Mengenal Tradisi Sesaji Rewanda di Gunungpati Kota Semarang

Tradisi Sesaji Rewanda (Pinterest.com -almuhtada.org)

almutada.org – Tradisi Sesaji Rewanda dilaksanakan setiap tanggal 3 Syawal atau beberapa hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini berawal dari kisah Sunan Kalijaga ketika membangun Masjid Agung Demak. Konon, saat itu beliau dibantu oleh kawanan monyet untuk membawa kayu jati melalui Sungai Kreo menuju Demak. Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada monyet-monyet tersebut, masyarakat kemudian melaksanakan tradisi persembahan berupa gunungan makanan yang diberikan kepada para kera di Goa Kreo.

Jika dilihat secara sederhana, tradisi ini memang tampak seperti acara budaya biasa. Akan tetapi, di balik prosesi tersebut tersimpan banyak nilai sosial yang penting bagi kehidupan masyarakat saat ini. Salah satu nilai yang paling terlihat adalah semangat gotong royong. Seluruh masyarakat ikut terlibat dalam pelaksanaan tradisi. Para perempuan memasak makanan, laki-laki menyiapkan tempat acara, sementara anak-anak turut memeriahkan acara dengan mengenakan kostum monyet dan menari bersama. Semua bekerja bersama tanpa memandang status sosial. Nilai seperti inilah yang saat ini mulai jarang ditemukan di tengah kehidupan masyarakat modern yang cenderung individualis.

Selain gotong royong, tradisi Sesaji Rewanda juga memperlihatkan pentingnya solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemikiran sosiolog Emile Durkheim yang menyatakan bahwa upacara adat dapat memperkuat solidaritas masyarakat karena orang-orang yang terlibat akan lebih mengutamakan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul, bekerja sama, berdoa, hingga menikmati gunungan bersama-sama. Bahkan, monyet-monyet yang menjadi bagian dari sejarah Goa Kreo juga ikut menikmati persembahan tersebut. Situasi ini menunjukkan adanya hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Baca Juga:  Menggali Spiritualitas dari Kisah Luqman Al-Hakim dalam Al-Qur'an

Di era sekarang, hubungan manusia dengan alam sering kali mengalami kerusakan akibat sikap manusia yang hanya memanfaatkan alam tanpa menjaga keseimbangannya. Oleh karena itu, tradisi Sesaji Rewanda dapat menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan makhluk lain. Masyarakat Goa Kreo tidak memandang monyet sebagai hama atau ancaman, tetapi sebagai bagian dari sejarah dan kehidupan mereka. Nilai kepedulian terhadap lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dijaga, terutama ketika kerusakan lingkungan semakin banyak terjadi di berbagai daerah.

Tradisi Sesaji Rewanda juga memiliki nilai budaya dan wisata yang besar. Kehadiran tradisi ini membuat Goa Kreo tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata alam, tetapi juga wisata budaya. Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan prosesi gunungan, tarian, hingga ritual adat yang dilakukan masyarakat. Hal ini tentu memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar, seperti meningkatnya pendapatan pedagang, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata. Dengan kata lain, pelestarian budaya juga dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan ekonomi masyarakat.

Meski demikian, pelestarian tradisi tentu menghadapi tantangan besar. Generasi muda saat ini lebih akrab dengan budaya digital dibanding budaya lokal. Jika tidak dikenalkan sejak dini, bukan tidak mungkin tradisi seperti Sesaji Rewanda perlahan akan dilupakan. Karena itu, diperlukan peran masyarakat, pemerintah, dan generasi muda untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini. Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan sejarah dan makna tradisi melalui pendidikan, media sosial, maupun kegiatan budaya yang menarik bagi anak muda.

Baca Juga:  Mengenal Tradisi Perayaan Idul Adha di Berbagai Negara

Pada akhirnya, tradisi Sesaji Rewanda bukan sekadar ritual tahunan atau acara adat semata. Tradisi ini mengajarkan tentang rasa syukur, kebersamaan, kepedulian terhadap alam, serta pentingnya menjaga warisan budaya leluhur. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualis, nilai-nilai dalam tradisi ini justru semakin relevan untuk dipertahankan. Oleh sebab itu, Sesaji Rewanda layak dijaga sebagai identitas budaya masyarakat Semarang sekaligus sebagai pengingat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya membuat manusia melupakan akar budayanya sendiri. [Siti Fatimah]

Related Posts

Latest Post