Almuhtada.org – Kata mahallul qiyam pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Setiap pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW baik itu sholawat Al-Barzanji, Ad-Diba’ maupun burdah, jamaah lumrah berdiri pada saat mahallul qiyam.
Mahallul qiyam berarti berdiri di tempat. Posisi berdiri disini adalah bentuk penghormatan dan cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW.
Meskipun berdiri pada saat mahallul qiyam bukanlah sebuah kewajiban, namun sangat dianjurkan untuk tetap berdiri. Hal ini dikarenakan pada saat mahallul qiyam, Nabi Muhammad dihusnudzani datang di tempat tersebut. Oleh karenanya, kita dianjurkan untuk berdiri.
Saat-saat pembacaan maulid Nabi adalah kesempatan baik bagi kita untuk meningkatkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Seandainya kita tahu terjemah dari bait-bait bacaan maulid yang kita baca, pasti kita akan sangat antusias membaca sejarah Nabi Muhammad SAW.
Berikut merupakan terjemah dari mahallul qiyam yang sering dibaca:
يَا نَبِى سَلَامْ عَلَيْكَ، يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ
يَا حَبِيْبْ سَلَامْ عَلَيْكَ، صَلَوَاتُ اللهْ عَلَيْكَ
Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, wahai Rasul salam sejahtera untukmu
Wahai Kekasih, salam sejahtera untukmu, shalawat (rahmat) Allah untukmu
اَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُوْرُ
مِثْلَ حُسْنِكْ مَا رَأَيْنَا، قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُوْرِ
Satu purnama telah terbit di atas kami, pudarlah jutaan purnama lain karenanya
Belum pernah kulihat seperti keelokanmu, wahai wajah yang gembira
اَنْتَ شَمْسٌ اَنْتَ بَدْرٌ، اَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرِ
اَنْتَ اِكْسِيْرٌ وَّغَالِى، اَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُوْرِ
Kau bak mentari, kau juga laksana purnama, kau cahaya di atas cahaya
Kau laksana obat segala guna (elixir) lagi mahal, kau adalah lentera hati
يَاحَبِيْبِيْ يَامُحَمَّدْ، يَا عَرُوْسَ الخَافِقَيْنِ
يَا مُؤَيَّدْ يَا مُمَجَّدْ، يَا اِمَامَ القِبْلَتَيْنِ
Wahai Kekasih, wahai Muhammad saw, wahai pengantin Timur dan Barat
Wahai Rasul yang diperkuat (oleh wahyu), wahai Nabi yang agung, wahai imam dua kiblat
مَنْ رَآى وَجْهَكَ يَسْعَدْ، يَا كَرِيْمَ الوَالِدَيْنِ
حَوْضُكَ الصَّافِى الْمُبَرَّدْ، وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُوْرِ
Siapapun yang memandang wajahmu pasti bahagia, wahai manusia yang memiliki orang tua mulia.
Telagamu berair jernih dan sejuk, yang kelak kami datangi pada hari kebangkitan
مَا رَأَيْنَا الْعِيْسَ حَنَّتْ، بِالسُّرَى اِلَّا اِلَيْكَ
وَاْلَغَمَامَةْ قَدْ اَظَلَّتْ، وَالْمَلَا صَلُّوْا عَلَيْكَ
Belum pernah kami melihat unta peranakan unggul yang bersuara sambil berjalan malam hari, kecuali menuju kepadamu
Gumpalan awan menaungimu, semua makhuk mengucapkan shalawat untukmu.
ﻭَﺃَﺗَﺎﻙَ ﺍﻟﻌُﻮﺩُ ﻳَﺒْﮑِﻲ – ﻭَﺗَﺬَﻟَّﻞْ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻚَ
Pohon-pohon datang kepadamu menangis bersimpuh merasa hina di hadapanmu
Terjemahan mahallul qiyam saja sudah membuat merinding bukan ? apalagi bait-bait sejarah lengkapnya! Semoga kita selalu dipermudah oleh Allah untuk mendapatkan jalan bersholawat kepada Rasulullah SAW. Semoga kita dapat berkumpul dengan Rasulullah kelak di akhirat nanti. Aamiin. [] Nihayatur Rif’ah
Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah