almuhtada.org – Hadiah Politik Setelah Runtuhnya Jipang
Sejarah Alas Mentaok tidak dapat dipisahkan dari huru-hara perebutan tahta Kesultanan Demak pada abad ke-16. Setelah Arya Penangsang berhasil dikalahkan oleh koalisi yang dipimpin Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dari Pajang, sejumlah tokoh pendukungnya memperoleh penghargaan atas jasa mereka.
Dua tokoh yang paling berjasa dalam kemenangan tersebut adalah Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Sebagai bentuk penghargaan, Ki Penjawi memperoleh wilayah Pati, sementara Ki Ageng Pemanahan dijanjikan sebuah daerah bernama Mentaok.
Namun wilayah yang diberikan itu bukanlah kota yang ramai atau tanah pertanian yang subur. Mentaok masih berupa hutan lebat yang sebagian besar belum dihuni. Daerah tersebut berada di pedalaman Jawa, jauh dari pusat perdagangan pesisir yang saat itu menjadi urat nadi ekonomi kerajaan.
Apa Itu Alas Mentaok?
Dalam bahasa Jawa, “alas” berarti hutan. Alas Mentaok merupakan kawasan hutan luas yang berada di wilayah yang kini menjadi bagian dari Yogyakarta, terutama sekitar Kotagede dan sekitarnya.
Menurut tradisi Jawa, kawasan ini dikenal sebagai daerah yang masih liar, dipenuhi pepohonan besar, satwa liar, dan hanya dihuni oleh kelompok-kelompok masyarakat dalam jumlah terbatas. Beberapa sumber babad bahkan menggambarkan Mentaok sebagai kawasan yang dianggap angker dan penuh kekuatan gaib.
Meski demikian, letaknya sebenarnya cukup strategis. Wilayah ini berada di pedalaman yang relatif aman dari serangan laut dan memiliki akses ke berbagai daerah di Jawa Tengah bagian selatan.
Keunggulan inilah yang nantinya menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan Mataram.
Ki Ageng Pemanahan Membuka Mentaok
Setelah menerima wilayah tersebut, Ki Ageng Pemanahan mulai membuka Alas Mentaok. Proses ini tidak hanya berarti menebangi hutan, tetapi juga membangun permukiman, membuka lahan pertanian, dan menarik penduduk untuk menetap di sana.
Dalam tradisi Jawa, pembukaan Alas Mentaok sering dikisahkan dengan nuansa spiritual. Diceritakan bahwa Ki Ageng Pemanahan harus berhadapan dengan berbagai tokoh sakti penghuni kawasan tersebut sebelum akhirnya berhasil menguasainya.
Walaupun unsur-unsur legenda sulit diverifikasi secara historis, kisah tersebut menunjukkan bahwa pembukaan Mentaok dipandang sebagai peristiwa penting dalam ingatan masyarakat Jawa.
Perlahan-lahan, kawasan yang sebelumnya berupa hutan mulai berubah menjadi pusat pemukiman baru.
Lahirnya Kota Mataram
Ki Ageng Pemanahan tidak sempat melihat Mataram mencapai puncak kejayaannya. Setelah wafat, kepemimpinan wilayah tersebut diteruskan oleh putranya, Sutawijaya.
Di tangan Sutawijaya, Mentaok berkembang jauh melampaui tujuan awalnya sebagai daerah hadiah. Ia membangun basis kekuatan politik dan militer yang semakin mandiri dari Pajang.
Awalnya hubungan antara Sutawijaya dan Sultan Hadiwijaya berlangsung baik. Namun seiring bertambahnya kekuatan Mataram, hubungan keduanya mulai mengalami ketegangan. Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya dan munculnya konflik di Pajang, Sutawijaya melihat peluang untuk memperluas pengaruhnya.
Dari sinilah lahir negara baru yang kemudian dikenal sebagai Mataram.
Panembahan Senopati dan Awal Mataram Islam
Sutawijaya kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Senopati. Ia dianggap sebagai pendiri Kesultanan Mataram Islam dan berhasil mengubah wilayah kecil di pedalaman menjadi kekuatan politik yang disegani.
Berbeda dengan Demak yang berkembang sebagai kerajaan maritim di pesisir utara Jawa, Mataram tumbuh sebagai kerajaan agraris. Basis ekonominya bertumpu pada pertanian, terutama sawah-sawah subur di pedalaman Jawa Tengah.
Perbedaan karakter ini kemudian memengaruhi arah sejarah Jawa. Jika Demak berorientasi pada perdagangan laut, Mataram lebih fokus membangun kekuatan dari pedalaman.
Dari Alas Mentaok yang dahulu sepi, lahir sebuah kerajaan yang kelak menaklukkan Pajang, menguasai sebagian besar Jawa, dan menjadi salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. [] Moh. Zadidun Nurrohman











