Kisah Terkenal Imam Amudi, Guru yang Mengajarkan Matematika pada Malaikat – Pesantren Riset Al-Muhtada

Ilustrasi Tokoh Matematika (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Siapa yang mengira belajar matematika tidak ada kaitannya dengan agama?

Ternyata belajar atau menekuni bidang ilmu dunia justru tidak menjauhkan dari agama, melainkan semakin bertakwa kepada Allah Swt.

Hal itu ditunjukkan dari luar biasanya kisah seorang Imam Amudi. Selain ahli dalam fiqh, beliau lebih sering menggunakan waktunya untuk mengajarkan matematika kepada muridnya.

Suatu ketika murid dari Imam Amudi meragukan nasib dari gurunya, ia bertanya-tanya apakah nantinya Imam Amudi akan di surga karena semasa hidupnya banyak digunakan hanya untuk mengajarkan ilmu dunia.

Muridnya pun dimimpikan tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Dalam mimpinya, Allah memanggil Imam Amudi di hadapan para malaikat dan diperintahkan untuk mengajarkan ilmu matematika kepada malaikat.

Baca Juga:  Jangan tidur lalu bermimpi tentang sukses. Carilah di waktu Fajar!”

Allah memerintahkan kepada malaikat, “Wahai para Malaikat! Dengarkanlah hamba-Ku (Imam Amudi) berbicara, ia bisa menunjukkan segala sesuatu di alam semesta ini berasal dari Dzat-Ku yang satu atau “Wahidul Qohhar.”

Imam Amudi pun berkata, “Hai para malaikat, kalian harus mempelajari matematika.” Malaikat pun terdiam karena merasa asing dengan matematika.

Beliau melanjutkan, “Nisbatus naini wa tsalatsah wa arbaah ila ma nihayata laha far’ul wahid.”

Artinya: Penisbatan angka dua, tiga, empat sampai seterusnya adalah cabang dari satu (yaitu Allah SWT).

Angka 2 merupakan hasil dari penjumlahan angka satu dengan satu, begitupun angka tiga yang merupakan hasil penjumlahan angka satu sebanyak tiga kali.

Jadi, sebesar apa pun angka atau bilangan itu, sumbernya atau asalnya adalah angka satu. Itulah cara menunjukkan Allah Swt. itu Yang Maha Esa sebagai sumber dari apa pun yang selain Allah.

Kisah Imam Amudi diatas menunjukkan bahwa mempelajari ilmu umum dengan tekun akan membuat akidah kita semakin kuat. Kita akan makin sadar dengan kekuasaan dan kebesaran Allah Swt dengan akal logika kita.

Sesungguhnya, agama Islam merupakan agama yang mudah, terutama dalam menerima apa-apa yang di dalamnya karena tauhidnya dibangun dengan akal manusia. [Syukron Ma’mun]

Editor: Raffi Wizdaan Albari

Related Posts

Latest Post