Semhas Penelitian: Berkarya di Tengah Pandemi, Pengasuh Beri Apresiasi

Dokumentasi Seminar Hasil Penelitian Mahasantri Tahun 2021 Melalui Aplikasi Zoom Meeting

28/03/2021 – Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi covid-19 memang sedikit banyak mengalami hambatan. Meskipun demikian, kegiatan tersebut harus tetap dilanjutkan demi keberlangsungan pendidikan.

Demikian juga kegiatan belajar di Pesantren Riset Al-Muhtada. Pesantren yang terletak di wilayah Banaran Kampus Unnes Gunungpati tetap melangsungkan berbagai kegiatan secara virtual. Salah satu kegiatannya yakni Seminar Hasil Penelitian Mahasantri yang rutin digelar sebagai kegiatan tahunan sekaligus kegiatan yang mendorong Mahasantri untuk berlatih menjadi seorang peneliti.

Seminar Hasil Penelitian merupakan bagian akhir dari serangkaian kegiatan pembelajaran metodologi penelitian mahasantri. Seminar hasil merupakan acara untuk melaporkan hasil dari temuan penelitian yang telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai Maret.

Tema penelitian yang diangkat pada tahun ini yakni aspek budaya, pendidikan, dan keagamaan. Dimana Mahasantri melakukan penelitian di beberapa bidang yang terkait dengan tema penelitian, sebagai contoh ada yang melaksanakan penelitian mengenai BumDes sebagai pemersatu umat beragama, Model pendidikan di Panti Asuhan saat Pandemi Covid-19, Tradisi rabu wekasan dikalangan millenial, Tradisi perlon unggahan pada Masyarakat Bonokeling Cilacap, dan penelitian kelompok mahasantri lainnya yang mengangkat judul yang menarik.

Seminar Hasil Penelitian tahun 2021 Pesantren Riset Al-Muhatada dilaksanakanpada 28 Maret 2021 secara virtual mengingat keadaan pandemi covid-19 yang belum usai, bertepatan pada hari Minggu, 14 Sya’ban 1442 H.

Kegiatan berjalan dengan lancar yang dimulai pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan sekaligus membuka acara Seminar Hasil dari pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag. M.A., M.P.A kemudian dilanjutkan acara inti yaitu pemaparan hasil penelitian dari tiap mahasantri yang tergabung dalam 13 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok yang memaparkan hasil penelitian, menjawab pertanyaan yang diajukan baik dari pengasuh dan reviewer Bapak Ayon Diniyanto, S.H., M.H.

Saya sangat mengapresiasi semua santri yang sudah bekerja keras melakukan penelitian” ungkap pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada M.Ag., MA., Ph.D kala sesi terakhir sebelum penutupan acara.

Alhamdulillah, rasa lelah itu akan terganti dengan bahagia” begitu ungkap Azkia, salah satu mahasantri yang turut merasakan tegang dan gugup saat hendak memaparkan hasil penelitian.

Seminar Hasil Penelitian diikuti pula oleh peserta dari kalangan umum. Acara ini berakhir pukul 12.27 dan ditutup dengan sesi foto bersama. (FM/DWK).

Negeri Semu

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Hamparan perkebunan dan sawah terbentang di segala penjuru wilayah. Lautan biru yang jernih mengelilingi pulau-pulau yang terpisah. Bentangan alam yang elok dan alami menjadikan negeri ini seperti surga yang tersembunyi. Tidak hanya itu, negeri ini juga memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah yang menjadi suatu berkah dan anugerah tersendiri bagi penduduknya. Negeri ini bernama Indonesia. Secara sekilas saja, dapat dikatakan bahwa negeri ini memiliki keistimewaan lebih dibandingkan dengan negeri-negeri yang lain. Oleh karena itu, seharusnya negeri ini mampu menjadi suatu negeri yang besar dan makmur. Tetapi dengan melihat kondisi negeri saat ini, rasanya masih cukup jauh untuk mewujudkan harapan tersebut.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Kekayaan yang dimiliki mencakup kekayaan sumber daya alam dan kekayaan sosial. Kekayaan sumber daya alam tersebut meliputi sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati. Sumber daya alam hayati di Indonesia terdiri atas keanekaragaman flora dan fauna yang melimpah yang tersebar di berbagai daerah dan termasuk keanekaragaman terbesar di dunia. Sedangkan sumber daya alam non hayati yang dimiliki Indonesia misalnya gas alam, minyak bumi, dan berbagai jenis hasil tambang lainnya. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sosial berupa keberagaman penduduk meliputi keberagaman etnik, suku, agama, maupun budaya. Dengan melihat berbagai potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia.

Tampaknya, impian untuk menjadi negara super power ataupun “Macan Asia” masih cukup jauh dari kenyataan. Hingga saat ini, Indonesia masih betah dengan status sebagai negara berkembang. Status tersebut akan terus melekat jika tidak ada semangat perubahan untuk negeri oleh seluruh rakyatnya. Masih banyak “pekerjaan rumah” yang harus segera dibenahi dan diselesaikan. Sistem birokrasi dan pemerintahan belum terstruktur dengan baik dan terkesan amburadul. Seakan-akan Pancasila dan UUD 1945 hanya menjadi simbol negara demokratis belaka. Banyak pejabat negara yang mampu menghipnotis rakyat dengan menebar janji-janji manis ketika kampanye berlangsung. Tetapi ketika sudah terpilih, mereka sudah lupa untuk menunaikan janjinya tersebut. Pemerintah meminta rakyatnya untuk lebih kritis terkait kebijakan publik saat ini, tetapi pemerintah membentengi diri dengan menaruh UU ITE sebagai tameng sehingga masyarakat merasa ketakutan dan memilih untuk bungkam.

Hukum di negeri ini masih terlihat “Tumpul ke Atas dan Tajam ke Bawah”. Entah mengapa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sangat sulit ditegakkan di negeri ini. Para pejabat dan kerabat dekat pemerintah terkesan lebih kebal hukum bahkan hukum cenderung menyengsarakan rakyat biasa. Bahkan para pejabat negara tidak merasa takut jika berbuat korupsi. Seakan-akan korupsi adalah suatu tindakan yang lumrah dan dianggap sebagai “budaya bangsa” di negeri ini. Selain itu, jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia harus segera diperbaiki dan ditata kembali. Potensi munculnya perpecahan bangsa semakin jelas dan nyata. Dimana-mana masih terjadi konflik dan pergolakan daerah yang tak kunjung usai. Tindakan diskriminasi yang dilatarbelakangi ras, suku, agama, ataupun budaya juga masih sering terjadi. Bahkan tindakan diskriminasi tersebut dilakukan secara terbuka dan blak-blakan di depan khalayak ramai misalnya di media sosial. Sungguh ironi melihat semua permasalahan tersebut terjadi di negeri ibu pertiwi ini. Semuanya terlihat semu, tetapi terasa nyata dan dapat dirasakan.

Indonesia adalah negeri yang indah dan memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Dengan memanfaatkan potensi tersebut, Indonesia pasti mampu menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia. Tetapi, negeri ini masih kesulitan untuk mewujudkan impian tersebut. Masih banyak permasalahan negeri ini yang harus dihadapi dan dituntaskan sesegera mungkin oleh semua elemen bangsa. Mulai dari sistem pemerintahan hingga jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri harus segera diperbaiki dan ditata kembali dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, semua elemen bangsa harus segera bangkit dan bergerak untuk melakukan perubahan dengan cara saling bahu-membahu, tolong-menolong, serta memiliki rasa prihatin dan kepedulian terhadap nasib bangsanya. Bangsa Indonesia juga harus mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan berbagai potensi yang telah dimiliki dengan sebaik mungkin. Selain itu, rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong juga harus selalu dipupuk dan dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat dalam bersama-sama menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di negeri ini. Bukan tidak mungkin, impian untuk membawa negeri ini menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia dapat segera terwujud di kemudian hari.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Anak Putus Sekolah, Masalah Kita Bersama

Oleh: Fafi Masiroh

Pendidikan memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup seseorang bahkan suatu bangsa. Seperti yang telah kita ketahui, dengan adanya pendidikan manusia akan lebih mengetahui banyak hal, lebih bijak dalam menimbang baik buruknya sesuatu mengingat karena manusia sendiri telah dikaruniai akal oleh Sang Pencipta sebagai makhluk yang paling baik di antara seluruh ciptaan Yang Maha Kuasa. Dengan karunia terbesar yaitu akal tersebut, manusia diharapkan mampu menjaga dan memelihara serta mengelola bumi dengan sebaik mungkin. Sehingga dibutuhkannya pendidikan sebagai bekal bagi manusia agar memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas guna melaksanakan tugas tersebut. Hal tersebut yang menyebabkan manusia untuk dijadikan sebagai objek dalam pendidikan, karena memang pendidikan memiliki peranan penting bagi manusia. Dalam suatu bangsa sendiri, pendidikan memiliki peranan yang penting.

Adanya pendidikan mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih berpikir kritis dan mampu untuk turut serta menganalisis permasalahan suatu bangsa dan memberikan solusi terbaik berdasarkan wawasan, pengetahuan dan pengalaman mereka. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa di Indonesia sendiri tingkat pendidikannya tergolong masih rendah sehingga Indonesia masih menjadi sebagai negara berkembang dan membutuhkan usaha besar untuk menjadi negara maju khususnya di bidang pendidikan. Begitu banyak permasalahan dalam hal pendidikan di Indonesia, salah satu di antaranya yaitu kasus putus sekolah Anak Indonesia yang sangat tinggi. Tingginya angka putus sekolah anak indonesia sebenarnya dilatarbelakangi oleh banyak hal, di antaranya yaitu sebagai berikut:

a. Ekonomi

Tidak dapat dipungkiri tingginya kemiskinan di Indonesia sangat mempengaruhi keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Tidak sedikit orang tua yang memiliki latar belakang ekonomi rendah memilih untuk memutuskan sekolah anaknya karena  terkendala biaya. Alhasil anak anak kehilangan kesempatan untuk berada di bangku sekolah, dan justru turut serta bekerja bersama orang tua mereka.

b. Rendahnya Kualitas dan Kuantitas Pendidikan

Meskipun pemerintah telah mencanangkan program wajib sekolah 9 tahun, akan tetapi masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan kerana kurangnya sarana dan prasarana dari pemerintah. Bahkan di beberapa daerah masih kesulitan untuk menemukan lembaga pendidikan, serta tidak ada transportasi yang memadai untuk menuju ke sekolah. Sehingga hal tersebut menurunkan minat dan semangat anak anak untuk ke sekolah karena sulit untuk dijangkau.

c. Rendahnya Minat Masyarakat 

Rendahnya latar belakang lingkungan sajgat memengaruhi minat anak untuk sekolah. Seperti yang telah diketaui, bahwa budaya di masyarakat terkait kesadaran pentingnya di pendidikan sangat rendah. Mereka menganggap bahwa sukses hanya sekedar untuk mendapatkan uang, dan uang bisa didapatkan tanpa pendidikan yang tinggi. Hal tersebut yang mendorong masyarakat untuk memutuskan anaknya lebih baik ikut serta bekerja untuk menambah penghasilan mereka.

Jika melihat beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah di Indonesia, maka harus ada langkah untuk segera mengatasi permasalahan tersebut. Tentu dalam hal ini tidak hanya satu pihak saja yang bertanggung jawab dalam masalah tersebut, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, tenaga pendidik, orang tua serta masyarakat harus saling berkolaborasi dan adanya kerja sama antar sesama pihak tersebut sehingga dapat menemukan solusi sebaik mungkin. Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang sebagai tenaga pendidik yang memiliki peran penting dalam membimbing anak didiknya maka hal hal berikut perlu dilakukan untuk mencegah, mengurangi serta mengatasi anak yang putus sekolah.

  1. Mengadakan Program Sosialisasi Guru, Orang Tua dan Masyarakat

Langkah awal yang seharusnya dilakukan bagi guru sebagai pembimbing siswa di  sekolah yaitu meyakinkan kepada para orang tua dan masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak mereka. Melalui sosialisasi, masyarakat, orang tua serta guru dapat saling berbagi ceita terkait kendala apa saja dalam pendidikan anaknya sehingga dapat ditemukan solusi bersama. Melalui sosialisasi pula, kesempatan bagi guru untuk memperkenalkan peluang besar yang akan didapatkan anaknya dengan pendidikan yang mereka tempuh. Dengan tingginya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan maka akan memudahkan bagi guru untuk mengambil langkah selanjutnya dalam meningkatkan pendidikan siswanya. Sehingga dari langkah awal ini, seluruh guru, orang tua dan masyarakat mampu saling memahami untuk sama sama bekerja sama mewujudkan pendidikan bagi anaknya.

  1. Membantu Siswa dalam Menemukan Dana Alternatif 

Secara realisitis memang pendidikan di zaman sekarang membutuhkan dana yang cukup besar, terlebih jika melihat sarana dan prasarana yang memadai. Mengingat hal tersebut, sebagai guru jika melihat siswahya putus sekolah karena hal demikian yaitu terkendala biaya maka membantu siswa untuk menemukan dana alternatif dapat dijadikan sebagai solusi. Dewasa ini, sudah cukup banyak lembaga pemerinta ataupun swasta yang menyediakan beasiswa ataupun dana bantuan bagi pelajar. Guru dapat memberikan informasi terbaru terkait hal tersebut, jkia perlu turut membantu siswa dalam mendapatkan dana tersebut mulai dari persyaratan memberikan bimbingan serta motivasi dan kemauan tinggi bagi siswanya untuk tetap semangat dalam menempuh pendidikan.

  1. Evaluasi Metode dan Media Pembelajaran 

Setelah menemukan kendala dan solusi bagi siswa, orang tua dan masyarakat dalam pendidikan, guru juga perlu melakukan evaluasi diri karena tidak menutup kemungkinan putus sekolahnya siswa karena turunnya minat mereka juga bisa dipengaruhi guru yang tidak memberikan pembelajaran efektif. Oleh karena itu, seluruh guru bahkan lembaga pendidikan sendiri harus melakukan evaluasi metode dan media pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan. Langkah ini juga diperlukan bantuan pemerintah sebagai pembuat peraturan dan tujuan dari pendidikan. Sehingga terdapat keselarasan langkah bagi seluruh guru, lembaga pendidikan dan pemeritah dalam rahgka memberikah pendidikan yang selayaknya bagi siswa. Termasuk bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus pun perlu untuk ditindaklanjuti dan diberi perhatian lebih karena semua anak memiliki keterbatasan da kemampua masing masing.

Kasus anak yang putus sekolah termasuk masalah serius yang kini mulai dianggap abai, padahal pendidikan berperan penting bagi siswa baik ketika ia masih sebagai pelajar ataupun sebagai orang tua kelak. Karena itu, kesadaran yang tinggi tentang arti pentingnya pendidikan harus selalu digencarkan dan guru sebagai tenaga pendidik dan pembimbing siswa harus selalu membersamai langkah siswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berperikemanusiaan.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Urip Iku Urup

Oleh : Anur Wahyu Ningtyas

Kalimat “Urip Iku Urup” menjadi salah satu filosofi hidup masyarakat Jawa, yang dalam bahasa Indonesia kata “Urip” berarti hidup, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Sedangkan, kata “Iku” berarti itu, dan kata “Urup” berarti nyala. Sehingga, apabila digabungkan mempunyai arti bahwa Hidup itu Nyala. Namun, kalimat Urip Iku Urup apabila kita renungkan mempunyai makna dan pelajaran yang sangat mendalam.

Hidup itu harus menyala, layaknya sebuah lilin yang meleleh memberikan cahaya dalam kegelapan, memberikan kehangatan dari cahaya yang dipancarkan bagi setiap makhluk yang berada di dekatnya, tidak hanya memancarkan kobaran api dan asap yang menghitam. Perjalanan hidup manusia layaknya sebuah lilin yang sewaktu-waktu dapat meredup akibat terpaan angin, dapat menerangi sekitar dengan memberikan manfaat, dan padam saat telah mencapai masanya. Manusia seperti itu bukan? Yang sewaktu-waktu dapat memberikan cahaya kebaikan, meredup tertiup angin dan padam saat masanya datang.

Hidup itu hendaknya dapat memberikan manfaat bagi orang lain di sekitar kita, baik melalui perbuatan kita secara langsung maupun tidak langsung. Semakin banyak manfaat yang dapat kita berikan maka semakin banyak pula kebaikan yang akan kita lakukan. Manfaat yang kita berika kepada orang lain ibaratnya sebuah lilin yang menyala, memberikan kehangatan dan cahaya. Oleh karena itu, hidup harus mempunyai nilai manfaat yang selalu memberikan cahaya penerang untuk orang lain. Dalam Islam sendiri juga diperintahkan untuk senantiasa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Jangan hanya menjadi bara api yang mengepulkan asap lewat lilin saja, tetapi juga harus berusaha untuk menjadi nyala api yang memancarkan cahayanya. Jangan takut untuk menebarkan manfaat dengan menjadi manusia yang baik karena dengan perbuatan baik tersebut akan memberikan manfaat yang sangat besar tidak hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang disekitar kita. Jadilah sebaik-baiknya sumber kebaikan, karena semakin besar manfaat yang kita berikan maka semakin baik pula kehidupan kita.

Lantas sudah seberapa besar nyala lilin kehidupan kita untuk memberikan cahaya dan keterangan untuk orang lain? Mari kita pergunakan kesempatan kita sebaik mungkin dengan menjadi cahaya penerang dan penebar kebaikan serta manfaat sebanyak mungkin sebagai bekal kita ketika dunia mulai padam.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

استراتيجيات للتغلب على الإسلاموفوبيا

الإسلاموفوبيا هو موقف الكراهية والخوف من كل شيئ الإسلامية. هذا المصطلح الذي اعتمدته معظم الناس الغربي، فإنها تفترض أن الإسلام الراديكالي. في الواقع الإسلاموفوبيا موجودة منذ زمن النبوية، على سبيل المثال عند النبي الوعظ حصلت الشتائم والسخرية، العداء والحرب بين المشركين والمسلمين. اليوم الكثير من المجتمع المسلم أن يعمل في بلد أجنبي واحد من العوامل التي أدت إلى التقييم سلبي من الإسلام لأنهم أقل قدرة على الإختلاط مع الأجانب بسبب الإختلافات الثقافية أو عاداتهم التي يمكن أن تؤدي إلى المنازعات والإختلاف في الرأي التي أدت إلى الاضطرابات والعنف. الإسلاموفوبيا هو عززت مع أحداث الإرهاب التي استولت على اهتمام العالم أن معظم زعم أنها أجريت من قبل مجموعة إسلامية متطرفة من البلدان التي تنتمي إلى نفس القاعدة من أتباع الإسلام كبيرة جدا في العالم. كل الأيديولوجيات يكون خصمه هو فخر كبير جدا يسمى نقد إيديولوجية كما رهاب. ويذكر أن حقيقة الإيديولوجية التي أنشئت بالفعل وكل من يعارض هو اتخاذ الموقف الذي لا معنى له ويتطلب مساعدة نفسية.

تعاليم الإسلام الحقيقي كما فهم أهل السنة والجماعة جوهر النعمة ويهدف إلى تحسين الأخلاق في المجتمع ، لأن في كثير من الأحيان تظهر الوعظ المتطرفين شنوا حملة عنيفة، بين غير المسلمين نفترض أن الإجراءات الخاطئة من بعض المسلمين هو حقا تعاليم الإسلام اللوم على الإسلام كدين.

يكون أربع استراتيجيات أساسية للتغلب على هذه المشاكل . أولا التركيز فهم يكافحون من أجل التغلب على التطرف الديني هو جزء من النضال من أجل تحقيق عالم من أجل السلام والعدالة.

الثاني مفهوم التطرفا الإسلام التي مصدرها من فهم الدين الذي هو السطحية التي يواجهها مع نشر تعاليم علماء أهل السنة والجماعة معرفة عميقة.

الثالث توحيد وحشد من العلماء في جميع أنحاء العالم لتوجيه الناس إلى فهم الإسلام وهذا هو جوهر النعمة إلى توافق قوي بين المسلمين في جميع أنحاء العالم.

الرابع التعاون الوثيق بين المسلمين مسلم معتدل المجموعات مع فريق الهدف في الخارج إلى تحييد الآراء المتطرفة من الإسلاموفوبيا في المجتمع.

الكاتبة : نسا ئنا عزى لطيفة

(Nisaana ‘Azzalatifa)

Dua Pilar Keislaman Bangsa Indonesia

Oleh: Fafi Masiroh

Indonesia memiliki penduduk yang banyak dengan berbagai keragaman, baik dari suku, budaya ataupun agama. Bangsa Indonesia sendiri mayoritas penduduknya beragama islam. Berdasarkan data World Population Review dilansir dari Industry.co.id, jumlah masyarakat muslim di Indonesia pada tahun 2020 yaitu mencapai 220 juta jiwa atau 87,2% dari total masyarakat Indonesia sebanyak 273,5 juta jiwa. Keberadaan masyarakat Indonesia yang identik dengan keberagaman pun terjadi di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia, yakni di dalamnya sendiri terdapat dua organisasi besar sebagai lembaga dakwah sekaligus yang menaungi masyarakat islam di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Kedua organisasi tersebut merupakan dua pilar keislaman Bangsa Indonesia yang berperan penting dalam keberadaan Indonesia, bahkan keduanya sama-sama berdiri sebelum Indonesia merdeka. Nahdlatul Ulama didirikan oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari sedangkan Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan,  yang keduanya merupakan sahabat karib dan sama-sama berguru dengan KH Sholeh Darat di Semarang.  Beberapa keadaan, akan tetapi sering dijumpai bahwa penduduk yang berada di bawah naungan masing-masing organisasi tersebut, menganggap bahwa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan dua hal yang sangat berbeda. Misalnya beberapa tanggapan NU dan Muhammadiyah dalam menanggapi berbagai hal secara berbeda, seperti tata cara sholat dan masalah furu’iyah lainnya. Sehingga kerap kali keadaan tersebut mendorong beberapa pihak masyarakat islam Indonesia terkesan terpecah belah karena tampak fanatik terhadap perbedaan pemahaman tersebut.

Rasa toleransi yang tinggi sudah seharusnya selalu dipraktikkan oleh muslim dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dengan masyarakat non islam lainnya tetapi juga toleransi dengan sesama masyarakat islam juga justru harus lebih kuat. Sama sekali tidak untuk memaksakan kehendak terhadap masyarakat yang ada di bawah naungan masing-masing organisasi tersebut, namun jika dilihat terdapat sejumlah ulama, kiai dan tokoh masyarakat islam lainnya yang memiliki hubungan dinamis meskipun latar belakang mereka berbeda yaitu dari kalangan NU dam Muhammadiyah. Hal tersebut seharusnya mampu dijadikan contoh bagi masyarakat islam secara luas serta mampu mendorong  mereka untuk saling merangkul di antara perbedaan mereka.  Sehingga keberadaan islam di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia mendorong mereka untuk saling menghormati, menghargai dan peduli terlepas dari keberagaman mereka.

Habib Husein Ja’far Al Hadar salah satu pendakwah mengungkapkan, bahwa keberadaan NU dan Muhammadiyah di tengah-tengah Bangsa Indonesia bagaikan kedua sayap yang ada pada burung garuda sebagai lambang Indonesia. Keduanya memang memiliki masing-masing ciri identik sebagai organisasi islam yang sholihul likulli zaman wa makan yaitu islam yang relevan dengan semua waktu dan tempat. NU identik dengan islam nusantaranya yang sesuai dengan setiap tempat, sedangkan Muhammadiyah identik dengan gerakan islam berkemajuan yang sesuai dengan islam di semua waktu. Terlepas dari perbedaan mereka, pada intinya mereka sama-sama bergerak dalam menjadikan Indonesia agar memiliki peradaban yang tinggi sebagai tempat bagi umat musim yang kelak diharapkan dapat turut serta memberikan kontribusi besar bagi umat islam di dunia.

Setiap masyarakat memang memiliki kebebasan dalam memandang dan menilai suatu perbedaan baik dari sisi positif ataupun negatif, akan tetapi alangkah baiknya jika dalam memandang setiap perbedaan tidak mendorong untuk menjadikan kita saling terpecah belah namun mendorong untuk menjadikan kita sebagai masyarakat (muslim pada khususnya) yang saling merangkul dan menghargai, sehingga mampu melahirkan kekuatan untuk menebar kebaikan yang dapat dirasakan oleh masyarakat lainnya secara luas.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Minimnya Pelaksanaan Protokol Kesehatan di Bus Rute Surabaya – Semarang

Oleh: Rikha Zulia

Tepat 26 Januari lalu, kasus positif Covid-19  di Indonesia dilaporkan telah mencapai 1 juta kasus. Angka ini menunjukkan masih tingginya tingkat penyebaran covid di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di kota-kota besar dengan intensitas dan aktivitas penduduk yang padat. Padahal, berbagai kebijakan telah diluncurkan oleh pemerintah mulai dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), penerapan prokes 3M (Memakai masker Mencuci tangan dan Menjaga jarak), hingga yang terbaru prokes 5M ( Memakai masker Mencuci tangan, Menjaga jarak Menghindari kerumunan Mengurangi mobilitas), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan vaksinasi covid 19, tetapi belum mampu membuat pandemi Covid-19 mereda hingga saat ini.

Tingginya Covid-19 di Indonesia ditengarahi oleh beberapa faktor atau penyebab. Salah satu penyebab tingginya Covid-19 di Indonesia adalah mobilitas yang tinggi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Riris Andono Ahmad yang merupakan seorang epindemolog Universitas Gadjah Mada (UGM) bahwa mobilitas tinggi menjadi penyebab utama tingginya kasus Covid-19 di Indonesia ( Bramasta, 2020). Terkait dengan mobilitas yang tinggi, pemerintah dan jajarannya telah membuat berbagai kebijakan baru terutama di tempat-tempat umum penyedia layanan armada transportasi, seperti di bandara, stasiun, terminal, pelabuhan dan armada transportasi lainnya. Bentuk kebijakannya hampir sama, yaitu mulai dari diwajibkannya swab antigen, memakai protokol kesehatan lengkap, dan lain-lain. Namun, hal ini nampaknya belum berlaku di armada transportasi bus rute Surabaya-Semarang. Hilir mudik bus yang beroperasi dari Surabaya yang merupakan kota dengan angka positif Covid-19 yang tinggi di provinsi Jawa Timur melewati berbagai kota menuju Semarang yang juga merupakan kota dengan intensitas dan aktivitas penduduk yang padat.

Protokol kesehatan di bus belum di laksanakan secara maksimal. Hal ini sesuai dengan pengalaman pribadi penulis yang telah melakukan perjalanan menggunakan bus rute Surabaya-Semarang pada tanggal 4 Februari 2021 dari terminal Sarang Rembang menuju ke Semarang. Berbagai protokol kesehatan belum diterapkan, utamanya dalam hal memakai masker. Masih dijumpai beberapa penumpang yang acuh dan tidak mengindahkan peraturan untuk menggunakan masker, bahkan supir dan awak bus pun demikian. Tidak hanya itu protokol kesehatan menjaga jarak pun tidak dijumpai selama bus beroperasi, dimana penumpang padat tanpa adanya jaga jarak di kursi penumpang. Padahal ongkos bus telah dinaikkan hampir dua kali lipat dari biasanya, tetapi penumpang masih belum mendapatkan fasilitas dan jaminan keamanan selama berada di bus. Kondisi ini memang sangat menghawatirkan, mengingat semakin tingginya kasus positif Covid-19 di tanah air. Tidak hanya itu, melihat rute bus yang terbilang panjang melewati berbagai kota di jalur pantura ini turut menambah sederet kekhawatiran di berbagai pihak.

Hal ini membutuhkan perhatian khusus bagi pemerintah dan pihak yang berkepentingan lainnya untuk segera melakukan penertiban kepada pihak pengelola armada transportasi khususnya dan masyarakat pada umumnya. Selain itu, regulasi dan kebijakan untuk jaminan keamanan bagi penumpang sangat penting untuk diupayakan. Terutama dimasa tidak diberlakukannya lagi PSBB, yang memungkinkan masyarakat beraktivitas dan melakukan mobilisasi ke tempat yang harus dituju. Tidak hanya itu, sosialisasi mengenai pelaksanaan protokol kesehatan kepada masyarakat juga harus lebih digencarkan sebagai upaya pengendali Covid-19 di Indonesia.

Referensi 

Bramasta, Dandy Bayu. 2020. Diakses pada 7 Februari 2021 di http://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/v/s/amp.kompas.com .

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Menghargai Waktu

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Tak terasa waktu terus berputar dengan cepat. Waktu terus silih berganti tanpa pernah berhenti sedetik pun. Seakan-akan waktu ingin mengajak manusia berpacu dengan cepat ke depan tanpa memedulikan waktu yang telah terlewati. Bagi manusia yang memiliki akal, dia akan selalu berpikir tentang apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat dengan waktu yang dimilikinya selama ini. Sebaliknya bagi manusia yang tidak “waras”, dia cenderung merasa “masa bodoh” dengan apa yang telah dilakukannya selama ini serta hanya terus menatap ke depan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Prinsip orang tersebut hanya satu yaitu “Yang Penting Hidup”. Dapat dikatakan bahwa orang seperti ini termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi karena mereka menyia-nyiakan waktunya hanya untuk “bermain” tanpa pernah belajar menghargai waktu. Bagaimana sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia dalam menghargai waktunya dengan baik?

Setiap manusia diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk hidup dan melangsungkan kehidupannya dengan baik. Manusia bebas melakukan apa saja yang dia inginkan untuk meningkatkan dan menjamin kualitas hidupnya yang baik dan bermanfaat. Tetapi perlu diingat bahwa untuk mewujudkan tujuan tersebut, manusia harus selalu memperhatikan dan mematuhi koridor dalam syariat agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk mempermudah terwujudnya tujuan tersebut, setiap manusia dianjurkan untuk saling tolong menolong dan bekerja sama dalam hal kebaikan dengan mengutamakan rasa kekeluargaan dan persaudaraan antar sesama. Dengan demikian, tujuan setiap individu akan terwujud dengan baik serta kehidupan bermasyarakat akan terjalin dengan rukun, aman, dan sejahtera.

Waktu terus bergerak tanpa henti. Oleh karena itu, setiap manusia harus mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat baik bagi kehidupannya maupun kehidupan orang-orang di sekitarnya. Menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi dengan berbuat maksiat yang jelas dilarang oleh agama, maka orang tersebut masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Dalam Al-Qur’an surah Al-Ashr ayat 1-3 dijelaskan bahwa seluruh manusia mengalami kerugian kecuali orang-orang yang beramal sholih, orang-orang yang saling mengingatkan dalam perkara yang haq (kebaikan), dan orang-orang yang saling mengingatkan dalam kesabaran. Setidaknya, setiap manusia harus menjadi salah satu bagian dari ketiga golongan diatas agar hidup menjadi lebih berguna dan membawa kemanfaatan baik itu bagi dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya sehingga akan terwujud kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Menghargai waktu harus selalu menjadi salah satu perhatian utama setiap manusia. Sebagai bentuk menghargai waktu, manusia dapat melakukan berbagai amal kebaikan misalnya berdzikir dan beribadah kepada Allah SWT, belajar ilmu agama, belajar ilmu umum, membantu sesama baik dengan harta ataupun tenaga sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, manusia juga harus mampu untuk introspeksi diri terhadap apa yang telah dilakukannya selama ini. Jika selama ini pernah berperilaku buruk yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya, maka sesegera mungkin perilaku tersebut harus dihilangkan dan diubah dengan menerapkan perilaku yang baik dan bermanfaat kedepannya.

Sesuatu yang tidak kalah penting yang perlu dimiliki oleh setiap manusia adalah memiliki life goal yang jelas, terarah, dan terencana dengan baik dalam menyongsong kehidupan di masa mendatang. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan kehidupan di masa mendatang adalah masa dewasa dan masa sesudah mati. Manusia harus mampu menyeimbangkan kebutuhannya antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrawi. Artinya manusia dituntut untuk mampu merencanakan dengan baik segala sesuatu yang perlu dilakukan guna mencapai cita-cita dan tujuan hidup di dunia serta guna menyiapkan bekal dalam menghadapi kehidupan di akhirat kelak. Dengan demikian, manusia tidak akan membuang waktunya dengan hal-hal yang sia-sia karena telah memiliki life goal yang pasti sehingga waktunya akan dihabiskan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif dan bermanfaat.

Setiap manusia harus mampu menghargai waktu dengan cara memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin dengan melakukan berbagai amal kebaikan serta kegiatan-kegiatan yang produktif dan bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Selain itu, life goal juga harus dimiliki oleh setiap manusia agar menjadi acuan dan arah yang jelas dalam mencapai cita-cita dan tujuan hidup di dunia serta sebagai bekal mengarungi kehidupan akhirat yang abadi. Dengan demikian, manusia tersebut termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung karena mampu menghargai waktu dengan baik dan bermanfaat.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

MENJADI KAUM REBAHAN SEBAGAI BUKTI CINTA BAGI KELUARGA DAN BANGSA “Bercerai Kita Runtuh, Bersatu kita Teguh.”

Oleh: Dian Fatimatus Salwa

Masih ingat kalimat ini? Sebuah kalimat yang bisa memotivasi kita dalam berjuang untuk membela negara. Namun kalimat sakti tersebut, di masa Pandemi Covid 19 ini, beralih makna, menjadi “Bersatu Kita Sakit, Berjauhan Kita Semakin Sehat dan Kuat. Apakah teman-teman sepakat? sudah hampir satu tahun kita sama-sama #dirumahaja, sudah sama-sama menjadi kaum rebahan dengan versi dari masing-masing kita. Well, saya jadi penasaran juga, apa benar ada yang benar-benar jadi kaum rebahan, tanpa melakukan kegiatan lainnya? Semoga saja, tidak, ya. Karena pastinya sayang sekali waktu yang kita lewatkan namun tidak dimaksimalkan dengan hal-hal yang baik. Keadaan #dirumahaja ini sepertinya juga akan jadi normal, ketika kita melakukan concall meeting, ketika kita mengikuti seminar-seminar online, ketika kita akhirnya lebih banyak produktif di rumah, hingga pandemi ini berakhir.

Jaga Sesama…

Begitulah yang patut kita lakukan di masa pandemi covid 19 ini. Jika kita mengeluh mulai bosan di rumah, atau sedih karena tak bisa kumpul dan mudik ke pangkuan keluarga, rasanya kita juga perlu melihat sisi kehidupan para pejuang garsi depan saat ini. Siapa? Merekalah orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya demi nyawa yang lain, berkorban demi raga yang lain. Para pasien dan juga para dokter, tenaga medis, dan para pejabat terkait yang menjadi garis terdepan dalam perjuangan ini, bahkan mereka tak lagi memikirkan bagaimana mudik nanti. Untuk bisa bertahan dengan pakaian apd lengkap, memerhatikan pasien-pasiennya satu persatu, itu adalah hal yang tak lagi bisa dikeluhkan, mereka melakukannya dengan tulus dan atas dasar kemanusiaan. Padahal kita tau, berada di balik baju apd, sungguh perjuangan dan butuh kesabaran luarbiasa. Harus mampu menahan keringat bercucuran, kepanasan, bahkan untuk makan dan minum saja, mereka harus menundanya, termasuk untuk buang air kecil/besar. Bahkan… mereka beribadah tetap dengan menggunakan apd lengkap.

Teman Teman …

Saya percaya bahwa kita sedang saling merindu pada setiap canda tawa yang pernah kita rangkai sebagai kisah di setiap harinya. Saya percaya, rindu pun harus dituntaskan, baik terhadap pasangan, orangtua, keluarga, atau orang-orang yang kita sayangi. Karena kita adalah manusia-manusia yang saling terkait oleh tatap dan temu. Namun kini, ada rindu yang harus kita pelihara, ada temu yang tertunda oleh waktu, entah sampai kapan. Dan bicara soal cinta, kali ini kita sedang diajarkan untuk kembali memaknai cinta, saling mengisi, menjaga sesama, tanpa pandang latar belakang dan agama. Karena Indonesia merdeka atas dasar gotong royong, maka kali ini pun sama, Indonesia akan membaik, Indonesia akan kembali pulih dengan semangat gotorng royong.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Aku pada NU

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Apa kabar Aswaja ?

Dunia kini mulai layu membisu

Pada takdir yang mengharuskan semuanya terjadi

Kini semua kian menepi

 

Kau yang begitu kokoh

Walau seribu hinaan menyerang

Perjuangan ulama’ yang menyayat hati

Yang tak mengharapkan sebuah imbalan

 

Makna simbol pada lambangmu-lah

Yang menguatkan apa arti sesungguhnya NU

Mengharapkan orang di dunia ini memeluk agama islam

Hingga mencintai dan memahamimu sepenuhnya

 

Betapa banyaknya pesantrean yang kita temui sekarang

Ladang menuntut ilmu dan mengharap barokah Sang Kyai

Tak menjadikan kita lupa

Dan menjadi bukti bahwa kebangkitanmu tak terlepas dari pesantren

 

Walau kini ulama’ berguguran

Namun kami tak membiarkan harapanmu pupus

Hingga kami melakukan apapun itu untukmu

Tanpa harus menjadi orang tua ataupun kakek kami

 

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.