Biografi Syekh Jumadil Kubro: Lelaki dari Samarkand yang Dimakamkan di Tanah Majapahit

Gambar Makam Syekh Jumadil Kubro (Pinterest.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Di kompleks pemakaman Troloyo, Trowulan, Mojokerto, ada satu makam yang selalu ramai dikunjungi. Setiap malam Jumat Legi dan malam 15 Muharram, ribuan peziarah datang dari berbagai daerah. Mereka berdoa di sisi makam seorang ulama yang hidupnya penuh perjalanan, dakwahnya melintas benua, dan pengaruhnya masih terasa sampai hari ini. Namanya Syekh Jumadil Kubro.

Bagi sebagian orang, nama itu mungkin hanya terdengar samar di pelajaran sejarah. Tapi bagi mereka yang mendalami sejarah Islam di Nusantara, Syekh Jumadil Kubro adalah sosok yang tidak bisa dilewatkan. Beliau dikenal sebagai sesepuh Wali Songo, ayah dari Sayyid Ibrahim As-Samarkandi yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, dan juga ayah dari Maulana Ishaq yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.

Dari India ke Ujung Dunia

Syekh Jumadil Kubro memiliki nama asli Sayyid Jamaluddin Husein. Beliau merupakan da’i masyhur yang berasal dari wilayah Samarkand, Uzbekistan, dan lahir pada tahun 1270 sebagai putra Ahmad Syah Jalaluddin, seorang bangsawan dari Nasrabad, India. Kakek buyutnya bernama Muhammad Shohib Mirbath, seorang ulama dari Hadramaut, Yaman, yang memiliki garis keturunan langsung ke Imam Jafar Shadiq, keturunan generasi ke-6 dari Nabi Muhammad SAW.

Sejak muda, ia menimba ilmu dari ayahnya sendiri. Syekh Jumadil Kubro juga melanjutkan pendidikannya ke India, Makkah, dan Madinah untuk memperdalam ilmu tasawuf, syariah, dan bidang keilmuan lainnya. Sebelum aktif berdakwah, beliau sempat menjabat sebagai Gubernur Deccan di India.

Baca Juga:  Kiai Hasan Munadi: Waliyullah Penyebar Agama Islam di Kaki Gunung Ungaran Semarang Serta Jejak Peninggalannya

Setelah pensiun dari jabatan itu, perjalanan dakwahnya dimulai. Ia mengembara ke berbagai belahan dunia, dari Maghribi di Maroko, Samarkand di Uzbekistan, Kelantan di Malaysia, hingga akhirnya menginjakkan kaki di tanah Jawa pada era Majapahit, dan sampai ke Gowa di Sulawesi Selatan.

Masuk ke Jantung Majapahit

Berdakwah di tanah Jawa pada masa itu bukan perkara mudah. Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha yang sangat kuat, dengan pengaruh Gajah Mada yang masih besar dan kepercayaan masyarakat pada arwah leluhur yang sudah mengakar dalam.

Dalam mengembangkan dakwah pertamanya di kalangan Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro berdakwah dengan cara berdagang dari satu lingkungan ke lingkungan lain secara sembunyi-sembunyi. Ia merasa dakwah secara terang-terangan belum bisa dilakukan karena khawatir mengundang kemurkaan kerajaan.

Strategi itu ternyata berhasil. Selain dikenal sebagai ulama, beliau juga dikenal sebagai saudagar. Melalui jalur perdagangan itulah ia akhirnya bertemu dengan salah satu Tumenggung Majapahit, yakni Tumenggung Satin, yang kemudian membuka jalan bagi dakwahnya di lingkungan kerajaan.

Peran Syekh Jumadil Kubro yang begitu besar menjadikan ia dikenal sebagai orang yang telah meruwat Tanah Jawa. Ia berhasil membuat banyak bangsawan Majapahit memeluk agama Islam. Pengaruhnya yang luas di lingkungan istana juga terlihat dari posisi makamnya. Makam Syekh Jumadil Kubro berada di antara makam para pejabat kerajaan seperti Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, dan Sunan Ngudung, ayah dari Sunan Kudus.

Baca Juga:  Makam Aulia Gunung Pring, Wisata Religi yang Selalu Ramai Pengunjung di Magelang

Leluhur Para Wali

Salah satu warisan terbesar Syekh Jumadil Kubro bukan hanya dakwahnya yang langsung, tapi keturunannya yang kemudian meneruskan perjuangan itu dengan skala yang jauh lebih besar.

Tiga putranya disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara: Ibrahim Akbar, atau yang dikenal sebagai Ibrahim As-Samarkandi, ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik; Ali Nuralam Akbar, datuk Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai; serta putra lainnya yang melanjutkan jejaknya di berbagai wilayah.

Dari situlah mengapa beliau disebut sebagai “Bapak Wali Songo.” Wali Songo yang kita kenal hari ini, sebagian besarnya adalah keturunan atau murid dari garis yang bermula dari sosok ini.

Wafat di Trowulan, Dikenang Selamanya

Perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat pada tahun 1376 Masehi, 15 Muharram 797 H, diperkirakan hidup di antara dua masa raja Majapahit, yakni dari era Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi hingga pertengahan masa Prabu Hayam Wuruk.

Kompleks pemakaman Troloyo tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir Syekh Jumadil Kubro, tetapi juga menjadi saksi akulturasi budaya Hindu dan Islam, yang terlihat dari bentuk nisan makam yang unik. Di sinilah dua peradaban bertemu dan berdamai, bukan dalam pertentangan, tapi dalam sebuah ruang yang sama.

Setiap tahun, Pemerintah Kabupaten Mojokerto masih menggelar haul untuk mengenangnya. Ribuan orang datang, bukan sekadar untuk berziarah, tapi juga untuk mengingat bahwa Islam di tanah ini punya akar yang panjang. Dan salah satu ujung akar itu ada di makam seorang lelaki dari Samarkand yang memilih menetap, berdakwah, dan akhirnya dimakamkan di jantung bekas kerajaan Hindu terbesar di Nusantara. [] Moh. Zadidun Nurrohman 

Baca Juga:  Asal disyariatkan sholat ghaib dan tata cara sholat ghaib

Related Posts

Latest Post