almuhtada.org – Siapa yang tak kenal dengan Kota Gresik? Kota yang terkenal dengan julukan Kota Santri ini memang menyimpan sejuta pesona religi di setiap sudutnya.
Namun, jika bergeser ke wilayah utara, kita akan menemukan sebuah sejarah yang berdiri begitu megah, yaitu Masjid Besar Kanjeng Sepuh yang terletak di Desa Kauman, Sidayu, Gresik.
Bukan sekadar tempat ibadah biasa, masjid peninggalan zaman dahulu ini sangat unik dikarenakan memiliki hiasan ornamen dan gaya arsitektur khas yang seolah membawa kita kembali ke masa kejayaan terdahulu.
Berdiri megah disebelah barat Alun-alun Sidayu, Masjid Besar Kanjeng Sepuh bukan hanya bangunan kuno yang menyaksikan perjalanan sejarah Kabupaten Gresik.
Masjid ini adalah pusat spiritual bagi warga pesisir utara Kota Gresik, yang nilai sejarah, keindahan desain, dan esensi ibadah berpadu menjadi satu.
Masjid Besar Kanjeng Sepuh didirikan pada sekitar tahun 1758 M (1178 H) oleh Bupati pertama Sidayu, Raden Kromowijoyo, kemudian disempurnakan oleh Bupati-bupati selanjutnya, termasuk Raden Adipati Soeryadiningrat (Kanjeng Sepuh).
Beliau sangat dihormati oleh masyarakat karena ketegasannya dalam memimpin dan juga memiliki pengetahuan agama yang mendalam sebagai seorang ulama.
Saat memasuki wilayah masjid, pengunjung akan disambut oleh suasana arsitektur yang kaya akan makna filosofis.
Masjid ini memperlihatkan akulturasi budaya yang menakjubkan, di mana budaya tradisional Jawa tampak jelas pada atap limasannya yang bertingkat dua, sementara detail ukiran di mihrab menunjukkan pengaruh dari seni Hindu, Buddha, dan juga China.
Keunikan ini bukan hanya hiasan, tetapi lambang bahwa Islam di wilayah Sidayu berkembang dengan merangkul keberagaman budaya lokal.
Salah satu simbol yang paling mencolok dari Masjid Besar Kanjeng Sepuh adalah menara masjid berbentuk prisma lima sisi, sebagai gambaran visual dari rukun Islam serta pengingat untuk melaksanakan salat lima waktu bagi setiap muslim. Namun, yang membuat masjid ini tetap ramai adalah kegiatan rutin yang tidak pernah berhenti sepanjang tahun.
Masjid Besar Kanjeng Sepuh berfungsi sebagai tempat untuk berbagai kegiatan kegamaan bersama yang memperkuat hubungan sosial masyarakat, salah satunya adalah kebiasaan mengaji kitab kuning yang masih berlangsung hingga sekarang.
Di serambi masjid, para kyai dengan konsisten membaca dan menganalisis kitab-kitab klasik untuk melestarikan tradisi literasi Islam agar tetap hidup di tengah masyarakat.
kegiatan ini diikuti tidak hanya oleh santri, tetapi juga oleh masyarakat umum yang ingin meningkatkan pemahaman agama.
Di samping itu, setiap Malam Jumat Pahing, suasana masjid akan menjadi sangat khidmat dengan kedatangan ribuan peziarah dari berbagai tempat untuk mengikuti istighosah dan doa bersama. Lantunan zikir yang menggema di kawasan makam menciptakan suasana spiritual yang sangat kuat dan memberikan kedamaian jiwa bagi setiap orang.
Puncak dari serangkaian kegiatan spiritual di Masjid Besar Kanjeng Sepuh adalah Haul Kanjeng Sepuh. Perayaan tahunan ini telah berkembang menjadi acara budaya besar yang melibatkan semua masyarakat.
Selain terdiri dari kegiatan keagamaan seperti tahlil akbar dan ceramah agama, acara haul juga diramaikan dengan kegiatan sosial seperti khitanan massal dan pasar rakyat yang mendukung ekonomi masyarakat setempat
Dengan berbagai kegiatan tersebut, Masjid Besar Kanjeng Sepuh menunjukkan perannya yang lebih besar, tidak hanya sebagai tempat ziarah untuk mengenang sejarah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan yang terus bergerak, serta menjaga tradisi nenek moyang di tengah modernitas zaman. [Maulida Auliyah]











