almuhtada.org – Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang memberikan kesan bermakna. Banyak makna mendalam di samping euforia atau perayaan.
Idul Fitri sering disebut hari kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukan hanya sekedar berhasil menahan lapar dan haus, tetapi kemenangan melawan musuh terbesar manusia, tak lain dan tak bukan yakni dirinya sendiri.
Sebagai hari yang diisi dengan penuh kegembiraan, Idul Fitri mengingatkan umat muslim akan pentingnya menjaga hati yang suci, jiwa yang bersih, dan niat yang tulus dalam setiap perbuatannya.
Untuk menyambut Idul Fitri lebih baik, kita perlu untuk mempersiapkan sunah-sunah yang perlu dilakukan saat Idul Fitri nantinya. Apa saja-kah itu?
- Salat Idul Fitri
Salat Idul Fitri merupakan amalan sunah yang ditekankan kepada umat Islam pada hari 1 Syawal. Salah satu dalil kesunahannya yakni ada dalam Al-Qur’an surah Alkautsar sebagai berikut.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: “Maka salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah,” (QS. Al-Kautsar ayat 2).
Beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwa salat yang dimaksud dalam ayat tersebut ialah salat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).
- Mandi Sebelum Berangkat Salat Idul Fitri
Dari ‘Ali bin Abi Thalib r.a., seseorang pernah bertanya pada ‘Ali mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Al-Baihaqi, 3: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al-Irwa’, 1: 177)
Selain itu, ada juga riwayat dari Umar ra. sebagai berikut.
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Artinya: Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ 426. Imam Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih)
- Makan Sebelum Salat Idul Fitri
Makanlah sebelum berangkat salat Idul Fitri merupakan salah satu sunah Idul Fitri. Akan lebih utama apabila makanannya yakni kurma dengan hitungan ganjil. Dilansir dari jabar.nu.or.id, makruh hukumnya meninggalkan anjuran makan ini sebagaimana dikutip al-Imam al-Nawawi dari kitab al-Umm. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 592).
- Menggunakan Pakaian Terbaik
Diriwayatkan dari Jabir r.a,:
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ
Artinya: “Nabi saw. memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fithri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1765)
Aturan berpenampilan yang terbaik dianjurkan bagi pria. Sedangkan bagi wanita, dianjurkan untuk berpenampilan sewajarnya saat salat Idul Fitri.
- Bertakbir dari Rumah menuju Tempat Salat
Dalam suatu riwayat, disebutkan bahwa:
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
Artinya: “Nabi (Muhammad) saw. biasa keluar hendak salat pada hari raya Idul Fitri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai salat hendak dilaksanakan. Ketika salat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/1/2. Hadits ini mursal dari Az-Zuhri namun memiliki penguat yang sanadnya bersambung. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)
Disyariatkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan mengeraskan bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama mazhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)
- Saling Mengucapkan Selamat
Salah satu sunah pada Idul Fitri adalah saling mengucapkan selamat. Dianjurkan selamat yang diucapkan yakni dalam bentuk doa, seperti ucapan “taqabballahu minna wa minkum”. Contoh ucapan lain yakni sebagai berikut.
- ‘Ied Mubarak (Semoga menjadi ‘Ied yang penuh berkah)
- Minal ‘Aizin wal Faizin (Semoga kembali dan meraih kemenangan)
- Kullu ‘aamiin wa antum bi khair (Semoga di sepanjang tahun selalu berada dalam kebaikan)
- Melewati Jalan Berangkat dan Pulang yang Berbeda
Terdapat suatu riwayat yang menyatakan bahwa:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
Artinya: “Dari Jabir ra., ia berkata bahwa Nabi (Muhammad) saw. ketika berada di hari ‘ied (ingin pergi ke tempat salat, pen.), beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang. (HR. Bukhari, no. 986)
Di antara hikmah dibedakannya antara jalan berangkat dan jalan pulang agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bahwa kita sedang beramal kepada Allah. [Syukron Ma’mun]











