almuhtada.org – Ada jenis kesedihan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan karena tidak ada bahasanya tapi karena rasanya datang dari terlalu banyak arah sekaligus. Itulah yang dialami Nabi Muhammad adalah pada satu tahun yang kelak dicatat sejarah dengan nama berat: ‘Am al-Huzn. Tahun Kesedihan.
Dalam kurun waktu yang singkat, dua orang paling dekat dengan beliau pergi. Pertama Abu Thalib sang paman sekaligus perisai sosial di tengah masyarakat Quraisy yang keras. Lalu Khadijah istri, teman pertama, dan suara paling menenangkan saat dunia terasa runtuh. Dua kehilangan, dua dimensi berbeda, satu luka yang sama dalamnya.
Abu Thalib bukan sembarang orang dalam kisah dakwah Islam. Ia bukan Muslim, tapi ia adalah alasan mengapa banyak serangan terhadap Nabi berhenti sebelum sampai. Di masyarakat Arab jahiliyah, keselamatan seseorang sangat ditentukan oleh siapa yang berdiri di belakangnya. Dan Abu Thalib berdiri tegak, bertahun-tahun lamanya.
Abu Thalib memahami kebenaran yang dibawa keponakannya. Tapi ia telah hidup puluhan tahun dengan identitas tertentu, mewarisi nama leluhur, menjadi bagian dari tatanan sosial yang tidak mudah ditinggalkan. Di detik-detik terakhirnya, tokoh-tokoh Quraisy hadir di sisinya mengingatkan pada tradisi, pada kehormatan klan, pada identitas yang sudah terlanjur menjadi dirinya. Dan disanalah ia wafat, tanpa mengucapkan syahadat.
Nabi merasakan duka yang dalam dan ingin memohonkan ampunan untuk sang paman. Namun wahyu turun dengan tegas: “Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka kerabat dekat.” (QS. At-Taubah: 113). Sebuah batas yang menegaskan bahwa kasih sayang yang tulus tidak mengubah realitas iman.
Tidak lama setelah Abu Thalib wafat, Khadijah menyusul. Jika kehilangan Abu Thalib adalah runtuhnya pelindung di ruang publik, maka kehilangan Khadijah adalah runtuhnya tempat pulang.
Khadijah adalah orang pertama yang percaya. Saat wahyu pertama datang dan Nabi berlari pulang dengan gemetar, Khadijahlah yang memeluk dengan tenang dan berkata bahwa Allah tidak akan menghinakannya. Ia bukan sekadar istri ia adalah jangkar yang menahan Nabi agar tidak hanyut saat badai paling gelap. Ketika boikot ekonomi dari Quraisy membuat sumber daya menipis, Khadijah menginfakkan hartanya tanpa hitung-hitungan. Perannya tidak selalu terlihat di hadapan khalayak, tapi menentukan ketahanan mental beliau di balik layar.
Dalam waktu singkat, Nabi kehilangan dua hal sekaligus: sang pelindung dan sang penenang. Quraisy yang selama ini sedikit tertahan karena segan pada Abu Thalib kini merasa pintunya terbuka. Tekanan meningkat. Di sisi lain, beliau pulang ke rumah yang kosong dari suara yang paling ia rindukan. Periode ini kemudian dikenal sebagai Tahun Kesedihan bukan sekadar karena dua orang wafat, tapi karena seluruh fondasi dakwah di Makkah terasa goyah dalam satu waktu.
Di sinilah kisah ini berbicara kepada kita. Jika Tuhan mengizinkan Nabi sosok yang memikul beban risalah seluruh umat manusia untuk berdiri di titik terbawahnya, maka kita pun berhak merasa tidak baik-baik saja. Kamu tidak lemah karena bersedih; kamu sedang menjadi manusia.
Namun Tahun Kesedihan bukan akhir cerita ia adalah titik balik. Tidak lama setelahnya, ada Isra’ Mi’raj sebagai penghiburan dari langit, lalu benih-benih harapan yang mulai tumbuh dari arah Madinah. Sejarah tidak berakhir di titik paling gelap. Ia justru sering membelok ke arah yang tidak terduga, tepat di saat semua tampak tertutup. [] Raffi Wizdaan Albari











