Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Ucapan tak Sesuai Perilaku

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Sering kita ketahui di sekitar kita, seperti halnya orang yang menasihati kepada orang lain, atau lebih familiarnya ketika orang tua menasihati anaknya. Mungkin hal itu suatu yang wajar bagi kita, karena memang hak orang tua adalah menasihati anaknya. Apakah kita akan melawan atau marah kepada orang tua kita? Sedangkan apa yang kita lakukan memang seharusnya ditegur. Mungkin dari diri kita hanya diam dan menggerutu dalam hati. Beda halnya jika orang lain yang menegur. Apa yang akan terjadi pada diri kita?

Hal ini lebih sering terjadi pada anak pesantren, dimana yang didalamnya terdapat santri dengan paut umur yang berbeda-beda. Sering terjadi ketika senior atau yang dikenal lebih lama tinggal di pesantren, ketika mereka sedang menasihati seorang santri baru, dan dimana santri baru tersebut malah berani membantah hingga terjadi bantah-membantah. Disitulah yang harus kita ketahui, mengapa terjadi hal seperti itu?

Sadar atau tidak sadar, kita yang beranjak semakin dewasa pasti berfikir untuk bisa menasihati adik-adik dibawah kita tanpa melihat apakah diri kita sudah pantas untuk menasihati mereka? Walaupun tidak semua nasihat itu harus kita lakukan terlebih dahulu. Jika nasihat tersebut memang baik dan harus disampaikan, maka sampaikan dengan baik.

Namun di dalam hal ini, yang dipermasalahkan adalah sebuah nasihat yang kecil namun bermanfaat. Seperti contoh, kita menasihati agar adik-adik rajin dalam melaksanakan sholat berjamaah dan mengaji, atau tidak kita menasihati adik-adik agar mengikuti peraturan yang telah ditetapkan dan tidak membangkang pengurus pesantren. Sedangkan pada diri kita, melaksanakan sholat pun ditunda-tunda, mengaji pun menjadi urusan akhir, dan lebihnya para senior berani membantah pengurus. Lantas, apakah santri baru akan mengikuti dan melakukan apa yang telah kita nasihat? Pastinya hanya sebagian, selebihnya mereka pun membantah, karena mereka juga dapat perfikir. Yang ada dalam fikiran mereka adalah “orang mbak itu aja seperti itu, kita kan ngikut mbak-mbaknya”. Dan itulah yang menyebabkan mereka berani membantah, atau tidak mereka diam namun tak menuruti apa nasihat kita.

Dari hal ini, cobalah kita menyadari diri kita sendiri sebelum kita menasihati orang lain, atau setidaknya kita mencoba merubah diri lebih baik, agar orang yang kita nasihati dapat mengambil hikmah atau mencontoh apa yang ada pada diri kita.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. 

Bumiku Basah

oleh : Alda Gemellina

Bagai sejoli tak lagi satu
Urai tangis dalam sendu
Mengapa yang demikian terjadi?
Indah rasa tak lagi dimengerti
Ketika semuanya menjadi kelabu
Untuk bersatu tak akan padu

Bagaimana tidak basah
Ada tangis dalam tawa
Sebab tertusuk dalam peluk
Ada sampah dalam sumpah
Hadir dalam wujud kesuma

Bumiku basah..
Bukan hujan sebabnya
Ia basah namun tak menetes
Ia basah sebab ulah mereka
Yang punya rasa dan logika

Bumiku basah…
Basah sebab tangis kehilangan
Basah sebab rintih kelaparan
Basah sebab peluh yang berjatuhan
Basah sebab derita yang tak kunjung mereda

Bersama mentari yang bersinar
Harap esok kembali cerah

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. 

Menuntut Ilmu Tak Lekang Waktu

Oleh: Fafi Masiroh

Mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu adalah salah satu kenikmatan yang harus selalu disyukuri. Kegiatan dalam menuntut ilmu sudah barang tentu akan memberikan berbagai kebaikan bagi penuntut ilmu. Orang yang dulunya belum bisa membaca al quran, ketika ia menuntut ilmu maka seiring berjalannya waktu ia bisa membaca Al Quran, bahkan mampu memahami kandungan pada ayat ayat Al Quran untuk diimplikasikan dalam kehidupan kesehariannya. Orang yang belajar kesehatan kelak ia akan mengetahui apa apa yang belum ia ketahui, memberikan bantuan ketika teman sakit. Kesempatan menutut ilmu adalah salah satu kesempatan langka terlebih bagi orang orang yang barang kali sudah terlalu sibuk perkara harta dan tahta.

Dalam menuntut ilmu, terdapat suatu ungkapan yang sudah cukup terkenal yaitu, “Jika belajar, selalulah menjadi layaknya gelas kosong yang tak pernah penuh”. Ungkapan tersebut kerap kali diartikan bahwa sebagai penuntut ilmu ketika sedang belajar, sebaiknya selalu merasa bahwa ia layaknya gelas kosong yang selalu bersedia diisi air. Bahwa ketika belajar harus selalu disertai rasa haus terhadap ilmu, keinginan untuk selalu belajar, menambah berbagai wawasan baru serta memperluas pengetahuan. Ketika penuntut ilmu layaknya gelas yang sudah terisi penuh, maka ia akan merasa bahwa ilmunya sudah cukup, tidak memerlukan ilmu baru lainnya. Sehingga hal tersebut mampu mendorongnya untuk menjadi orang yang angkuh, yang sombong, yang enggan memiliki semangat tinggi dalam belajar dan tidak dapat dipastikan ilmu tersebut mampu masuk ke hati.

Lain halnya ketika dalam menuntut ilmu, penuntut ilmu tersebut menganggap dirinya layaknya gelas kosong. Maka ia akan merasa selalu kurang dalam suatu ilmu, selalu ingin memperluas wawasan dan ilmu pengetahuannya. Sehingga sikap tersebut mampu mendorongnya untuk memiliki sifat rendah hati, yang senantiasa selalu menghargai setiap orang supaya ia mempu mendapatkan ilmu dan wawasan baru. Sebuah gelas kosong, ketika diisi air jernih maka akan terlihat jernih. Ketika diisi air susu ataupun kopi, ia pun akan dipenuhi susu ataupun kopi. Hal yang terpenting saat menjadi layaknya gelas kosong, ia mampu dituangkan ilmu apapun dan akan selalu dalam kebaikan jika ia tetap hati hati dalam apapun isi yang dituangkan dalam gelas tersebut. Penuntut ilmu yang merasa layaknya gelas kosong akan selalu semangat dalam belajar, sehingga ia akan membutuhkan waktu yang semakin penjang dalam memperluas pengetahuannya.

Seperti dalam suatu maqolah, bahwa salah satu di anata enam hal yang mampu membantu penuntut ilmu untuk mendapatkan keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah dengan belajar dalam waktu yang panjang. Artinya, ia merasa butuh waktu yang cukup lama lagi untuk lebih memahami suatu ilmu serta memperluas pengetahuannya. Dengan begitu, akan semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan ketika belajar untuk kemudian dijadikan sebagai bekal dalam kehidupan ke depannya.

Oleh karena itu, ketika ia merasa layaknya gelas kosong, dengan rasa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi, ia akan turut merasakan bahwa menuntut ilmu tak pernah lekang oleh waktu. Bersedia menuntut ilmu di manapun, kapanpun serta dengan siapapun untuk membantunya menjadi manusia yang lebih bersyukur dan selalu dalam kebaikan.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang .

Menghormati dan Memuliakan Guru Sendiri

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Setiap orang yang menuntut ilmu terutama belajar ilmu agama, pastilah mempunyai guru (Kyai). Guru memiliki peran vital yaitu memberikan bimbingan dan pengajaran terutama berkaitan dengan ilmu hikmah (agama) kepada murid-muridnya. Diharapkan murid-muridnya mampu memahami dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehinggadapat membawa manfaat dan keberkahan baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Begitu vitalnya peran guru bagi murid, menempatkan guru menjadi salah satu dari enam syarat yang harus dipenuhi dalam menuntut ilmu disamping memiliki kecerdasan, semangat, sabar, biaya, dan waktu yang lama. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid untuk senantiasa menghormati dan memuliakan gurunya tersebut.

Sebuah ilmu akan tetap eksis di bumi jika terdapat sekelompok orang yang berjiwa tangguh dan rela berkorban disertai dengan rasa ikhlas untuk terus mengkaji dan mengamalkan ilmu tersebut kepada umat. Guru menjadi jawaban atas pernyataan tersebut. Terlebih lagi jika berbicara dalam ranah ilmu agama, peran guru seperti para habaib dan Kyai yang menjadi garda terdepan dalam membimbing umat untuk senantiasa berada di jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah SWT. Mereka itulah penerus para nabi dalam akhir zaman ini. Mereka rela mengorbankan apa yang dimilikinya baik harta, jiwa, maupun waktunya hanya untuk meneruskan tugas mulia para nabi tersebut misalnya dengan membangun pondok pesantren, majelis taklim, masjid, dan sebagainya. Tidak ada kata pamrih dalam hati mereka. Perbuatan yang mereka kerjakan tersebut murni ikhlas karena Allah SWT dan ingin mendapat ridho-Nya, tanpa ada harapan untuk mendapat pujian dan penghargaan dari manusia lainnya.

Di dalam ajaran Islam, posisi akhlak itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada ilmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid harus memiliki sikap menghormati dan memuliakan guru. Terlebih lagi terhadap gurunya sendiri yang telah mengajar dan membimbingnya khususnya terkait ilmu agama, baik ketika mengaji di masjid, di madrasah, maupun di pondok pesantren. Sikap menghormati dan memuliakan guru ketika sedang menuntut ilmu dengan guru dapat diwujudkan dengan cara hadir ketika guru sedang mengajar, mendengarkan pengajaran dan nasehat dari guru dengan baik, tidak memotong pembicaraan guru, baik ketika pengajaran berlangsung, berbicara dengan sopan santun, dan sebagainya. Tetapi jika sudah tidak lagi belajar kepada gurunya tersebut, maka sikap menghormati dan  memuliakan guru dapat dilakukan dengan tetap sowan ke rumah guru, mengamalkan ilmu yang telah guru ajarkan, menjaga nama baik guru, selalu sedia jika gurunya membutuhkan bantuan, dan sebagainya.

Di zaman ini, banyak sekali murid yang mulai melupakan sosok gurunya. Mereka seolah-olah sudah lepas dari keterkaitan dengan gurunya karena tidak lagi belajar kepadanya. Ada murid yang pindah belajar ke guru yang lain tetapi tidak sowan terlebih dahulu kepada gurunya yang pertama. Padahal guru yang pertama lebih paham tentang karakter dan bagaimana kondisi muridnya ketika belajar sehingga guru akan mengarahkan dan memilihkan guru yang cocok bagi muridnya tersebut. Selain itu, beberapa murid juga rela datang jauh-jauh ke rumah habaib atau Kyai untuk sowan, bersilaturrohim, dan ngalap berkah tetapi jarang bahkan tidak pernah lagi sowan kepada gurunya sendiri. Sowan kepada habaib atau Kyai lainuntuk tujuan bersilaturrohim maupun belajar kepadanya memang sangat baik bahkan sangat dianjurkan untuk dilakukan. Tetapi murid harus juga tetap menyambung tali silaturrohimkepada guru sendiri karena merekalah yang mengajar dan membimbingnya sehingga menjadikannya cerdas dan mampu mahir dalam menguasai suatu bidang ilmu terutama ilmu agama.

Sikap menghormati dan memuliakan guru memang harus ditanamkan dan diterapkan oleh setiap murid. Kedua sikap tersebut sangat penting untuk dijadikan akhlak dalam menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan posisi akhlak lebih tinggi daripada ilmu. Sepintar apapun seorang murid tetapi jika memiliki sikap menghormati dan memuliakan gurunya yang rendah, maka tidak akan berguna ilmu tersebut serta tidak akan mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut. Begitupun sebaliknya, walaupun seorang murid lemah dalam memahami dan mengamalkan ilmu tetapi memiliki sikap menghormati dan memuliakan gurunya yang tinggi, maka akan semakin dipermudah dalam belajar serta akan mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut. Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, seorang murid harus mampu menyeimbangkan antara akhlak dalam diri serta kecerdasan dalam memahami dan mengamalkan ilmu tersebut. Dengan demikian, kesempurnaan dalam menuntut ilmu akan diperoleh dan disertai dengan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut yang akan dirasakan oleh dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. 

Hari Ini Milik Anda

Oleh : Amanatul Khomisah

Hari ini saat matahari menyinari bumi, dan siangnya yang menyinari dengan ceria. Inilah hari anda. Saat pagi hari telah datang jangan menunggu sore datang pula menjelang. Detik ini,pagi ini, hari ini dan saat ini adalah yang akan anda jalani, bukan hari lalu apalagi hari esok yang masih menjadi misteri.

Umur anda,tak ada yang mengetahui. Mungkin hari ini adalah hari terakhir anda.  Maka pada hari ini pula. Sebaiknya anda mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk lebih peduli,perhatian dan lebih bekerja keras. Pergunakan waktu anda dengan bijak. Tanamlah kebaikan sebanyak banyaknya pada hari ini. Tekadkan dengan sepenuh hati,untuk selalu mendekatkan diri dengan Sang Illahi Rabbi. Mempersembahkan ibadah yang indah nan khusu’, kecantikan akhlak dan keseimbangan dalam segala hal.

Tersenyumlah, jalani hari ini tanpa kesedihan, kemarahan, kegalauan, kedengkian, kegundahan dan kebencian. Percayalah pada diri sendiri,bahwa anda mampu menjalani dengan semangat dan tekad yang kuat. Sibukkanlah diri anda dengan prinsip bahwa ” anda hanya hidup hari ini”. Maka anda akan menyibukkan diri untuk selalu memperbaiki keadaan,mengembangkan bakat dan potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Katakan pada masa lalu ” wahai masa lalu aku tak menangisi kepergianmu,tenggelamlah kamu bersama mentari, dan berjanjilah untuk tak kembali, biarkan aku hidup hari ini untuk menuju masa depan datang.karena hari ini adalah milik aku pribadi ”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Tentang Rasa

Oleh : Alda Gemellina M

Semua orang di dunia terlahir dengan sejuta rasa yang dibawanya. Mungkin hanya sepersekian dari yang sejuta itu yang mampu manusia definisikan. Sisanya, tak dimengerti, namun nyata terasa. Believe or not, manusia adalah makhluk paling absurd yang diciptakan oleh Tuhan. Mengapa, karena manusia adalah satu–satunya yang bisa menunjukkan satu rasa dalam beragam ekspresi. Bayangkan jika ada jutaan rasa yang sedari lahir ada dalam diri, maka berapa bentuk ekspresi yang dapat ditunjukkan oleh setiap individu? Memikirkannya saja tak akan sanggup. Karena begitulah manusia dengan segala keunikannya. Menyoal perihal rasa, nampaknya memang tidak sesimpel itu. Rasa muncul dari proses kimiawi sebagai akibat dari salah satu kinerja otak. Mungkin karena itu seseorang sadar akan perasaannya akan tetapi tidak dapat mengontrol kapan dan bagaimana rasa itu akan muncul dalam ruang bernama ekspresi.

Rasa senang, sedih, benci, marah, rindu dan bahkan cinta merupakan segelintir rasa yang mampu didefinisikan oleh manusia. Itupun belum tentu juga. Sebab manusia tidak benar – benar tahu bagaimana bentuk rasa itu. Manusia hanya mendefinisikan berdasarkan apa yang diamatinya. Dan itu bergantung bagaimana cara seseorang men-delivery-kan perasaannya.  Ada beragam cara manusia dalam menyampaiakan atau menuangkan apa yang dirasa. Ada yang bercerita secara langsung kepada orang lain, dengan harap orang lain akan ikut mengerti apa yang dirasakan. Ada juga yang menggunakan media dalam mengutarakan perasaannya. Seperti remaja yang menyimpan buku diary di balik bantalnya, dan menguncinya dengan gembok berbentuk hati. Harap tidak ada orang lain yang membukanya. Atau para penyair yang menuangkan rasanya dalam sajak – sajak berirama yang sarat akan makna, juga para penyanyi yang men-delivery-kan rasa dalam setiap lirik lagu. Mereka berkomunikasi melalui melody yang mengalun merdu. Atau bahkan para film maker yang berusaha meneruskan rasa melalui skenario dan adegan para lakonnya di setiap scene film tersebut.

Terlepas dari bagaimana seseorang menunjukkan perasaannya, pada kenyataannya banyak juga yang memilih untuk memendam semua yang dirasakannya. Dan sebagian orang menganggap hal itu lebih baik daripada harus mengekspresikannya. Namun sekuat apapun seseorang menyimpan rasa seorang diri, akan ada masa dimana tubuh akhirnya memberi respon. Karena memang begitulah manusia diciptakan dengan banyak sensor – sensor impuls yang akan memberikan reaksi ketika sesuatu terjadi di dalam tubuh. Oleh karenanya, bagaimanapun seseorang menahan untuk tidak mengekpresikan perasaannya, tubuh dengan sendirinya akan menunjukkan hal tersbut. Mungkin dengan perilaku yang menjadi berbeda atau mungkin dengan air mata. meskipun air mata tidak hanya berkonotasi dengan situasi atau perasaan sedih. Karena seringkali seseorang menangis tanpa tahu pasti sebabnya.

Persoalan rasa tidak pernah bisa dianggap sepele. Tidak ada satu orang pun di dunia yang memiliki kadar rasa yang sama. Sama – sama bahagia misalnya. Maka bahagianya si A tidak akan pernah sama dengan bahagianya si B. Sekalipun dalam waktu yang bersamaan. Perihal rasa juga erat kaitannya dengan sensitivitas. Karena rasa bukanlah sesuatu yang dapat dimengerti oleh logika. Rasa merupakan unsur sensistivitas manusia. Tingkat sensitivitas antara satu orang dengan orang yang lain tidaklah sama. Mungkin bagi si A apa yang dirasakan si B adalah hal kecil, namun bisa jadi bagi si B itu merupakan sesuatu yang besar.  That’s why nobody can assuming whether someone is fine or not. Dan memang seharusnya tidak. Cause we never know what one is really feeling. Mungkin itulah mengapa Allah menciptakan manusia lengkap dengan rasa dan logika. Sebab dengannya manusia bisa memanusiakan manusia lainnya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Maafku Bahagiaku

Oleh : Fafi Masiroh

Kesempurnaan bukanlah milik dari manusia. Karena sejatinya manusia akan selalu diliputi kesalahan dan kekurangan. Entah kesalaham tersebut diperbuat kepara dirinya sendiri atau kepada orang lain. Perasaan menyesal, kecewa dan gelisah kerap kali dirasakan ketika mereka berbust kesalahan atau mungkin orang lain berbuat kesalahan kepada mereka. Hingga akhirnya perasaan tersebut akan mendorong manusia untuk saling membenci satu sama lain hanya karena sebuah kesalahan yang diakhiri dengan keegoisan. Memang begitulah adanya, manusia terlalu mudah memikirkan hal penting terksit diirinya sendiri, harga diri hingga kemudian merasa terpuruk dan sangat susah untuk mendapat kebahagiaan. Padahal kebahagiaan dapat dirasakan dengan sangat sederhana. Bagaimana tidak, karena sejatinya manusia penuh kesalahan maka memaafkan adalah langkah termudah untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Memaafkan semua kesalahan pada diri sendiri atau orang lain dan terus selalu mengingat bahwa salah benar itu relstif. Karena yang utama yaitu bagaimana kesalahan tersebut mampu mendewasakan dan memberi penerangan bahwa kesalahan bukan selamanya hal buruk. Ada banyak orang orang hebat di luar sana, yang kokoh dan kuat karena mereka mampu untuk memaafkan atas segala kesalahannya atau orang lain.

Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi muslim pun selalu mengingatkan umatnya untuk selalu memaafkan. Dalam berbagai kesempatan, beliau kerapkali bersabda bahwa memaafkan adalah salah satu hal yang dapat menjadi kunci untuk mendapatkan surga. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits “ Jika hari kiamat tiba terdengatlah suara panggilan Manakah orang orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya? Datanglah kamu kepada Tuhanmu dan terimalah pahala pahalahmu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahana orang lain untuk masuk surga”. (HR. Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas r.a). Maka dapat diketahui bahwa memaafkan memanglah hal penting yang perlu kita lakukan ketika mendapat suatu kesalahan baik dari diri kita sendiri atau orang lain. Dengan memaafkan maka kebahagiaan akan menghampiri kita, dan surga adalah kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Bahkan katena pentingnya memafkan, Allah swt berfirman Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf :199).

Memaafkan tidak hanya mampu memperbaiki masalah tetapi dengan memaafkan hati kita akan senantiasa lebih lapang dan tidak mudah menyimoan dendam. Rasulullah ketika beliau diolok olok dengan orang kafir, dilempati kotoran, beliau dengan senang hati memaafkan kesalahan mereka dan mendoakan mereka supaya selalu diberi keselamatan. Maka sudah sewajarnya bagi kita, sebagai umat Rasulullah saw untuk mengikuti suri tauladan beliau termasuk mudah untuk memaafkan. Memaafkan memang bukan perkara yang mudah, terkadang kita bilang sudah memaafkan tetapi hati masih dipenuhi amarah terlebih ketika mengingat ingat kesalahan. Oleh karena itu memulai dengan langkah langkah kecil akan lebih mudah untuk mendorong kita supaya tidak berat hati memaafkan kesalahan. Misalnya dengan senantiasa membiasakan, mengingat kebaikan orang yang berbuat kesalahan kepada kita, serta selalu mengingat pesan Allah dan Rasulullah saw bahwa memaafkan adalah hal mulia untuk selalu dilakukan.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

 

Terima Kasih Guruku

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Pagi itu hujan cukup deras di Simpang Teritip. Sang mentari saja masih bersembunyi. Ayam yang biasanya sudah berkokok, tetapi ikut tak bersuara pagi itu. Aldi yang mendengar suara petir, lantas langsung membuatnya terbangun dari tidur. Hendak langsung mandi, tetapi dingin sekali rasanya. Karena hari ini adalah hari yang spesial, maka ia paksakan untuk mandi. Aldi adalah ketua OSIS di salah satu sekolah menengah atas di simpang teritip. Aldi bergegas berangkat sekolah, sekitar 15 menit dari rumah.

Dari kejauhan tampak seorang anak mengendarai motor dengan jas hujannya menuju ke sekolah. Gadis cantik dengan bodi sedikit gemuk, ia adalah Ziana. Ziana adalah wakil ketua OSIS dari rekannya Aldi. Ziana tampak bersemangat untuk hari ini karena ia tahu, bahwa ini adalah hari guru. Ia dan Aldi sudah menyiapkan hadiah untuk para guru tercinta. Padahal mereka sempat mengalami masalah karena kebingungan tak bisa membuat tumpeng yang akan menjadi hadiah di hari itu. Tetapi mereka berhasil menemukan cara lain agar tumpeng itu tetap jadi. Ada seorang bibi dari Aldi dibalik jadinya tumpeng itu.

Karena hari hujan, acara awal yang tadinya akan upacara pun harus ditunda terlebih dahulu. Tak lama kemudian, ada mobil masuk dari gerbang. Aldi tahu bahwa itu adalah bibinya.

“Aldi, ini ambil tumpengnya” ucap Bibi kepada Aldi.

“Iyaa” ucap Aldi.

“Wahhh, terima kasih sekali Bibi sudah repot membuat tumpeng ini” sambung Aldi.

“Tidak apa, Bibi dulu juga pernah SMA dan tahu gimana susahnya jadi ketua OSIS” jawab Bibi.

Dibantu Ziana, Aldi membawa tumpeng itu ke depan kantor. Memang tak menjadi kejutan lagi bagi guru-guru karena mereka langsung melihat tumpeng itu.

“Bibi pulang yaa” ucapnya kepada Aldi sambil menuju mobil.

“Iyaa, sekali lagi terima kasih Bibi sudah mau bantu bikin tumpeng” jawab Aldi.

“Bibi senang bisa bantu kamu” balas Bibi sambil tersenyum.

(Aldi pun ikut tersenyum)

Hujan terlihat hampir reda, masih gerimis. Masih ada yang harus dikerjakan bagi ketua OSIS dan wakilnya itu, yaitu bunga yang nanti dikalungkan pada setiap guru, bukan hanya guru, tetapi setiap pegawai sekolah pasti dapat. Bunga itu dibuat oleh anak-anak OSIS yang dikoordinasi oleh ketuanya. Bunga-bunga itu kemudian dibawa ke depan kantor juga, tetapi tidak diperlihatkan dulu kepada guru-guru.

Aldi dan Ziana mengumpulkan anggotanya untuk diberi informasi mengenai bunga-bunga itu.

“Baiklah teman-teman, ini kita ada 50 bunga dan pastikan setiap guru dikalungkan, dan juga para pegawai sekolah.” ucap Aldi.

“Mereka semua sangat berjasa bagi sekolah ini. Tumpeng dan bunga ini bukan apa-apa dari ilmu yang mereka berikan kepada kita.” sambung Aldi.

“Harapan kita tentu para guru berkesan dengan apa yang kita berikan, meskipun pemberian kita sederhana” sambung Aldi kembali.

“Baik, Pak ketua” jawab anggota OSIS itu.

Setelah mengadakan rapat singkat, mereka semua kembali ke pos masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Hari sudah tidak hujan lagi, Aldi menginfokan dari mikrofon sekolah bahwa upacara akan segera dimulai. Setelah itu, ia mengajak teman-teman untuk berbaris seperti biasa.

Upacara kali ini terasa spesial karena yang menjadi petugas adalah guru-guru kami tercinta. Mereka kami ajak untuk bernostalgia dengan masa-masa SMA. Mereka juga sangat antusias dengan apa yang sudah dirancang oleh pengurus OSIS.

Upacara sudah berjalan 20 menit, tiba saatnya menyanyikan lagu wajib nasional.

“Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru,” para guru yang menjadi paduan suara bernyanyi.

“Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku,” ikut bernyanyi pelan salah satu siswa.

“Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku,” Ziana ikut bernyanyi pelan, sedikit mengeluarkan air matanya.

“Sebagai prasasti terima kasihku, tuk pengabdianmu,” Aldi pun ikut larut dalam nyanyian itu. Setelah selesai menyanyikan lagu wajib nasional, upacara kembali dilanjutkan sampai selesai. Setelah selesai, para guru dan pegawai berbaris di depan para siswa untuk dikalungkan bunga. Satu persatu guru dikalungkan bunga itu.

“Ini Pak, bunga buat Bapak, terima kasih sudah mengajarkan kami selama ini,” ucap Aldi sambil memeluk gurunya itu.

“Terima kasih juga sudah membuat acara ini, kamu dan anggotamu luar biasa.” Jawab Pak guru.

Setelah selesai pengalungan, giliran seluruh siswa yang bersalaman satu persatu kepada guru-guru hebat. Tak sedikit yang mengucurkan air mata mereka. Memang menjadi hari yang haru ketika itu. Disela-sela itu, anggota OSIS menyanyikan lagu “Guruku Tersayang”.

“Pagiku cerahku, matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak,” Febheolla memulai nyanyian.

“Selamat pagi semua, ku nantikan dirimu, di depan kelasmu, menantikan kami,” sambung anggota OSIS lainnya

“Guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu apa jadinya aku. Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal, guruku terima kasihku,” sambung Lola.

Suasana seketika berubah menjadi tawa dan masih dengan haru karena banyak sekali siswa yang menangis. Setelah acara salam-salaman dengan guru selesai, para guru langsung menyantap hidangan tumpeng yang sudah disiapkan para pengurus OSIS. Tumpeng buatan Bibi Aldi itu tak kalah enaknya dengan tumpeng-tumpeng di luar sana. Semua guru mengambil tumpeng. Karena masih ada sisa, para pengurus OSIS ikut merasakan tumpeng itu.

Aldi dan Ziana, serta anggota OSIS lainnya merasa bangga karena acara yang mereka rancang bisa berjalan dengan lancar. Kepala Sekolah sangat berterima kasih kepada seluruh pengurus OSIS karena sudah mengadakan acara ini untuk memperingati Hari Guru. Aldi mengatakan bahwa sudah seharusnya mereka sebagai siswa merayakan peringatan Hari Guru karena itu jarang terjadi.

“Gula itu yang membuat kopi menjadi manis, tetapi tak ada yang memujinya saat kopi itu manis, justru kopilah yang dipuji manis. Beda halnya saat kopi pahit, gula yang disalahkan karena kopi itu pahit.”

“Guru itu ibarat gula pada kopi. Orang tua akan bangga pada anaknya sendiri saat lulus, tetapi menyalahkan gurunya saat anak mereka terjatuh.”

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mereka akan tetap mengajar dan mendidik meskipun disalahkan dalam setiap situasi.”

“Para pakar berkata bahwa orang hebat bisa menghasilkan beberapa karya bermutu. Tetapi, guru yang bermutu dapat menghasilkan ribuan orang-orang hebat.”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Warung Diskusi Warga Dukuh Giri

oleh: Fafi Masiroh

Sudah beberapa bulan lamanya, hampir sekitar sembilan bulan tepatnya tak ada keramaian di warung kecil sebelah rumah Pak Sarwi. Warung itu sangat unik, berbeda dengan warung pada umumnya yang dikunjungi hanya untuk sekedar membeli makanan dan minuman, tetapi di warung ini setiap satu bulan sekali selalu dijadikan tempat kumpul warga sekitar. Baiknya, yang ikut kumpul bukan hanya bapak bapak saja, tetapi ada pemuda pemuda desa, Pak kades bahkan Gus Sholeh, salah satu orang alim yang sudah dikenal warga dengan kepiawainnya dalam belajar agama. Tentu hal demikian sangat sulit untuk diagendakan, tetapi kebiasaan ini sudah hampir menjadi tradisi di Dukuh Giri. Nah, malam ini adalah malam yang ditunggu. Setelah diterapkan new normal di masa pandemi ini, warga memutuskan untuk berkumpul di warung Pak Sarwi. Tentu bukan membahas hal yang berat, cukup bersantai, sambil bercerita perihal kehidupan sehari hari dengan ditemani secangkir kopi dan kacang rebus sudah sangat nikmat bagi para warga.

“Alhamdulillah, akhirnya aku ki bisa buka warung lagi. Sudah kangen warungku bertemu dengan orang orang baik seperti kalian ini”. Seru Pak Sarwi kepada bapak bapak yang mulai datang untuk turut meramaikan warungnya.

“Warungmu atau kau lah Sarwi yang kangen kita?” timpal Pak Beni yang dibetulkan oleh bapak bapak lainnya.

“Ngapain aku kangen kalian, ga ada kerjaan saja”. gurau Pak Sarwi yang disambut dengan gelagak tawa bapak bapak lainnya. Beberapa menit kemudian, di penghujung jalan terlihat Pak Kades bersama Gus Sholeh serta warga lainnya mulai datang menuju ke warung Pak Sarwi.

“Heh, itu Gus Sholeh sama Pak Kades sudah datang”. Seru salah satu bapak bapak yang kemudian segera ambil posisi terbaik untuk memberi ruang kepada bapak bapak lainnya.

“Assalamu’alaikum,” sapa Gus Sholeh bersamaan dengan Pak Kades serta warga yang turut serta membersamainya.

“Wa’alaikumsalam,” balas bapak bapak yang sudah ada di warung beberapa menit sebelumnya. Ketika Gus Sholeh dan Pak Kades datang bersama warga lainnya, warung semakin ramai, perbincangan pun semakin seru untuk saling bercerita mulai dari masalah istri, anak sampai masalah negeri. Semua dibahas dengan santai tanpa ada suasana diguru ataupun menggurui, semuanya sama sama mencoba belajar dari setiap hal yang mereka ceritakan. Di sela sela perbincangan yang hangat itu, beberapa kali semuanya tergelak tawa membuat warung Pak Sarwi terdengar semakin ramai.

“Loh pak, saya juga begitu rasanya itu damai melihat kalau orang islam itu ya rukun, ga saling mengumbar kebencian apalagi sama keturunan Rasulullah. Memang islam itu rahmatan lil alamin ya, saya pernah dengar itu Presiden Amerika kalau dipikir pikir namanya juga dari Bahasa Arab”. Ucap Pak Beni di sela sela perbincangan.

“Bentar, Presiden Amerika siapa to? Joe Biden? Donald Trump?” tanya salah satu bapak bapak.

“Bukan, itu loh Pak Obama. Itu kan namanya Barack Obama to, lah Barack itu kalo kita orang jawa ya manggilnya Barok, dari kata barakah dalam Bahasa Arab. Iya to?”. Jelas Pak Beni disambut gelagak tawa warga dengan penuh antusias.

“Bisa saja Pak Beni ini. Tapi benar, Pak Beni ini saya setuju. Islam itu memang rahmatan lil alamin, makanya sebaiknya kita itu harus selalu bersyukur, senang bisa menjadi muslim, umatnya Rasulullah saw. Jadi jangan terlalu lama lama merasa susah, sedih, karena menjadi muslim, umatnya Nabi Muhammad itu sudah sebuah kebahagiaan tiada tara”. Jelas Gus Sholah menambahkan.

“Iya gus, benar itu. Bagaimana tidak senang, saat Rasulullah dilahirkan itu Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk memberikan kabar gembira di langit dan di bumi. Jadi ya seperti yag dikatakan Gus Sholeh,  kalau kita itu harus selalu senang, karena lahir sebagai muslim dan umatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW”. tambah salah satu bapak lainnya.

“Allahumma sholli ‘alaih” sahut warga serentak.

Perbincangan di warung Pak Sarwi semakin terasa hangat, hingga tidak terasa perbincangan itu bahkan bisa berlangsung sampai empat atau lima jam lebih, dan akan berakhir ketika warga mulai berpamitan satu per satu. Kumpul bersama di warung kecil itu akan ditemui lagi di bulan berikutnya, tidak apa sebulan sekali tetapi bisa saling berkumpul dengan berbagi cerita dan kebahagian adalah salah satu cara terbaik bagi warga Dukuh Giri untuk selalu bersyukur ditambah menghilangkan penat setelah banyak beraktivitas.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.