Hijrah: Jejak Sunyi Perjalanan Jiwa Mencari Cahaya yang Lebih Tinggi

Ilustrasi seorang musafir yang sedang berjalan menuju cahaya di ufuk yang menggambarkan perjalanan hijrah. (Dokumentasi Pribadi - almuhtada.org)

almuhtada.orgHijrah merupakan hukum ketetapan Allah Swt. Karena tidak ada kemuliaan tanpa diiringi adanya perpindahan dan juga tidak ada kedewasaan tanpa keberanian meninggalkan zona yang selama ini nyaman bagi jiwa kita. Yuk simak penjelasan selengkapnya berikut ini:

Secara bahasa, hijrah itu artinya meninggalkan. Akan tetapi bukankah setiap diri kita pernah merasa sulit untuk meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan kita? benar begitu bukan?.

Contoh sederhananya yaitu mulai dari kebiasaan yang buruk, kemudian lingkungan yang kurang suportif, rasa kemalasan yang membelenggu hari-hari kita, atau bahkan pikiran-pikiran dengan berbagai macam prasangka yang mengambil rasa ketenangan hati kita.

Maka dari itu, hijrah bukan hanya sekedar berpindah tempat semata, akan tetapi ia merupakan gejolak batin ketika kita sedang membebaskan diri dari versi lama yang ingin terus menahan kita.

Allah Swt. berfirman di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat An-Nisa ayat ke-100 yang artinya:

Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ayat diatas mengisahkan orang-orang terdahulu yaitu dengan mereka meninggalkan rumah, kemudian tanah kelahiran, dan juga kehidupan yang mereka bangun seumur hidupnya.

Baca Juga:  Reading as a Habit

Kadang diri kita berpikir tentang kondisi mereka, Apakah mereka tidak rugi?. Akan tetapi Allah Swt. menjawabnya, “Mengapa takut melangkah, padahal Aku yang memegang rizkimu?”

Hal itu seperti seorang petani yang menanamkan benih di dalam tanah gelap yang tak terlihat apa-apa, akan tetapi ia percaya.

Maka begitu pula dengan hijrah, kita meninggalkan sesuatu yang lama, tetapi kita percaya pada janji Kalam Allah Swt. yang tak pernah ingkar.

Selanjutnya di dalam diri kita ada dua kondisi yaitu kondisi kelalaian dan juga kondisi kesadaran.

Kadang kita merasa tenggelam dalam ego sendiri, kemudian kesibukan, atau bahkan perbuatan dosa-dosa kecil yang kita anggap remeh.

Kadang juga diri kita bangkit dari itu, tersentuh oleh bacaan ayat suci, kemudian nasihat yang datang kepada kita, atau bahkan perasaan bersalah yang membuat hati kita ingin berhijrah.

Karena pada dasarnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain itu mudah. Akan tetapi berpindah sikap itulah yang medan jihad sesungguhnya.

Berpindah dari sikap sombong menjadi sikap rendah hati, kemudian dari lalai menjadi ingat dan sadar, dari dusta menjadi jujur, dari sikap malas menjadi penuh bersemangat, serta dari menyerah menjadi bertahan.

Dan dari perubahan-perubahan kecil yang tak terlihat itulah semoga kelak menuntun kita menuju derajat tinggi di sisi AllahSwt.

Kemudian Allah Swt. menghibur orang-orang yang pernah meninggalkan sesuatu demi-Nya di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Ali-Imran ayat ke-195 yang artinya:

Baca Juga:  Kenali Beberapa Hijrah Umat Muslim di Awal Kenabian

“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai balasan dari Allah. Dan di sisi Allah-lah balasan yang paling baik.”

Dari ayat diatas menjadi renungan bagi kita semua terkadang takut untuk berubah karena masa depan yang tidak pasti, kemudian terkadang diri kita ragu untuk hijrah karena kehidupan dunia menawarkan kenyamanan yang semu dan terkadang kita berpikir kalau hijrah nanti bakal capek, gagal, atau bahkan takut untuk dicemooh.

Akan tetapi sejak kapan jalan menuju kemuliaan itu mulus-mulus saja. Sekarang coba lihatlah berlian dimana ia lahir dan terbentuk karena tekanan, kemudian pedang dimana ia tajam karena ditempa dan diasah dengan panas. Maka begitupun dengan iman di dalam hati kita justru menguat ketika diuji melalui berbagai macam cobaan oleh Allah Swt.

Hijrah merupakan perubahan yang terus berulang setiap harinya. Kita mungkin saja tidak bisa menjadi seorang hamba sempurna, akan tetapi kita bisa menjadi yang lebih baik dari hari-hari kemarin. Dan itu sudah cukup bagi Allah Swt.

Mari sekarang kita berhijrah walaupun secara perlahan namun pasti, perlahan akan tetapi tetap bergerak. Karena hidup kita di dunia ini terlalu singkat untuk tetap menjadi versi diri yang lama. Semoga bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5

Baca Juga:  Muslim tapi Tidak Hafal Bulan-Bulan Hijriyah? Ayo Kita Hafalkan Bersama!

Related Posts

Latest Post