Seorang Nenek :)

Sebuah cerita
Oleh: Wihda Ikvina Anfaul Umat

Seorang nenek tua dengan penuh perhatian…
Seorang nenek tua dengan kasih sayang…
Seorang nenek tua yang tampak kesepian…

Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, merupakan satu tahapan yang bagi sebagian orang yang ditakdirkan memang harus melewatinya. Tua atau menjadi tua adalah sebuah tanda bahwa fisik kita tak lagi sekuat dulu, bahwa kecantikan atau ketampanan adalah satu hal yang tiada abadi. Tua masa untuk beristirahat dan mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk dunia bukan lagi kita merawat tapi dirwat.

Dulu, aku sempat berpikir esok ketika bapak ibuku tua aku harus merawat mereka bagaimanapun kondisinya. Sampai sekarang pun keinginanku mungkin belum berubah, tapi mungkin juga tidak sekuat dulu. Bagaimanapun, pemikiran dapat bergulir seiring segala hal yang memasuki perkembangan usia ini. Yang amat kuat menyayangi dapat luruh seketika dengan hal baru. Yang amat benci tak ingin dekat tiba-tiba serasa tertarik dan mendekat. Begitulah pergolakan pemikiran terjadi. Namun, jika Tuhan memberikan soal pilihan ganda bagi hidup, tentu aku akan memilih hal-hal baik sebagai pengsinya. Begitu juga dengan merawat orang tua yang kelak akan menua juga.

Oh iya, sebenarnya aku hendak bercerita sosok tua yang akhir-akhir ini sering sekali aku temui. Seorang nenek berusia 80 tahun, nenek dari adik les ku di kampung. Beliau sangat-sangat ramah menyambut kedatanganku sebagai guru setiap senin hingga jumat. Dengan hangat mengajak berbicara dan mengarahkan untuk selalu sabar menghadapi adik les yang -memang agak lumayan- beliau juga Selalu menyiapkan makanan dan mempersilahkanku untuk mengicipinya. Katanya beliau tidak suka pedas dan micin, jadi harus masak sendiri agar dapat dimakan. Beliau juga sering sekali membawakanku sebungkus dua bungkus jajan kecil yang diam-diam digantungkan di motor yang ku parkir depan rumah.

Baca Juga:  Semua Sudah Takdir-Nya

Tak hanya itu Setiap kali aku makan, ia selalu bilang untuk makan yang banyak dan pakai seriap lauk. “Makan itu berkah, kalau mbah nyuruh, jangan sekali-kali ditolak, ya!” begitu kira-kira kalimatnya yang aku sampai hafal betul plus nada yang begitu khas. Selain itu ia juga pasti bercerita perihal anak-anaknya yang telah sukses, bagaimana ia berjuang dulu kala masih menjadi ibu muda. Tak sekadar usaha duniawi beliau juga rajin tirakat -katanya- untuk anak-anaknya. Menceritakan suka duka dalam hidup, dimana saja anaknya tinggal, menceritakan silsilah keluarga besar dan kehidupan suwaktu remaja dulu, ah banyak sekali intinya.
Tapi satu yang selalu aku lihat dari nenek tua tersebut. Setelah beliau selesai bercerita seringkali beliau mengusap matanya yang mengembun. Entah menangis, terharu atau memang hanya berair. Jauh dari itu, air di matanya kurasakan sebagai sebuah sepi, sepi yang mendalam dari perempuan tua yang tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Sepi saat tiada teman untuk bercerita, sepi saat anak-anaknya yang dulu ramai kini jarang menjenguk, sepi ketika anak-anaknya sudah sangat sibuk bekerja. Aku tertusuk. Kelak saat aku tua, akankah juga demikian? Akan kurindukan anak-anak yang dulu kubesarkan dengan perjuangan dan kasih sayang?

Sebelum jauh dari itu, yang terpikir tentu yang terlebih dahulu akan menua adalah bapak ibuku. Bagaimana jika kelak aku terlampau sibuk dan mereka kesepian? Bagaimana jika kelak sukses ku menjadikan kebahagian juga kesedihan bagi bapak ibu? Bagaimana jika nenek tua tadi adalah cerminan masa tua bapak ibuku. Kadang aku menangis sendiri apakah setelah sukses nanti, bapak dan ibu akan benar-benar bahagia. Tidakkah mereka nanti akan sangat kesepian saat kutinggal bekerja dan berkeluarga, kemudian kasih sayangku terbagi atas keluargaku sendiri dan keluarga bersama mereka.

Baca Juga:  Pandangan Islam terhadap Penyimpangan Seksual LGBT

… Ah, ketakutan semacam itu sampai saat ini terpatri kuat sekali di langkah-langkahku saat ini.

Tidak ada pesan khusus yang ingin aku sampaikan dari cerita tersebut. Hanya sebuah curhatan, hanya sebuah pengingat bahwa saat masa tua nanti datang, ada sosok yang akan sangat rindu dengan kehangatan perbincangan kecil, akan kasih sayang anak-anak yang dirawat saat masih kecil. Adalah cerita ini pengingat bagi kita semua, agar kelak saat sukses tujuan sebenarnya bukanlah kebahagiaan diri sendiri namun orang-orang yang menghantarkan kita pada gerbang kesuksesan itu, ya Bapak dan Ibu.

Penulis merupakan salah satu mahasantri Pesantren Rist Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post