Logika vs Iman: Kenapa Babi Diharamkan dalam Islam?

Ilustrasi sekelompok babi dalam kandang dengan badan yang sedikit kotor (Dokumentasi pribadi -almuhtada.org)

almuhtada.org – Kita mengimani bahwa Allah SWT. ialah arsitek agung, Maha Sempurna, Maha Bijaksana, tidak ada ciptaannya yang sia-sia dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya adalah hal yang baik. Sebagaimana firman Allah SWT :

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

Artinya: “Yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.” (QS. As-Sajdah: 7)

Baca Juga:  Berkah: Sudahkah Kita Benar-Benar Memahaminya?

Kita pun mengetahui bahwa Allah Swt. menciptakan hewan babi sebagai salah satu makhluknya.

Lantas, jika babi adalah makhluk yang tercipta dari Tuhan yang Maha Baik lalu kenapa umat muslim menghinanya dengan menyebut babi najis dan haram?

Jika demikian, artinya babi buruk dan Allah SWT menciptakan hal yang tidak baik?

Selain itu, bukankah dengan mengharamkan ciptaan Tuhan secara tidak langsung seperti sedang menghina penciptanya?

Pertanyaan-pertanyaan ini cukup menarik bukan?

Ketahuilah bahwa untuk menumbuhkan pemahaman yang mendalam diperlukan bantuan dari pertanyaan sederhana yang jika digali jawabannya akan menghantarkan kita pada hakikat Islam yang menumbuhkan taqwa.

Haram Itu Perintah, Bukan Kebencian

Baca Juga:  Mengintip Kenikmatan Surga Menurut Al-Quran dan Hadits

Mengapa Tuhan menciptakan sesuatu hanya untuk melarangnya, mengapa Allah SWT menciptakan babi dengan segala daging dan lemaknya jika hanya untuk menjadikan manusia berdosa jika menyentuhnya?

Bukankah itu seperti ibu yang memasak hidangan untuk anaknya yang lapar namun memukul anaknya saat ingin mencicipinya?

Nyatanya, ketika Islam melarang sesuatu itu bukan karena membenci ciptaan tersebut, tetapi karena Allah menetapkan batasan bagi manusia. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ

Artinya: “Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, dan daging babi…” (QS. Al-Baqarah: 173)

Larangan ini adalah bagian dari aturan hidup, bukan bentuk penghinaan terhadap makhluk.

Dengan demikian, larangan ini bukan bentuk kebencian terhadap ciptaan, melainkan bagian dari batasan hidup yang Allah tetapkan untuk manusia.

Baca Juga:  Hal-Hal yang Menyebabkan Kebohongan Diperbolehkan dalam Islam

Sama seperti dalam kehidupan, tidak semua yang ada di sekitar kita boleh digunakan sesuka hati bukan karena ia buruk, tetapi karena ada aturan yang menjaga kemaslahatan.

Dalam perspektif seorang hamba, yang utama bukan sekadar mempertanyakan “mengapa”, tetapi memahami bahwa Allah sebagai Pencipta lebih mengetahui apa yang layak dan tidak layak bagi manusia.

Analogi Dua Cangkir: Memahami dengan Sederhana

Terkadang sebuah jawaban perlu analogi untuk dapat diterima akal kritis yang tak menuntut dalil islami. Dalam hal ini, analoginya berkaitan dengan dua cangkir.

Bayangkan ada dua cangkir, yang satu bersih dan satu lagi sebelumnya telah dilumuri lumpur. Kemudian keduanya diisi dengan air jernih dari sumber yang sama.

Jika harus memilih, kita pasti akan memilih cangkir yang bersih. Mengapa? Padahal airnya sama, lumpurnya juga ciptaan Tuhan yang baik. Mengapa membedakannya? Mengapa engkau mengharamkan cangkir yang berlumpur untuk dirimu sendiri?

Baca Juga:  Plaosan dan Rahasianya: Cinta, Kuasa, dan Keyakinan

Begini, kita mengharamkan air di dalam cangkir berlumpur itu bukan karena membenci airnya, kita menolaknya karena menghormati diri kita sendiri, kita mengikuti aturan kesehatan dan batasan yang kita yakini.

Kita melihat adanya kotoran yang menjadikan cangkir yang  tadinya baik menjadi tidak layak dikonsumsi.

Begitu pun cara umat muslim memandang perintah Allah SWT, perdebatan ini bukan tentang babi adalah makhluk yang salah dan buruk karena bagaimanapun ia tetaplah makhluk Tuhan yang ada peruntukkannya sendiri di alam.

Tapi perdebatan ini adalah tentang wadah dan perintah, jika Sang Pencipta yang menciptakan dirimu dan babi mengatakan bahwa hewan itu (babi) adalah cangkir yang kotor bagi jiwamu, apakah kau akan bersikeras meminumnya hanya untuk membuktikan bahwa kau punya logika?

Bukan Soal Logika Semata, Tapi Kepercayaan

Logika memiliki tempat dalam Islam, tetapi tidak selalu menjadi penentu utama. Ada hal-hal yang bisa dipahami oleh akal, dan ada yang membutuhkan kepercayaan kepada hikmah Allah.

Baca Juga:  Ayat Kursi: Mahkota Al-Qur’an yang Menyimpan Keagungan Allah Swt

Sejatinya, tidak ada sesuatu yang diciptakan benar-benar buruk. Semua diciptakan dengan tujuan yang sempurna dalam ekosistem sains.

Babi diciptakan bukan menjadi musuh manusia, ia diciptakan untuk pembersih alami, membantu penyebaran benih tanaman, mengurai bahan organik, mengatur populasi hama (serangga/larva), serta membalik tanah yang mempercepat nutrisi kembali ke tanah atau peran-peran lain yang diketahui oleh ilmu pengetahuan.

Namun satu hal utama keberadaan babi bagi umat muslim adalah sebagai batas ujian, karena tanpa adanya larangan bagaimana mungkin ketaatan bisa diukur?

Dalam Islam, kehidupan adalah ujian. Dan ujian itu salah satunya hadir dalam bentuk perintah dan larangan. Allah SWT berfirman:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: “Untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Baca Juga:  Membaca Al-Quran Sendirian, Lebih Baik Target Waktu atau Lembar?

Sebagaimana kita percaya pada dokter yang melarang makanan tertentu demi kesehatan, maka lebih dari itu, kita percaya bahwa Allah Sang Pencipta lebih mengetahui apa yang terbaik bagi manusia.

Karena jika semua diperbolehkan, maka tidak ada ruang bagi manusia untuk menunjukkan kepatuhan kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, menjadi seorang hamba bukan tentang memahami semua alasan, tetapi tentang percaya dan taat kepada Yang Maha Mengetahui.

Wallahu a’lam bishawab, barakallah fiikum [Rezza Salsabella Putri]

Editor: Syukron Ma’mun

Related Posts

Latest Post