BERSYUKURLAH

Oleh: Wihda Ikvina Anfa’ul Umat

Jika satu saat inginmu tak tersampai, bacalah judul bait ini

Kamu adalah manusia kuat

Tak peduli seberapapun langkahmu terjatuh

Kamu adalah baris kedua bait ini

 

Bukanlah gagal menjadi alasan

Berhentilah terlebih dahulu, nanti kau bisa coba lagi

Lihatlah pencapaian itu!

Bukankah kamu Harusnya seperti judul bait-bait ini

Kamu manusia Hebat!

 

Tidak akan ada hidup semudah anganmu

Namun tidak akan ada juga hidup setegar pilihanmu

Bukankan berdiri menyesal saat ini  adalah bukti usahamu dulu

Kamu masih menjadi orang baris terakhir bait kedua

 

Aku tak pernah menyebutmu pecundang

Kamu sungguh lebih baik dari itu

Deskripsi tentangmu, kutuliskan pada baris bait setelah ini

 

 

Kamu telah berusaha.

Bait ini singkat

Aku hendak menguatkan

Tidak lagi menjatuhkan

Rasanya sangat muna mengkritikmu tanpa melihat perjuanganmu

Sebagai temanmu, kamu adalah manusia yang tak pantas murung berlebihan.

Sekali lagi, Sekali lagi, sekali lagi

Apa yang harus kamu lakukan, ada pada judul bait-bait ini.

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan  mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Pesantren Riset Al-Muhtada Adakan Webinar Hari Santri Nasional

Semarang (17/10), Pesantren Riset Al Muhtada menyelenggarakan Webinar sebagai peringatan  Hari Santri Nasional. Webinar yang akan dilaksanakan tanggal 24 Oktober 2020 mendatang mengangkat tema “Peran Santri Dalam Diplomasi Luar Negeri”

Peringatan Hari Santri Nasional sudah mulai diperingati sejak tahun 2015. Setelah ditetapkan bahwa tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 .  Dilansir melalui Kemenag.go.id tanggal 22 Oktober juga merujuk pada “Revolusi Jihad” yakni fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia.

Hari Santri Nasional menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk dapat penumbuhan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam meneladani semangat para santri zaman terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Peringatan Hari Santri yang akan di selenggarakan oleh Pesantren Riset Al-Muhtada akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2020, pukul 19.00 WIB s.d. Selesai, melalui aplikasi video conference yang  diagendakan akan dibuka melalui sambutan pengantar dari Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Dr. Dani Muhtada dengan  Pembicara H. Rahmat Hindiarta Kusuma,  Diplomat KBRI Washington DC. Acara akan dimoderatori oleh  Mahasantri Wihda Ikvina Anfaul Umat.

Saudara dapat mengikuti Peringatan Hari Santri dengan mengisi pendaftaran melalui pranala berikut bit.ly/WebinarHSN Panitia Acara menyediakan E-Sertifikat bagi seluruh peserta webinar Hari Santri Nasional. Apabila ada pertanyaan mengenai acara dapat menghubungi Mahasantri Qosim  (088227974950 ) dan Mahasantri Eka (089687523401). (DWK)

Perihal Pinta

Oleh : Khikmatul Laili Desiyani

Kusebut satu pinta
Lagi kuminta pinta yang sama
Terus saja terucap di setiap jeda

Perihal pinta yang sama
Apa yang salah dengannya?
Mengapa tak kunjung jadi nyata?

Salahkah aku dalam meminta?
Kelirukah ucapku dalam doa?

Oh tidak ternyata
Bukankah semua sudah tertata
Bukankah kau hanya menjalankan semata
Lalu bagaimana bisa kau memaksa

Sudah sudah.. jangan keras kepala
Kau tidak punya hak sebagai sutradara
Kau hanyalah lakon utama
Bagian kecil dari kefanaan dunia

Perihal pinta
Katakan saja
Pintakan pada Nya

Perihal cerita
Bukankah ini skenario terbaik-Nya
Cukup kan syukur dalam jiwa
Tentram kan rasa dalam menerima

Katakan pada jiwa
“Kisah ini sementara”
“Dunia ini fana”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Belajarlah

Oleh: Amanatul Khomisah

Belajarlah

Karena hidupmu akan berubah

Pandanganmu kan cerah

Masa depanmu kan terarah

Sunyi, gersang, redup

Itulah dirimu

12 tahun kujalani penuh liku dan pilu

Diriku hanya insan biasa, yang masih haus akan ilmu

Demi kemenangan sejati

Aku harus bangkit, bangkit, dan bangkit.

Bukan masalah gelar ataupun pangkat

Melainkan masalah jati diri

Bukan tentang kaya

Namun tentang perjuangan

Di negeri ini aku menuntut ilmu mencari hal baru dalam sebuah titik temu

Tinta hitam dan tumpukan lembaran kertas putih menjadi saksi perjuangan

Belajarlah

Jangan biarkan otakmu membeku

Asahlah layaknya sebuah pisau yang tajam

Yakin bahwa masa depan kan datang secerah bintang

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Pilu di Palu

oleh: Salma Hamdiah

Banyak yang bisa diagendakan

Tapi tidak dengan bencana

Dia datang begitu saja

saat sang pencipta memerintah

Bahkan tanpa ada batasannya

Aku kira hari itu kiamat

Kota ku begitu berbeda dengan sebelumnya

Tanahnya, pantai nya,

dan suasana di dalamnya

Saat itu tak ada lagi tawa

Bahagia juga lenyap seketika

Masih jelas dibenakku saat tanah menari dengan sesukanya

Pantai pun ikut meluapkan amarahnya

Semua sanak saudara

Berhamburan entah kemana

Tuhan mengambil beberapa dari kami

Aku tak tahu persis apa maksud-Nya

Besok, tepat dua tahun yang lalu

Dan pilu di Palu belum juga berlalu

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Personal Branding: Selangkah Lebih Maju

Oleh: Fafi Masiroh

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin maju mendorong masyarakat untuk saling berinovasi dalam berbagai bidang. Salah satu alasan mereka dalam turut serta ikut mengembangkan diri dalam berinovasi yaitu untuk menaikkan tingkat Personal branding kepada khalayak umum. Seiring semakin bertambah usia, pengetahuan dan pengalaman, membangun personal branding terlebih di tengah kemajuan teknologi dan pengetahuan yang sangat pesat sangatlah penting. Khususnya bagi para millenial yang mulai ingin memperkenalkan dirinya secara luas, baik meliputi latar belakang mereka dari segi pendidikan, keahlian, atau pencapain serta prestasi mereka kepada khalayak umum untuk terjun ke masyarakat. Personal Branding sendiri secara bahasa yaitu terkait citra diri.  Branding dilakukan untuk memperoleh kepercayaan (trust) serta dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri atas citra diri terkait integritas, niat dan kemampuan. Personal Branding dibangun bukan hanya untuk perkara perihal materiel ( to get money ) saja, lebih dari itu dengan membangun personal branding yang bagus dan menarik, mampu membantu kita untuk tetap manjaga eksistensitas pribadi di tengah derasnya arus perubahan.

Untuk membangun personal branding yang baik dan menarik, terdapat tiga hal yang mampu menopang personal branding di antaranya yaitu:

  1. Prestasi, tidak dapat dipungkiri bahwa prestasi memberikan impact yang besar untuk mendapatkan kepercayaan dari pribadi ataupun orang lain. Memiliki prestasi memberikan stigma yang cukup besar bagi orang lain sebagai bukti bahwa kita berkompeten terhadap bidang prestasi yang telah kita capai. Misalnya seperti Pernah berbicara di depan Bapak Presiden dalam acar tertentu, menerbitkan buku, juara blog ataupun lainnya. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa prestasi tidak selalu dalam ruang lingkup akademik. Prestasi sangat luas cakupannya.
  2. Kreasi, bila kamu kriteria orang yang  suka berkreasi dan berinovasi maka kembangkan terus bakat itu. Terlebih di tengah perkembangan teknologi untuk berkreasi sepertinya jauh lebih mudah. Misalnya dengan berkreasi membuat konten youtube, blog, podcast yang mampu memberikan manfaat bagi khalayak umum. Atau bisa juga berkreasi dalam wujud barang seperti membuat design vektor atau lainnya. Lebih lebih jika kreasimu sudah memiliki hak paten, tentu saja tingkat personal branding mu semakin memberikaj kepercayaan lebih kepada orang lain.
  3. Sertifikasi, dan cara paling mudah untuk membangun personal branding yaitu denga memperoleh sertifikasi. Misalnya sertifikasi terkait public speaking, writing atau lainnya.

Untuk lebih mudah memperoleh salah satu minimal di antar tiga hal tersebut, kamu harus tahu terlebih dahulu tujuan serta cita citamu. Kemudian berikutnya kamu bisa untuk lebih fokus terhadap satu hal yang ingin kamu capai dalam membangun personal branding. Lebih dari itu, personal branding tidak hanya mendeskribsikan profil kamu tekait prestasi,kreasi dan sertifikasi. Akan tetapi dengan personal branding seseorang dapat mengidentifikasikan personalitas diri. Orang tidak membeli produk dan jasa. Mereka membeli relasi, cerita dan magic (Seth Godin). Karena branding tidak tentang apa yang harus kamu katakan kepada orang lain, tetapi tentang apa yang orang lain katakan tentang kamu.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Halaqah Virtual: Perempuan Ulama 2020 “Dakwah di Media Sosial dan Penguatan Literasi Pesantren”

Oleh: Emi Rahmawati

Pada tanggal 20 September 2020, Pusat Studi Pesantren kembali menyelenggarakan sebuah halaqah secara virtual bertema “Dakwah di Media Sosial dan Penguatan Literasi Pesantren”. Halaqah virtual kali ini merupakan Halaqah Virtual Perempuan Ulama edisi ke-11. Halaqah edisi ke-11 ini dihadiri oleh tiga pembicara, yang salah satu di antaranya merupakan pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A.. Narasumber lainnya adalah Gus Ahmad Mundzir, dari pesantren Sirajuth Tholibin Semarang dan Ning Siti Rofiah, dari Pesantren At-Taharruyah, Semarang.

Pusat Studi Pesantren (PSP) adalah lembaga nirlaba yang diniatkan untuk menjadi wadah bagi proses pengkajian dunia kepesantrenan dan pengembangan pemikiran islam secara umum, serta wadah bagi jejaring pesantren yang mengembangkan wawasan yang lebih moderat dan terbuka. PSP didirikan oleh Ahmad Ubaidillah pada 21 September 2007 di Bogor.

Dia awal halaqah, Pak Ahmad Ubaidillah mengatakan, “Melalui halaqah ini, kami berharap perempuan-perempuan yang memiliki latar belakang keilmuan pesantren tidak hanya aktif melakukan aktifiitas dakwah secara offline, tapi juga mulai menjadikan media sosial sebagai salah satu medan juang kita bersama. Selain itu kami juga mendorong agar para Nyai, Ning, Santri untuk melakukan upaya penguatan literasi pesantren. Dan seharusnya literasi pesantren dapat kita diseminasi lebih luas lagi.”

Halaqah Perempuan Ulama 2020 ini membahas mengenai bagaimana jalan dakwah pesantren pada dunia luas melalui media sosial, dan juga upaya pesantren dalam melakukan penguatan listerasi pesantren, serta bagaimana perempuan turut andil dalam upaya penguatan literasi pesantren. Gus Ahmad Mundzir yang merupakan praktisi media sosial dakwah mengatakan, bagaimana ide orang pesantren bisa dibaca oleh orang luar, kalau dia tidak menyebarkan keluar, maka minimal menulislah. Jadi, agar literasi yang sudah menjadi budaya di pesantren bisa disebarluaskan, maka kita harus dapat menuangkannya di media sosial, supaya khazanah keislaman dalam pesantren dapat dijangkau oleh banyak umat.

Tingkat produktifitas perempuan dalam hal menulis di media sosial masih sangat rendah. Dalam chanel Nu Online, pengisi media juga didominasi oleh laki-laki, perbandingan laki-laki dan perempuan menunjukkan 70% : 30%. Gus munzir menghimbau agar kita lebih aktif menggerakkan dakwah di media sosial, jangan sampai kalah dengan orang-orang yang berani mengumumkan hal-hal buruk, sedangkan kita yang baik tidak berani terang-terangan.

Ning Rofiah juga menegaskan bahwa budaya literasi sesungguhnya sudah mengakar di pesantren. Akan tetapi yang menjadi tantangan di masa sekarang ini adalah derasnya arus media sosial, sehingga media akan sangat rentan sekali dikuasai oleh konten-konten yang tidak bisa dipertanggungjawabkan Hal inilah yang seharusnya dapat kita tengahi, orang-orang pesantren diharapkan bisa hadir dengan khazanah keislamannya yang jauh lebih ramah dan juga dapat menyebarkan nilai islam yang rahmatan lil-alamin.

Pendidikan keadilan gender, seringkali dipahami secara tidak utuh. Pesantren seharusnya dapat meningkatkan pemahaman bagi perempuan terkait keadilan gender, bahwa dalam pandangan islam, seorang manusia mempunyai derajad yang sama.  Seorang perempuan harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang utuh: makhluk fisik, makhluk intelektual, makhluk spiritual. Sudah saatnya perempuan-perempuan pesantren, Nyai, Ning dapat andil menyebarluaskan ilmunya, bukan lagi pada sebatas dakwah lokal, melainkan melalui media sosial juga.

Dr. Dani dalam halaqah ini mengatakan bahwa pesantren merupakan wajah islam indonesia, yaitu benteng islam wasathiyah (islam yang terbuka, toleran, moderat, dan mengadopsi nilai-nilai budaya lokal). Islam di indonesia memiliki tantangan yang cukup besar, yakni menguatnya penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui internet dan media sosial. Sesungguhnya pesantren memiliki segala macam sumber daya untuk memegang kendali otoritas keislaman, seperti kyai, ustaz, kitab, santri, kajian keagamaan. Namun sayangnya otoritas keislaman di dunia maya tidak dikuasai oleh kalangan pesantren.

Menurut Dr. Dani, problem literasi pesantren adalah oleh beberapa hal, di antaranya adalah tidak banyaknya kyai yang mampu menuangkan gagasannya melalui tulisan dan menyebarluaskannya dan tidak banyak pesantren yang memfasilitasi santri mengembangkan keterampilan menulis. Dr. Dani menawarkan beberapa strategi dalam upaya penguatan literasi pesantren, yakni pengembangan fasilitas literasi pesantren; kurikulum didesain untuk mengembangkan literasi santri; pemanfaatan media sosial; pendampingan literasi digital untuk ustaz dan kyai; dan kerja sama digital. Pernyataan terakhir Dr. Dani dalam halaqah ini yaitu, penguatan literasi pesantren adalah kunci untuk menguatkan wacana islam wasathiyah di indonesia sekaligus mengembalikan otoritas keagamaan pada ahlinya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Hari Pertama Kuliah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Embun masih menyelimuti pagi. Kokok ayam mulai terdengar ditelingaku. Sang mentari sudah lebih dulu keluar dengan sedikit malu-malu. Angin hari ini terasa agak sedikit dingin dari biasanya. rasanya aku malas untuk mandi, tetapi ini adalah hari pertamaku untuk mengikuti perkuliahan. Aku segera mandi dan sarapan dengan keluarga. Aku kuliah di Universitas Negeri Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Yaa, kuliah perdana akan dilakukan secara daring, pandemi menghambat kami semua dalam hal ini. Mau tidak mau kami harus melakukan aktivitas dari rumah. Kuliah tatap muka memang menjadi harapan semua mahasiswa baru, terutama saya sendiri. Kuliah secara daring akan terasa berbeda bagi mahasiswa baru, akan ada tugas online, penjelasan online, dan masih banyak lagi yang berbau online lainnya. Tentu saja kami harus cepat beradaptasi dengan keadaan seperti sekarang. Kami harus siap dengan segala kemungkinan.

“Selamat pagi pak, bu.” Tegurku memulai obrolan.
“Iyaa” jawab Ibu dengan nada lembut.
“Sarapan dulu sini” ucap bapak kepadaku.
“Iya pak, ini juga mau sarapan” jawabku menghampiri mereka.
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya adik perempuan dan laki-laki. Bapak bekerja sebagai karyawan swasta di perkebunan sawit PT. SINAR MAS. Ibu tidak bekerja, tetapi kadang ikut bekerja juga. Ia di rumah mengurusi adikku dan juga pekerjaan rumah.

Setelah sarapan, aku langsung bersiap untuk kuliah. “Bu, lihat pulpen ku gak?” tanyaku.
“Coba cari di meja belajar” jawab Ibu. “Gak ada bu,” sambungku. “Coba cari di tasmu atau
kalo gak ada yaa beli lagi.” Ucap Ibu. “Yaudah kalo gitu aku lihat dulu” jawabku.

Aku mencari pulpen di tas, ternyata memang ada di dalam tas. Tak terasa hari sudah pukul 07.03 WIB. harusnya sudah masuk mata kuliah pertama hari ini. “Tok..” bunyi dari grup wa. Ternyata dosen sudah menunggu, kuliah kali ini akan menggunakan aplikasi zoom, untuk sekedar perkenalan dan pemaparan materi yang akan dipelajari. “Ini bakal langsung ada tugas gak yaaa?” tanyaku dalam hati “Semoga saja belum, hehehe” sambungku dengan sedikit bergurau dalam hati. Satu persatu mahasiswa baru memperkenalkan diri dan saatnya giliranku.

“Silahkan itu yang pakai baju merah, Agus yaa namanya?” pak dosen mulai berbicara.
“Iya pak” jawabku.
“Silahkan memperkenalkan diri yaa!” sambungnya
“Baik pak. Assalamualaikum. Wr. Wb. Perkenalkan nama saya Mohamad Agus Setiono. Berasal dari Bangka Belitung, sudah pak. Wassalamualaikum. Wr. Wb.”
“Baik gus, terima kasih. Jauh juga yaa dari Bangka kuliah ke semarang” pak dosen kembali menyambung obrolannya
“Hahaha, iyaa pak. Cari pengalaman baru juga.”

Tak terasa jam mata kuliah telah berakhir. Ternyata benar dugaanku, ada tugas. Setelah ini bakal ada kuliah lagi, masih lama sih pukul 15.00, aku masih bisa istirahat dulu. 30 menit lagi kuliah kedua hari ini bakal dimulai, aku masih makan, setelah itu langsung ke tempat biasa untuk kuliah, yaitu ruang tamu. Ini adalah kuliah kedua, aku masih semangat, meskipun tadi sudah diberikan tugas.
“Tok..” grup wa kembali berbunyi. Ku kira bakal ada pertemuan di zoom lagi, ternyata tidak. Pak dosen sudah memberi tugas terlebih dulu kepada kami.
“Tugas lagi?” tanyaku dalam hati. Ahhh, rasanya aku belum siap jika harus ada tugas disetiap pertemuan.
“Padahal tugas yang tadi aja belum dikerjaiin, ini udah mau ada lagi. Gimana dengan besok? Pasti sama juga.” Aku berbicara sendiri.

“Teman-teman, ini tugas dari dosen kapan ngumpulinnya yaa?” tanyaku di grup wa.
“Minggu depan gus” jawab salah satu teman.
“Ohh gitu, oke dehh. Makasih yaa” jawabku kembali.
“Kita baru pertemuan pertama saja sudah ada tugas” lanjut temanku yang lain.

“Semangat dong teman-teman” ucap salah satu teman.
“Ku menangisss….” sambung lagi dengan sedikit bergurau.
Syukurlah tugas tidak harus dikumpulkan hari ini, tetapi aku harus mengerjakan sekarang karena besok pasti ada tugas lagi dari dosen. Aku benar-benar terkejut dengan tugas hari ini, tidak biasanya aku mendapat tugas yang sebanyak ini, belum lagi tugas ospek dan masih banyak lagi tugas lain yang harus aku selesaikan. Ini tentu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kami kedepannya. Kami juga akan terbiasa dengan tugas-tugas seperti ini. Itu lah gunanya beradaptasi, kami harus bisa beradaptasi dengan baik. Kuliah di hari pertama sangat diluar ekspektasi, tetapi tak mengapa bukan masalah juga. Justru ini menjadi modal berarti bagi kami mahasiswa baru.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Mahasantri Pesantren Riset Al Muhtada Mendapat Juara 2 dalam Lomba Esai yang Diadakan Oleh BEM FAKULTAS SAINTEK UNUGIRI Bojonegoro

Mahasantri Pesantren Riset Al Muhtada kembali menorehkan prestasinya. Kali ini adalah Mohammad Rizal Ardiansyah, mahasiswa program studi Geografi Universitas Negeri Semarang. Mohammad Rizal Ardiansyah berhasil menjadi juara kedua  dalam Lomba Esai yang diadakan oleh BEM Fakultas Saintek UNUGIRI Bojonegoro.

Lomba esai ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Juara satu dari ajang ini adalah Tasya Safata Nur Amalia dari Universitas Trunojoyo Madura, Juara kedua adalah Mohammad Rizal Ardiansyah dari Universitas Negeri Semarng, dan juara ketiga adalah Candrika Ilham Wijaya dari Universitas Gadjah Mada.

Rizal menyadari bahwa dirinya masih belum terlalu mahir dalam bidag kepenulisan. Dengan kemenangan ini, semangat Rizal untuk terus belajar menulis semakin tinggi. Rizal juga semakin semangat dan percaya diri untuk mengikuti berbagai lomba menulis selanjutnya.

Pergi

Oleh : Nurjaya

Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa Aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah Aku mendapatkannya? Sesungguhnya, sebuah kasih sayang dari orang tua tak akan bisa tergantikan dengan apapun. Aku yakin Allah merencanakan semua ini adalah yang terbaik buatku dan juga keluargaku. Semoga dengan aku menceritakan semuanya bisa membuat perasaan ini jauh lebih baik dan tak akan ada kesedihan lagi di hari-hari yang akan aku jalani.

Entah darimana aku harus memulai ini semua, Seorang ibu yang terus bersabar mengadapi sebuah cobaan yang tidak bisa Aku bayangkan membuatku setiap hari harus menangisi keadaan ini. Aku benci keadaan ini, aku benci diriku sendiri yang lemah, aku membenci Ayah yang tak pernah bisa mengerti perasaan Ibu. Mengapa Ayah harus menuruti permintaan nenek yang membuat keadaan ini semakin rumit.

Mengapa nenek setega ini memisahkan Ayah dengan Ibu. Aku tidak habis fikir kepada semua yang ada di rumah ini, karena meraka semua menjadi orang yang tidak punya perasaan sama sekali. Aku juga mempunyai seorang kakak, tapi percuma aku punya seorang kakak yang hanya membahagiakan dirinya sendiri, menjadi lelaki yang selalu membuat situasi ini tidak akan pernah berakhir dari pertengkaran. Harusnya kakak tahu keluarga kita sedang berantakan tapi masih sempat-sempatnya kakak memikirkan diri kakak sendiri dibanding adik yang selalu disalahkan di hadapan Ayah. Aku benci semuanya.

Aku tahu Ibu memang wanita yang tak sempurna dia mempunyai kekurangan karena tak bisa berjalan seperti wanita normal, tapi apakah mereka harus berpisah rumah seperti ini ? dan Ayah harus meninggalkan Ibu dalam keadaan yang tak berdaya seperti ini.

Saat itu, aku dan ibu sedang memasak dan saling bercerita. “ Ibu, maafkan aku jika aku harus lahir ke dunia ini dan membuat keadaan ini tak pernah membaik, Aku tau Ibu selalu sedih dan terpukul saat Ayah ingin menceraikan Ibu, maafkan aku bu?’’ Aku menangis dan memeluk ibu.

 

“Nak, kau jangan pernah berbicara seperti itu, Kamu adalah anak ibu yang dianugrahkan dari tuhan untuk melengkapi keluarga ini. Mungkin Ayah bersikap seperti itu karena dia tidak bisa menerima Ibu karena Ibu bukanlah wanita sempurna.” Mencoba terlihat tegar dihadapanku.

“Ibu, bagiku kau adalah wanita yang sempurna yang pernah ku miliki. Mengapa Ayah jahat kepada  kita, apakah ayah sudah tidak sayang kita lagi?” Aku terus menangis.

“Ayah tidak jahat kepada kita nak, ayah sayang  kita.” Kata ibu meyakinkanku. “Lalu mengapa Ayah harus memilih berpisah rumah dangan kita, Aku benci sama ayah.” Dengan nada yang keras hingga terdengar Ayah saat lewat. “Apa! Kamu membenci Ayah, berani-beraninya kau mengatakan itu pada Ayah!”.kata Ayah dengan nada kasar dan marah.

“Ayah, kenapa ayah tega melakukan semua ini kepada ibu. Apa salah Ibu Ayah, sampai ayah membuat Ibu menangis. Ibu sangat mencintai dan menyayagi Ayah tapi apa balasan Ayah kepada Ibu, Ayah hanya bisa membuatnya sakit hati dan menangis saja.” Kataku dengan kesal. “ Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kita semua. Kamu harus tau itu Lili.” Dengan nada menenangkanku.

“Sudahlah Lili Ibu tidak apa-apa bila memang itu yang terbaik untuk keluarga kita, Ibu tidak keberatan dan memang lebih baik berpisah agar kamu bisa lebih tenang dengan hidupmu.” Sedikit kesal dan terus menangis. Lalu akupun berlari masuk ke kamar dengan terus menangis tanpa henti dan berkata “ Aku benci sama ayah!’’.

Hingga aku tak mampu menahan beban yang ku hadapi ini. Semakin lama semakin tak mampu untuk aku hadapi bagaimana mungkin aku harus menerima Ibu tinggal bersama kaka dan aku harus tinggal bersama ayah. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi manjalani masa-masa yang indah dengan canda tawa yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Saat itu Aku mendengar Ayah bersama Ibu bertengkar di ruang tamu dan Aku berada di kamarku.

 

“kamu bukannya sebagai Ibu mengajari anaknya dengan sopan santun malah membuatnya membenci Ayahnya sendiri, Ibu macam apa kamu ini!” dengan nada kasar.

“Harusnya kamu sebagai Ayah yang bertanggung jawab di keluarga ini, dan lebih mengutamakan anakmu dibanding memilih untuk berpisah. Apa kamu tidak kasian dengan mereka yang setiap hari mendengar kita bertengkar seperti ini!”. Menangis tanpa henti.

Lalu aku pun sudah tidak kuat lagi mendengar mereka bertengkar setiap hari aku malu dengan teman-temanku. Mereka selalu bahagia karena banyak yang menyayagi mereka, tapi kenapa aku tidak memilikinya, semua ini tidak adil. Aku pergi keluar dan menghentikan pertengkaran Ayah dan Ibu.

 

“Berhenti! Apa kalian ini tidak malu dengan anakmu yang terus melihat kalian seperti ini. Apa kalian belum cukup membuatku menangis harus dan menahan rasa kekecewaan ini, mungkin Ayah dan Ibu bahagia dengan keadaan ini tapi Aku tidak sama sekali Ayah, Ibu. Aku ini anak kalian harusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada anak bukanya malah seperti ini. Tak mengertikah kalian dengan perasaanku.” Menangis dan sangat kecewa.

“Lihat itu anak kamu. Lili masih terlalu kecil untuk menerima ini semua apakah kau tega memisahkan Aku dengannya.” Kata Ibu dengan tegas.

“Aku memang memisahkan kalian. Aku tidak mau mempunyai seorang Istri yang lumpuh seperti kamu! Tidak bisa merawat anak kita dengan baik karena kau tak bisa berjalan. Sebentar lagi Aku akan menceraikanmu dan mencari Ibu yang mampu membuat Lili bahagia.” Kata Ayah dengan penuh amarah.

“Diam! Tidak bisakah kalian diam. Semua ini membuatku tersiksa. Ayah, apa Ayah tidak bisa merasakan perasaan seorang Ibu, sehingga Ayah mampu untuk melupakan Ibu dan memutuskan untuk menikah lagi. Baiklah ayah ceraikan Ibu! Lebih baik Ayah menceraikan Ibu dari pada Abu menahan sakit hati yang begitu dalam. Aku benci Ayah!”. Menangis dan keluar dari rumah.

“Lili, kau mau kemana nak? Jangan dengarkan Ayahmu dia hanya bercanda, kembalilah nak?” berlari mengejarku.

“Aku tak mau punya Ayah yang tidak punya perasaan. Biarkan Aku pergi dan menenangkan hati ini Ibu untuk sementara waktu. Maafkan Aku.” Pergi dan terus menangis sepanjang jalan.

Setelah kejadian itu, Aku menjadi seseorang yang berbeda dengan rasa sakit yang tak akan pernah terlupa dan terus menjalani kehidupan yang sering kali aku tidak bisa berfikir positif. Setiap hari aku disekolah menjadi anak pendiam, nilai pelajaranku turun semua kehidupan ku menjadi berantakan. Hingga aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah agar aku tak mendengar pertengkaran yang membuatku tak tahan untuk tinggal dirumahku sendiri. Sebenarnya, Aku tak ingin melakukan ini semua tetapi Aku tak tahan dengan semua yang Aku hadapi, Aku menjadi korban dalam pertengkara Ibu dan Ayah.

“Ibu maafkan Aku melakukan ini dan telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua, Aku berjanji dengan kepergianku ini Aku akan menjadi anak yang baik dan akan kembali setelah Aku bisa membalas semua jasamu. Aku ingin membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu disana baik-baik saja. Ayah, Aku tahu Ayah malu dengan keadaan Ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi tak seharusnya kau tega menceraikan Ibu dan mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari Ibu. Ayah harus tahu Ibu sangat mencintai Ayah seperti Aku mencintai Ayah. Semoga dengan kepergianku ini kalian bisa memikirkan hidup kalian masing-masing. Suatu saat nanti Aku akan kembali untuk kalian.” Tulisku dalam sebuah surat diatas meja belajar.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.