Ummu Salamah, Sang Perempuan Kritis Pada Zamannya

Ilustrasi gambar perempuan (Pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Perempuan-perempuan zaman sekarang sering kali berada dalam posisi yang serba salah. Ketika mereka diam, dianggap tidak peduli. Namun ketika bersuara, apalagi bersikap kritis, justru dilabeli “terlalu emosional”, “baper”, atau “tidak logis”. Seolah-olah menjadi kritis adalah sebuah kekeliruan, sesuatu yang mengganggu kenyamanan, tidak penting, bahkan berlebihan. Padahal, jika menengok ke masa lalu, jauh sebelum istilah “perempuan modern” muncul, telah ada sosok perempuan luar biasa yang menunjukkan bahwa berpikir kritis bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Sosok itu adalah Ummu Salamah.

Ummu Salamah, seorang janda dari Abu Salamah yang kemudian menikah dengan Rasulullah Saw. pada tahun ke-4 Hijriah, dikenal sebagai perempuan yang cerdas, berani, dan penuh rasa ingin tahu. Selama hidup bersama Rasulullah Saw., ia tidak ragu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya mengganjal, terutama terkait ajaran Islam dan posisi perempuan di dalamnya. Sikap kritisnya ini bukan sekadar keberanian personal, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keadilan dan pemahaman agama yang lebih utuh.

Salah satu pertanyaan terkenalnya adalah ketika ia mempertanyakan mengapa dalam konteks hijrah, Allah Swt. sering menyebut laki-laki tanpa secara eksplisit menyebut perempuan. Pertanyaan ini kemudian menjadi sebab turunnya firman Allah Swt. dalam surat Ali-Imran ayat 195, yang menegaskan bahwa amal tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Dari sini terlihat bahwa pertanyaan Ummu Salamah bukan hanya relevan, tetapi juga berdampak besar dalam memperjelas prinsip keadilan dalam Islam.

Baca Juga:  Inkuisisi Spanyol: Ketika Umat Muslim Dipaksa Pindah Keyakinan

Tidak berhenti di situ, Ummu Salamah juga pernah mempertanyakan tentang pembagian warisan yang tampak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Ia ingin memastikan apakah perbedaan tersebut juga berlaku dalam hal pahala ibadah. Jawaban dari Allah Swt. dalam Q.S. An-Nisa ayat 32 menegaskan bahwa setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang mereka usahakan. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Ummu Salamah tidak sekadar menerima, tetapi berusaha memahami secara kritis.

Keberanian Ummu Salamah membuatnya menjadi tempat curhat bagi perempuan lain yang mungkin tidak memiliki keberanian yang sama. Ia menjadi jembatan antara kegelisahan mereka. Bahkan setelah wafatnya Rasulullah Saw., ia tetap dikenal sebagai sosok yang kritis dalam menjaga pemahaman agama dan norma sosial agar tidak menyimpang.

Lantas, apakah pertanyaan-pertanyaan Ummu Salamah murni karena rasa penasaran? Menurut tafsir at-Thabari, banyak dari pertanyaan tersebut sebenarnya mewakili kegelisahan perempuan lain di sekitarnya. Dengan kata lain, Ummu Salamah bukan hanya bertanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar. Ia membuktikan bahwa Islam bukanlah agama yang hanya berpihak pada laki-laki, melainkan agama yang adil bagi seluruh umat manusia.

Dari kisah ini, menjadi jelas bahwa sikap kritis bukanlah sesuatu yang harus dibungkam. Justru, dengan bertanya dan berpikir, seseorang dapat membuka jalan menuju pemahaman yang lebih adil dan mendalam. Ummu Salamah telah memberikan teladan bahwa keberanian untuk bertanya adalah bagian dari iman, bukan ancaman bagi siapa pun. [] Aisyatul Latifah

Baca Juga:  Penting Diketahui! Batasan-Batasan Aurat Perempuan bagi Mahram-Nya

Related Posts

Latest Post