Aliran Sunni (Aswaja), Yakin Sudah Mengenalnya?

Aliran Sunni Sejarah dan Perkembangannya
Gambar Ilustrasi Aliran Sunni: Sejarah dan Perkembangannya (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Sunni atau lebih dikenal dengan ahlu sunnah wal jama’ah (Aswaja) merupakan salah satu aliran teologi dalam Islam. Pada masa sekarang, Sunni atau Aswaja merupakan kelompok/aliran Islam dengan pengikut atau penganut terbanyak di dunia (Yang kedua adalah Syi’ah).

Kelompok ahlu sunnah wal jama’ah sering kali dianggap sebagai kelompok yang moderat dan paling baik di dalam Islam. Sehingga, banyak kalangan-kalangan dalam Islam menyebut diri mereka sebagai pengikut ahlu sunnah wal jama’ah dan tidak terima jika mereka dianggap bukan pengikut ahlu sunnah wal jama’ah.

Meskipun banyak orang yang mengakui diri mereka sebagai pengikut ahlu sunnah wal jama’ah, tapi apakah mereka tau apa sebenarnya aliran Sunni ini? Bagaimana sejarahnya? Dan yang terpenting, apakah mereka benar-benar menerapkan berbagai prinsip dan ajaran dari aliran ini?

Maka, disini akan dibahas tentang definisi, sejarah dan, ajaran (secara umum) dari aliran Sunni atau ahlu sunnah wal jama’ah. Penulis sampaikan di awal bahwa ajaran yang akan dipaparkan disini merupakan ajaran secara umum, sehingga jika pembaca ingin lebih mendalami tentang ajaran dari aliran ini, pembaca bisa mencari secara mandiri literatur-literatur terkait.

Definisi Sunni

Sunni, dalam “Journal of Islamic Studies” di artikelnya yang berjudul “Sunni dalam Perspektif Sejarah”, disampaikan bahwa Sunni berasal dari kata Sunnah yang merujuk kepada segala perbuatan (fi’il), perkataan (qoul), atau persetujuan diam (taqrir) Nabi Muhammad Saw.Dalam nama lain, Sunni juga disebut ahlu sunnah wal jama’ah.

Sunnah secara bahasa bermakna cara, perilaku, tradisi, adat atau kebiasaan. Secara istilah, Sunnah merupakan jejak yang ditinggalkan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya. Lalu, ahl berarti pengikut atau penduduk. Sehingga ahlu sunnah dapat diartikan orang-orang yang mengikuti Sunnah.

Selanjutnya, al-jama’ah berasal dari kata al-jam’u yang berarti mengumpulkan sesuatu atau juga berasal dari kata ijtima’ yang berarti perkumpulan. Sehingga, secara istilah al-jama’ah  dapat diartikan sebagai perkumpulan orang yang mengikuti satu tujuan atau perkumpulan orang dalam satu kesepakatan tentang suatu hal.

Baca Juga:  Inilah, 4 Teori Kedatangan Islam ke Nusantara

Sehingga, Ahlu sunnah wal jama’ah dapat diartikan sekumpulan atau sekelompok orang yang mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw. (dan sahabat) baik dalam syariat maupun aqidah.

Sejarah Sunni

Sunni dan beberapa aliran teologi lain dalam Islam, awalnya lahir karena permasalan politik atau respon dari suatu kelompok (yang mana kelompok itu juga pada awalnya lahir dari masalah politk).

Dua titik besar lahirnya firqah-firqah dalam Islam yaitu masa pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw. dan terbunuhnya Utsman yang kemudian berlanjur pada peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan.

Kedua permasalahan politik tersebut melahirkan banyak pertentangan dalam umat Islam kala itu. Bermula dari permasalahan siapa yang akan menjadi khalifah bagi umat muslim menggantikan Rasulullah Saw. yang tidak meninggalkan pewaris atau mewasiatkan kepada siapapun, ini berakibat pada munculnya kelompok yang menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib yang merupakan ahl bait lah yang harus menjadi khalifah (meskipun saat diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw. kelompok ini belum menunjukkan eksistensinya).

Selanjutnya, masalah peperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang melahirkan peristiwa tahkim, peristiwa ini juga melahirkan kelompok lain yang tidak setuju pada tahkim dan mengkafirkan semua yang terlibat dalam tahkim.

Dan selanjutnya (pada masa itu), mulailah zaman saling kafir mengkafirkan.Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi kelompok-kelompok baru dari reaksi kelompok-kelompok di atas.

Sunni muncul sebagai kelompok yang mengambil jalan tengah (washatan) yang mengutamakan keseimbangan dan mengacu pada Al-Qur’an dan asSunnah. Lebih lanjut bahwa mereka muncul sebagai kelompok yang berusaha mendamaikan atau mengintegrasikan antara akal dan naqal.

Sunni dalam hal pemikiran dapat dikatakan telah muncul sejak gejolak politik yang terjadi saat itu (yang sudah penulis sebutkan sebelumnya).

Namun, Sunni sebagai suatu kelompok dikatakan baru muncul pada masa Dinasti Abbasiyah, yang mana aliran rasionalis/logika sedang mendominasi kala itu. Sehingga, Sunni atau ahlu sunnah dirasa harus dipakai untuk orang-orang yang masih berpegang pada nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan as-sunnah.

Di tengah dominasi kelompok rasionalis, ada tokoh-tokoh yang mengkaji lebih lanjut teologi Islam melalui Al-Qur’an dan as-Sunnah yang nantinya akan dijadikan sebagai landasan dari kelompok ahlu sunnah wal jama’ah.

Dan dalam perjalanannya, mereka berkeyakinan bahwa rasio/akal juga harus dimasukkan dalam kajiannya, sehingga mereka melahirkan atau mewujudkan suatu kelompok yang nantinya akan dikenal sebagai ahlu sunnah wal jama’ah.

Tokoh-tokoh yang dimaksud adalah Abu Hasan al-Asy’ari yang nantinya akan melahirkan aliran Asy’ariyah dan Abu Mansur al-Maturidi yang nantinya akan melahirkan aliran Maturidiyah. Kedua paham aliran ini cocok satu sama lain dan hanya memiliki sedikit sekali perbedaan dan bukan pada hal yang krusial.

Baca Juga:  Islam Nusantara? Berikut Kajian Sosio Historis Penggunaan Istilah Islam Nusantara di Indonesia

Hanya saja, kelompok Maturidiyah nantinya akan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Maturidiyah Samarqand dan Maturidiyah Bukhara. Maturidiyah Samarqand berpendapat bahwa akal tetap diperlukan sebagai instrumen kajian, tapi letaknya ada dibawah naqal. Dan Maturidiyah Bukhara berpendapat bahwa akal tidak diperlukan sebagai instrument kajian.

Pada akhirnya, kedua aliran ini menjadi pegangan atau mazhab teologi aliran Sunni. Sedangkan mazhab fiqhnya berpegang pada mazhab Maliki, Hanbali, Syafi’i, dan Hanafi.

Namun dalam perjalanannya, muncul perdebatan bahkan di dalam aliran Sunni itu sendiri karena hasil ijtihad yang berbeda dari tiap kalanagan (fuqaha, mutakallimin, salaf, filsuf, sufi).

Dan bentuk final dari paham Asy’ariyah dan Maturidiyah ini di fiks kan oleh Al-Ghazzali yang akhirnya membuat naqal, aqal, kasyif (ketiganya) yang merupakan pendekatan pemikiran Islam menjadi dasar dari struktur teologi.

Kemudian, bagaimana doktrin atau ajaran dari Sunni atau ahlu sunnah wal jamaah?

Doktrin atau Ajaran Sunni

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa ada dua aliran teologi dasar yang menjadi landasan terbentuknya Sunni, yaitu aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah. Maka, akan dibahas terlebih dahulu pendapat atau pandangan dari kedua aliran tersebut.

  1. Aliran Asy’ariyah

Sedikit mengulas kembali, aliran Asy’ariyah dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Abu Hasan al-Asy’ari. Al-Asy’ari dulunya merupakan seorang berpaham Mu’tazilah karena ayah tirinya juga merupakan seorang pembesar Mu’tazilah yaitu Abu Ali al-Jubba’i.

Baca Juga:  Mengapa Hanya Ada Hari Santri, Bukan Hari Kiai?

Dalam perjalanannya, al-Asy’ari berpindah paham dari Mu’tazilah menjadi ahlu sunnah wal jama’ah (saat itu sudah ada ajaran dari Imam fiqh aliran ahlu sunnah wal jama’ah). Ada beberapa versi dari beberapa sumber berbeda tentang alasan pindah pahamnya al-Asy’ari.

Kemudian, pendapat-pendapat dari Aliran Asy’ariyah yaitu,

  1. Melandasi pemikiran teologi pada akal dan naqal
  2. Allah SWT. mempunyai sifat, tapi dengan cara yang tidak sama dengan makhluk
  3. Al-Qur’an itu Qadim.
  4. Allah SWT. dapat dilihat di akhirat kelak.
  5. Perbuatan manusia bukanlah diciptakan sendiri oleh manusia melainkan ciptaan Allah SWT.
  6. Menolak konsep manzilah bain al-manzilatain (pendapat Mu’tazilah), karena dalam diri seseorang tidak mungkin tidak ada iman sekaligus tidak ada kafir.
  7. Aliran Maturidiyah

Aliran Maturidiyah dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Abu Mansur al-Maturidi. Maturidiyah dan Asy’ariyah dilahirkan karena kondisi sosial yang sama dan dengan pemikiran untuk menyerukan pembebasan atau pemisahan dari aliran rasionalis maupun tekstualis kala itu.

Doktrin atau pendapat dari aliran Maturidiyah yaitu,

  1. Menggunakan akal dan wahyu untuk dalam pemikiran teologinya.
  2. Perbuatan manusia adalah ciptaaan Allah SWT. dan Maturidiyah mempertemukan ikhtiar manusia dan qudrat-Nya sebagai pencipta perbuatan manusia.
  3. Sifat-sifat Allah itu ada dan ada bersama dengan dzat-Nya tanpa terpisah.
  4. Manusia dapat melihat Allah SWT di akhirat kelak.
  5. Orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal dia dalam neraka, walaupun orang itu mati sebelum bertaubat. Karena kekal di dalam neraka adalah balasan untuk dosa syirik.
  6. Pengutusan rasul ke umatnya adalah kewajiban Allah SWT sebagai petunjuk bagi umatnya.

Tadi adalah beberapa pendapat dari kedua aliran teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah (dari buku “Sejarah Peradaban Islam” karya Rizem Aizid) yang menjadi landasan teologi bagi ahlu sunnah wal jama’ah kedepannya. Lebih jelasnya bisa pembaca cari secara mandiri untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci. [] Abian Hilmi Hidayat

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post