AKEH MASALAH? (Kudu Tetep Semangat Masio Ora Ana Sing Nyemangati)

Dening: Siti Zakiyatul Fikriyah

Masalah, ing urip iki, mesthi akeh kedadeyan sing ora dikarepke lan uga ujian urip sing ora ana enteke. Kadhangkala awake rumangsani yen urip iku banget angele, mula nganti ora bisa ndeleng dalan sing bener. Banjur awake dhewe nganti jeleh ngemu “kena apa kabeh masalah iki isa kedadeyan? Kena apa masalah iki ora ana enteke?”

Rasa penasaran iku uga bakal terus murub kanthi macem-macem pikiran sing ora ana enteke. Mungguhe pengen pasrah ngalah, mungguhe duweni pangarep-arep sing bisa ana dalan agawe metu, lan mungguhe malah uga bisa ora duwe pengarep-arep. Kabeh sipate manungsa iku akeh meceme, ora mung siji sing padha kabeh sipate. Dadi, yen awake wis entuk wates sing ora bisa dimaklumi neng akal, aja nganti lali, sejatine Gusti ancen menehi masalah akeh kanggo manungsa. Nanging Gusti Allah ora bakal menehi masalah kangge makluke sing ngluwehi kemampuan makluke.

Banjur, ing ngendi awake bakal balikake kabeh “masalah” iku? Pancen, proses ndeleng lan ngatasi masalah lan cara mbalekake masalah saben manungsa iku beda-beda. Yen saben manungsa ana masalah, uga gelem bali menyang Gusti, wis ora bakal ana keraguan, mula ati bakal lega.

Akale manungsa sing winates asring bakal nemokake, yen religiusitas bakal nggampangake awake urip kanthi migunani. Yen nemoni kahanan urip sing nuwuhake ujian lan masalah, saliyane njajal kanggo ngatasi, awake bakal condhong balikake (tawakal) menyang Gusti Allah sing duwe kekuwatan.

Obate yen lagi ana masalah, tenangke ati lan aja gampang gupuhi. Masio masalah mesthi teka nganti ora mikir wektu, nanging sing bisa ngatasi masalah tetep awak dewe nira. Mula, masio ora ana sing nyemangati, awake ya kudu tetep semangat gawe ngadepi masalah. Lan masrahke marang Gusti. Sawise ngerti menyang ngendi awake bakal mbalekake masalah urip. Golek cara agawe ngatasi masalah nganti tenang atine iku solusi sing paling tepat, ora mung gupuh tanpa golek solusi.

Kepiye supaya tetep tenang utawa anteng lan ora gupuhi? Carane uga awake mung kudu ngelingi berkah sing diwenehake Gusti. Angin gratis iki minangka kesenengan sing ora bisa diukur. Awak sing waras iku berkah sing ora bisa diukur. Pikiran sing waras minangka uga kesenengan sing ora bisa diukur. Mula awake dhewe sing kudu sregep nyukurake marang Gusti Allah.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasan dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Menyikapi Bencana Alam dan Menjaga Hubungan dengan Allah di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh Muhammad Miftahul Umam

Dalam satu tahun terakhir ini, bangsa Indonesia menghadapi cobaan yang luar biasa. Pada awal Maret tahun 2020 lalu, bangsa Indonesia menghadapi pandemi virus corona (covid-19). Akibat dari adanya pandemi covid-19 tersebut, sebagian besar aspek dalam berbagai bidang kehidupan manusia mengalami perubahan. Dalam bidang pendidikan misalnya para siswa dirumahkan dalam artian kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring atau tidak bertatap muka secara langsung. Dalam bidang ekonomi misalnya banyak pekerja/buruh yang di PHK, hingga pembatasan aktivitas di ruang publik. Hingga saat ini, pandemi covid-19 telah mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dunia. Data sebaran Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan bahwa pertanggal 23 Januari 2021, telah terdapat 977.474 orang yang terkonfirmasi positif covid-19, 791.059 orang dinyatakan sembuh, dan 27.664 orang meninggal dunia.

Selain pandemi covid-19 yang masih belum berakhir hingga pergantian tahun saat ini, pada periode awal Januari 2021 saja bangsa Indonesia mengalami bencana alam yang luar biasa yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dilansir dari inews.id, dengan artikel yang berjudul “BNPB: 185 Bencana Alam Terjadi di Indonesia 1-21 Januari 2021”, menyebutkan bahwa pada tanggal 1 hingga 21 Januari 2021 saja, sudah terdapat 185 bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dari total 185 bencana alam tersebut, 127 diantaranya merupakan bencana alam banjir, 30 diantaranya tanah longsor, 21 diantaranya puting beliung, 5 diantaranya gelombang pasang, dan 2 diantaranya adalah gempa bumi.
Selain itu, pada hari sabtu, tanggal 9 Januari 2021 lalu, bangsa Indonesia harus kembali berduka karena terjadinya kecelakaan pesawat, yakni jatuhnya pesawat komersial Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu. Diduga tidak ada penumpang yang berhasil selamat dari peristiwa tersebut, mengingat badan pesawat dan tubuh penumpang yang ditemukan telah hancur dan menjadi serpihan-serpihan dan potongan-potongan. Dilansir dari kompas.com (10/1), dalam penerbangan tersebut, pesawat mengangkut 43 penumpang dewasa, 7 penumpang anak, 3 penumpang bayi, dan 12 kru pesawat.

Berbagai bencana yang terjadi tersebut tentunya membawa duka yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia. Di tengah pandemi covid-19 yang belum juga usai hingga saat ini, bahkan hampir memasuki usia satu tahun, berbagai bencana alam yang turut hadir diawal tahun 2021 menambah duka bagi bangsa Indonesia. Meski demikian, tentu kita tidak boleh putus asa dan harus terus berikhtiar dengan meminimalisasi dampak dari pandemi dan bencana alam yang telah terjadi, serta senantiasa berusaha menyelesaikannya.
Sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa segala sesuatu, baik dan buruk (dalam pandangan manusia) merupakan atas kehendak Allah SWT, sebagaimana bencana alam juga datang atas kehendak Allah. Meskipun bencana yang diturunkan oleh Allah SWT kepada manusia dapat berpotensi sebagai ujian atau pun azab, akan tetapi kita tidak boleh terburu menjustifikasi bahwa setiap bencana yang diturunkan kepada manusia merupakan azab dari Allah. Dalam salah satu kesempatan, KH. Ahmad Baha’udin Nursalim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha’ menjelaskan bahwa Allah memang memiliki kuasa untuk mengazab seseorang. Akan tetapi, azab itu sifatnya potensial dalam arti Allah mampu mengazab, tetapi tidak harus. Yang tahu bencana alam yang terjadi itu sebagai azab atau tidak hanyalah Allah SWT.

Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim kita jangan sampai melampaui batas kewenangan manusia dengan merasa lebih tahu daripada Allah SWT. Ketika terdapat bencana alam di suatu daerah tertentu misalnya, kita jangan terburu menjustifikasi bahwa itu adalah azab dari Allah dan menuduh orang-orang di daerah tersebut banyak melakukan dosa, kedzaliman. Kemusyrikan, dan sebagainya. Ketika berbicara tentang bencana alam maka kita hanya berbicara bahwa itu berpotensi sebagai azab saja, jangan sampai menjustifikasi bahwa itu benar-benar azab, karena hal tersebut adalah urusan Allah.
Ketika terjadi bencana alam, maka sikap kita sebagai seorang muslim adalah meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Segala sesuatu yang datang dari Allah pasti memiliki hikmah tersendiri. Oleh sebab itu, lebih baik kita mencoba menggali sisi-sisi hikmah dari sebuah peristiwa tersebut, melakukan intropeksi diri, dan meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah, karena bencana alam bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Intropeksi diri merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan melakukan intropeksi diri, maka akan membawa kepada pola pikir dan perilaku yang lebih rasional. Misalnya ketika terjadi banjir, mungkin karena kurang menjaga kebersihan lingkungan, sehingga dengan demikian akan menumbuhkan semangat kita untuk menantiasa menjaga lingkungan. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya soal agar tidak terjadi banjir semata, tetapi juga merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah karena hal tersebut termasuk salah satu menaati perintah Allah. Atau dengan adanya banjir kemudian menggugah hati orang lain untuk turut mengulurkan tangan untuk membantu satu sama lain.

Kaitannya dengan pandemi covid-19, jika kita rasakan memang sudah cukup lama, dan banyak dari kita menganggapnya sebagai cobaan atau ujian. Akan tetapi jika kita bandingkan dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sebelumnya, maka lama dari ujian yang berupa pandemi tidak seberapa. Gus Baha’ mencontohkan ujian yang dihadapi oleh nabi Ayyub ra, dimana setelah cukup lama menjalani masa ujian yang berupa penyakit, kemudian istrinya mulai mengeluh. Melihat hal tersebut kemudian nabi Ayyub bertanya kepada istrinya, “kamu sehat sudah berapa puluh tahun?”. Istrinya menjawab kurang lebih sudah 60 tahun. Nabi Ayyub bertanya lagi kepada istrinya, “kita sakit baru berapa tahun?”, Kemudian istrinya menjawab sudah 1 tahun. Nabi Ayyub kemudian berkata, “ya sudah, kamu harus ingat betapa Allah memberikan kesehatan itu jauh lebih lama daripada kita menghadapi penyakit”.

Gus Baha’ juga menjelaskan bahwa Allah menyuruh kita untuk selalu mengingat sisi-sisi nikmat daripada penderitaan, sebagaimana dalam firman Allah, “… Fadzkuruu aala allaahi la’allakum tuflihuun (QS. Al-A’raf:69)”, yang artinya “… maka ingatlah akan nikmat Allah agar kamu beruntung”. Dalam menjalin hubungan dengan Allah, kita harus senantiasa lebih mengingat sisi-sisi nikmat, bahwa ujian yang kita hadapi sekarang jauh lebih ringkas dibanding saat kita diberi kebaikan. Sejak dahulu, kita juga telah mengalami berbagai masalah dan kita selalu bisa melewatinya dengan baik. Hal tersebut karena tawakkal dan ikhtiar secukupnya. Ikhtiar dan tawakkal merupakan upaya agar iman kita tetap stabil, karena hubungan Allah dengan kita jauh lebih banyak memberi nikmat ketimbang ujian-ujian, seperti pandemi ini. Kita wajib berikhtiar, tapi tidak perlu cemas untuk menghadapi covid karena sebetulnya nikmat yang dikasih allah itu jauh lebih besar.
Wallaahu a’lam

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang .

Bencana di Awal Tahun 2021

Oleh : Mohammad Rizal Ardiansyah.

Di awal tahun 2021, Indonesia mengalami banyak sekali hal buruk. Di tengah Pandemi Covid-19 yang belum juga usai, Indonesia diterpa musibah dengan jatuhnya pesawat dari maskapai Sriwijaya Air. Sederet bencana alam juga terjadi di berbagai tempat yang menambah duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bencana meteorologi dan bencana geologi terjadi silih berganti di berbagi tempat di Indonesia.

Bencana geologi merupakan bencana yang terjadi murni karena faktor alam. Indonesia merupakan derah yang sangat memungkinkan untuk terjadinya bencana geologi. Hal tersebut karena Indonsia terletak pada pertemuan antara empat lempeng besar dunia. Indonesia juga terletak pada area Ring Of Fire atau Cincin Api Pasifik. Sehingga menadikan Indonesia sangat rawan untuk dilanda bencana geologi. Yang termasuk bencana geologi adalah gempa bumi dan gunung meletus. Kedua bencana tersebut terjadi silih berganti di berbagai tempat barau – baru ini.

Gempa bumi dan gunung meletus merupakan dua bencana yang berkaitan. Karena disebabkan oleh faktor yang sama, yaitu aktivitas magma di dalam perut bumi. Aktivitas magma akibat gaya konveksi menyebabkan pergerakan lempeng yang dapat menimbulkan gempa bumi. Sementara gunung meletus dapat terjadi jika magma naik ke permukaan bumi melalui rekahan pada kerak bumi.

Bencana meteorologi juga terjadi silih berganti di berbagai tempat pada beberapa waktu belakangan ini. Bencana meteorologi contohnya adalah banjir dan tanah longsor. Kedua bencana tersebut tidak murni disebabkan oleh faktor alam. Faktor manusia juga menjadi penentu utama terjadinya kedua bencana tersebut.

Bencana banjir dan tanah longsor biasanya terjadi pada saat terjadi hujan deras. Namun belakangan ini, Indonesia jarang sekali dilanda hujan deras. Hujan melanda berbagai tempat hampir setiap hari. Tidak dengan intensitas yang tinggi, melainkan dengan intensitas rendah hingga sedang. Peristiwa tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah ancaman yang serius. Tetapi kenyataanya bencana banjir dan tanah longsor mengancam berbagai tempat.

Mitigasi bencana yang baik diperlukan untuk mencegah bencana banjir dan tanah longsor tidak terus berulang tiap tahunnya. Kurangnya manajemen bencana yang baik menjadi faktor utama bencana banjir dan tanah longsor terjadi terus menerus setiap tahunnya. evaluasi pasca bencana juga diperlukan. Mengingat bencana meteorologi khususnya banjir terjadi di tempat yang sama setiap tahunnya.

Kepedulian sangat diperlukan dari semua pihak terkait bencana yang terus terjadi. Masyarakat juga harus turut andil didalamnya. Kepedulian dari masyarakat untuk menjaga lingkungan diperlukan. Sehingga lingkungan tetap lestari dan ancaman bencana dapat dikurangi. Pemerintah dan lembaga terkait juga perlu melaksanakan manajemen bencana yang baik. Infrastruktur pencegahan bencana haruslah menjadi perhatian utama untuk dapat mengurangi resiko bencana yang terus terjadi hingga menjadi bencana musiman.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 

Satu Semester Kuliah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Waktu pertama kali Aku “writing camp” di Pesantren Riset Al-Muhtada, kala itu Aku menuliskan pengalaman di hari pertama kuliah. Di hari sebelum perkuliahan pertama di mulai, saat itu tengah meriah-meriahnya untuk menyambut kedatangan mahasiswa baru. Tetapi, bukan seperti yang diharapkan. Justru kami mahasiswa baru harus rela dengan sistem perkuliahan daring. Kami telah melewatkan euforia penyambutan mahasiswa baru secara langsung, bukansecara online. Tetapi, diadakannya secara online pun kami masih menikmati.

Kali ini Aku akan bercerita sedikit tentang pengalaman di satu semester perkuliahan. Anggap saja ini menjadi curahan hati seorang mahasiswa baru. Anggap saja ini sebuah coretan kecil, coretan ini nanti bisa menjadi bahan bacaan bagi mereka yang akan masuk ke perguruan tinggi dan akan merasakan hal yang sama seperti kami saat ini.

Hari demi hari, tugas demi tugas, uts, uas, kuota, listrik, zoom, google meet, laptop, dan yang paling dekat adalah elena, itu semua telah kami lalui bersama di satu semester ini. Aku tak begitu tahu apa yang teman-temanku rasakan di satu semester kuliah ini karena pendapatnya pasti berbeda-beda. Ada yang senang, ada juga yang biasa-biasa saja. Banyak juga dari mahasiswa yang masih terkendala oleh sinyal, listrik mati, dan lainnya.

Aku sadar betapa sulitnya proses belajar di masa yang serba online seperti sekarang ini, tidak mudah untuk memahami apa yang disampaikan oleh dosen. Bukan hanya Aku yang beranggapan seperti itu, teman-teman juga sepemikiran denganku. Memang tak bisa dipaksakan untuk kuliah secara luring karena akan sangat berisiko. Padahal, kuliah luring lah yang harusnya kami dapatkan. Sekali lagi, keadaan yang tak mengizinkan semua berjalan normal, jauh berbeda dari biasanya.

Tentu bukan hanya kami yang merasakan sulitnya pembelajaran di masa pandemi, ada adik-adik yang masih Paud, TK, SD, SMP, dan juga SMA. Mereka semua merasakan hal yang sama dengan kami saat ini. Tetapi apa boleh buat? Memang begini adanya. Kita hanya perlu menjalankan apa yang ada.

Belum lama ini perkuliahan di semester pertama telah berakhir, nilai pun telah keluar. Aku sangat bersyukur dengan nilai yang ku dapat, berapa pun nilainya.

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” HR. Ahmad.

Pada dasarnya dalam mengharapkan sesuatu itu harus didasari dengan ikhtiar dan doa. Keduanya haruslah seimbang. Aku pernah mendengar bahwa usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa ikhtiar itu sama saja bohong.

Dari semua nilai yang didapat, pastinya ada yang harus aku tingkatkan lagi di semester kedua nanti. Dan yang pasti saat perkuliah telah usai, harus ada libur semester untuk mengembalikan lagi tenaga yang terkuras selama satu semester ini. Aku juga harus pandai-pandai melatih konsentrasi karena pada semester pertama yang paling menyulitkan adalah membuat diri sendiri berkonsentrasi.

Kabar yang terdengar bahwa semester kedua pun akan kembali daring. Ini tentu akan membuat kami semakin terbiasa dengan sistem daring. Tetapi, saat semua sudah normal dan akan kembali luring, itu membuat kami harus beradaptasi lagi dengan semuanya. Tentu harus dipersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.

Ini hanya sedikit cerita dari banyaknya cerita di luar sana oleh semua mahasiswa baru. Dan cerita ini akan terus berlanjut hingga lulus nanti.

“Bermimpilah lebih besar, bekerja keraslah untuk menggapai mimpi itu, dan tetaplah rendah hati”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasan dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Ucapan tak Sesuai Perilaku

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Sering kita ketahui di sekitar kita, seperti halnya orang yang menasihati kepada orang lain, atau lebih familiarnya ketika orang tua menasihati anaknya. Mungkin hal itu suatu yang wajar bagi kita, karena memang hak orang tua adalah menasihati anaknya. Apakah kita akan melawan atau marah kepada orang tua kita? Sedangkan apa yang kita lakukan memang seharusnya ditegur. Mungkin dari diri kita hanya diam dan menggerutu dalam hati. Beda halnya jika orang lain yang menegur. Apa yang akan terjadi pada diri kita?

Hal ini lebih sering terjadi pada anak pesantren, dimana yang didalamnya terdapat santri dengan paut umur yang berbeda-beda. Sering terjadi ketika senior atau yang dikenal lebih lama tinggal di pesantren, ketika mereka sedang menasihati seorang santri baru, dan dimana santri baru tersebut malah berani membantah hingga terjadi bantah-membantah. Disitulah yang harus kita ketahui, mengapa terjadi hal seperti itu?

Sadar atau tidak sadar, kita yang beranjak semakin dewasa pasti berfikir untuk bisa menasihati adik-adik dibawah kita tanpa melihat apakah diri kita sudah pantas untuk menasihati mereka? Walaupun tidak semua nasihat itu harus kita lakukan terlebih dahulu. Jika nasihat tersebut memang baik dan harus disampaikan, maka sampaikan dengan baik.

Namun di dalam hal ini, yang dipermasalahkan adalah sebuah nasihat yang kecil namun bermanfaat. Seperti contoh, kita menasihati agar adik-adik rajin dalam melaksanakan sholat berjamaah dan mengaji, atau tidak kita menasihati adik-adik agar mengikuti peraturan yang telah ditetapkan dan tidak membangkang pengurus pesantren. Sedangkan pada diri kita, melaksanakan sholat pun ditunda-tunda, mengaji pun menjadi urusan akhir, dan lebihnya para senior berani membantah pengurus. Lantas, apakah santri baru akan mengikuti dan melakukan apa yang telah kita nasihat? Pastinya hanya sebagian, selebihnya mereka pun membantah, karena mereka juga dapat perfikir. Yang ada dalam fikiran mereka adalah “orang mbak itu aja seperti itu, kita kan ngikut mbak-mbaknya”. Dan itulah yang menyebabkan mereka berani membantah, atau tidak mereka diam namun tak menuruti apa nasihat kita.

Dari hal ini, cobalah kita menyadari diri kita sendiri sebelum kita menasihati orang lain, atau setidaknya kita mencoba merubah diri lebih baik, agar orang yang kita nasihati dapat mengambil hikmah atau mencontoh apa yang ada pada diri kita.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. 

Bumiku Basah

oleh : Alda Gemellina

Bagai sejoli tak lagi satu
Urai tangis dalam sendu
Mengapa yang demikian terjadi?
Indah rasa tak lagi dimengerti
Ketika semuanya menjadi kelabu
Untuk bersatu tak akan padu

Bagaimana tidak basah
Ada tangis dalam tawa
Sebab tertusuk dalam peluk
Ada sampah dalam sumpah
Hadir dalam wujud kesuma

Bumiku basah..
Bukan hujan sebabnya
Ia basah namun tak menetes
Ia basah sebab ulah mereka
Yang punya rasa dan logika

Bumiku basah…
Basah sebab tangis kehilangan
Basah sebab rintih kelaparan
Basah sebab peluh yang berjatuhan
Basah sebab derita yang tak kunjung mereda

Bersama mentari yang bersinar
Harap esok kembali cerah

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. 

Menuntut Ilmu Tak Lekang Waktu

Oleh: Fafi Masiroh

Mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu adalah salah satu kenikmatan yang harus selalu disyukuri. Kegiatan dalam menuntut ilmu sudah barang tentu akan memberikan berbagai kebaikan bagi penuntut ilmu. Orang yang dulunya belum bisa membaca al quran, ketika ia menuntut ilmu maka seiring berjalannya waktu ia bisa membaca Al Quran, bahkan mampu memahami kandungan pada ayat ayat Al Quran untuk diimplikasikan dalam kehidupan kesehariannya. Orang yang belajar kesehatan kelak ia akan mengetahui apa apa yang belum ia ketahui, memberikan bantuan ketika teman sakit. Kesempatan menutut ilmu adalah salah satu kesempatan langka terlebih bagi orang orang yang barang kali sudah terlalu sibuk perkara harta dan tahta.

Dalam menuntut ilmu, terdapat suatu ungkapan yang sudah cukup terkenal yaitu, “Jika belajar, selalulah menjadi layaknya gelas kosong yang tak pernah penuh”. Ungkapan tersebut kerap kali diartikan bahwa sebagai penuntut ilmu ketika sedang belajar, sebaiknya selalu merasa bahwa ia layaknya gelas kosong yang selalu bersedia diisi air. Bahwa ketika belajar harus selalu disertai rasa haus terhadap ilmu, keinginan untuk selalu belajar, menambah berbagai wawasan baru serta memperluas pengetahuan. Ketika penuntut ilmu layaknya gelas yang sudah terisi penuh, maka ia akan merasa bahwa ilmunya sudah cukup, tidak memerlukan ilmu baru lainnya. Sehingga hal tersebut mampu mendorongnya untuk menjadi orang yang angkuh, yang sombong, yang enggan memiliki semangat tinggi dalam belajar dan tidak dapat dipastikan ilmu tersebut mampu masuk ke hati.

Lain halnya ketika dalam menuntut ilmu, penuntut ilmu tersebut menganggap dirinya layaknya gelas kosong. Maka ia akan merasa selalu kurang dalam suatu ilmu, selalu ingin memperluas wawasan dan ilmu pengetahuannya. Sehingga sikap tersebut mampu mendorongnya untuk memiliki sifat rendah hati, yang senantiasa selalu menghargai setiap orang supaya ia mempu mendapatkan ilmu dan wawasan baru. Sebuah gelas kosong, ketika diisi air jernih maka akan terlihat jernih. Ketika diisi air susu ataupun kopi, ia pun akan dipenuhi susu ataupun kopi. Hal yang terpenting saat menjadi layaknya gelas kosong, ia mampu dituangkan ilmu apapun dan akan selalu dalam kebaikan jika ia tetap hati hati dalam apapun isi yang dituangkan dalam gelas tersebut. Penuntut ilmu yang merasa layaknya gelas kosong akan selalu semangat dalam belajar, sehingga ia akan membutuhkan waktu yang semakin penjang dalam memperluas pengetahuannya.

Seperti dalam suatu maqolah, bahwa salah satu di anata enam hal yang mampu membantu penuntut ilmu untuk mendapatkan keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah dengan belajar dalam waktu yang panjang. Artinya, ia merasa butuh waktu yang cukup lama lagi untuk lebih memahami suatu ilmu serta memperluas pengetahuannya. Dengan begitu, akan semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan ketika belajar untuk kemudian dijadikan sebagai bekal dalam kehidupan ke depannya.

Oleh karena itu, ketika ia merasa layaknya gelas kosong, dengan rasa semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi, ia akan turut merasakan bahwa menuntut ilmu tak pernah lekang oleh waktu. Bersedia menuntut ilmu di manapun, kapanpun serta dengan siapapun untuk membantunya menjadi manusia yang lebih bersyukur dan selalu dalam kebaikan.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang .

Menghormati dan Memuliakan Guru Sendiri

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Setiap orang yang menuntut ilmu terutama belajar ilmu agama, pastilah mempunyai guru (Kyai). Guru memiliki peran vital yaitu memberikan bimbingan dan pengajaran terutama berkaitan dengan ilmu hikmah (agama) kepada murid-muridnya. Diharapkan murid-muridnya mampu memahami dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehinggadapat membawa manfaat dan keberkahan baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Begitu vitalnya peran guru bagi murid, menempatkan guru menjadi salah satu dari enam syarat yang harus dipenuhi dalam menuntut ilmu disamping memiliki kecerdasan, semangat, sabar, biaya, dan waktu yang lama. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid untuk senantiasa menghormati dan memuliakan gurunya tersebut.

Sebuah ilmu akan tetap eksis di bumi jika terdapat sekelompok orang yang berjiwa tangguh dan rela berkorban disertai dengan rasa ikhlas untuk terus mengkaji dan mengamalkan ilmu tersebut kepada umat. Guru menjadi jawaban atas pernyataan tersebut. Terlebih lagi jika berbicara dalam ranah ilmu agama, peran guru seperti para habaib dan Kyai yang menjadi garda terdepan dalam membimbing umat untuk senantiasa berada di jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah SWT. Mereka itulah penerus para nabi dalam akhir zaman ini. Mereka rela mengorbankan apa yang dimilikinya baik harta, jiwa, maupun waktunya hanya untuk meneruskan tugas mulia para nabi tersebut misalnya dengan membangun pondok pesantren, majelis taklim, masjid, dan sebagainya. Tidak ada kata pamrih dalam hati mereka. Perbuatan yang mereka kerjakan tersebut murni ikhlas karena Allah SWT dan ingin mendapat ridho-Nya, tanpa ada harapan untuk mendapat pujian dan penghargaan dari manusia lainnya.

Di dalam ajaran Islam, posisi akhlak itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada ilmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid harus memiliki sikap menghormati dan memuliakan guru. Terlebih lagi terhadap gurunya sendiri yang telah mengajar dan membimbingnya khususnya terkait ilmu agama, baik ketika mengaji di masjid, di madrasah, maupun di pondok pesantren. Sikap menghormati dan memuliakan guru ketika sedang menuntut ilmu dengan guru dapat diwujudkan dengan cara hadir ketika guru sedang mengajar, mendengarkan pengajaran dan nasehat dari guru dengan baik, tidak memotong pembicaraan guru, baik ketika pengajaran berlangsung, berbicara dengan sopan santun, dan sebagainya. Tetapi jika sudah tidak lagi belajar kepada gurunya tersebut, maka sikap menghormati dan  memuliakan guru dapat dilakukan dengan tetap sowan ke rumah guru, mengamalkan ilmu yang telah guru ajarkan, menjaga nama baik guru, selalu sedia jika gurunya membutuhkan bantuan, dan sebagainya.

Di zaman ini, banyak sekali murid yang mulai melupakan sosok gurunya. Mereka seolah-olah sudah lepas dari keterkaitan dengan gurunya karena tidak lagi belajar kepadanya. Ada murid yang pindah belajar ke guru yang lain tetapi tidak sowan terlebih dahulu kepada gurunya yang pertama. Padahal guru yang pertama lebih paham tentang karakter dan bagaimana kondisi muridnya ketika belajar sehingga guru akan mengarahkan dan memilihkan guru yang cocok bagi muridnya tersebut. Selain itu, beberapa murid juga rela datang jauh-jauh ke rumah habaib atau Kyai untuk sowan, bersilaturrohim, dan ngalap berkah tetapi jarang bahkan tidak pernah lagi sowan kepada gurunya sendiri. Sowan kepada habaib atau Kyai lainuntuk tujuan bersilaturrohim maupun belajar kepadanya memang sangat baik bahkan sangat dianjurkan untuk dilakukan. Tetapi murid harus juga tetap menyambung tali silaturrohimkepada guru sendiri karena merekalah yang mengajar dan membimbingnya sehingga menjadikannya cerdas dan mampu mahir dalam menguasai suatu bidang ilmu terutama ilmu agama.

Sikap menghormati dan memuliakan guru memang harus ditanamkan dan diterapkan oleh setiap murid. Kedua sikap tersebut sangat penting untuk dijadikan akhlak dalam menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan posisi akhlak lebih tinggi daripada ilmu. Sepintar apapun seorang murid tetapi jika memiliki sikap menghormati dan memuliakan gurunya yang rendah, maka tidak akan berguna ilmu tersebut serta tidak akan mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut. Begitupun sebaliknya, walaupun seorang murid lemah dalam memahami dan mengamalkan ilmu tetapi memiliki sikap menghormati dan memuliakan gurunya yang tinggi, maka akan semakin dipermudah dalam belajar serta akan mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut. Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, seorang murid harus mampu menyeimbangkan antara akhlak dalam diri serta kecerdasan dalam memahami dan mengamalkan ilmu tersebut. Dengan demikian, kesempurnaan dalam menuntut ilmu akan diperoleh dan disertai dengan manfaat dan barokah dari ilmu tersebut yang akan dirasakan oleh dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. 

Hari Ini Milik Anda

Oleh : Amanatul Khomisah

Hari ini saat matahari menyinari bumi, dan siangnya yang menyinari dengan ceria. Inilah hari anda. Saat pagi hari telah datang jangan menunggu sore datang pula menjelang. Detik ini,pagi ini, hari ini dan saat ini adalah yang akan anda jalani, bukan hari lalu apalagi hari esok yang masih menjadi misteri.

Umur anda,tak ada yang mengetahui. Mungkin hari ini adalah hari terakhir anda.  Maka pada hari ini pula. Sebaiknya anda mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk lebih peduli,perhatian dan lebih bekerja keras. Pergunakan waktu anda dengan bijak. Tanamlah kebaikan sebanyak banyaknya pada hari ini. Tekadkan dengan sepenuh hati,untuk selalu mendekatkan diri dengan Sang Illahi Rabbi. Mempersembahkan ibadah yang indah nan khusu’, kecantikan akhlak dan keseimbangan dalam segala hal.

Tersenyumlah, jalani hari ini tanpa kesedihan, kemarahan, kegalauan, kedengkian, kegundahan dan kebencian. Percayalah pada diri sendiri,bahwa anda mampu menjalani dengan semangat dan tekad yang kuat. Sibukkanlah diri anda dengan prinsip bahwa ” anda hanya hidup hari ini”. Maka anda akan menyibukkan diri untuk selalu memperbaiki keadaan,mengembangkan bakat dan potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Katakan pada masa lalu ” wahai masa lalu aku tak menangisi kepergianmu,tenggelamlah kamu bersama mentari, dan berjanjilah untuk tak kembali, biarkan aku hidup hari ini untuk menuju masa depan datang.karena hari ini adalah milik aku pribadi ”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.