringkali didengar. Namun akhirnya pertanyaanya mulai terpecahkan oleh Mbah Jito seorang tetua yang sangat disegani oleh warga desa. Jika Krimuning ingin menemukan jawaban dari pertanyaanya maka Krimuning harus tapa diatas batu ditengah laut untuk menemui seseorang yang akan menjawab pertanyaanya, akhirnya Krimuning melakukan apa yang dianjurkan oleh mbah Jito.

Baca Juga:  Seorang Nenek :)

Seminggu telah berlalu dari tapa yang dilakukan Krimuning di atas batu dan ditengah laut, dari kesabarannya itu akhirnya dia mendengar ada suara kereta kencana yang mendekat padanya, dan saat membuka mata Krimuning terkagum – kagum oleh seorang Dewi yang mendatanginya dan saat itu pula ada didepan matanya, namun Krimuning hanya bisa diam karena terkagum kagum, “Apa yang kamu inginkan?” tanya dari dewi itu, Krimuning hanya menjawab meminta maaf karena  telah memanggilnya dan tidak menjawab apapun selain meminta maaf. Saat ditanya beberapa pertanyaan lagi entah kenapa Krimuning tidak melontarkan kata – kata apapun, Krimuning merasa tidak ada pertanyaan sama sekali dalam benaknya, Dewi pun berpamitan pergi setelah menemui Krimuning. Buku ini cocok untuk para pelajar yang sedang belajar Bahasa jawa, karena buku ini dituis dengan Bahasa jawa dan buku ini juga menceritakan agar kita lebih berhati – hati saat menjelang magrib tiba, namun sayangnya cerita pada buku ini bahasanya ada yang sulit dipahami sehingga agak membingungkan bagi para pembaca khususnya bagi para pemula yang sedang belajar Bahasa jawa dan cerita pada buku ini tidak jelas pada bagian akhir alias menggantung.

 

Judul Buku     : Krimuning Dewi Ontang – anting

Penulis             : Widya Leksono Babahe

Penerbit           : Cipta Prima Nusantara, Seamarang Jawa Tengah

Related Posts

Latest Post