almuhtada.org – Pernahkah diri kita selama ini merenung kenapa hati terasa berat setiap kali kita membanggakan diri sendiri?
Mengapa setiap kesombongan yang tumbuh di dalam dada manusia, pasti selalu berakhir dengan luka?, karena ada hukum tetap yang Allah Swt. tetapkan di dalam kehidupan dunia ini yaitu siapa yang menyombongkan diri pasti akan dihinakan.
Dan menariknya, hal ini tidak hanya kita baca di dalam Kitab Suci Al-Quran saja, akan tetapi juga dapat kita saksikan dalam hidup sehari-hari. Karena setiap kesombongan yang mungkin kita pelihara diam-diam akan menagih balasannya, penasaran?. Yuk simak penjelasan selengkapnya berikut ini:
Jejak Iblis, Kesombongan Pertama dalam Sejarah
Ketika kita membaca kisah iblis di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Sad ayat ke-76 yang artinya:
Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.
Dari ayat diatas bukan hanya sekadar cerita masa lalu semata. Akan tetapi itu merupakan cermin yang memantulkan sisi gelap dari diri kita masing-masing.
Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam As. bukan karena tidak paham perintah dari Allah Swt. Akan tetapi karena hatinya telah dikuasai oleh satu bisikan yang sering juga kadang ada di dada kita.
Yaitu Kesombongan perkataan yang mungkin itu tampak kecil dan juga sepele, akan tetapi seperti api kecil yang menyulut di tengah hutan kering, dimana ia membakar seluruh masa depan iblis.
Dan ketika kesombongan menang, maka kehinaan akan datang kepada pelakunya. Hal itu merupakan ajaran pertama bagi seluruh umat manusia bahwa kesombongan adalah jurang yang pasti memakan korbannya.
Contoh sederhananya bukankah kadang diri kita pun pernah merasa lebih pintar dari teman sekelas?, ataukah kita bahkan merasa lebih hebat dari junior di dalam suatu organisasi?
Sebab sejatinya kesombongan tidak selalu menuntut kita untuk berteriak keras. Kadang hanya berupa berbisik halus di dalam hati kita, yaitu “Kamu lebih dari mereka.” Yuk simak penjelasannya:
Kisah Fir’aun, Qarun, dan Bani Israil: Nama-Nama Besar yang Berakhir Kecil
Perlu kita ketahui bahwa kesombongan merupakan penyakit lama yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seperti, Fir’aun yang sombong dengan takhta dan juga kekuasaannya. Sebagaimana Firman Allah Swt. di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Qashash ayat ke-38 yang artinya:
“Dan Fir‘aun berkata: ‘Wahai para pembesar! Aku tidak mengetahui ada tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah untukku, wahai Haman, tanah liat lalu buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa. Tetapi sungguh, aku benar-benar mengira dia termasuk orang-orang pendusta.’”
Kemudian Qarun yang sombong dengan harta yang melimpah-limpah sampai melebihi batas kemampuan manusia biasa untuk memikulnya.
“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim terhadap mereka. Kami telah memberikan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya saja sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah engkau terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash 76)
Dan juga Bani Israil yang sombong dengan garis keturunan mereka yang mulia.
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Wahai orang-orang Yahudi! Jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih-kekasih Allah, bukan manusia yang lain, maka harapkanlah kematian itu jika kamu memang benar.” (QS. Al-Jumu’ah 6)
Akan tetapi Allah Swt. memberikan balasan kepada Fir’aun, Qarun, dan juga Bani Israil.
Diatas bukan hanya sekadar kisah biasa. Akan tetapi sebagai peringatan halus yang kadangkala sering kita abaikan begitu saja yaitu apa pun yang membuat kita sombong, pada akhirnya akan menghancurkan kita.
Jika kita sombong karena ilmu, jabatan, ataupun dunia maka Allah Swt. bisa saja memalingkan pemahaman kita, kemudian mengambilnya dalam semalam, dan juga bisa menjadikannya tidak berarti dalam sekejap mata.
Karena kesombongan sejatinya merupakan pernyataan halus bahwasanya diri kita tidak membutuhkan Allah Swt.
Yang dimana dengan adanya kesombongan itu memutus hubungan kita dengan cahaya hidayah petunjuk Allah Swt. sementara dengan kerendahan hati membuka jalan menuju kemuliaan kepada-Nya.
Perumpamaan orang sombong seperti pohon tinggi yang rapuh ketika terkena angin sedikit saja maka dapat merobohkannya.
Sedangkan orang yang penuh rendah hati itu seperti halnya akar yang mengakar ke dalam tanah dengan kokoh, kemudian kuat, dan menumbuhkan pohon serta menghasilkan buah-buahan.
Kemudian Allah Swt. tidak hanya memperingatkan kita saja, akan tetapi juga menunjukkan jalan kembali.
Dimana hijrah bukan hanya sekadar berpindah tempat semata, melainkan hijrah memindahkan hati kita, dari merasa cukup atas diri kita sendiri berubah menuju menyadari bahwa kita bukan apa-apa tanpa adanya Allah Swt.
Sebagaimana Firman Allah Swt. di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat ke-97 yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi dirinya, mereka (malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).” Mereka (malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?” Maka, tempat mereka itu (neraka) Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.
Dari ayat diatas dapat kita ambil pelajaran bahwasanya Allah Swt. mencela orang-orang yang enggan berhijrah padahal bumi Allah Swt. luas.
Dan juga mengajarkan kepada kita semua bahwa berubah itu wajib, meski berat dalam menjalaninya.
Yaitu berhijrah dari sikap kesombongan menuju tawadhu itu merupakan salah satu ujian terbesar kita sebagai manusia.
Namun hijrah tidak berhenti di langkah pertama, tetapi perlu dilanjutkan dengan penuh perjuangan dan juga kesabaran. Karena setiap perubahan atas dasar kebenaran akan diuji dengan berbagai macam guncangan ujian.
Semoga, Allah Swt. mengampuni dan memberikan rezeki yang mulia bagi yang terus menjaga perjalanan hijrah ini, aamiin.
Setelah memahami hukum ketetapan Allah Swt. ini, maka mulai sekarang coba kita harus jujur pada diri sendiri dengan jawab di dalam hati masing-masing, apakah selama ini kita berjalan dengan kepala terangkat terlalu tinggi?, kemudian apakah kita sering menilai manusia dari kulit luarnya saja, bukan dari hatinya?, dan juga apakah diri kita ini lebih sering membela ego sendiri daripada memohon petunjuk kepada Allah Swt?.
Mari kita berhenti sejenak untuk mengukur ulang hati kita, karena tidak ada kemuliaan yang lebih indah daripada kemuliaan yang Allah Swt. berikan kepada hamba-hamba-Nya yang merendahkan diri di hadapan-Nya.
Sebab kesombongan akan selalu menjatuhkan, akan tetapi dengan kita selalu rendah hati bisa mengangkat derajat kita di sisi Allah Swt. Dan hidup di dunia ini terlalu singkat untuk kita habiskan hanya dengan meninggikan diri, sementara Allah Swt. memanggil kita sebagai hamba-Nya untuk meninggikan iman di dalam hati kita. Semoga bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5











