almuhtada.org – Di era digital saat ini, standar kecantikan atau beauty standard menjadi fenomena yang sangat memengaruhi kehidupan perempuan. Media sosial dipenuhi dengan gambaran perempuan ideal seperti tubuh langsing, kulit putih, wajah mulus, hingga penampilan sempurna tanpa cela.
Tidak sedikit perempuan yang akhirnya merasa kurang percaya diri karena merasa tidak memenuhi standar tersebut. Fenomena ini kemudian memunculkan rasa insecure, kecemasan berlebih, bahkan gangguan kesehatan mental. Di tengah kondisi tersebut, Islam hadir memberikan pandangan yang lebih luas mengenai makna cantik yang sesungguhnya.
Dalam perspektif Islam, kecantikan tidak hanya diukur dari fisik semata. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang mulia, bukan sekadar objek penilaian berdasarkan penampilan luar. Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia telah diciptakan dengan keistimewaan dan keindahan masing-masing. Oleh karena itu, merasa rendah diri karena tidak sesuai dengan standar kecantikan masyarakat sebenarnya merupakan bentuk kurangnya rasa syukur terhadap ciptaan Allah Swt.
Fenomena beauty standard modern sering kali membuat perempuan berlomba-lomba mengejar pengakuan sosial. Banyak yang rela mengubah diri secara berlebihan demi terlihat sempurna di mata orang lain. Padahal, standar kecantikan di masyarakat terus berubah mengikuti tren. Hal ini membuktikan bahwa kecantikan fisik bersifat relatif dan tidak dapat dijadikan ukuran utama nilai seseorang. Ketika kecantikan hanya dipandang dari sisi luar, maka perempuan akan mudah terjebak dalam rasa tidak puas terhadap dirinya sendiri.
Islam justru menekankan pentingnya kecantikan batin atau inner beauty. Akhlak yang baik, tutur kata yang lembut, rasa malu, kecerdasan, serta ketakwaan merupakan bentuk kecantikan yang memiliki nilai lebih tinggi di sisi Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa ukuran utama kemuliaan seseorang bukan terletak pada penampilan fisik ataupun kekayaan, melainkan pada hati dan amal perbuatannya. Dengan demikian, kecantikan sejati dalam Islam adalah kecantikan yang terpancar dari akhlak dan keimanan.
Meskipun demikian, Islam tidak melarang perempuan untuk merawat diri dan menjaga penampilan. Menjaga kebersihan, kesehatan, serta berpakaian rapi merupakan bagian dari bentuk syukur terhadap nikmat Allah Swt. Namun, perawatan diri seharusnya dilakukan dengan niat menjaga kesehatan dan kehormatan diri, bukan semata-mata demi memenuhi tuntutan standar kecantikan yang tidak realistis.
Media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk persepsi kecantikan. Filter kamera, edit foto, dan konten kecantikan sering kali menciptakan ekspektasi palsu tentang penampilan ideal. Oleh karena itu, perempuan Muslim perlu memiliki kesadaran bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah pujian, likes, ataupun penampilan fisik semata. Kepercayaan diri sejati tumbuh dari penerimaan diri dan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing yang diberikan oleh Allah Swt.[ ] Nathasya Putri Ratu











