Fenomena Fomo (Fear Of Missing Out) dalam Perspektif Islam

Ilustrasi seseorang yang terus menerus melihat sosial media karena takut ketinggalan trend (freepik.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya pada kalangan remaja dan mahasiswa. Melalui media sosial, seseorang dapat dengan mudah melihat berbagai aktivitas, pencapaian, gaya hidup, serta pengalaman orang lain secara instan.

Di satu sisi, hal ini memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan memperluas relasi sosial. Namun di sisi lain, paparan tersebut juga memunculkan tekanan psikologis berupa rasa takut tertinggal yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO).

Fear of Missing Out adalah kondisi psikologis yang ditandai oleh rasa takut tertinggal dari pengalaman, pencapaian, informasi, atau kesempatan yang dimiliki orang lain. Seseorang yang mengalami FOMO biasanya memiliki dorongan kuat untuk terus terhubung dengan lingkungan sosialnya agar tidak merasa tertinggal.

Fenomena ini semakin meningkat seiring dengan berkembangnya media sosial yang menampilkan kehidupan orang lain secara selektif, sering kali hanya memperlihatkan sisi terbaik mereka. Akibatnya, individu cenderung membandingkan realitas kehidupannya dengan gambaran ideal yang dilihat di media sosial.

FOMO tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan psikologis modern, tetapi juga sebagai bentuk kegelisahan batin, ketidakmampuan menerima ketetapan hidup, serta kecenderungan mengikuti arus sosial tanpa pertimbangan yang matang.

Penyebab FOMO

Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya FOMO antara lain:

  1. Media sosial

Paparan terhadap unggahan pencapaian, liburan, atau kesuksesan orang lain dapat memicu perasaan kurang puas terhadap diri sendiri.

  1. Tekanan sosial
Baca Juga:  Gara-Gara FOMO, Salat Idul Adha di Tempat Indah Ini Malah Rusak Adab!

Keinginan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang populer.

  1. Kurangnya rasa syukur dan penerimaan diri

Ketidakmampuan menerima kondisi diri sendiri dapat memperkuat kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain.

Analisis FOMO dalam Perspektif Islam

Salah satu akar utama FOMO adalah kecenderungan manusia untuk membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa harus mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Islam mengajarkan keseimbangan, ketenangan hati, dan kesadaran bahwa setiap individu memiliki jalan hidup yang berbeda sesuai ketetapan Allah Swt.

Dalam QS. Al-An’am ayat 116 Allah berfirman: “Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

Ayat ini memiliki makna mendalam bahwa banyaknya orang yang melakukan sesuatu tidak selalu menunjukkan bahwa hal tersebut benar atau baik untuk diikuti.

Dalam konteks FOMO, seseorang sering kali merasa harus mengikuti tren tertentu hanya karena mayoritas orang melakukannya. Misalnya, seseorang merasa perlu membeli barang tertentu, mengikuti gaya hidup tertentu, atau menampilkan citra tertentu di media sosial demi mendapatkan pengakuan sosial.

Padahal, ketika seseorang terlalu terpengaruh oleh tekanan mayoritas, ia kehilangan kemampuan untuk menilai secara objektif apakah hal tersebut benar-benar bermanfaat bagi dirinya. Islam mengajarkan agar manusia menggunakan akal dan pertimbangan moral, bukan sekadar mengikuti arus sosial.

Baca Juga:  Bahasa yang Baik Mencerminkan Kulitas Pribadimu

Dampak FOMO

Fenomena FOMO dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti meningkatnya kecemasan, stres, ketidakpuasan terhadap diri sendiri, hingga ketergantungan pada media sosial. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat individu kehilangan fokus terhadap tujuan hidupnya karena terlalu sibuk mengejar validasi sosial.

Solusi Mengatasi FOMO dalam Perspektif Islam

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi FOMO adalah:

  1. Menanamkan rasa syukur

Fokus pada nikmat yang telah Allah berikan dan memperkuat keyakinan bahwa Allah telah menetapkan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya

  1. Menerapkan sikap qana’ah

Merasa cukup terhadap apa yang dimiliki tanpa terus membandingkan diri.

  1. Membatasi penggunaan media sosial

Mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan sosial.

  1. Memperkuat hubungan dengan Allah Swt.

Melalui ibadah, dzikir, dan refleksi diri agar hati lebih tenang.

  1. Fokus pada tujuan hidup dan pengembangan diri

Tidak mudah terpengaruh oleh standar kesuksesan yang dibuat orang lain.

Fear of Missing Out merupakan fenomena psikologis yang banyak dialami di era digital akibat tekanan sosial dan paparan media sosial. Dalam perspektif Islam, FOMO dapat diatasi dengan memperkuat rasa syukur, tidak mengikuti mayoritas secara membabi buta, serta menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.

Islam mengajarkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan mengikuti semua tren yang ada, melainkan dengan menerima diri, bersyukur atas nikmat Allah, dan fokus pada tujuan hidup yang lebih bermakna. []Muhammad Fadli Noor

Baca Juga:  Kasih Sayang Orang Tua

Related Posts

Latest Post