almuhtada.org – Kita sering merasa hidup di dunia ini seakan-akan menjadi panggung sebagai ajang untuk memamerkan diri.
Di sinilah kita mulai tanyakan dalam hati kita, apa yang sebenarnya harus kita jaga dalam hidup ini?
Jawaban itu ternyata sangat sederhana, akan tetapi membutuhkan hati yang bersih untuk menerimanya yaitu jangan pernah menyombongkan diri.
Allah berfirman di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Luqman ayat ke-18 yang artinya:
Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
Ayat diatas memberikan hikmah kepada kita semua mengenai sebuah sikap yang tampak kecil namun berbahaya yaitu kesombongan.
Karena setiap kali kita memalingkan wajah kita dengan congkak, maka kita sebenarnya sedang memalingkan wajah dari diri kita sendiri.
Kesombongan itu tidak selalu berupa perkataan yang kasar, terkadang bisa ia muncul dalam lirikan kecil yang meremehkan orang lain.
Seperti seseorang yang barang orang lain yang dipinjamkan kepadanya, akan tetapi berlaku seolah-olah ia pemiliknya.
Begitupun diri kita dalam kehidupan sehari-hari, kesombongan hadir secara diam-diam tanpa kita sadari.
Saat kita merasa paling benar pada diskusi dan juga debat di kelas. Kemudian ketika diri kita memandang remeh teman yang nilai akademiknya di bawah kita. Dan juga saat diri kita merasa ibadah kita jauh lebih baik daripada orang lain. Maka dari situlah selama ini kita tidak sadar bahwa setiap detik kita sedang menggeser diri dan hati kita menjauh dari hukum ketetapan Allah Swt.
Oleh karena itu, kita diminta tidak hanya menundukkan hati semata, akan tetapi juga menundukkan langkah cara jalan kita.
Sebab langkah yang angkuh bukan hanya menyakiti orang lain, ia menghancurkan diri kita secara perlahan tapi pasti.
Orang sombong sesungguhnya seperti orang yang berjalan dengan dada yang membusung di jalanan yang licin, dengan satu langkah yang salah saja maka ia akan jatuh tanpa sempat menyadari apa yang menjatuhkannya.
Sudah sepatutnya kita bertanya dalam hati kita masing-masing, untuk apa kita hidup jika Allah Swt. saja tidak menyukai cara kita berjalan?
Padahal hukum itu pasti berlaku, ia tidak pernah berubah sedikitpun meskipun manusia telah berganti zaman.
Setelah memperingatkan mengenai bahaya kesombongan, kemudian Allah Swt. mengajarkan kepada kita tentang obatnya di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat ke-36 yang artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Dari ayat diatas diatas dapat kita ambil pelajaran bahwasanya tauhid merupakan akar dari kerendahan hati.
Itu maknanya semakin kita sadar bahwa segala yang kita miliki hingga detik ini hanyalah titipan dari Allah Swt., maka dengan begitu akan semakin kecil pula ruang bagi kesombongan menetap di dalam hati kita.
Lalu Allah Swt. mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang indah yaitu “…dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun jauh…”.
Yang tidak hanya memerintahkan kita untuk tidak sombong saja, akan tetapi mengisi ruang kosong itu dengan berbagai macam amal kebaikan.
Kita diajak membangun hubungan baik dengan orang tua yang doanya tembus ke langit, dengan kerabat kita yang mengajarkan kita makna kesabaran, dengan anak yatim dan miskin yang membuat diri kita ingat bahwa hidup bisa saja berubah kapan saja dalam sekejap yang mengajarkan kepada kita tentang rasa empati peduli serta rasa syukur.
Kemudian menjaga hubungan baik dengan tetangga kita baik dekat maupun jauh, karena di situlah adab dan akhlak kita sedang diuji bahwa cara kita memperlakukan orang lain itu akan mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya.
Hingga dengan orang-orang yang posisinya berada di bawah tanggung jawab kita, agar kita tidak berubah menjadi manusia yang lupa diri dan semena-mena dengan kekuasaan serta memperlakukannya dengan baik.
Diatas bukan hanya sekadar daftar orang-orang yang harus kita bantu semata, akan tetapi menjadi daftar yang membentuk jati diri kita yang sebenarnya.
Karena kita benar-benar bisa menjaga hubungan baik seperti apa yang telah diperintahkan Allah Swt. di dalam Surat An-Nisa’ ayat ke-36, maka sejatinya kita sedang menjauhkan diri kita dari sikap penuh kesombongan.
Sebaliknya jika kita sombong maka akan merusak hubungan dengan orang lain.
Mari mulai sekarang tanamkan sikap rendah hati, meskipun kita terlihat rendah akan tetapi justru disitulah berisi seperti padi yang semakin berisi akan semakin merunduk.
Setelah memahami hukum ketetapan Allah Swt. ini membuat kita sadar bahwa hidup di dunia bukan hanya tentang menang, mengalahkan, atau meninggi.
Melainkan hidup adalah tentang senantiasa menjaga hati kita agar tidak melampaui batasan-batasannya Allah Swt. Semoga bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5











