Tentang Rasa

Oleh : Alda Gemellina M

Semua orang di dunia terlahir dengan sejuta rasa yang dibawanya. Mungkin hanya sepersekian dari yang sejuta itu yang mampu manusia definisikan. Sisanya, tak dimengerti, namun nyata terasa. Believe or not, manusia adalah makhluk paling absurd yang diciptakan oleh Tuhan. Mengapa, karena manusia adalah satu–satunya yang bisa menunjukkan satu rasa dalam beragam ekspresi. Bayangkan jika ada jutaan rasa yang sedari lahir ada dalam diri, maka berapa bentuk ekspresi yang dapat ditunjukkan oleh setiap individu? Memikirkannya saja tak akan sanggup. Karena begitulah manusia dengan segala keunikannya. Menyoal perihal rasa, nampaknya memang tidak sesimpel itu. Rasa muncul dari proses kimiawi sebagai akibat dari salah satu kinerja otak. Mungkin karena itu seseorang sadar akan perasaannya akan tetapi tidak dapat mengontrol kapan dan bagaimana rasa itu akan muncul dalam ruang bernama ekspresi.

Rasa senang, sedih, benci, marah, rindu dan bahkan cinta merupakan segelintir rasa yang mampu didefinisikan oleh manusia. Itupun belum tentu juga. Sebab manusia tidak benar – benar tahu bagaimana bentuk rasa itu. Manusia hanya mendefinisikan berdasarkan apa yang diamatinya. Dan itu bergantung bagaimana cara seseorang men-delivery-kan perasaannya.  Ada beragam cara manusia dalam menyampaiakan atau menuangkan apa yang dirasa. Ada yang bercerita secara langsung kepada orang lain, dengan harap orang lain akan ikut mengerti apa yang dirasakan. Ada juga yang menggunakan media dalam mengutarakan perasaannya. Seperti remaja yang menyimpan buku diary di balik bantalnya, dan menguncinya dengan gembok berbentuk hati. Harap tidak ada orang lain yang membukanya. Atau para penyair yang menuangkan rasanya dalam sajak – sajak berirama yang sarat akan makna, juga para penyanyi yang men-delivery-kan rasa dalam setiap lirik lagu. Mereka berkomunikasi melalui melody yang mengalun merdu. Atau bahkan para film maker yang berusaha meneruskan rasa melalui skenario dan adegan para lakonnya di setiap scene film tersebut.

Baca Juga:  Petani dan Pandemi

Terlepas dari bagaimana seseorang menunjukkan perasaannya, pada kenyataannya banyak juga yang memilih untuk memendam semua yang dirasakannya. Dan sebagian orang menganggap hal itu lebih baik daripada harus mengekspresikannya. Namun sekuat apapun seseorang menyimpan rasa seorang diri, akan ada masa dimana tubuh akhirnya memberi respon. Karena memang begitulah manusia diciptakan dengan banyak sensor – sensor impuls yang akan memberikan reaksi ketika sesuatu terjadi di dalam tubuh. Oleh karenanya, bagaimanapun seseorang menahan untuk tidak mengekpresikan perasaannya, tubuh dengan sendirinya akan menunjukkan hal tersbut. Mungkin dengan perilaku yang menjadi berbeda atau mungkin dengan air mata. meskipun air mata tidak hanya berkonotasi dengan situasi atau perasaan sedih. Karena seringkali seseorang menangis tanpa tahu pasti sebabnya.

Persoalan rasa tidak pernah bisa dianggap sepele. Tidak ada satu orang pun di dunia yang memiliki kadar rasa yang sama. Sama – sama bahagia misalnya. Maka bahagianya si A tidak akan pernah sama dengan bahagianya si B. Sekalipun dalam waktu yang bersamaan. Perihal rasa juga erat kaitannya dengan sensitivitas. Karena rasa bukanlah sesuatu yang dapat dimengerti oleh logika. Rasa merupakan unsur sensistivitas manusia. Tingkat sensitivitas antara satu orang dengan orang yang lain tidaklah sama. Mungkin bagi si A apa yang dirasakan si B adalah hal kecil, namun bisa jadi bagi si B itu merupakan sesuatu yang besar.  That’s why nobody can assuming whether someone is fine or not. Dan memang seharusnya tidak. Cause we never know what one is really feeling. Mungkin itulah mengapa Allah menciptakan manusia lengkap dengan rasa dan logika. Sebab dengannya manusia bisa memanusiakan manusia lainnya.

Baca Juga:  Sekilas Cerita Malam Keakraban

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post