Mengapa yang Paling Dicintai, Justru Yang Paling Diuji?

Ilustrasi gambar seorang hamba yang sedang diuji (Pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Pernahkah kita diam sejenak lalu bertanya dalam hati, kenapa ujian hidup justru datang pada hal yang paling kita jaga? Pada mimpi yang paling kita perjuangkan, keluarga yang paling kita sayangi, atau harga diri yang paling kita pertahankan. Seolah-olah hidup tahu di mana letak titik paling rapuh dalam diri kita. Hal yang dijaga paling ketat, yang paling dibanggakan, dan yang dicintai habis-habisan, justru menjadi sumber ujian terberat.

Padahal kalau dipikir-pikir, Allah Swt. tidak mungkin menguji kita lewat sesuatu yang bahkan tidak kita pedulikan. Tidak ada makna kehilangan pada sesuatu yang memang tidak dicintai. Karena itu, ujian terbesar selalu menyentuh apa yang paling dekat dengan hati. Bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk bertanya secara halus kepada hamba-Nya, “Siapa yang sebenarnya paling kamu cinta? Aku atau pemberian-Ku?”

Sering kali kita mengaku mencintai Allah Swt., tetapi hati kita diam-diam terlalu bergantung pada dunia. Kita merasa aman karena harta, bangga karena pencapaian, tenang karena manusia tertentu, lalu tanpa sadar menaruh semuanya di posisi yang terlalu tinggi dalam hati. Maka ketika sesuatu itu diguncang, hati kita ikut runtuh. Dari situlah Allah Swt. memperlihatkan bahwa ada cinta yang mungkin sudah melampaui batas.

Kisah Maryam dalam Q.S. Maryam ayat 17 menjadi pelajaran yang dapat kita jadikan sebagai contoh tentang hal ini. Maryam dikenal sebagai wanita suci yang menjaga kehormatan dirinya dengan luar biasa. Ia memilih menjauh dari keramaian demi menjaga kesucian dan kedekatannya kepada Allah Swt. Kehormatan adalah hal paling berharga dalam hidupnya. Namun justru pada titik itulah ujian datang.

Baca Juga:  Ingin Berwibawa Seperti Rasulullah? Ini 5 Sikap yang Bisa Kamu Teladani

Allah Swt. menetapkan Maryam mengandung tanpa seorang suami. Bayangkan betapa berat ujian itu bagi seorang perempuan yang hidupnya dipenuhi penjagaan diri dan kehormatan. Reputasinya dipertaruhkan. Pandangan manusia kepadanya bisa hancur seketika. Fitnah akan datang dari segala arah. Bahkan logika manusia mana pun pasti akan merasa takut menghadapi keadaan seperti itu.

Tetapi di situlah letak cinta yang sebenarnya diuji. Apakah Maryam lebih mencintai penilaian manusia, atau lebih mencintai Allah Swt.? Apakah ia akan mempertahankan citranya di depan manusia, atau tetap taat pada ketetapan Allah meskipun harus menanggung rasa malu?

Dan Maryam memilih Allah Swt. Beliau tetap taat meski tahu tidak semua orang akan memahami dirinya. Ia menerima ketetapan Allah Swt. dengan hati yang tunduk, walaupun air mata, kesepian, dan fitnah mungkin menemani langkahnya. Dari kisah itu kita belajar bahwa ujian bukan selalu tanda kebencian Allah Swt. Bisa jadi justru itu tanda bahwa Allah Swt. sedang membersihkan hati kita dari cinta-cinta yang berlebihan pada dunia.

Terkadang Allah Swt. mengambil sementara apa yang kita cintai agar kita sadar bahwa semua itu hanyalah titipan. Terkadang Allah Swt. mengguncang apa yang paling kita banggakan agar kita kembali bersandar hanya kepada-Nya. Sebab pada akhirnya, yang paling diuji memang sering kali adalah yang paling dicintai. Dan melalui ujian itu, Allah Swt. sedang mengajarkan bahwa cinta tertinggi seharusnya hanya untuk-Nya. [] Aisyatul Latifah

Baca Juga:  Kenapa Harus Sama yang Taat?

Related Posts

Latest Post