almuhtada.org – Sunan Giri merupakan salah satu ulama yang tergabung dalam majelis Wali Songo yang mendakwakan Islam (khususnya) di Jawa Timur. Beliau lahir dan berdakwah pada abad ke-14 M seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak. Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Giri melakukannya melalui pendidikan dan kesenian (kebudayaan) dan pengaruhnya sangat luas sampai ke luar Pulau Jawa.
Nama lain dari Sunan Giri, yaitu Raden Paku, Muhammad ‘Ainul Yaqin, Jaka Samudra, Prabu Satmata, Sang Hyang Giri Nata, dan Sultan Abdul Faqih. Nama-nama itu diperoleh seiring dengan berjalannya cerita hidupnya. Sunan Giri lahir pada tahun 1442 M di Blambangan, Jawa Timur dari pasangan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu.
Ayah Sunan Giri, Maulana Ishaq (atau Sayyid Yaqub), merupakan mubalig dari Asia Tengah dan keturunan Rasulullah Saw. melalui jalur Husain, putra Sayyidah Fatimah. Sedangkan Ibu Sunan Giri, Dewi Sekardadu (atau Dewi Sabodi), merupakan putri dari Raja Blambangan abad ke-14, Prabu Menak Sembuyu, yang merupakan keturunan dari Prabu Hayam Wuruk (Raja Majapahit pada tahun 1350-1389 M). Jadi Sunan Giri masih keturunan Raja Majapahit dan Nabi Muhammad Saw., nasab Sunan Giri ini diterangkan dalam Saadah Baalawi dari Hadramaut dan dipercaya sebagai sumber yang sahih di beberapa pesantren di Jawa Timur.
Kisah kelahiran Sunan Giri (bisa dibilang) dimulai dari diusirnya ayah Sunan Giri dari Blambangan karena mengajak mertuanya, Menak Sembuyu, untuk masuk Islam. Menak Sembuyu merupakan penguasa Blambangan pada akhir masa kekuasaan Majapahit. Ia marah karena diminta untuk meninggalkan keyakinannya dan mengusir Maulana Ishaq. Ayah Sunan Giri diusir pada saat Dewi Sekardadu sedang hamil tua Sunan Giri.
Pada saat Sunan Giri lahir, beliau dianggap membawa kutukan wabah penyakit di Blambangan. Akibatnya, bayi Sunan Giri dihanyutkan ke laut. Ada beberapa versi (dari beberapa literatur) yang penulis temukan tentang ini. Pertama, ada Upaya untuk membunuh bayi Sunan Giri dan Upaya itu gagal karena Dewi Sekardadu menghanyutkan bayi Sunan Giri ke laut untuk menyelamatkannya.
Kedua, Dewi Sekardadu meninggal dunia setelah melahirkan Sunan Giri, dan bayi Sunan Giri dibuang ke laut karena dianggap membawa kutukan wabah. Ketiga, setelah bayi Sunan Giri dilahirkan, bayi itu dibuang ke laut karena dianggap membawa kutukan wabah, lalu Dewi Sekardadu mencarinya di pinggiran pantai dan meninggal dunia sebelum akhirnya menemukan bayi Sunan Giri.
Kesamaan dari ketiga versi itu adalah bahwa pada akhirnya bayi Sunan Giri dihanyutkan ke laut. Kemudian, setelah dihanyutkan di laut, bayi Sunan Giri bertemu dengan awak kapal yang merupakan anak buah dari Nyi Ageng Pinatih, seorang saudagar Perempuan dari Gresik.
Bayi Sunan Gresik diangkat sebagai anak Nyi Ageng Pinatih dan diberi nama Jaka Samudra (karena ditemukan di tengah laut atau samudra). Kemudian ketika beranjak dewasa, Jaka Samudra berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Sunan Ampel yang memiliki hubungan dengan Maulana Ishaq kemudian mengganti nama Jaka Samudra menjadi Raden Paku sesuai arahan Maulana Ishaq). Dan setelah beberapa saat Raden Paku belajar ilmu agama, Al-Quran, hadis, fiqih, dan tasawuf, beliau diberi nama Muhammad ‘Ainul Yaqin oleh Sunan Ampel karena kecerdasannya dalam menyerap ilmu agama.
Singkat cerita, setelah Muhammad ‘Ainul Yaqin berguru kepada ayahnya (berkat arahan Sunan Ampel) dan meinimba ilmu di Makkah, beliau mendirikan pesantren di sebuah perbukitan di Gresik, yang sekarang masuk wilayah Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Pesantren itu diberi nama Pesantren Giri Kedhaton dan didirikan pada tahun 1487 M. Berkat itu, beliau kemudian dikenal sebagai Sunan Giri, karena “giri” dalam bahasa jawa berarti “gunung”.
Selain dakwah melalui pendidikan (berupa pesantren), Sunan Giri juga mendakwahkan ajaran Islam melalui seni dan budaya. Seperti lagu-lagu dan permainan anak-anak, misalnya Cublak-Cublak Suweng, Gula Ganti, dan Padhang Bulan, dan untuk permainan misalnya, Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit, dan lain sebagainya.
Sunan Giri juga merangkul tradisi-tradisi lokal dan memadukannya dengan dakwah Islam agar dakwahnya mudah diterima oleh masyarakat lokal. Sunan Giri terus berdakwah sampai pada akhirnya wafat pada tahun 1506 M dan dimakamkan di daerah bukit di Dusun Kedaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Gresik. [Abian Hilmi Hidayat]
Editor: Syukron Ma’mun











