almuhtada.org – Kalau pernah melintas di sisi barat Kota Tuban, Jawa Timur, pasti pernah melihat sebuah patung besar yang berdiri di tengah bundaran jalan. Warga setempat sudah sangat akrab dengan patung itu dan sering menjadikannya penanda arah. Tapi tidak banyak yang tahu betul siapa sosok yang diabadikan di sana.
Patung itu adalah Letnan Dua Soetjipto, seorang perwira muda yang selama Agresi Militer II memimpin pasukannya menghadang tentara Belanda di wilayah Tuban dan Bojonegoro. Bersama Brigade Ronggolawe, ia menjadi momok bagi tentara Belanda yang berusaha menguasai wilayah ini.
Kembalinya Belanda dalam Agresi Militer II
Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II. Pada 18 Desember 1948, kapal perang Belanda mendarat di pesisir Desa Glondong, Kecamatan Tambakboyo. Tuban jatuh ke tangan mereka karena pasukan TRI Brigade Ronggolawe sebelumnya sudah melakukan dislokasi ke Bojonegoro. Wilayah Tuban kemudian menjadi daerah operasi Batalyon 17 di bawah komando Letda Soetjipto.
Menghadapi musuh dengan persenjataan jauh lebih modern, Letda Soetjipto tidak memilih pertempuran terbuka. Ia terkenal berani sekaligus cerdik dalam mengatur siasat. Pasukannya membentuk pos pertahanan di wilayah Koro, Merakurak, yang difungsikan sebagai tempat penghadangan dan untuk mengganggu iring-iringan pasukan Belanda yang bergerak menuju Montong. Jebakan-jebakan dipasang di jalanan yang sering dilalui konvoi musuh.
Salah satu aksi paling dikenang terjadi pada 9 Januari 1949 di Mondokan. Dalam baku tembak yang berlangsung beberapa menit, karena pasukan Letda Soetjipto lebih siap dan memiliki semangat juang tinggi, pasukan Belanda akhirnya melarikan diri ke arah timur sambil membawa rekan-rekan mereka yang terluka. Pasukan Letda Soetjipto selamat, sementara korban banyak berjatuhan di pihak Belanda. Truk yang ditinggalkan Belanda langsung dibakar sebelum pasukannya memerintahkan mundur.
Perlawanan Terakhir di Tapen, Senori.
Perlawanan itu terus berlanjut hingga pertempuran terakhirnya. Ketika mendengar rencana Belanda menyerang pusat pemerintahan di Montong melalui Cepu, Letda Soetjipto memutuskan melakukan penghadangan di wilayah Kecamatan Senori. Sesampai di sana, pasukannya bergabung dengan pasukan Hisbullah dan menyiapkan penghadangan di Dusun Tapen, Desa Sidoharjo.
Di medan persawahan itulah segalanya berakhir. Pasukan Belanda berhasil mengepung dari belakang. Letda Soetjipto gugur dengan luka tembak di bagian punggung. Ia meninggal dengan posisi tengkurap di pinggir area persawahan.
Sebagai penghormatan atas perjuangannya, namanya diabadikan menjadi nama jalan dan patung ikonik di Tuban yang kini berdiri megah di wilayah barat kota Tuban, dekat dengan GOR Anoraga. Sementara di Senori, dibangun dua tugu sebagai penanda lokasi kematiannya walaupun kenyataannya dua tugu tersebut sama sekali tidak dirawat, layaknya telah ditelantarkan oleh pemerintah setempat sekaligus masyarakatnya. Padahal, kedua tugu tersebut berpotensi besar untuk menjadi ikon sejarah di Tuban, khususnya Senori.
Letda Soetjipto bukan nama besar yang sering muncul di buku sejarah nasional. Tapi kisahnya mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan di ibu kota atau di medan tempur besar. Ia juga diperjuangkan di jalanan kecil dan pinggir sawah, oleh orang-orang yang memilih berdiri menghadang meskipun tahu risikonya. (Moh. Zadidun Nurrohman)
Sumber: Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe (1985); Dewan Harian Cabang 45, Riwayat Singkat Letda Soetjipto.











