Sifat Mulia Khadijah Dalam Berusaha yang Harus Kita Tiru

Meneladani Sifat Mulia Khadijah
Gambar Ilustrasi Meneladani Sifat Mulia Khadijah (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama Nabi Muhammad, dan merupakan satu-satunya istrinya yang tidak ia poligami. Sebelum menikahi Muhammad, Khadijah telah berhasil membangun bisnisnya sendiri dan menjadi wanita sukses.

Kisah cinta Khadijah dan Nabi Muhammad dimulai Ketika Nabi Muhammad remaja bekerja di toko milik Khadijah. Khadijah kemudian melamar Nabi Muhammad melalui perantara Nafisah binti Munyah.

Lamaran Khadijah pun disetujui oleh paman-paman Nabi Muhammad, lalu mereka menikah saat Nabi Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun kala itu.

Hal yang membuat Nabi Muhammad diperbolehkan menerima lamaran Khadijah dikarenakan beberapa hal, diantaranya:

  1. Bifadhlin (utama/istimewa)

Khadijah merupakan perempuan yang istimewa. Kenapa tidak? Tidak ada perempuan yang mempunyai ilmu dan pengalaman setinggi Khadijah pada masa itu.

Pada usia 10 tahun, ia pernah mimpi melihat Cahaya turun menuju rumahnya lalu Cahaya itu menyebar menerangi seluruh dunia.

  1. Wadinin (agamanya bagus)

Ia merupakan perempuan paling cerdas dan berilmu di Mekkah. Ia pernah belajar kitab Injil dan Taurat sehingga tahu ciri-ciri nabi akhir zaman dengan detail.

Saat berusia 27 tahun, Khadijah bersumpah untuk tidak akan menikah lagi kecuali dengan nabi akhir zaman. Khadijah juga pernah berguru dengan Waraqah bin Naufal dan merupakan murid yang sangat pandai.

  1. Wajamalin (cantik rupanya)

Khadijah merupakan perempuan yang paling cantik dan paling baik akhlaknya. Khadijah juga merupakan wanita yang terkenal kecerdasannya, menjaga kehormatannya, sholihah, ulet dan mandiri.

  1. Wamaalin (kaya secara materi)
Baca Juga:  Tahajud: Obat untuk Lelah Batin, Kisah Menyentuh Hati dari Perjuangan Nabi Muhammad

Khadijah merupakan perempuan paling kaya di Mekkah. Ia memiliki usaha perdagangan yang sudah melintas ke negara lain.

Dalam menjalankan bisnisnya, Khadijah tidak menjalankannya sendirian. Ia adalah seorang investor yang menyediakan modal baik berupa uang maupun barang dagangan.

  1. Wanasabin wahasabin (silsilah dan nasabnya mulia)

Khadijah dilahirkan dari keluarga Quraisy yang mulia dan sangat terhormat. Ayahnya adalah Khuwailid bin Asad Abdul Uzza, sedangkan Abdul Uzza adalah saudara Abdu Manaf, salah seorang kakek Nabi.

Keduanya anak Qushay bin Kilab, dari sini, garis keturunan Khadijah bertemu Nabi pada Kakek ke empat yaitu Qushay bin Kilab.

Selain memiliki kemuliaan yang telah tersebut di atas. Khadijah merupakan wirausahawati yang sangat sukses, terbukti dengan ia menjadi orang paling kaya di Mekkah pada masanya.

Untuk mencapai hal tersebut, Khadijah menanamkan kebaikan dalam menjalankan usahanya tersebut. Berikut sifat-sifat Khadijah ketika menjalankan usahanya.

  1. Wanita yang Ikhlas

Dalam mengerjakan apapun, Khadijah selalu meniatkannya untuk mencari ridho Allah. Ikhlas sering kali diartikan sebagai keikhlasan hati dalam beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan dari manusia.

  1. Mengerjakan apapun karena Allah

Dalam kehidupan pernikahan, usaha, kerja, dsb, Khadijah selalu melibatkan Allah. Hal itu ia lakukan agar ia merasa lebih mudah dalam menghadapi ujian dan kesulitan yang kapanpun bisa menimpa dirinya.

  1. Hidup di dunia bukan untuk dunia

Hal ini juga dikenal dengan visi misi akhirat, di mana kita hidup di dunia untuk mencari bekal di kehidupan berikutnya, yaitu kehidupan akhirat. Khadijah memiliki cita-cita tertinggi yaitu untuk masuk surga Firdaus.

Baca Juga:  Kisah Abi Qudamah, Pemuda Beriman yang Bertemu Dengan Bidadari

Jadi, ia memastikan semua yang ia kerjakan bisa bermanfaat. Ia menjadikan bisnisnya sebagai washilah atau perantara menuju jalan ke surga-Nya.

Maka dari itu, Khadijah menerapkan sifat Amanah karena apapun yang kita kerjakan pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, mudah bersedekah dan menolong.

Harta yang ia punya diinvestasikan untuk akhirat dengan mendonaturkan ke Nabi Muhammad untuk keperluan dakwah.

  1. Membangun system dan memilih SDM terbaik

Hal ini ia lakukan dengan mempekerjakan orang yang kompeten dan dapat dipercaya.

  1. Membangun branding dan jejaring

Khadijah membangun branding dengan menjual barang yang berkualitas.

  1. Tawadhu’

Tawadhu’ atau rendah hati Khadijah implementasikan dengan sadar posisinya sebagai hamba Allah, sadar posisinya sebagai peremppuan dan istri, tidak pernah berkata tidak kepada suaminya. Ia juga merupakan Wanita mulia, yaitu pandai memuliakan suaminya.

Itulah sifat yang dimiliki oleh Khadijah dalam menjalankan usahanya sehingga usahanya menjadi lancar dan menjadikannya orang terkaya di Mekkah. Namun, perlu kita sertai Allah dalam setiap tujuan kita. Selagi tujuanmu bukan karena Allah, bersiap-siaplah untuk kecewa.

Demikian tulisan yang saya tulis, sekiranya bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai Khadijah ra., perempuan yang sangat mulia yang pernah mendapat salam dari Allah. Semoga kita kelak bisa menjadi perempuan yang mulia seperti Khadijah ra. [] Alya Rosadiana

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Imam Ghazali Saat Memberi Minum Seekor Lalat

Related Posts

Latest Post