Hal-Hal yang Perlu Kamu Perhatikan dalam Memilih Sahabat

Memilih Sahabat yang Tepat
Gambar Ilustrasi Memilih Sahabat yang Tepat (Pinterest.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Manusia merupakan makhluk sosial, hal ini membuktikan jika tiap manusia tidak bisa terlepas dari adanya lingkup pertemanan.  Imam Al-Ghazali pernah berpesan dalam haditsnya yang berbunyi, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya”.

Pertemanan pastinya memiliki 2 arah, ada teman yang mengajak kita ke dalam kebaikan namun tidak sedikit pula yang justru mempengaruhi dan menarik kita ke dalam jurang kemaksiatan.

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Artinya : “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Pesan yang bisa kita petik dari hadist ini adalah jika kita berteman dengan orang shaleh yang diibaratkan seperi minyak wangi,maka kita akan ikut terkena baunya. Ini berarti dengan bersahabat dengan orang sholeh maka intensitas ketakwaan kita kepada Allah akan bertambah dan membuat kita mendapatkan pahala.

Baca Juga:  Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW yang Hidup Di Akhir Zaman Hingga Membuat Para Sahabat Iri, Penasaran?

Dalam Islam, dijelaskan bahwa sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu mengingatkan kita dalam kebaikan, mencegah kemungkaran dan saling berbagi kebaikan. Seperti yang di jelaskan pada Q.S Ali Imran ayat 104 yang berbunyi :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱل ْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْل ِحُونَ

Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah menyebutkan 5 hal yang harus di perhatikan dalam memilih sahabat.

  1. Berakal Sehat

فإذا طلبت رفيقا ليكون شريكك في التعلم، وصاحبك في أمر دينك ودنيا فراع فيه خمس خصال: الأولى: العقل: فلا خير في صحبة الأحمق، فإلى الوحشة والقطيعة يرجع آخرها، وأحسن أحواله أن يضرك وهو يريد أن ينفعك، والعدو العاقل خير من الصديق الأحمق

Artinya : “Bila kau ingin mencari sahabat yang menemanimu dalam belajar, atau mencari sahabat dalam urusan agama dan dunia, maka perhatikanlah lima hal ini. Pertama, akalnya. Tiada mengandung kebaikan persahabatan dengan orang dungu. Biasanya berakhir dengan keengganan dan perpisahan. Perilaku terbaiknya menyebabkan kemudaratan untukmu, padahal dengan perilakunya dia bermaksud agar dirinya berarti untukmu. Peribahasa mengatakan, ‘Musuh yang cerdik lebih baik daripada sahabat yang dungu.”

  1. Memiliki Akhlak Terpuji
Baca Juga:  Pentingnya Menjaga Perasaan Orang Lain dalam Islam

الثانية: حسن الخلق: فلا تصحب من ساء خلقه، وهو الذي لا يملك نفسه عند الغضب والشهوة

Artinya : “Kedua, akhlak yang baik. Jangan bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, yaitu orang yang tidak sanggup menguasai diri ketika sedang marah atau berkeinginan,”

  1. Shaleh dan gemar beribadah

الثالثة: الصلاح: فلا تصحب فاسقا مصرا على معصية كبيرة، لأن من يخاف الله لا يصر على كبيرة، ومن لا يخاف الله لا تؤمن غوائله، بل يتغير بتغير الأحوال والأعراض،

Artinya : “Kesalehan. Jangan bersahabat dengan orang fasik yang terus menerus melakukan dosa besar karena orang yang takut kepada Allah takkan terus menerus berbuat dosa besar. Orang yang tidak takut kepada Allah tidak bisa dipercaya perihal kejahatannya. Ia dapat berubah seketika seiring perubahan situasi dan kondisi,”

  1. Tidak gila dunia

الرابعة: ألا يكون حريصا على الدنيا: فصحبة الحريص على الدنيا سم قاتل؛ لأن الطباع مجبولة على التشبه والاقتداء، بل الطبع يسرق من الطبع من حيث لا يدري فمجالسة الحريص تزيد في حرصك، ومجالسة الزاهد تزيد في زهدك

Artinya : “Keempat, jangan cari sahabat yang gila dunia. Persahabatan dengan orang yang gila dunia (serakah) adalah racun mematikan karena watak tabiat itu meniru dan meneladani. Bahkan tabiat itu mencuri tabiat orang lain dari jalan yang tidak disadari. Pergaulan dengan orang serakah dapat menambah keserakahanmu. Sementara persahabatan dengan orang zuhud dapat menambah kezuhudanmu,”

  1. Memiliki sifat jujur
Baca Juga:  Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Kehidupan Sosial

الخامسة: الصدق: فلا تصحب كذابا، فإنك منه على غرور، فإنه مثل السراب، يقرب منك البعيد، ويبعد منك القريب.

Arinya :  “Kelima, jujur. Jangan bersahabat dengan pendusta. Kau dapat tertipu olehnya. Pendusta itu seperti fatamorgana, dapat mendekatkan sesuatu yang jauh dan menjauhkan yang dekat darimu,”

Islam menekankan untuk selalu selektif dalam memilih sahabat karena Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahwa ukuran ketaatan seseorang bisa terlihat dari kualitas temannya.

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Untuk itu sebagai umat islam marilah kita selektif dalam memilih sahabat sehingga bisa menarik dan membawa kita ke Jannah-Nya. [] Fitri Novita Sari

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post