PK: Film Kontroversial yang Mengangkat Agama dan Budaya

Oleh: Mohammad Naelul A.

Poster Film PK

 

Eksistensi agama sebagai suatu kepercayaan kemudian menciptakan suatu gejala sosial yang begitu beragam. hal ini begitu banyak dibahas dalam film PK yang mana PK sendiri merujuk pada kata “Pekay” yang berarti “Mabuk” dalam hal ini bisa dimaknai bahwa seorang yang mengalami suatu yang membuatnya merasa keanehan dan membuatnya bertanya-tanya tidak jelas dipandang oleh orang berbudaya tertentu sebagai orang aneh atau mabuk, disini diceritakan seseorang yang benar-benar asing yang tak mengenal budaya atau agama ditempat ia berada. Berawal dari remot kontrol yang telah dicuri seseorang sehingga membuatnya termotivasi untuk mencari remot kontrol tersebut dan melalui banyak rintangan budaya serta agama. Mulai dari sinilah kritik tentang agama dan gejala sosial yang ia rasakan dimulai.

Agama seringkali digunakan sebagai suatu identitas yang tampak, bukan terkhusus pada perilaku atau perbuatan yang baik dalam beragama, melainkan sebuah identitas yang tampak karena simbol-simbol tertentu, sehingga setiap agama dipandang dari segi tampilannya. PK mengkritisi ini sebagai suatu yang seharusnya bukan menjadi patokan, perihal dari awal cerita bahwa ada satu agama yang dipandang radikal secara merata mealui pandangan dari identitasnya, seperti pemaknaan islam sebagai orang munafik atau radikal. Pada suatu kesempatan ia bereksperimen kepada lawan utamanya yaitu Tapaswi untuk memberi tahu apa agama dari setiap orang yang dibawa PK dan jawaban yang diberikan Tapaswi salah, karena sebenarnya mereka adalah orang yang memakai atribut yang saling ditukar satu sama lain.

Pandangan mengenai hal ini bagus, sebab banyak orang yang radikal atau melakukan kejahatan mengatasnamakan agama tertentu dengan memakai atribut/ identitas dari agama tersebut, sehingga memicu munculnya kebencian dimana-dimana, dan untuk identitas aslinya tidak ketahui apakah memang dari agama tersebut atau oknum yang sengaja menebar kebencian. Adanya label agama radikal bukan suatu hal yang patut dipercaya, sebab hampir semua agama menuntun untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak. Label tersebut hanya sebagai pengkategorian dari media massa, tidak ada agama yang radikal yang ada hanyalah orang radikal namun kebetulan mengangkat agama tertentu, sehingga agama tak bisa disamaratakan hanya dari satu perspektif saja. Seperti Islam yang dianggap radikal di beberapa negara oleh karena media hanya memperlihatkan Islam penuh dengan kekerasan yang terlihat dari oragnisasi Teroris ISIS.

Baca Juga:  Inilah Kunci Kehidupan yang Perlu Kamu Ketahui!

Secara ringkas beberapa pesan yang bisa yang bisa diambil dari film PK ini, yang pertama adalah toleransi, secara tidak langsung apa yang dilakukan oleh PK ini memberi pesan untuk saling toleransi antar agama, di mana ia saat hanya mengetahui tuhan namun bukan agamanya ia melakukan beberapa kesalahan seperti ketika ia berupaya berdoa kepada tuhan dengan memberi sesembahan air kelapa (wujud doa orang Hindu) namun tempat yang ia tuju ialah sebuah gereja maka ditentang oleh orang geraja, kemudian saat mengetahui bahwa yang benar adalah memberikan wine atau anggur (Kristen) ia malah mendatangi rumah ibadah orang islam dan ditentang juga, begitu seterusnya. Hal ini menandakan bahwa setiap agama memiliki cara masing-masing untuk menyembah Tuhannya, sehingga ketika ada yang mengusik maka akan terjadi pertentangan atau kemarahan pihak tertentu.

Kedua, yang bisa diambil adalah kepedulian, nampak pada kecintaan terhadap agama atau tradisi agama yang kurang tepat. Pada film ini ditunjukan seseorang lebih mau untuk memberikan sesajen, hadiah atau sumbangan kepada tempat ibadah dari pada orang yang sebenarnya lebih membutuhkan seperti diungkap bahwa banyak orang yang membiarkan orang kelaparan diluar tempat ibadah sedang tempat itu diberi sesajen atau sumbangan terus menerus. Kemudian ada satu pernyataan PK yang menarik yaitu : “Jika Tuhan  memang merupakan Kebaikan Mutlak, kita tidak perlu menuang susu ke atas-Nya. Susu itu justru lebih baik diberikan kepada anak-anak yang kekurangan gizi”.

Ketiga, agama bukanlah suatu alat, terlihat pada persoalan utama film yang mengangkat masalah perdebatan antara PK dan pemuka agama yaitu Tapaswi, PK mengatakan adanya salah sambung yang dilakukan atau disampaikan oleh tapaswi kepada pengikutnya yang tampak sebagai pernyataan subjektif seorang tapaswi. Selain itu, Tapaswi hidup dalam kemegahan dan perannya selalu menyarankan orang lain untuk memberi sumbangan pada tempat ibadah,tetapi ternyata hanya untuk kepentingan golongannya pribadi. Disini ditegaskan bahwa agama bukanlah alat untuk mencari keuntungan, akan tetapi sebagai naungan dan pijakan. Kemudian PK mengkritisi sebenarnya ada dua Tuhan, yaitu Tuhan yang menciptakan manusia dan Tuhan yang diciptakan manusia (Tuhan Palsu) yang mana pada kasus Tapaswi memanfaatkan ketakutan manusia terhadap Tuhan untuk keuntungan dirinya dan kelompoknya.

Baca Juga:  Nurjaya dan Gema Aditya Mahendra, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Kembali Mengukir Berprestasi

Dalam film PK kebudayaan menjadi fokus utama yang dikritik, terutama kebudayaan yang berkaitan dengan agama, dan gejala sosial lainnya. Wujud kebudayaan sendiri dibagi menjadi 3 yaitu gagasan, aktivitas, dan artefak.

 

Pertama, gagasan atau wujud ideal. Dalam  film PK ini ditunjukan norma-norma penting yang ada dalam sebuah kebudayaan agama, sebagai contoh yang ditampilkan dalam film ini yaitu  aturan agama yang sudah melekat pada setiap pemeluknya, seperti aturan islam yang mengharamkan minuman beralkohol sehingga saat PK mencoba berdoa menggunakan wine tapi tempat yang ia tuju ialah wilayahnya umat islam maka langsung ditentang oleh umatnya.

Kedua, wujud kebudayaan berupa aktivitas atau tindakan. Termasuk diantaranya adalah adat istiadat yang berhubungan dengan agama dan cara beribadah atau melakukan ritual keagamaan. Seperti agama hindu berdoa dengan memberikan sesembahan, kemudian menganggap suatu yang nampak keramat sebagai tempat untuk berdoa, kemudian pada agamaKristen ritual keagamaan dilakukan dengan bernyanyi. Begitu pula dengan pemaknaan suatu yang dikenakan, pada agama hindu memakai kain serba putih untuk menunjukan seseorang sedang menjanda, sebaliknya pada kegiatan umum sebagai lambang kesucian untuk sebuah pernikahan. Lalu orang mengenakan baju htam sebagai lambang berduka sedang hitam juga digunakan sebagai penutup aurat atau pakaian penanda golongan wanita muslim,

Selain itu yang fenomenal dari film ini menegaskan tentang tanda suatu kebudayaan, seperti orang beragama dengan mengenakan atributnya masing-masing. oleh sebab itu agama telah membentuk suatu identitas seseorang dari apa yang dikenakan. Secara keseluruhan film PK ini disajikan dengan apik dan rapi, jalan cerita seorang tokoh yang mengembara mencari barangnya yang berharga berujung pada pembelajaran budaya dan agama yang disampaikan sesuai dengan realitas budaya yang ada. Realitas kebudayaan yang berpadu dengan agama membentuk suatu kebudayaan yang menciptakan identitas dari setiap pemeluknya. Film PK ini menunjukan banyak perbedaan, akan tetapi juga memberi pesan untuk saling bertoleransi antar umat agama dan kebudayaan serta prioritas dalam kepedulian, dan karena itulah film ini berhasil memberikan pesan positif kepda para penontonnya terlepas dari kontroversi yang menyelimuti film ini.

Baca Juga:  Sekarang Sadar

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post