Bencana di Awal Tahun 2021

Oleh : Mohammad Rizal Ardiansyah.

Di awal tahun 2021, Indonesia mengalami banyak sekali hal buruk. Di tengah Pandemi Covid-19 yang belum juga usai, Indonesia diterpa musibah dengan jatuhnya pesawat dari maskapai Sriwijaya Air. Sederet bencana alam juga terjadi di berbagai tempat yang menambah duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bencana meteorologi dan bencana geologi terjadi silih berganti di berbagi tempat di Indonesia.

Bencana geologi merupakan bencana yang terjadi murni karena faktor alam. Indonesia merupakan derah yang sangat memungkinkan untuk terjadinya bencana geologi. Hal tersebut karena Indonsia terletak pada pertemuan antara empat lempeng besar dunia. Indonesia juga terletak pada area Ring Of Fire atau Cincin Api Pasifik. Sehingga menadikan Indonesia sangat rawan untuk dilanda bencana geologi. Yang termasuk bencana geologi adalah gempa bumi dan gunung meletus. Kedua bencana tersebut terjadi silih berganti di berbagai tempat barau – baru ini.

Gempa bumi dan gunung meletus merupakan dua bencana yang berkaitan. Karena disebabkan oleh faktor yang sama, yaitu aktivitas magma di dalam perut bumi. Aktivitas magma akibat gaya konveksi menyebabkan pergerakan lempeng yang dapat menimbulkan gempa bumi. Sementara gunung meletus dapat terjadi jika magma naik ke permukaan bumi melalui rekahan pada kerak bumi.

Bencana meteorologi juga terjadi silih berganti di berbagai tempat pada beberapa waktu belakangan ini. Bencana meteorologi contohnya adalah banjir dan tanah longsor. Kedua bencana tersebut tidak murni disebabkan oleh faktor alam. Faktor manusia juga menjadi penentu utama terjadinya kedua bencana tersebut.

Bencana banjir dan tanah longsor biasanya terjadi pada saat terjadi hujan deras. Namun belakangan ini, Indonesia jarang sekali dilanda hujan deras. Hujan melanda berbagai tempat hampir setiap hari. Tidak dengan intensitas yang tinggi, melainkan dengan intensitas rendah hingga sedang. Peristiwa tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah ancaman yang serius. Tetapi kenyataanya bencana banjir dan tanah longsor mengancam berbagai tempat.

Mitigasi bencana yang baik diperlukan untuk mencegah bencana banjir dan tanah longsor tidak terus berulang tiap tahunnya. Kurangnya manajemen bencana yang baik menjadi faktor utama bencana banjir dan tanah longsor terjadi terus menerus setiap tahunnya. evaluasi pasca bencana juga diperlukan. Mengingat bencana meteorologi khususnya banjir terjadi di tempat yang sama setiap tahunnya.

Kepedulian sangat diperlukan dari semua pihak terkait bencana yang terus terjadi. Masyarakat juga harus turut andil didalamnya. Kepedulian dari masyarakat untuk menjaga lingkungan diperlukan. Sehingga lingkungan tetap lestari dan ancaman bencana dapat dikurangi. Pemerintah dan lembaga terkait juga perlu melaksanakan manajemen bencana yang baik. Infrastruktur pencegahan bencana haruslah menjadi perhatian utama untuk dapat mengurangi resiko bencana yang terus terjadi hingga menjadi bencana musiman.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 

Satu Semester Kuliah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Waktu pertama kali Aku “writing camp” di Pesantren Riset Al-Muhtada, kala itu Aku menuliskan pengalaman di hari pertama kuliah. Di hari sebelum perkuliahan pertama di mulai, saat itu tengah meriah-meriahnya untuk menyambut kedatangan mahasiswa baru. Tetapi, bukan seperti yang diharapkan. Justru kami mahasiswa baru harus rela dengan sistem perkuliahan daring. Kami telah melewatkan euforia penyambutan mahasiswa baru secara langsung, bukansecara online. Tetapi, diadakannya secara online pun kami masih menikmati.

Kali ini Aku akan bercerita sedikit tentang pengalaman di satu semester perkuliahan. Anggap saja ini menjadi curahan hati seorang mahasiswa baru. Anggap saja ini sebuah coretan kecil, coretan ini nanti bisa menjadi bahan bacaan bagi mereka yang akan masuk ke perguruan tinggi dan akan merasakan hal yang sama seperti kami saat ini.

Hari demi hari, tugas demi tugas, uts, uas, kuota, listrik, zoom, google meet, laptop, dan yang paling dekat adalah elena, itu semua telah kami lalui bersama di satu semester ini. Aku tak begitu tahu apa yang teman-temanku rasakan di satu semester kuliah ini karena pendapatnya pasti berbeda-beda. Ada yang senang, ada juga yang biasa-biasa saja. Banyak juga dari mahasiswa yang masih terkendala oleh sinyal, listrik mati, dan lainnya.

Aku sadar betapa sulitnya proses belajar di masa yang serba online seperti sekarang ini, tidak mudah untuk memahami apa yang disampaikan oleh dosen. Bukan hanya Aku yang beranggapan seperti itu, teman-teman juga sepemikiran denganku. Memang tak bisa dipaksakan untuk kuliah secara luring karena akan sangat berisiko. Padahal, kuliah luring lah yang harusnya kami dapatkan. Sekali lagi, keadaan yang tak mengizinkan semua berjalan normal, jauh berbeda dari biasanya.

Tentu bukan hanya kami yang merasakan sulitnya pembelajaran di masa pandemi, ada adik-adik yang masih Paud, TK, SD, SMP, dan juga SMA. Mereka semua merasakan hal yang sama dengan kami saat ini. Tetapi apa boleh buat? Memang begini adanya. Kita hanya perlu menjalankan apa yang ada.

Belum lama ini perkuliahan di semester pertama telah berakhir, nilai pun telah keluar. Aku sangat bersyukur dengan nilai yang ku dapat, berapa pun nilainya.

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” HR. Ahmad.

Pada dasarnya dalam mengharapkan sesuatu itu harus didasari dengan ikhtiar dan doa. Keduanya haruslah seimbang. Aku pernah mendengar bahwa usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa ikhtiar itu sama saja bohong.

Dari semua nilai yang didapat, pastinya ada yang harus aku tingkatkan lagi di semester kedua nanti. Dan yang pasti saat perkuliah telah usai, harus ada libur semester untuk mengembalikan lagi tenaga yang terkuras selama satu semester ini. Aku juga harus pandai-pandai melatih konsentrasi karena pada semester pertama yang paling menyulitkan adalah membuat diri sendiri berkonsentrasi.

Kabar yang terdengar bahwa semester kedua pun akan kembali daring. Ini tentu akan membuat kami semakin terbiasa dengan sistem daring. Tetapi, saat semua sudah normal dan akan kembali luring, itu membuat kami harus beradaptasi lagi dengan semuanya. Tentu harus dipersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.

Ini hanya sedikit cerita dari banyaknya cerita di luar sana oleh semua mahasiswa baru. Dan cerita ini akan terus berlanjut hingga lulus nanti.

“Bermimpilah lebih besar, bekerja keraslah untuk menggapai mimpi itu, dan tetaplah rendah hati”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasan dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Ucapan tak Sesuai Perilaku

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Sering kita ketahui di sekitar kita, seperti halnya orang yang menasihati kepada orang lain, atau lebih familiarnya ketika orang tua menasihati anaknya. Mungkin hal itu suatu yang wajar bagi kita, karena memang hak orang tua adalah menasihati anaknya. Apakah kita akan melawan atau marah kepada orang tua kita? Sedangkan apa yang kita lakukan memang seharusnya ditegur. Mungkin dari diri kita hanya diam dan menggerutu dalam hati. Beda halnya jika orang lain yang menegur. Apa yang akan terjadi pada diri kita?

Hal ini lebih sering terjadi pada anak pesantren, dimana yang didalamnya terdapat santri dengan paut umur yang berbeda-beda. Sering terjadi ketika senior atau yang dikenal lebih lama tinggal di pesantren, ketika mereka sedang menasihati seorang santri baru, dan dimana santri baru tersebut malah berani membantah hingga terjadi bantah-membantah. Disitulah yang harus kita ketahui, mengapa terjadi hal seperti itu?

Sadar atau tidak sadar, kita yang beranjak semakin dewasa pasti berfikir untuk bisa menasihati adik-adik dibawah kita tanpa melihat apakah diri kita sudah pantas untuk menasihati mereka? Walaupun tidak semua nasihat itu harus kita lakukan terlebih dahulu. Jika nasihat tersebut memang baik dan harus disampaikan, maka sampaikan dengan baik.

Namun di dalam hal ini, yang dipermasalahkan adalah sebuah nasihat yang kecil namun bermanfaat. Seperti contoh, kita menasihati agar adik-adik rajin dalam melaksanakan sholat berjamaah dan mengaji, atau tidak kita menasihati adik-adik agar mengikuti peraturan yang telah ditetapkan dan tidak membangkang pengurus pesantren. Sedangkan pada diri kita, melaksanakan sholat pun ditunda-tunda, mengaji pun menjadi urusan akhir, dan lebihnya para senior berani membantah pengurus. Lantas, apakah santri baru akan mengikuti dan melakukan apa yang telah kita nasihat? Pastinya hanya sebagian, selebihnya mereka pun membantah, karena mereka juga dapat perfikir. Yang ada dalam fikiran mereka adalah “orang mbak itu aja seperti itu, kita kan ngikut mbak-mbaknya”. Dan itulah yang menyebabkan mereka berani membantah, atau tidak mereka diam namun tak menuruti apa nasihat kita.

Dari hal ini, cobalah kita menyadari diri kita sendiri sebelum kita menasihati orang lain, atau setidaknya kita mencoba merubah diri lebih baik, agar orang yang kita nasihati dapat mengambil hikmah atau mencontoh apa yang ada pada diri kita.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. 

Bumiku Basah

oleh : Alda Gemellina

Bagai sejoli tak lagi satu
Urai tangis dalam sendu
Mengapa yang demikian terjadi?
Indah rasa tak lagi dimengerti
Ketika semuanya menjadi kelabu
Untuk bersatu tak akan padu

Bagaimana tidak basah
Ada tangis dalam tawa
Sebab tertusuk dalam peluk
Ada sampah dalam sumpah
Hadir dalam wujud kesuma

Bumiku basah..
Bukan hujan sebabnya
Ia basah namun tak menetes
Ia basah sebab ulah mereka
Yang punya rasa dan logika

Bumiku basah…
Basah sebab tangis kehilangan
Basah sebab rintih kelaparan
Basah sebab peluh yang berjatuhan
Basah sebab derita yang tak kunjung mereda

Bersama mentari yang bersinar
Harap esok kembali cerah

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. 

Menuntut Ilmu Tak Lekang Waktu

Oleh: Fafi Masiroh

Mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu adalah salah satu kenikmatan yang harus selalu disyukuri. Kegiatan dalam menuntut ilmu sudah barang tentu akan memberikan berbagai kebaikan bagi penuntut ilmu. Orang yang dulunya belum bisa membaca al quran, ketika ia menuntut ilmu maka seiring berjalannya waktu ia bisa membaca Al Quran, bahkan mampu memahami kandungan pada ayat ayat Al Quran untuk diimplikasikan dalam kehidupan kesehariannya. Orang yang belajar kesehatan kelak ia akan mengetahui apa apa yang belum ia ketahui, memberikan bantuan ketika teman sakit. Kesempatan menutut ilmu adalah salah satu kesempatan langka terlebih bagi orang orang yang barang kali sudah terlalu sibuk perkara harta dan tahta.

Dalam menuntut ilmu, terdapat suatu ungkapan yang sudah cukup terkenal yaitu, “Jika belajar, selalulah menjadi layaknya gelas kosong yang tak pernah penuh”. Ungkapan tersebut kerap kali diartikan bahwa sebagai penuntut ilmu ketika sedang belajar, sebaiknya selalu merasa bahwa ia layaknya gelas kosong yang selalu bersedia diisi air. Bahwa ketika belajar harus selalu disertai rasa haus terhadap ilmu, keinginan untuk selalu belajar, menambah berbagai wawasan baru serta memperluas pengetahuan. Ketika penuntut ilmu layaknya gelas yang sudah terisi penuh, maka ia akan merasa bahwa ilmunya sudah cukup, tidak memerlukan ilmu baru lainnya. Sehingga hal tersebut mampu mendorongnya untuk menjadi orang yang angkuh, yang sombong, yang enggan memiliki semangat tinggi dalam belajar dan tidak dapat dipastikan ilmu tersebut mampu masuk ke hati.

Lain halnya ketika dalam menuntut ilmu, penuntut ilmu tersebut menganggap dirinya layaknya gelas kosong. Maka ia akan merasa selalu kurang dalam suatu ilmu, selalu ingin memperluas wawasan dan ilmu pengetahuannya. Sehingga sikap tersebut mampu mendorongnya untuk memiliki sifat rendah hati, yang senantiasa selalu menghargai setiap orang supaya ia mempu mendapatkan ilmu dan wawasan baru. Sebuah gelas kosong, ketika diisi air jernih maka akan terlihat jernih. Ketika diisi air susu ataupun kopi, ia pun akan dipenuhi susu ataupun kopi. Hal yang terpenting saat menjadi layaknya gelas kosong, ia mampu dituangkan ilmu apapun dan akan selalu dalam kebaikan jika ia tetap hati hati dalam apapun isi yang dituangkan dalam gelas tersebut. Penuntut ilmu yang merasa layaknya gelas kosong akan selalu semangat dalam belajar, sehingga ia akan membutuhkan waktu yang semakin penjang dalam memperluas pengetahuannya.

Seperti dalam suatu maqolah, bahwa salah satu di anata enam hal yang mampu membantu penuntut ilmu untuk mendapatkan keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah dengan belajar dalam waktu yang panjang. Artinya, ia merasa butuh waktu yang cukup lama lagi untuk lebih memahami suatu ilmu serta memperluas pengetahuannya. Dengan begitu, akan semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan ketika belajar untuk kemudian dijadikan sebagai bekal dalam kehidupan ke depannya.

Oleh karena itu, ketika ia merasa layaknya gelas kosong, dengan rasa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi, ia akan turut merasakan bahwa menuntut ilmu tak pernah lekang oleh waktu. Bersedia menuntut ilmu di manapun, kapanpun serta dengan siapapun untuk membantunya menjadi manusia yang lebih bersyukur dan selalu dalam kebaikan.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang .

Menghormati dan Memuliakan Guru Sendiri

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Setiap orang yang menuntut ilmu terutama belajar ilmu agama, pastilah mempunyai guru (Kyai). Guru memiliki peran vital yaitu memberikan bimbingan dan pengajaran terutama berkaitan dengan ilmu hikmah (agama) kepada murid-muridnya. Diharapkan murid-muridnya mampu memahami dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehinggadapat membawa manfaat dan keberkahan baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Begitu vitalnya peran guru bagi murid, menempatkan guru menjadi salah satu dari enam syarat yang harus dipenuhi dalam menuntut ilmu disamping memiliki kecerdasan, semangat, sabar, biaya, dan waktu yang lama. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid untuk senantiasa menghormati dan memuliakan gurunya tersebut.

Sebuah ilmu akan tetap eksis di bumi jika terdapat sekelompok orang yang berjiwa tangguh dan rela berkorban disertai dengan rasa ikhlas untuk terus mengkaji dan mengamalkan ilmu tersebut kepada umat. Guru menjadi jawaban atas pernyataan tersebut. Terlebih lagi jika berbicara dalam ranah ilmu agama, peran guru seperti para habaib dan Kyai yang menjadi garda terdepan dalam membimbing umat untuk senantiasa berada di jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah SWT. Mereka itulah penerus para nabi dalam akhir zaman ini. Mereka rela mengorbankan apa yang dimilikinya baik harta, jiwa, maupun waktunya hanya untuk meneruskan tugas mulia para nabi tersebut misalnya dengan membangun pondok pesantren, majelis taklim, masjid, dan sebagainya. Tidak ada kata pamrih dalam hati mereka. Perbuatan yang mereka kerjakan tersebut murni ikhlas karena Allah SWT dan ingin mendapat ridho-Nya, tanpa ada harapan untuk mendapat pujian dan penghargaan dari manusia lainnya.

Di dalam ajaran Islam, posisi akhlak itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada ilmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid harus memiliki sikap menghormati dan memuliakan guru. Terlebih lagi terhadap gurunya sendiri yang telah mengajar dan membimbingnya khususnya terkait ilmu agama, baik ketika mengaji di masjid, di madrasah, maupun di pondok pesantren. Sikap menghormati dan memuliakan guru ketika sedang menuntut ilmu dengan guru dapat diwujudkan dengan cara hadir ketika guru sedang mengajar, mendengarkan pengajaran dan nasehat dari guru dengan baik, tidak memotong pembicaraan guru, baik ketika pengajaran berlangsung, berbicara dengan sopan santun, dan sebagainya. Tetapi jika sudah tidak lagi belajar kepada gurunya tersebut, maka sikap menghormati dan  memuliakan guru dapat dilakukan dengan tetap sowan ke rumah guru, mengamalkan ilmu yang telah guru ajarkan, menjaga nama baik guru, selalu sedia jika gurunya membutuhkan bantuan, dan sebagainya.

Di zaman ini, banyak sekali murid yang mulai melupakan sosok gurunya. Mereka seolah-olah sudah lepas dari keterkaitan dengan gurunya karena tidak lagi belajar kepadanya. Ada murid yang pindah belajar ke guru yang lain tetapi tidak sowan terlebih dahulu kepada gurunya yang pertama. Padahal guru yang pertama lebih paham tentang karakter dan bagaimana kondisi muridnya ketika belajar sehingga guru akan mengarahkan dan memilihkan guru yang cocok bagi muridnya tersebut. Selain itu, beberapa murid juga rela datang jauh-jauh ke rumah habaib atau Kyai untuk sowan, bersilaturrohim, dan ngalap berkah tetapi jarang bahkan tidak pernah lagi sowan kepada gurunya sendiri. Sowan kepada habaib atau Kyai lainuntuk tujuan bersilaturrohim maupun belajar kepadanya memang sangat baik bahkan sangat dianjurkan untuk dilakukan. Tetapi murid harus juga tetap menyambung tali silaturrohimkepada guru sendiri karena merekalah yang mengajar dan membimbingnya sehingga menjadikannya cerdas dan mampu mahir dalam menguasai suatu bidang ilmu terutama ilmu agama.

Sikap menghormati dan memuliakan guru memang harus ditanamkan dan diterapkan oleh setiap murid. Kedua sikap tersebut sangat penting untuk dijadikan akhlak dalam menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan posisi akhlak lebih tinggi daripada ilmu. Sepintar apapun seorang murid tetapi jika memiliki sikap menghormati dan memuliakan gurunya yang rendah, maka tidak akan berguna ilmu tersebut serta tidak akan mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut. Begitupun sebaliknya, walaupun seorang murid lemah dalam memahami dan mengamalkan ilmu tetapi memiliki sikap menghormati dan memuliakan gurunya yang tinggi, maka akan semakin dipermudah dalam belajar serta akan mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut. Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, seorang murid harus mampu menyeimbangkan antara akhlak dalam diri serta kecerdasan dalam memahami dan mengamalkan ilmu tersebut. Dengan demikian, kesempurnaan dalam menuntut ilmu akan diperoleh dan disertai dengan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut yang akan dirasakan oleh dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. 

Hari Ini Milik Anda

Oleh : Amanatul Khomisah

Hari ini saat matahari menyinari bumi, dan siangnya yang menyinari dengan ceria. Inilah hari anda. Saat pagi hari telah datang jangan menunggu sore datang pula menjelang. Detik ini,pagi ini, hari ini dan saat ini adalah yang akan anda jalani, bukan hari lalu apalagi hari esok yang masih menjadi misteri.

Umur anda,tak ada yang mengetahui. Mungkin hari ini adalah hari terakhir anda.  Maka pada hari ini pula. Sebaiknya anda mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk lebih peduli,perhatian dan lebih bekerja keras. Pergunakan waktu anda dengan bijak. Tanamlah kebaikan sebanyak banyaknya pada hari ini. Tekadkan dengan sepenuh hati,untuk selalu mendekatkan diri dengan Sang Illahi Rabbi. Mempersembahkan ibadah yang indah nan khusu’, kecantikan akhlak dan keseimbangan dalam segala hal.

Tersenyumlah, jalani hari ini tanpa kesedihan, kemarahan, kegalauan, kedengkian, kegundahan dan kebencian. Percayalah pada diri sendiri,bahwa anda mampu menjalani dengan semangat dan tekad yang kuat. Sibukkanlah diri anda dengan prinsip bahwa ” anda hanya hidup hari ini”. Maka anda akan menyibukkan diri untuk selalu memperbaiki keadaan,mengembangkan bakat dan potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Katakan pada masa lalu ” wahai masa lalu aku tak menangisi kepergianmu,tenggelamlah kamu bersama mentari, dan berjanjilah untuk tak kembali, biarkan aku hidup hari ini untuk menuju masa depan datang.karena hari ini adalah milik aku pribadi ”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Tentang Rasa

Oleh : Alda Gemellina M

Semua orang di dunia terlahir dengan sejuta rasa yang dibawanya. Mungkin hanya sepersekian dari yang sejuta itu yang mampu manusia definisikan. Sisanya, tak dimengerti, namun nyata terasa. Believe or not, manusia adalah makhluk paling absurd yang diciptakan oleh Tuhan. Mengapa, karena manusia adalah satu–satunya yang bisa menunjukkan satu rasa dalam beragam ekspresi. Bayangkan jika ada jutaan rasa yang sedari lahir ada dalam diri, maka berapa bentuk ekspresi yang dapat ditunjukkan oleh setiap individu? Memikirkannya saja tak akan sanggup. Karena begitulah manusia dengan segala keunikannya. Menyoal perihal rasa, nampaknya memang tidak sesimpel itu. Rasa muncul dari proses kimiawi sebagai akibat dari salah satu kinerja otak. Mungkin karena itu seseorang sadar akan perasaannya akan tetapi tidak dapat mengontrol kapan dan bagaimana rasa itu akan muncul dalam ruang bernama ekspresi.

Rasa senang, sedih, benci, marah, rindu dan bahkan cinta merupakan segelintir rasa yang mampu didefinisikan oleh manusia. Itupun belum tentu juga. Sebab manusia tidak benar – benar tahu bagaimana bentuk rasa itu. Manusia hanya mendefinisikan berdasarkan apa yang diamatinya. Dan itu bergantung bagaimana cara seseorang men-delivery-kan perasaannya.  Ada beragam cara manusia dalam menyampaiakan atau menuangkan apa yang dirasa. Ada yang bercerita secara langsung kepada orang lain, dengan harap orang lain akan ikut mengerti apa yang dirasakan. Ada juga yang menggunakan media dalam mengutarakan perasaannya. Seperti remaja yang menyimpan buku diary di balik bantalnya, dan menguncinya dengan gembok berbentuk hati. Harap tidak ada orang lain yang membukanya. Atau para penyair yang menuangkan rasanya dalam sajak – sajak berirama yang sarat akan makna, juga para penyanyi yang men-delivery-kan rasa dalam setiap lirik lagu. Mereka berkomunikasi melalui melody yang mengalun merdu. Atau bahkan para film maker yang berusaha meneruskan rasa melalui skenario dan adegan para lakonnya di setiap scene film tersebut.

Terlepas dari bagaimana seseorang menunjukkan perasaannya, pada kenyataannya banyak juga yang memilih untuk memendam semua yang dirasakannya. Dan sebagian orang menganggap hal itu lebih baik daripada harus mengekspresikannya. Namun sekuat apapun seseorang menyimpan rasa seorang diri, akan ada masa dimana tubuh akhirnya memberi respon. Karena memang begitulah manusia diciptakan dengan banyak sensor – sensor impuls yang akan memberikan reaksi ketika sesuatu terjadi di dalam tubuh. Oleh karenanya, bagaimanapun seseorang menahan untuk tidak mengekpresikan perasaannya, tubuh dengan sendirinya akan menunjukkan hal tersbut. Mungkin dengan perilaku yang menjadi berbeda atau mungkin dengan air mata. meskipun air mata tidak hanya berkonotasi dengan situasi atau perasaan sedih. Karena seringkali seseorang menangis tanpa tahu pasti sebabnya.

Persoalan rasa tidak pernah bisa dianggap sepele. Tidak ada satu orang pun di dunia yang memiliki kadar rasa yang sama. Sama – sama bahagia misalnya. Maka bahagianya si A tidak akan pernah sama dengan bahagianya si B. Sekalipun dalam waktu yang bersamaan. Perihal rasa juga erat kaitannya dengan sensitivitas. Karena rasa bukanlah sesuatu yang dapat dimengerti oleh logika. Rasa merupakan unsur sensistivitas manusia. Tingkat sensitivitas antara satu orang dengan orang yang lain tidaklah sama. Mungkin bagi si A apa yang dirasakan si B adalah hal kecil, namun bisa jadi bagi si B itu merupakan sesuatu yang besar.  That’s why nobody can assuming whether someone is fine or not. Dan memang seharusnya tidak. Cause we never know what one is really feeling. Mungkin itulah mengapa Allah menciptakan manusia lengkap dengan rasa dan logika. Sebab dengannya manusia bisa memanusiakan manusia lainnya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Maafku Bahagiaku

Oleh : Fafi Masiroh

Kesempurnaan bukanlah milik dari manusia. Karena sejatinya manusia akan selalu diliputi kesalahan dan kekurangan. Entah kesalaham tersebut diperbuat kepara dirinya sendiri atau kepada orang lain. Perasaan menyesal, kecewa dan gelisah kerap kali dirasakan ketika mereka berbust kesalahan atau mungkin orang lain berbuat kesalahan kepada mereka. Hingga akhirnya perasaan tersebut akan mendorong manusia untuk saling membenci satu sama lain hanya karena sebuah kesalahan yang diakhiri dengan keegoisan. Memang begitulah adanya, manusia terlalu mudah memikirkan hal penting terksit diirinya sendiri, harga diri hingga kemudian merasa terpuruk dan sangat susah untuk mendapat kebahagiaan. Padahal kebahagiaan dapat dirasakan dengan sangat sederhana. Bagaimana tidak, karena sejatinya manusia penuh kesalahan maka memaafkan adalah langkah termudah untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Memaafkan semua kesalahan pada diri sendiri atau orang lain dan terus selalu mengingat bahwa salah benar itu relstif. Karena yang utama yaitu bagaimana kesalahan tersebut mampu mendewasakan dan memberi penerangan bahwa kesalahan bukan selamanya hal buruk. Ada banyak orang orang hebat di luar sana, yang kokoh dan kuat karena mereka mampu untuk memaafkan atas segala kesalahannya atau orang lain.

Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi muslim pun selalu mengingatkan umatnya untuk selalu memaafkan. Dalam berbagai kesempatan, beliau kerapkali bersabda bahwa memaafkan adalah salah satu hal yang dapat menjadi kunci untuk mendapatkan surga. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits “ Jika hari kiamat tiba terdengatlah suara panggilan Manakah orang orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya? Datanglah kamu kepada Tuhanmu dan terimalah pahala pahalahmu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahana orang lain untuk masuk surga”. (HR. Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas r.a). Maka dapat diketahui bahwa memaafkan memanglah hal penting yang perlu kita lakukan ketika mendapat suatu kesalahan baik dari diri kita sendiri atau orang lain. Dengan memaafkan maka kebahagiaan akan menghampiri kita, dan surga adalah kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Bahkan katena pentingnya memafkan, Allah swt berfirman Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf :199).

Memaafkan tidak hanya mampu memperbaiki masalah tetapi dengan memaafkan hati kita akan senantiasa lebih lapang dan tidak mudah menyimoan dendam. Rasulullah ketika beliau diolok olok dengan orang kafir, dilempati kotoran, beliau dengan senang hati memaafkan kesalahan mereka dan mendoakan mereka supaya selalu diberi keselamatan. Maka sudah sewajarnya bagi kita, sebagai umat Rasulullah saw untuk mengikuti suri tauladan beliau termasuk mudah untuk memaafkan. Memaafkan memang bukan perkara yang mudah, terkadang kita bilang sudah memaafkan tetapi hati masih dipenuhi amarah terlebih ketika mengingat ingat kesalahan. Oleh karena itu memulai dengan langkah langkah kecil akan lebih mudah untuk mendorong kita supaya tidak berat hati memaafkan kesalahan. Misalnya dengan senantiasa membiasakan, mengingat kebaikan orang yang berbuat kesalahan kepada kita, serta selalu mengingat pesan Allah dan Rasulullah saw bahwa memaafkan adalah hal mulia untuk selalu dilakukan.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.