Jiwa Mulia vs Jiwa Hina: Mengenal Tiga Level An-Nafs dalam Al-Qur’an

Ilustrasi seseorang yang sedang megepangkan tangan sebagai bentuk pelepasan beban hidup (freepik.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Tahukah kalian, jika jiwa memiliki kecondongan tertentu? sebagaimana yang ada dalam QS. Asy-Syams: 9–10, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Pada ayat di atas, Menunjukkan jiwa mulia adalah jiwa yang disucikan. Sedangkan jiwa hina adalah yang dibiarkan kotor oleh maksiat. pada akhirnya jiwa akan selalu mengarah pada hal yang ma’ruf.

Berikut adalah Jenis-jenis Jiwa An Nafs

  1. An-Nafs Ammarah (jiwa yang memerintahkan kepada keburukan)

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S Yusuf ayat 53:

“Sesungguhnya jiwa itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Bagaimana ciri-cirinya?

  1. Dikuasai hawa nafsu
  2. Menikmati dosa dan maksiat
  3. Sulit menahan diri dari perbuatan tercela.

 

  1. An-Nafs Lawwamah (jiwa yang mencela diri sendiri/self blaming soul)

Allah SWT berfirman: “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” Q.S Al-Qiyamah ayat 2.

Pada level ini, seseorang akan memiliki ciri ciri sebagai berikut:

  1. Masih terjatuh dalam dosa, tapi hatinya menyesal
  2. Ada pergolakan batin antara kebaikan dan keburukan
  3. Suka introspeksi, meski belum konsisten.

 

  1. An-Nafs Muthmainnah (Jiwa yang tenang, damai, dan mulia)

Dalam firman Allah SWT yang berbunyu, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Q.S Al-Fajr ayat 27-30

Baca Juga:  Cinta dalam Islam: Love Language ala Rasulullah SAW

Pada Level ketiga ini dalam ditandai dengan;

  1. Hatinya damai karena dekat dengan Allah
  2. Tidak tergoda oleh hawa nafsu dan kezaliman
  3. Hidupnya penuh ketundukan, kerelaan, dan kebaikan.

 

Untuk mendapatkan jiwa yang mulia tidaklah otomatis, melainkan harus diusahakan. Sebab, jiwa dapat berubah dari mulia menjadi rendah apabila tidak dijaga.

Jiwa yang rendah akan terus berputar pada roda kehinaan. Jika diibaratkan, ia bagaikan kotoran yang selalu dihinggapi lalat. [Lailia Lutfi Fathin]

Related Posts

Latest Post