Ngajimu Kurang Jauh? Tentang Ilmu, Adab dan Rendah Hati

ilutrasi seseorang yang sedang belajar ilmu agama (freepik.com-almuhtada.org)

almuhtada.org – pernah ngga sih, kalian membaca atau mendengar kalimat “Ngajimu kurang jauh”?, akhir-akhir ini, kalimat sederhana yang mungkin terdengar sepele ini sering kali muncul, entah itu disebuah kolom komentar atau perbincangan soal agama. Terutama saat pendapat seseorang tak sejalan dengan apa yang diperbincangkan.

Tanpa kita sadari, sebenernya dibalik kata-kata tersebut, terselip makna yang menjatuhkan atau meremehkan. Kalimat ini seolah-olah menegaskan bahwa hanya yang ngaji paling jauh yang paling benar. Padahal, ukuran sebuah ilmu bukan di seberapa banyak tempat kita datangi untuk belajar, tapi seberapa dalam kita memahami apa yang telah kita pelajari. Karena, ilmu yang benar adalah ilmu yang membuat kita tetap rendah hati, bukan merasa paling tinggi.

Sering kali kita lupa bahwa perbedaan dalam islam adalah rahmat, bukan sebuah alasan bagi kita untuk saling menjatuhkan sesama. Para ulama besar zaman dulu pun berbeda pandangan dalam banyak hal, namun mereka tetap saling menghargai dan menghormati. Sayangnya, di era media sosial saat ini, banyak orang yang lebih sibuk menjatuhkan dan mencari kesalahan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri.

Perbedaan pandangan seolah menjadi ajang permusuhan, bukan ruang untuk saling belajar memahami. Padahal, yang sebenarnya salah atau rusak bukan ajarannya, tapi ego seseorang yang ingin menang sendiri. Kesombongan sekecil apapun bisa mengahapus keberkahan ilmu yang telah kita pelajari. Karena tujuan menuntut ilmu bukan untuk terlihat paling pandai diantara yang lain, tapi untuk menjadikan diri ini lebih bijak.

Baca Juga:  Keutamaan Membaca dan Mentadabburi Al - Qur'an

Dalam HR. Muslim no 4650, Rasulullah menegaskan kepada kita untuk tidak saling mendengki, memfitnah, membenci dan memusuhi. Karena muslim yang satu dengan yang lainnya adalah saudara dan seseorang bisa dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Dalil bukanlah sebuah pedang untuk melukai sesama, tapi cahaya untuk menuntun setiap orang yang mempelajarinya.

Mau sejauh apapun kita belajar, bahkan sampai ke Mekkah atau ke China, kalau niatnya bukan untuk mencari ridha Allah, maka semua itu akan sia-sia apalagi niatnya hanya untuk menjatuhkan sesama. Jika ilmu digunakan untuk menjatuhkan, itu bukan lagi sebuah ilmu melainkan nafsu yang memakai jubah keilmuan. Islam tidak butuh orang yang banyak bicara soal agama, tapi butuh orang berilmu yang beradab yang bisa merangkul sesamanya.

Ilmu tanpa adab atau rendah hati hanya akan menjadi sebuah tumpukan yang tidak memiliki nilai dan keberkahan. Oleh karena itu, belajar bukan untuk membuktikan siapa yang paling hebat, tapi untuk memperbaiki diri dan menjadi cahaya bagi sesama. Sebab pada akhirnya, ukuran seorang berilmu bukan seberapa jauh dan seberapa banyak ia tahu, tapi seberapa besar ia mampu mengamalkan dan menjaga hatinya dari kesombongan. []Sahrul Mujab

 

Related Posts

Latest Post