Makna Hidup Lebih dari Haus Validasi

Gambar ilustrasi mendapat validasi orang lain (freepik.com-almuhtada.org)

almuhtada.org – Banyak dari pengguna sosial media kecanduan dengan validasi akan kehidupan sehari-hari. Dalam penggunaan sosial media kita dapat membagikan aktivitas, pemikiran, dan pencapaian kepada banyak orang dengan mudah. Pada saat yang sama, kita juga lebih mudah melihat kehidupan orang lain. Kondisi ini sering membuat seseorang tanpa sadar menggantungkan nilai dirinya pada penilaian orang lain.

Pada dasarnya, setiap manusia ingin dihargai dan diterima. Sebaliknya, kurangnya perhatian dapat menimbulkan keraguan terhadap diri sendiri. Masalah muncul ketika pengakuan dari orang lain menjadi sumber utama rasa berharga. Akibatnya, suasana hati menjadi bergantung pada respons yang diterima.

Salah satu faktor yang dapat memperkuat kondisi ini adalah penggunaan media sosial yang berlebihan. Terlalu sering melihat kehidupan orang lain dapat memicu kebiasaan membandingkan diri. Kita mulai membandingkan pencapaian, kemampuan, bahkan jalan hidup yang ditempuh. Padahal, apa yang nampak di layar sering kali hanya sebagian kecil dari kenyataan.

Haus validasi juga dapat muncul pada orang yang senang memberikan dukungan kepada orang lain. Mereka terbiasa mendengarkan, mengapresiasi, dan memberikan semangat. Namun, ketika dukungan yang sama tidak mereka terima, muncul rasa kecewa.

Haus validasi juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Tidak sedikit pilihan yang dibuat demi memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar. Karena itu, seseorang perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebelum mengambil keputusan, cobalah bertanya kepada diri sendiri.

Baca Juga:  Dampak Dopamin Gratis dari Media Sosial pada Pola Belajar Siswa di Indonesia

Apakah hal ini memang saya butuhkan?

Ataukah saya hanya ingin terlihat baik di mata orang lain?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang lebih mengenal motivasi di balik tindakannya.

Mendapatkan validasi dari orang lain memang menyenangkan. Namun, validasi tidak cukup kuat untuk menjadi tujuan hidup. Penilaian manusia dapat berubah dari waktu ke waktu. Sebaliknya, nilai dan prinsip yang diyakini dapat menjadi pegangan yang lebih kokoh.

Pada akhirnya, hidup memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mencari pengakuan. Manusia dapat menemukan makna melalui proses belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat. []LAILIA LUTFI FATHIN

Related Posts

Latest Post