Almuhtada.org – Pernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang begitu bersemangat menceritakan sebuah konflik kepada banyak orang?
Ceritanya mengalir panjang, menggebu, dan sering kali membuat dirinya tampak sebagai pihak yang paling tersakiti.
Namun, ketika didengar lebih saksama, ada bagian-bagian cerita yang terasa hilang, dipotong, atau bahkan dibungkus sedemikian rupa sehingga kesalahannya sendiri nyaris tidak terlihat.
Fenomena seperti ini sebenarnya tidak asing dalam kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan pertemanan, tempat kerja, organisasi, bahkan media sosial, tidak sedikit orang yang lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran.
Ketika Cerita Menjadi Alat Mencari Validasi
Dalam dunia psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan validation seeking atau keinginan untuk mencari validasi dari orang lain.
Seseorang tidak selalu bercerita karena ingin menemukan solusi. Kadang ia hanya ingin mendengar kalimat yang menenangkan egonya:
“Kamu nggak salah kok.”
“Dia yang keterlaluan.”
“Kalau aku jadi kamu, aku juga bakal begitu.”
Dukungan semacam itu memang terasa nyaman.
Namun, masalah muncul ketika seseorang hanya memilih pendapat yang membenarkan dirinya dan menolak setiap masukan yang mengajaknya bercermin. Tanpa disadari, cerita yang disampaikan pun menjadi tidak lagi utuh.
Bagian yang menguntungkan dirinya diperbesar, sedangkan bagian yang menunjukkan kesalahannya diperkecil atau bahkan dihilangkan.
Akibatnya, orang lain hanya mendengar separuh cerita dan akhirnya memberikan penilaian berdasarkan informasi yang tidak lengkap.
Mengapa Sulit Mengakui Kesalahan?
Mengakui kesalahan bukan perkara mudah. Ada ego yang harus ditundukkan, gengsi yang harus dilepaskan, dan rasa malu yang harus dihadapi.
Karena itulah sebagian orang lebih memilih membangun narasi bahwa dirinya adalah korban daripada menerima kenyataan bahwa ia juga memiliki andil dalam sebuah masalah.
Padahal tidak semua konflik memiliki satu pihak yang sepenuhnya benar dan satu pihak yang sepenuhnya salah. Sering kali setiap orang memiliki porsi benar dan salahnya masing-masing.
Sayangnya, ego manusia cenderung lebih senang membela diri daripada mengevaluasi diri.
Kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada melihat kekurangan yang ada pada diri sendiri.
Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan kejujuran kepada orang lain, tetapi juga kejujuran terhadap diri sendiri. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil, sekalipun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 135).
Ayat ini mengandung pelajaran yang mendalam.
Allah tidak memerintahkan kita untuk membela diri mati-matian, melainkan untuk tetap berpihak pada kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menunjukkan bahwa kita memang bersalah.
Di zaman ketika opini dapat menyebar lebih cepat daripada fakta, ayat ini menjadi pengingat bahwa ukuran kebenaran bukanlah seberapa banyak orang yang membela kita, melainkan seberapa dekat kita dengan kejujuran.
Makin Banyak Pendukung Belum Tentu Makin Benar
Ada orang yang merasa menang setelah berhasil mengumpulkan banyak pendukung.
Ia menceritakan masalahnya kepada satu orang, lalu ke orang lain, kemudian ke kelompok yang lebih besar.
Setiap kali mendapatkan pembelaan, ia merasa posisinya semakin kuat.
Padahal dukungan manusia tidak selalu mengubah sesuatu yang salah menjadi benar.
Jika sejak awal cerita yang disampaikan tidak utuh, maka pendapat yang muncul pun berangkat dari informasi yang tidak utuh pula.
Yang terjadi bukan pencarian kebenaran, melainkan penguatan terhadap keyakinan yang memang sudah ingin dipercayai sejak awal.
Karena itu, banyaknya orang yang membenarkan cerita versi kita tidak selalu menjadi tanda bahwa kita berada di pihak yang benar.
Bisa jadi mereka hanya mengetahui versi cerita yang kita pilih untuk mereka dengar.
Maka sebelum tergesa-gesa mencari dukungan dari banyak orang, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri:
“Aku sedang mencari kebenaran atau hanya mencari orang yang membenarkan?”
Sebab kesalahan yang diakui masih bisa diperbaiki.
Namun, kesalahan yang terus dibenarkan sering kali akan tumbuh menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Wallahu a’lam bishawab, Barakallah fiikum
Penulis: Rezza Salsabella Putri











