Almuhtada.org – Bagi sebagian orang, berbicara tentang kematian mungkin terasa menakutkan dan cenderung dihindari. Kematian dapat dianggap sebagai suatu akhir (yang suram), sesuatu yang tidak nyaman untuk dipikirkan terlalu sering. Namun dalam Islam, mengingat mati justru dianjurkan, bahkan dipandang sebagai salah satu cara untuk menata hidup agar lebih bermakna. Dibanding membuat gelisah, kesadaran akan kematian malah dapat menghadirkan ketenangan yang tidak mudah ditemukan dalam kesibukan akan dunia.
Rasulullah Saw. bersabda,
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini bukan ajakan untuk hidup dalam ketakutan akan kematian, tapi sebuah dorongan agar manusia tidak terlena (akan dunia). Ketika kita mengingat bahwa hidup ini memang terbatas, maka kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam menjalani hari-harinya. Kita bisa menjadi tidak mudah larut dalam ambisi, karena sadar bahwa semua akan berakhir pada akhirnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam potongan Q.S Ali ‘Imran ayat 185 yang berbunyi,
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
Artinya : “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Ayat ini menegaskan sebuah kepastian yang tidak mungkin bisa ditawar. Dan justru karena kepastian inilah, hati kita dapat menjadi lebih tenang. Ketika kita bisa menerima bahwa kematian adalah bagian dari takdir, maka kita tidak lagi terjebak dalam kecemasan berlebihan terhadap hal-hal duniawi yang sifatnya sementara.
Penulis ambil contoh misalnya, salah satu sumber kegelisahan manusia adalah keinginan untuk mengontrol segala sesuatu, mulai dari masa depan, hasil usaha, bahkan penilaian orang lain. Dan ketika hal-hal tersebut tidak berjalan sesuai harapan, muncullah stres dan kekecewaan. Dalam hal ini, mengingat mati membantu memutus lingkaran ini (dan tentunya tidak dalam arah yang negatif). Ia mengingatkan bahwa tidak semua harus sempurna di dunia, karena kehidupan sejati justru ada setelahnya.
Selain itu, kesadaran akan kematian membuat seseorang lebih mudah memaafkan dan melepaskan. Dendam, iri hati, dan keinginan untuk selalu benar menjadi terasa kecil ketika dibandingkan dengan kefanaan hidup. Orang yang sering mengingat mati cenderung lebih ringan hatinya, karena ia tidak ingin membawa beban yang tidak perlu menuju akhir hidupnya.
Mengingat mati juga mengubah cara pandang terhadap waktu. Setiap detik menjadi lebih berharga. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sepele, seperti tersenyum, berbicara baik, membantu orang lain, atau menahan amarah, menjadi investasi yang berarti. Dalam perspektif ini, hidup tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi rangkaian kesempatan untuk memperbaiki diri.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa mengingat mati bukan berarti menjauh dari kehidupan dunia. Islam tidak mengajarkan kita sikap pesimis atau meninggalkan usaha. Justru sebaliknya, kesadaran akan kematian mendorong seseorang untuk hidup lebih serius dan bertanggung jawab. Ia bekerja dengan lebih jujur, beribadah dengan lebih tulus, dan berinteraksi dengan lebih bijak.
Pada intinya, penulis ingin menyampaikan bahwa mengingat kematian adalah cara Islam mengajarkan perspektif yang jernih tentang kehidupan. Dimana, dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir, tapi sebuah jalan yang harus dilalui dengan sebaik-baiknya. Dan dari kesadaran inilah lahir ketenangan untuk menjalani hidup tanpa berlebihan, tanpa tekanan yang tidak perlu, dan dengan hati yang lebih siap menghadapi apa pun yang Allah tetapkan.
Dengan demikian, mengingat mati bukanlah tentang mengurangi kebahagiaan hidup, tapi tentang memurnikannya. Hal ini mengajarkan bahwa hidup yang singkat ini justru akan terasa lebih damai ketika dijalani dengan kesadaran bahwa setiap langkah memiliki arah, dan setiap akhir adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. []Abian Hilmi











