almuhtada.org – Pernahkah selama ini diri kita bertanya, kenapa ada manusia yang menutupi kebenarannya?
Tetapi, bukankah diri kita pun terkadang pernah begitu kan?, kadang kita sering menolak nasihat hanya karena itu terasa menyakitkan?. Kemudian bukankah kita kerap menolak petunjuk kebaikan hanya karena ego kita lebih menguasai diri kita?
Nah dalam momen-momen tersebut, sebenarnya kita akan belajar memahami hakikat kufur dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam bahasa Al-Qur’an, menutup itu disebut kufur dari kata kafara, yang berarti “menutupi”. Berikut penjelasannya:
Ketika Cahaya Kebenaran Hadir, Tidak Semua Mata Mau Melihat
Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an Allah Swt. telah menggambarkan bentuk-bentuk kufur yaitu ada yang menolak keesaan-Nya, ada yang mendustakan firman-Nya, kemudian ada yang meremehkan rasul-rasul-Nya, dan ada juga yang mengingkari nikmat-Nya.
Semuanya memiliki akar yang sama yaitu tidak hanya tidak beriman semata, akan tetapi hati yang menolak, kemudian mendustakan, dan juga menutup kenyataan yang seharusnya ia benarkan (Allah Swt., Firman-Nya, Rasul-Nya, dan Nikmat-Nya) yang selama ini telah diberikan.
Contoh sederhananya seperti seseorang yang menutup jendela rumah ketika matahari terlalu terang baginya, bukan sebab mataharinya yang salah, akan tetapi karena matanya tidak siap untuk menerima cahaya itu. Sama halnya dengan diri kita jika dihadapkan dengan kebenaran yang datangnya dari Allah Swt.
Cahaya matahari tidak pernah absen senantiasa memancarkan sinarnya setiap saat. Begitu pula dengan kita sebagai manusia, cahaya kebenaran tidak pernah kurang, hanya hati kita yang memalingkan dan menutupnya.
Sebab cahaya kebenaran selalu menuntut sikap kejujuran, tanggung jawab, dan mengajak kita untuk meninggalkan zona nyaman yang selama ini menjadi tempat persembunyian kita.
Sebagaimana Firman Allah Swt. di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Muddatstsir ayat ke-24 menggambarkan mereka yang mendustakan wahyu sebagai orang yang berkata, “Ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang dahulu).”
Dari ayat diatas dapat kita ambil beberapa pelajaran yaitu hati akan gelap jika menolak untuk melihat kebenaran dengan kesombongan, kemudian ketika kita menolak datangnya kebenaran seringkali membuat tuduhan untuk menutupi kelemahan diri, kebenaran tetaplah kebenaran walaupun seluruh dunia menolaknya.
Makan tugas kita bukan untuk memastikan kebenaran, akan tetapi hati kita tunduk terhadap kebenaran itu.
Kufur Adalah Jalan menuju Kerugian
Orang yang menolak kebenaran bukan hanya salah dan dosa semata, akan tetapi juga menyebabkan kerugian hakiki dan manfaat hidup yang seharusnya didapat di dunia dan kelak juga di akhirat.
Sebagaimana Firman Allah Swt. di dalam Kitab Suci Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat ke-65 yang artinya:
“Sungguh jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan gugurlah amalmu dan engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.”
Dari ayat diatas dapat kita ambil pelajaran bahwasanya orang yang menolak kebenaran maka akan menjadikan amal perbuatannya menjadi sia-sia dan masuk ke dalam golongan yang merugi.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman di dalam Surat An-Nur Ayat ke-39 yang artinya: “Adapun orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah seperti fatamorgana di tanah yang datar; disangka air oleh orang yang haus, tetapi ketika didatanginya, dia tidak mendapati apa-apa.”
Kemudian jika amal tanpa adanya iman dan juga ketundukan kita kepada Allah Swt. maka hanya menggambarkan ilusi amal yang tampak baik diluar namun nilainya kosong di sisi Allah Swt.
Bukankah ini sering kita mengalaminya?, kita sebagai manusia yang hidup zaman modern sekarang ini sering mengejar hal-hal yang tampaknya memuaskan dari kejauhan, akan tetapi ketika kita mencapainya terasa kosong.
Itulah hukum ketetapan Allah Swt. bahwasanya segala amal yang tidak terhubung kepada Allah Swt. tidak memiliki keteguhan dan akan berakhir sebagai fatamorgana abu yang hilang tertiup oleh angin.
Sebaliknya amal yang bernilai yaitu amal yang kita bangun atas dasar iman, keikhlasan dan juga orientasi hanya kepada Allah Swt.
Kenapa Allah Swt. Menciptakan Sunnatullah Ini?
Coba kita lihat kembali tujuan di balik hukum ketetapan-ketetapan Allah Swt. di alam semesta ini dan juga di dalam kehidupan manusia di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Fath ayat ke-23 yang artinya: “Itulah sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah.”
Ayat diatas menegaskan kepada kita semua bahwa sunnatullah merupakan ketetapan yang penuh dengan hikmah yang konsisten bagi hidup kita di dunia dan bekal untuk kehidupan kelak di akhirat.
Sunnatullah bukan menjadi hukuman bagi diri kita, melainkan sebagai pendidikan hidup di dunia di dunia dengan tujuan untuk mendidik jiwa, menumbuhkan hikmah, dan menyucikan hati kita.
Itu artinya segala yang Allah Swt. tetapkan itu merupakan untuk kebaikan kita sendiri sebagai manusia, bukan untuk kepentingan-Nya. Agar kita tidah mudah tersesat dan juga tetap diarahkan menuju kepada kebahagiaan yang sejati.
Maka dengan adanya batas-batas Allah Swt. merupakan cahaya petunjuk supaya kita tidak tenggelam dalam hawa nafsu, kehidupan dunia yang penuh ilusi dan juga kezaliman diri sendiri serta kehilangan arah hidup diciptakannya manusia.
Pada akhirnya, penjelasan diatas bukan hanya tentang orang kafir di luar sana. Akan tetapi Ini tentang diri kita sendiri yaitu seberapa sering kita menutup hati dan juga seberapa sering kita menolak cahaya hanya karena ego kita takut kalah dan berubah.
Semoga kita menjadi hamba yang tidak menutup hati, akan tetapi membentangkannya selebar-lebarnya agar cahaya Allah Swt. dapat masuk dan juga menetap, semoga bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5











