Pergi

Oleh : Nurjaya

Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa Aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah Aku mendapatkannya? Sesungguhnya, sebuah kasih sayang dari orang tua tak akan bisa tergantikan dengan apapun. Aku yakin Allah merencanakan semua ini adalah yang terbaik buatku dan juga keluargaku. Semoga dengan aku menceritakan semuanya bisa membuat perasaan ini jauh lebih baik dan tak akan ada kesedihan lagi di hari-hari yang akan aku jalani.

Entah darimana aku harus memulai ini semua, Seorang ibu yang terus bersabar mengadapi sebuah cobaan yang tidak bisa Aku bayangkan membuatku setiap hari harus menangisi keadaan ini. Aku benci keadaan ini, aku benci diriku sendiri yang lemah, aku membenci Ayah yang tak pernah bisa mengerti perasaan Ibu. Mengapa Ayah harus menuruti permintaan nenek yang membuat keadaan ini semakin rumit.

Mengapa nenek setega ini memisahkan Ayah dengan Ibu. Aku tidak habis fikir kepada semua yang ada di rumah ini, karena meraka semua menjadi orang yang tidak punya perasaan sama sekali. Aku juga mempunyai seorang kakak, tapi percuma aku punya seorang kakak yang hanya membahagiakan dirinya sendiri, menjadi lelaki yang selalu membuat situasi ini tidak akan pernah berakhir dari pertengkaran. Harusnya kakak tahu keluarga kita sedang berantakan tapi masih sempat-sempatnya kakak memikirkan diri kakak sendiri dibanding adik yang selalu disalahkan di hadapan Ayah. Aku benci semuanya.

Aku tahu Ibu memang wanita yang tak sempurna dia mempunyai kekurangan karena tak bisa berjalan seperti wanita normal, tapi apakah mereka harus berpisah rumah seperti ini ? dan Ayah harus meninggalkan Ibu dalam keadaan yang tak berdaya seperti ini.

Saat itu, aku dan ibu sedang memasak dan saling bercerita. “ Ibu, maafkan aku jika aku harus lahir ke dunia ini dan membuat keadaan ini tak pernah membaik, Aku tau Ibu selalu sedih dan terpukul saat Ayah ingin menceraikan Ibu, maafkan aku bu?’’ Aku menangis dan memeluk ibu.

Baca Juga:  Taukah Kamu Tugas Pembimbing dan Pengajar Kepada Muridnya, Simak Penjelasan Berikut Ini!

 

“Nak, kau jangan pernah berbicara seperti itu, Kamu adalah anak ibu yang dianugrahkan dari tuhan untuk melengkapi keluarga ini. Mungkin Ayah bersikap seperti itu karena dia tidak bisa menerima Ibu karena Ibu bukanlah wanita sempurna.” Mencoba terlihat tegar dihadapanku.

“Ibu, bagiku kau adalah wanita yang sempurna yang pernah ku miliki. Mengapa Ayah jahat kepada  kita, apakah ayah sudah tidak sayang kita lagi?” Aku terus menangis.

“Ayah tidak jahat kepada kita nak, ayah sayang  kita.” Kata ibu meyakinkanku. “Lalu mengapa Ayah harus memilih berpisah rumah dangan kita, Aku benci sama ayah.” Dengan nada yang keras hingga terdengar Ayah saat lewat. “Apa! Kamu membenci Ayah, berani-beraninya kau mengatakan itu pada Ayah!”.kata Ayah dengan nada kasar dan marah.

“Ayah, kenapa ayah tega melakukan semua ini kepada ibu. Apa salah Ibu Ayah, sampai ayah membuat Ibu menangis. Ibu sangat mencintai dan menyayagi Ayah tapi apa balasan Ayah kepada Ibu, Ayah hanya bisa membuatnya sakit hati dan menangis saja.” Kataku dengan kesal. “ Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kita semua. Kamu harus tau itu Lili.” Dengan nada menenangkanku.

“Sudahlah Lili Ibu tidak apa-apa bila memang itu yang terbaik untuk keluarga kita, Ibu tidak keberatan dan memang lebih baik berpisah agar kamu bisa lebih tenang dengan hidupmu.” Sedikit kesal dan terus menangis. Lalu akupun berlari masuk ke kamar dengan terus menangis tanpa henti dan berkata “ Aku benci sama ayah!’’.

Hingga aku tak mampu menahan beban yang ku hadapi ini. Semakin lama semakin tak mampu untuk aku hadapi bagaimana mungkin aku harus menerima Ibu tinggal bersama kaka dan aku harus tinggal bersama ayah. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi manjalani masa-masa yang indah dengan canda tawa yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Saat itu Aku mendengar Ayah bersama Ibu bertengkar di ruang tamu dan Aku berada di kamarku.

Baca Juga:  Memaknai Qurban Dalam Konteks Hablun Min Allah Dan Hablun Min An-Naas

 

“kamu bukannya sebagai Ibu mengajari anaknya dengan sopan santun malah membuatnya membenci Ayahnya sendiri, Ibu macam apa kamu ini!” dengan nada kasar.

“Harusnya kamu sebagai Ayah yang bertanggung jawab di keluarga ini, dan lebih mengutamakan anakmu dibanding memilih untuk berpisah. Apa kamu tidak kasian dengan mereka yang setiap hari mendengar kita bertengkar seperti ini!”. Menangis tanpa henti.

Lalu aku pun sudah tidak kuat lagi mendengar mereka bertengkar setiap hari aku malu dengan teman-temanku. Mereka selalu bahagia karena banyak yang menyayagi mereka, tapi kenapa aku tidak memilikinya, semua ini tidak adil. Aku pergi keluar dan menghentikan pertengkaran Ayah dan Ibu.

 

“Berhenti! Apa kalian ini tidak malu dengan anakmu yang terus melihat kalian seperti ini. Apa kalian belum cukup membuatku menangis harus dan menahan rasa kekecewaan ini, mungkin Ayah dan Ibu bahagia dengan keadaan ini tapi Aku tidak sama sekali Ayah, Ibu. Aku ini anak kalian harusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada anak bukanya malah seperti ini. Tak mengertikah kalian dengan perasaanku.” Menangis dan sangat kecewa.

“Lihat itu anak kamu. Lili masih terlalu kecil untuk menerima ini semua apakah kau tega memisahkan Aku dengannya.” Kata Ibu dengan tegas.

“Aku memang memisahkan kalian. Aku tidak mau mempunyai seorang Istri yang lumpuh seperti kamu! Tidak bisa merawat anak kita dengan baik karena kau tak bisa berjalan. Sebentar lagi Aku akan menceraikanmu dan mencari Ibu yang mampu membuat Lili bahagia.” Kata Ayah dengan penuh amarah.

Baca Juga:  Lintasan Prasangka Manusia

“Diam! Tidak bisakah kalian diam. Semua ini membuatku tersiksa. Ayah, apa Ayah tidak bisa merasakan perasaan seorang Ibu, sehingga Ayah mampu untuk melupakan Ibu dan memutuskan untuk menikah lagi. Baiklah ayah ceraikan Ibu! Lebih baik Ayah menceraikan Ibu dari pada Abu menahan sakit hati yang begitu dalam. Aku benci Ayah!”. Menangis dan keluar dari rumah.

“Lili, kau mau kemana nak? Jangan dengarkan Ayahmu dia hanya bercanda, kembalilah nak?” berlari mengejarku.

“Aku tak mau punya Ayah yang tidak punya perasaan. Biarkan Aku pergi dan menenangkan hati ini Ibu untuk sementara waktu. Maafkan Aku.” Pergi dan terus menangis sepanjang jalan.

Setelah kejadian itu, Aku menjadi seseorang yang berbeda dengan rasa sakit yang tak akan pernah terlupa dan terus menjalani kehidupan yang sering kali aku tidak bisa berfikir positif. Setiap hari aku disekolah menjadi anak pendiam, nilai pelajaranku turun semua kehidupan ku menjadi berantakan. Hingga aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah agar aku tak mendengar pertengkaran yang membuatku tak tahan untuk tinggal dirumahku sendiri. Sebenarnya, Aku tak ingin melakukan ini semua tetapi Aku tak tahan dengan semua yang Aku hadapi, Aku menjadi korban dalam pertengkara Ibu dan Ayah.

“Ibu maafkan Aku melakukan ini dan telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua, Aku berjanji dengan kepergianku ini Aku akan menjadi anak yang baik dan akan kembali setelah Aku bisa membalas semua jasamu. Aku ingin membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu disana baik-baik saja. Ayah, Aku tahu Ayah malu dengan keadaan Ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi tak seharusnya kau tega menceraikan Ibu dan mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari Ibu. Ayah harus tahu Ibu sangat mencintai Ayah seperti Aku mencintai Ayah. Semoga dengan kepergianku ini kalian bisa memikirkan hidup kalian masing-masing. Suatu saat nanti Aku akan kembali untuk kalian.” Tulisku dalam sebuah surat diatas meja belajar.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post