almuhtada.org – Dalam sebuah kehidupan, tentu ada hari-hari yang dirasa begitu berat. Rencana yang tidak sesuai dengan harapan, doa-doa yang terasa belum terjawab, kegagalan yang selalu datang, atau kesepian yang terasa sulit dijelaskan.
Pada titik tertentu, terkadang sebagian orang akan sangat tertekan dan mempertanyakan, “Sampai kapan aku akan bertahan?”
Jika hari ini kamu sedang berada dititik itu, satu kalimat yang ingin aku sampaikan adalah: “Mengapa harus curi start untuk berakhir? Semua kan ada porsinya.”
Dalam kehidupan, kita sering melihat hasil akhir orang lain tanpa mengetahui proses panjang yang dilalui.
Kita melihat keberhasilan, kebahagiaan, dan pencapaian-pencapaian orang lain tanpa tahu seberapa banyak keringat yang keluar, seberapa banyak air mata yang mengalir, atau seberapa besar pengorbanan mereka, bahkan seberapa banyak sakit yang mereka sembunyikan. Dan dari itu semua, kita merasa hidup kita tertinggal jauh di bandingkan kehidupan orang lain.
Terlepas dari hal itu semua, Allah tidak pernah menciptakan jalan hidup manusia dengan ukuran yang sama. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, ada yang diuji dengan kesehatannya, bahkan ada yang diuji dengan perasaan sedih yang mungkin tidak bisa dipahami orang lain. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing.
Dan Allah subhanahu wataala berfirman:
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah: 286)
Ayat tersebut adalah sebuah pengingat bahwa ujian yang sedang kita alami adalah bukti bahwa Allah menyayangi, bukan membenci. Allah justru lebih mengerti seberapa besar kemampuan kita daripada diri kita sendiri.
Terkadang kita ingin menyerah karena merasa tidak ada jalan keluar. Kita terlalu fokus pada rasa sakit hari ini hingga kita lupa bahwa hidup masih memiliki banyak halaman yang belum dibuka. Kita hanya terburu-buru untuk menyimpulkan satu halaman sulit, yakni masalah yang kita hadapi saat ini.
Bayangkan ada seseorang yang membaca buku atau menonton film hanya sampai pertengahan, lalu memutuskan bahwa akhir ceritanya buruk.
Tentu hal tersebut tidaklah adil. Begitu pula dengan hidup. Kita tidak pernah tahu kebaikan apa yang sedang Allah siapkan untuk kita dalam beberapa langkah kedepan.
Dalam Islam, kehidupan adalah amanah. Ia bukanlah sesuatu yang boleh kita sudahi sesuka hati. Kehidupan adalah sebuah perjalanan yang harus dijalani dengan usaha kita hari ini, dan syukur yang tiada tepi.
Mungkin bukan karena hidup terlalu mudah. Tapi karena Allah selalu membersamai hamba-Nya yang mau bertahan dab kembali berjuang.
Bahkan Rasulullah pun bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah hal baik baginya.” (H.R. Muslim)
Ketika mendapat kebahagiaan, ia bersyukur maka menjadi ladang ibadah. Ketika mendapatkan kesulitan, ia bersabar maka menjadi ladang ibadah juga.
Dan kedua hal tersebut tentu benilai kebaikan di sisi Allah taala. Teruntuk badan yang mungkin sedang lelah, tidak apa-apa kalau kita take a rest.
Hidup bukan tentang siapa yang menang melawan orang lain, tapi tentang siapa yang bisa berusaha lebih baik dari kemarin.
Kita tentu boleh menangis. Kita tentu boleh mengakui bahwa hari ini tidak baik-baik saja. Namun jangan sampai berhenti melangkah. Apalagi merasa hidup ini cukup sudah. Karena hidup kita adalah kuasa Allah.
Mungkin hari ini kita belum mengerti mengapa kita diuji seperti ini. Mungkin hari ini kita masih meratapi mengapa ini semua harus terjadi.
Namun percayalah, suatu saat nanti kita akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa kita sudah sejauh ini. Bahwa Allah mustahil meninggalkan hamba-Nya sendiri.
Jangan curi start untuk menyudahi. Semua ada waktunya sendiri. Semua ada sudah ada takarannya sesuai porsi.
Dan selama Allah masih memberimu satu kesempatan untuk bernapas hari ini, itu berarti lembaranmu belum cukup untuk disudahi.
Wallahu a’lam bishawab. Semua yang hidup akan mati. Dan sebaik-baik kita adalah bersiap untuk menghadapi bukan untuk menyudahi. Dari teman jannah mu, Aamiin. [] Rosi Daruniah.











