almuhtada.org – “Jangan berharap pada manusia kalau tidak ingin kecewa”. Ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar. Namun, jika direnungkan lebih dalam, kalimat ini bukan berarti kita harus menjauhi manusia, berhenti mempercayai orang lain, atau tidak boleh meminta bantuan kepada sesama. Sebaliknya, ungkapan tersebut mengajarkan kita untuk memahami hakikat manusia dan menempatkan harapan pada tempat yang semestinya.
Manusia Memiliki Keterbatasan: Tempat Salah dan Lupa
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita merasa kecewa karena seseorang tidak memenuhi harapan kita. Mungkin seorang teman yang tidak menepati janji, sahabat yang tidak memahami perasaan kita, atau bahkan keluarga yang tidak memberikan respons sesuai yang kita harapkan. Ketika hal itu terjadi, kita merasa sedih, marah, atau terluka.
Padahal, jika dipikirkan kembali, manusia memang diciptakan dengan berbagai keterbatasan. Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan dalam memahami orang lain. Bahkan orang-orang yang paling dekat dengan kita pun bisa melakukan kesalahan.
Oleh karena itu, ketika kita menggantungkan seluruh kebahagiaan, ketenangan, dan harapan kepada manusia, kita sedang menggantungkan sesuatu yang besar kepada makhluk yang terbatas.
Inilah salah satu sebab mengapa kekecewaan sering muncul. Bukan selalu karena orang lain jahat atau tidak peduli, tetapi karena terkadang ekspektasi kita melebihi kemampuan manusia untuk memenuhinya.
Ada sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib RA; “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”.
Makna yang dapat diambil bukanlah larangan untuk mencintai atau mempercayai manusia, tetapi agar kita tidak menjadikan manusia sebagai sandaran utama hati.
Allah Maha Kuasa dan Tidak Terbatas: Tempat Berharap Sesungguhnya
Islam mengajarkan bahwa manusia boleh menjadi perantara pertolongan, tetapi bukan tujuan akhir dari harapan kita. Allah mengingatkan dalam Surah Al-Insyirah ayat 7-8:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ٧ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ٨
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!”
Ayat ini mengajarkan konsep ikhtiar dan tawakal, dimana seorang hamba diperintahkan untuk senantiasa berusaha semaksimal mungkin dan berharap kepada Allah dengan bertawakal dan mengharapkan rahmat serta ridha-Nya.
Ayat ini tidak mengajarkan kita untuk berhenti meminta bantuan kepada manusia. Kita tetap diperintahkan untuk berusaha, bekerja sama, dan mencari solusi melalui berbagai cara yang halal. Namun, yang perlu diperhatikan adalah di mana hati kita bergantung.
Sering kali kita telah berikhtiar, tetapi diam-diam hati kita berharap dan menggantungkan hasil sepenuhnya kepada manusia. Kita berpikir bahwa kebahagiaan kita bergantung pada seseorang, keberhasilan kita bergantung pada pengakuan orang lain, atau ketenangan kita bergantung pada perlakuan manusia.
Dalam Islam, Ikhtiar berarti melakukan usaha terbaik yang kita mampu karena Allah. Kita belajar dengan sungguh-sungguh, memperbaiki hubungan, bekerja keras, dan melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Setelah itu, kita bertawakal kepada Allah, yaitu menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, tawakal adalah kesadaran bahwa setelah semua usaha dilakukan, hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah. Dengan demikian, hati menjadi lebih tenang karena tidak seluruhnya bergantung pada manusia ataupun keadaan.
Refleksi: Bijak dalam Menasihati Orang Lain
Selain menjadi pelajaran bagi diri sendiri, pemahaman ini juga dapat menjadi refleksi ketika kita melihat kesalahan orang lain. Jika kita menyadari bahwa manusia memang tidak sempurna dan kesalahan adalah sesuatu yang mutlak baginya, maka kita akan lebih bijak dalam menasihati.
Oleh karena itu, nasihat yang baik bukanlah nasihat yang menjatuhkan atau mempermalukan, melainkan nasihat yang disampaikan dengan kelembutan dan kepedulian.
Pada akhirnya, pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa manusia tetap perlu dicintai, dihormati, dan dipercaya. Namun, jangan jadikan manusia sebagai sandaran utama hati kita. Sebab manusia terbatas, sedangkan Allah Maha Sempurna dan tidak terbatas.
Maka ketika harapan kepada manusia mulai membuat hati kita rapuh, kembalilah kepada firman Allah:
“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
Karena harapan yang diletakkan kepada manusia bisa saja berakhir dengan kekecewaan. Namun harapan yang disandarkan kepada Allah akan selalu membawa seorang hamba kepada ketenangan, kesabaran, dan keyakinan bahwa apa pun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik baginya. []Muhammad Fadli Noor











